Belajar Menulis Bersama Om Bud (Bagian 3)

Sesi ketiga kuliah menulis dengan Om Bud dilaksanakan pada Jumat, 21 Juni 2019. Untuk membaca materi sebelumnya, bisa klik di sini dan di sini. Berikut adalah rangkuman kuliah dengan topik Cerpenting.

M: Teman-teman, siap-siap yaaa. 20 menit lagi kita masuk sharing bareng Om Budiman Hakim. Di sesi ke-3 ini Om Bud bakal membawain tema, “Cerpenting!” Wahhhh, apaan lagi tuh? Biar Om Bud ntar yang menjelaskan ya, hahaha…

Sebelumnya, seperti biasa, biar tertib, mohon diperhatikan regulasinya ya: 1. Sharing akan dibagi 2 sesi, Sesi Sharing Materi (pk. 20.00 – 21.30); dan Sesi Tanya Jawab (pk. 21.30-22.00) 2. Selama sharing berlangsung, member dilarang posting apapun, kecuali diminta oleh pemateri atau moderator 3. Member diharap menyampaikan pertanyaan lewat WA saya sebagai moderator (0816909xxx). Saya akan utamakan 5 pertanyaan pertama untuk disampaikan ke pemateri di Sesi Tanya Jawab. Kalau masih ada waktu, pertanyaan berikutnya akan disampaikan ke pemateri.

Oke teman-teman, langsung aja yuk kita sambut Om Budiiiimaaaan Haaaaakiiiiim….

N: assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Kemaren malam kita sudah belajar mendalami Creative Attitude dengan cara membuat caption di aplikasi Instagram. Malam ini kita akan lanjut dengan membuat cerita yang mempunyai SOUL. Bagaimana menulis cerita yang menggugah emosi sehingga cerita tersebut mempunyai nyawa.

Sebelum kita mulai, saya akan bercerita dulu. Boleh ya? Judul cerita saya adalah:

Kalian semua tau film Star Trek, kan?

Sebuah film futuristic yang bercerita tentang petualangan sekelompok orang dengan kapal ruang angkasa Enterprise mengembara galaxy. Ekspedisi itu dipimpin oleh Captain Piccard seorang kapten yang berkepala botak. Buat yang belom pernah liat, silakan cari di Youtube.

Di dalam kapal itu, ada dua orang crew yang bersahabat. Yang satu bernama Lieutenant Commander Geordi La Forge, seorang teknisi yang selalu menggunakan visor, sebuah alat bantu penglihatan. Visor adalah singkatan dari “Visual Instrument and Sensory Organ Replacement”. Sahabatnya bernama Mr. Data.

Kenapa dinamakan Data? Karena Mr Data sebenernya bukan manusia. Dia adalah sebuah rekayasa android. Sedangkan Geordi adalah teknisi yang selalu menservis mesin di dalam kepala data.

Secara berkala para crew sering berkumpul di sebuah lounge dalam pesawat. Ketika itu ada acara pembacaan puisi dari Captain Picard yang diciptakan dan dibawakannya sendiri. Puisi itu begitu indah sehingga semua penonton di lounge bertepuk tangan riuh sekali. Semua memuji kepiawaian Sang Kapten dalam menciptakan puisi.

“Kenapa orang begitu kagum pada puisi Captain Picard?” tanya Data pada sahabatnya. Saat itu Geordi sedang mereparasi sirkuit komputer yang ada di kepala Data.

“Karena puisinya bagus,” jawab Geordi sambil membuka kepala Data lalu menancapkan stop kontak di kepala temannya.

“Saya bisa membuat puisi jauh lebih bagus daripada yang dibuat oleh Captain,” tukas Data.

“Oh ya? Kenapa kamu gak buat? Nanti saya bookingin lounge untuk acara pembacaan puisi kamu,” kata Geordi lagi sambil menyetrum Data untuk menambah tenaganya.

Singkat kata, pembacaan puisi pun terlaksana. Dengan suara mantap, Mr Data membaca untaian kata yang diciptakannya. Rangkaian kata-kata indah mengalir dari mulutnya…tapi apa reaksi penonton?

Believe it or not, gak ada satupun yang memberi apresiasi. Memang ada beberapa orang yang bertepuk tangan tapi itupun hanya karena rasa kasihan pada si pembaca puisi. Lalu sebenernya apa yang terjadi?

Selesai acara itu, Data menemui Geordi dan bertanya, “Kenapa tidak ada orang yang mengapresiasi puisi saya?”

“Karena kamu sudah berkoar-koar mengatakan bahwa puisi kamu lebih bagus daripada puisi Captain Picard dan nyatanya tidak,” sahut Geordi.

“Menurut kamu, puisi saya lebih jelek daripada punya Kapten?” “Jelek sih nggak, tapi puisi Kapten lebih bagus,” sahut Geordi lagi.

“Kenapa puisi Kapten lebih bagus? Pilihan kata saya lebih indah. Secara matematis jumlah huruf dalam setiap kata sama, jumlah suku kata, kata dan kalimat juga jumlahnya sama.

Secara algoritma, rangkaian kata yang saya pilih pertautannya jauh lebih match satu sama lain. Saya justru merasa pilihan kata Kapten sering kacau dan tidak berhubungan satu sama lain.”

Jreng….jreng…!!!

“Masalahnya bukan di kata-kata, Data,” Geordi berusaha menerangkan.

“Jadi apa masalahnya?”

“Seperti kamu bilang, puisi kamu adalah rangkaian kata-kata indah yang kamu gabungkan secara matematis.”

“Lalu kenapa?”

“Your poem is only words. There is no SOUL and there is no EMOTION in your poem,” kata Geordi lagi.

“Of course, not! I am Android. I have no soul. I have no emotion.” jawab Data lagi dengan lugu.

Saya terharu sekaligus geli melihat adegan itu.

Data adalah seorang robot tentu, saja dia tidak punya jiwa dan tidak punya emosi.

Dari cerita di atas dapat kita simpulkan bahwa sebuah karya kreatif haruslah diciptakan dengan HATI. Sebuah karya yang bagus adalah yang mampu menggugah EMOSI. Emosi itulah yang memberi nyawa pada tulisan kita. Intinya, berkarya itu mudah, yang susah adalah memberi nyawa pada karya itu.

FAKTOR EMOSI DALAM SEBUAH KARYA

Dari cerita di atas, kita tentu sepakat bahwa sebuah karya yang bagus adalah yang ada emosinya. Sebuah tulisan yang bagus adalah yang mampu menggugah emosi kita. Jadi ketika kita membaca novel sampai berurai air mata, berarti novel tersebut sukses. Ketika kita nonton film komedi dan kita tertawa terbahak-bahak sepanjang film, berarti film tersebut sukses.

Kita semua sudah melihat PR-nya Ibu Meli Wardani. Secara visual sih biasa aja kan? Tapi ketika kita membaca captionnya, yang membaca langsung tergugah emosinya. Begitulah semua tulisan yg punya nyawa bekerja….

Bisa diambil kesimpulan bahwa kebagusan sebuah karya dapat dinilai dari seberapa besar karya tersebut mampu mengubah emosi kita. Sebaliknya, ketika dalam kehidupan sehari-hari kita mengalami perubahan emosi, misalnya kita marah pada tetangga kita, kita terharu pada cerita Ibu Meli, kita ngakak ngeliat kelucuan anak kita…. Itu berarti kita mendapat berkah dari Tuhan untuk berkarya. Kegalauan, rasa gelisah dan semua perubahan emosi adalah cara Tuhan untuk menyuruh kita berkarya. Sayangnya manusia sering kurang mendengarkan.

Jadi, mulai sekarang, ketika kita ngakak mendengar lelucon teman kita…maka tertawalah sepuas-puasnya. Joke tersebut ternyata telah menggugah hati kita dari titik netral sampat tertawa terbahak- bahak.

Nah, ini yang paling penting! Setelah selesai tertawa, tanyakanlah pada diri sendiri, “BISA KITA JADIKAN IDE APA JOKE TERSEBUT?” Ketika kita merasa geli ngeliat kelakuan anak kita yang masih kecil. Setelah tertawa, tanyakan BISA JADI IDE APA PERISTIWA TERSEBUT?

Atau kita ditipu oleh teman baik kita sendiri. Kita marah dan kecewa berat kenapa teman baik kita bisa jadi sejahat itu? Pertanyaannya masih sama, “BISA KITA JADIKAN IDE APA PERISTIWA PERUBAHAN EMOSI TERSEBUT?”

Saya menyimpulkan bahwa setiap kali ada perubahan emosi berarti kita mendapat ide untuk menulis. Dan tulisan kita pasti jadinya bagus! Kenapa? Karena sudah terbukti bahwa peristiwa tersebut telah berhasil menggugah emosi kita.

Ingat! Kita sudah sepakat bahwa sebuah karya yang bagus adalah yang mampu menggugah emosi. Artinya kalo kita merasa ada perubahan emosi maka kita telah mempunyai ide untuk ditulis. Dan hebatnya lagi, dalam proses penulisan itu kita bahkan bisa mengemasnya dengan menambah dramatisasi sehingga tulisan kita akan jadi lebih bagus dari seharusnya.

Kita telah belajar creative attitude sehingga kita tidak perlu seperti Farhan yang membutuhkan gelombang Tsunami yang merenggut nyawa keluarganya untuk menulis. Kita cukup memperhatikan apa yang terjadi di sekitar kita. Dan setiap kita mengalami perubahan emosi maka tuliskanlah peristiwa itu. Mungkin kita belum tahu mau dijadikan apa tulisan tersebut. Apakah mau dijadikan novel, skenario film atau mau jadi apalah, pokoknya tulis aja dulu.

Untuk memudahkan latihan menulis cerita yang menggugah emosi saya telah menciptakan sebuah metode latihan menulis yang menyenangkan. Metode ini saya kasih nama CERPENTING. Singkatan dari Cerita Pendek Tidak Penting. Hehehehehe….

Maaf, wifi saya kayak kehidupan asmara saya dulu nih…….. putus nyambung putus nyambung….. OK kita lanjut ya…

Cerpenting adalah peristiwa-peristiwa remeh yang terjadi di sekeliling kita. Meskipun ceritanya sepele tapi ternyata kita ketawa atau terharu atas peristiwa itu. Jadi tuliskanlah peristiwa tersebut. Gak usah mikirin apa gunanya. Anggap aja itu adalah latihan menulis yang menyenangkan.

Kenapa menyenangkan? Karena kita mengalaminya sendiri dan terbukti menggugah emosi, jadi gak ada salahnya kita abadikan. Berikut beberapa contoh cerpenting yang pernah saya tulis.

CERPENTING #1

BACA BUKU LOMPAT-LOMPAT

 Sedang asyik makan Ifumi di sebuah resto kecil di Senayan City, tiba-tiba seorang perempuan datang mengagetkan saya.

“Om Bud. Wah kok bisa ketemu di sini kita,” kata Indri. Dia adalah temen saya di industri periklanan.

“Hey, Indri. Pakabar lo?” tanya saya lalu cipika-cipiki dengannya.

Dengan cuek Indri langsung bergabung di meja saya lalu berkata, “Om Bud, gue udah baca buku lo yang judulnya STORYTELLING. Bagus banget! Gue suka.”

“Kok bisa bilang bagus? Emang lo udah tamat bacanya?” tanya saya. “Belom, sih,” katanya, “Abis gue bacanya lompat-lompat.”

Saya berhenti menyuap ifumi, memegang pundaknya lalu berkata, “Lain kali kalo baca buku, lo harus duduk. Kalo lompat-lompat ya susah nyelesainnya.”

“HAHAHAHAHAHAHAHA….Gila lo!!!” kata Indri sambil menabok pundak saya.

Gak penting banget kan ceritanya? Tapi kocak dan menyenangkan untuk ditulis. Dalam tulisan ini saya memanfaatkan makna ganda pada kata ‘lompat-lompat’ Hehehehe…..

CERPENTING #2 PERCAKAPAN DI SEBUAH BAR

 Saat itu saya sedang berada di sebuah kafe dan duduk di bar bersama Boni.

Karena home band yang main di panggung gak bagus, akhirnya kami memutuskan untuk ngobrol aja ngediskusiin band-band yang kami suka.

“Eh, Bon. Lo tau Superman is Dead?” tanya saya. Di luar dugaan Boni menjawab,

“Hah? Innalillahiiii….Kapaaan????” tanya Boni.

Hahahahahahaha…tentu saja saya ngakak abis mendengar omongannya.

Sekali lagi di sini makna gandanya yg mengundang kelucuan. Sekali lagi terlihat bahwa cerita ini gak penting tapi menyenangkan. Kalo kita mau lebih peka terhadap apa yang terjadi pada kita sehari-hari, sebetulnya ada banyak yang bisa kita tuliskan dalam cerpenting.

CERPENTING #3

BAPAK PENJAGA PINTU TOL

 Seperti biasa pagi itu saya pergi ke kantor dari rumah saya di Cibubur. Di gerbang Tol Kampung Rambutan, menuju ke Jalan Tol TB Simatupang, saya berhenti.

Tidak seperti biasanya, si penjaga Tol menyapa saya. Padahal biasanya nengok ke kita pun kagak.

Umumnya penjaga Tol cuma nadahin tangan doang lalu menyambar uang kita tanpa mengucapkan sepatah kata.

“Selamat pagi,” katanya dengan suara lantang dan riang.

“Selamat pagi juga,” sahut saya sambil menyerahkan uang sebesar Rp 20.000.

Sambil menunggu uang kembalian, saya menatap ke arah penjaga tol itu. Dia seorang laki- laki berkulit gelap, berusia sekitar 50 tahun.

Wajahnya sama sekali gak ganteng tapi tampak berseri-seri dengan senyum kecil yang gak pernah lepas dari bibirnya.

Saya suka ngeliat parasnya. Tipe orang yang menikmati hidup dan senantiasa bersyukur dengan apa yang dimilikinya.

“Terimakasih banyak, Pak. Hati-hati ya mengemudi,” kata Bapak itu lagi seraya menyerahkan uang kembalian ke saya.

Sungguh sejuk perasaan ini. Cara Bapak itu mengucapkan terimakasih terdengar begitu tulus ke luar dari hatinya. Bukan hapalan yang diperoleh dari training perusahaannya.

Saya jadi semangat mengawali hari dengan dibekali keramahan seperti tu.

Besok paginya, saya ketemu lagi sama Bapak itu. Dan sikapnya masih seperti kemaren. Ramah dan penuh energi. Bahkan yang lebih hebatnya lagi, dia ternyata masih mengenali saya.

“Wah, ketemu lagi kita. Selamat pagi, Bapak,” sapanya sambil meraih uang dari tangan saya.

“Selamat pagi juga. Kok, bisa bisa inget sama saya?”

“Ya inget dong. Masa baru sehari lupa?” sahutnya dengan jawaban sederhana lalu melanjutkan, “Ini kembaliannya. Terimakasih dan hati-hati di jalan, ya?”

“Terimakasih juga,” sahut saya sambil berlalu memasuki jalan Tol.

Begitu berpengaruhnya keramahan Si Bapak sehingga setiap hari saya memerlukan diri untuk selalu memilih gerbang Tol tempat Pak tua itu bermarkas.

Hari demi hari, hubungan kami semakin lama semakin akrab walaupun pembicaraan tetap gak lebih dari sekedar ucapan terimakasih dan hati-hati di jalan doang.

Abis gimana lagi? Kami gak sempet berbicara lebih banyak karena mobil-mobil di belakang udah neror dengan klaksonnya.

Sampai suatu hari Bapak itu menghilang. Gak jelas ke mana.

Konon kata orang dia dipindah ke Gerbang Tol lain tapi gak tau Gerbang Tol yang mana.

Dan percaya gak? Saya sedih loh. Aneh deh, rasanya ada yang hilang, rasanya gak asyik mengawali hari tanpa keramahan Si Bapak.

Dan ternyata bukan saya aja yang merasakan hal itu. Isteri saya juga merasa kehilangan.

Dan yang lebih aneh lagi, ketika kami lagi ngumpul-ngumpul bersama temen-temen satu komplek, mereka juga sedang membicarakan Si Bapak penjaga Pintu Tol.

Keramahan Bapak itu ternyata telah memberi bekas yang mendalam di hati banyak orang. Bayangkan, begitu hebatnya ucapan terimakasih kalo diucapkan dengan hati yang tulus.

Saya gak tau Bapak Penjaga Pintu Tol itu berada di mana tapi dia telah meyakinkan saya bahwa kata ‘Terimakasih’ yang tampak begitu sepele ternyata bisa begitu berarti bagi orang lain.

Saya sangat berterimakasih pada Bapak Penjaga Pintu Tol atas keramahannya yang telah membuat saya bersemangat dan optimis menghadapi hari yang saya hadapi.

Terima kasih atas pelajaranmu, Bapak. Semoga Tuhan selalu melindungi Bapak sekeluarga. Aamiin   !

Jadi gak ada alasan untuk tidak punya ide. Kalo ada yang mendebat saya, “Om Bud, gue jarang keluar rumah.” OK, kalo gitu coba perhatikan hal2 yang terjadi di dalam rumah kita.

Kalian yang punya anak kecil tentunya banyak mengalami kejadian yang menyenangkan, lucu dan menggugah emosi. Catat dan tuliskan menjadi sebuah cerpenting.

CERPENTING #4

KENAPA AYAH SUJUDNYA LAMA SEKALI

 Salah satu hikmah Ramadhan adalah saya gak pernah ketinggalan untuk sholat subuh.

Sebagai orang yang punya insomnia, biasanya saya selalu tidur sudah dekat-dekat jam 3 pagi.

Nah, di bulan puasa, jam-jam segitu saya gak bisa tidur juga karena udah keburu masuk waktu sahur.

Maka jadilah selama bulan suci itu, saya selalu menjadi imam sholat subuh bagi seorang isteri dan dua orang anak.

Setelah selesai menunaikan sholat barulah saya pergi tidur.

Suatu hari pas selesai sholat subuh, Reo, anak saya yang kecil bertanya, “Kenapa sih Ayah selalu lama pas sujud terakhir? Kalo Abang yang jadi imam, sujudnya sama aja dengan sujud yang lain.”

“Sujud terakhir biasanya Ayah manfaatkan untuk berdoa karena doa yang dilakukan di sujud terakhir biasanya lebih makbul,” jawab saya sembari melipat sajadah.

“Kenapa lebih makbul?” kejar anak saya lagi.

“Karena posisi bersujud adalah posisi terbaik antara kita dengan Tuhan. Di posisi itulah di mana muka kita lebih rendah dari pantat, posisi berserah diri pada Allah seutuhnya,” jawab saya.

“Oh begitu. Dalilnya apa?” Kali ini Si Sulung, Leon, yang bertanya.

Anak-anak saya bersekolah di sekolah Islam, Al Taqwa, di daerah Sentul. Itu sebabnya setiap ada hal-hal baru dia selalu nanya dalilnya.

“Wah, gak tau juga tapi ntar Ayah cari, deh.“

Saya memang gak tau dalilnya karena ajaran itu saya dapet dari penasihat spiritual saya dan saya jarang sekali menanyakan dalil karena sesuatu yang menurut pemikiran saya baik ya saya lakuin aja.

Berkali-kali saya bilang pada seluruh anggota keluarga bahwa belajar agama itu harus menggunakan akal.

Jangan pernah menerima mentah-mentah apa yang diajarkan oleh orang lain, gak peduli orang itu ngakunya ustad atau ulama, semua harus kita telaah dengan akal.

Manusia adalah makhluk berakal dan otak adalah hadiah terindah yang diberikan Tuhan untuk kita.

Puasa hari ketujuh, sekonyong-konyong punggung saya sakit luar biasa sehingga gak bisa berdiri lebih dari 2 menit.

Saya memang memiliki sakit punggung yang akut. Sekali atau dua kali dalam setahun, penyakit ini kadang kumat dan menyiksa sekali.

Melihat kondisi suaminya seperti itu, isteri saya menyuruh Si Sulung untuk menggantikan saya menjadi imam.

Saya turut menjalani sholat subuh berjemaah itu bersama mereka sebagai makmum dengan posisi duduk.

Sholat subuh berjalan lancar.

Anak saya, mentang-mentang menuntut ilmu di sekolah Islam, memilih surat yang susah- susah dan panjang.

Setiap surah dia lagukan dengan merdu dengan tajwid yang sangat fasih. Kagum sekali saya mendengar kemerduan suaranya.

Untunglah saya sholat dalam posisi duduk, kalo nggak pasti saya sudah ambruk kesakitan karena terlalu lama berdiri.

Pada sujud terakhir, Leon ternyata juga memanjatkan doa seperti saya.

Meskipun dalilnya belom sempet saya cari, keliatannya dia memilih untuk mempercayai pemahaman saya.

Cukup lama juga Leon berdoa dalam posisi sujud terakhir. Saya semakin kagum dengan kesolehan anak saya ini.

Detik demi detik berlalu, menit demi menit merangkak tapi Leon belum juga bangun dari sujud terakhirnya.

Entah doa apa yang dia baca tapi keliatannya banyak sekali yang dia minta pada Tuhan karena sujud terakhir ini terasa lama sekali.

Sebagai makmum tentu saja kami tidak punya pilihan lain kecuali mengikuti Sang Imam.

Mungkin dia sedang mendoakan orangtuanya atau mungkin adiknya atau saudara- saudaranya, teman-temannya, guru-gurunya.

Pokoknya apapun itu, sesuatu yang baik apa salahnya kan dituruti?

“Grrrrrrhhhhhh……grrrrrrrrhhhh….grrrrrrhhhhh…..” Tiba-tiba suara aneh terdengar dari arah Sang Imam.

Eh? Suara apa itu, ya? pikir saya kebingungan.

“Grrrrrrhhhhhh……grrrrrrrrhhhh….grrrrrrhhhhh…..” Suara aneh itu semakin lama semakin kenceng.

“Waaaaaa….!!! Abang ketiduran!!!” Tiba-tiba Si Bungsu berteriak kenceng banget. “Haaaaa….????” Saya kaget mendengar teriakan Si Bungsu.

Bagaimana gak kaget? Sedang khusyu-khusunya berdoa… eh Reo teriak dengan suara menggelegar.

“HAHAHAHAHAHAHAHA….!!!!” Mendadak istri saya juga tertawa terbahak-bahak. Rupanya suara aneh tadi adalah suara ngorok Sang Imam.

Mungkin saking panjangnya doa yang dia panjatkan, rasa kantuk mengambil alih dan dia jatuh tertidur.

HAHAHAHAHAHA….tanpa bisa ditahan saya juga gak bisa menahan tawa sambil meringis karena masih didera rasa sakit yang tak terkira.

Leon ternyata tidur nyenyak sekali.

Suara berisik dari para makmum ternyata belum cukup mampu untuk menyadarkannya.

Dengan gerakan perlahan, Ibunya menepuk-nepuk punggung Sang Imam untuk membangunkannya.

Dan sholat subuh pun terpaksa diulang dari awal lagi. Hehehehe…..

Teman-teman, coba baca cerita itu baik-baik. Sama sekali gak penting, kan? Tapi buat saya itu adalah harta karun yang sangat berharga.

Suatu hari saya bisa saja menulis buku misalnya judulnya “Aku dan Keluarga” Semua cerita yang saya kumpulkan bisa menjadi isi buku itu.

Dan peristiwa-peristiwa kecil seperti ini pastinya juga terjadi di keluarga-keluarga lain, termasuk keluarga kalian. Bedanya adalah saya mengoleksi semua peristiwa kecil yang terjadi dan kalian belum.

Jadi mulai sekarang mulailah menulis CERPENTING. Cerita Pendek Tidak Penting tapi sangat menyenangkan dan akan menjadi kenangan manis buat keluarga kita.

Itu baru CERPENTING. Seandainya ada peristiwa yang besar dan penting pastilah buku tersebut akan menjadi sangat bagus.

Kalo kita punya cukup uang kita bisa memproduksinya jadi film.

Pokoknya setiap ada ide tuliskan. Seperti pernah saya tulis sebelumya, ‘Tuhan akan memberi hadiah pada orang yang bekerja. Jangan menunggu proyek baru bekerja. Bekerjalah dulu maka proyek akan datang padamu.” Aamiin.

Demikian materi kali ini, mike saya kembalikan pada moderator.

M: Oke, kita masuk ke sesi tanya jawab ya. Pertanyaan ke-1 dari @Emma Holiza: Pertanyaan untuk materi Cerpenting:

Tanya 1:

Saya agak PD membuat cerpenting dengan saya sebagai tokoh utama, tapi sering kesulitan saat beberapa kali mencoba menulis dengan tokoh utama orang lain ( pihak ke dua, tiga dan lainnya). Adakah saran atau latihan untuk saya supaya gak macet ide total dalam case ini?

Thank you om Bud dan kang Asep �

Jawab :

Saya yg bingung dengan pertanyaaan ini. Kenapa bisa kesulitan ya? Bukankah perbedaannya cuma kata Saya diganti dengan kata Dia?

Biasanya justru orang mengalami kesulitan ketika tokoh utamanya saya. Mereka beralasan takut disangka pengalaman pribadi. Boleh diterangkan lebih jelas?

Tanya 2 @Isnaini Jalil:

Tulisan/cerita yg dibuat bisa ditambah dramatisasi supaya lebih menggugah emosi pembaca? Bagaimana memastikan dramatisasi tdk berlebihan/hiperbola yg justru membuat tulisan/cerita tsb jadi kehilangan maknanya..

Jawab:

Tergantung objective dari tulisan kita. Apakah kita mau bikin yang mengharukan atau humor misalnya. Kalo mau bikin humor dramatisasi yang berlebihan biasanya malah bikin lucu.

Misalnya ada orang gendut terjun dari kapal ke dalam laut. Saking gendutnya malah lautnya menjelma jadi gelombang Tsunami. Kan seru tuh….

Kalo ceritanya mau dipelihara sebagai cerita beneran tentunya dramatisasi harus kita jaga jangan sampai berlebihan. Misalnya cerita anak saya ketiduran pas jadi imam sholat. Itu cukup banyak dramatisasinya. Gak berasa, kan?

Tanya 3 @Indri Astutik:

  1. ..apakah tiap cerpen harus berjudul…. bisa gak cukup dikasih nomer urut mmm pasti bagus kah nanti nya
  1. Seberapa banyak kalimat hingga disebut cerita pendek. Jawab:

Jawab:

Semua cerita harus memakai judul. Apalagi kalo kita mau posting di social media. Kenapa? Karena orang di social media tidak berencana untuk membaca cerita kita. Mereka cuma scrolling timelinenya saja. Nah .. di situlah fungsi penting dari sebuah judul.

Kita harus membuat judul yang punya stopping power sehingga mampu memaksa orang berhenti dan tertarik membaca cerita kita.

Cerita pendek gak ada ukurannya. Setiap orang punya pemahamannya sendiri2. Tapi ukuran yang paling mendasar adalah ketika cerita kita tidak cukup panjang untuk menjadi sebuah buku, maka itu bisa dikatan sebuah cerpen.

Tanya 4 @Fairuz:

Ketika saya membuat cerpen, cerpen saya pernah dianggap datar. Kira-kira apakah Om punya tips supaya cerpen saya tidak terlalu datar?

Jawab:

Basic dari sebuah cerita terbagi dalam 3 bagian. Pertama, building situastion. Kedua, konflik dan ketiga adalah solusi. Konflik adalah bagian yang paling berpotensi untuk membuat kisah kita seru. Coba dicek dan dibaca sekali lagi cerpen kamu. Mungkin konfliknya yang memang dasarnya kurang heboh. Atau jangan-jangan gak ada konflik sama sekali….

Tanya 5 @Away:

Pentingkah editing di cerpenting ? Atau ngalir az apa ada nya ? Jawab:

Pada saat cerita dibuat, tulislah sampai selesai. Gak perlu diedit. Setelah selesai baru diedit. Apakah editing itu penting? Penting banget! Karena saat kita ngedit, kita bukan cuma akan menemukan bagian yang harus diedit. Tapi ketika sedang ngedit seringkali kita mendapat ide baru lagi untuk memperkaya cerita kita.

Tanya 6 @Andi Sunarto:

Di twiter saya suka membaca twit2 160 karakter tapi lucu2. Misalnya dari akun @poconggg kok bisa ya mereka bikin cerita singkat tapi memiliki soul? Menurut OmBud, akun2 apa saja yg recommended difollow utk belajar menulis. Trims

Jawab:

Coba seach di Twitter tagar #FiksiMini. Di situ banyak banget yang jago-jago membuat fiksi dengan karakter terbatas. Baca tulisan mereka lalu tinggal pilih siapa-siapa yang pantas difollow.

Tanya 7 @Sandya Ichwan :

Ketika menulis, saya terbiasa mendramatisasi penulisan, dibikin ber”bunga2”. Tujuannya supaya indah aja. Teman saya yg mantan editor bilang bahwa tulisan saya jadi lebay klo dibiasain diginiin terus. Padahal menurut saya bagus. Mana yg perlu diperhatikan?

Kepentingan pribadi? Atau kepentingan pembaca?

Ombud sebelumnya sempet berkata bahwa tanda sukses sebuah tulisan adalah ketika engagementnya sudah tinggi. Berarti kepentingan pembaca seharusnya lebih diutamakan dong om? Mohon pencerahannya ombud. Terima kasih.

Jawab

Saya udah bilang berkali-kali bahwa menulis itu untuk menyenangkan diri sendiri. Kalo ada orang yg suka juga ya anggap itu bonus. Saya pernah nulis dan dapet 20 ribu shares, saya happy dong. Tapi pernah juga gak ada yg share dan yg like juga cuma dikit. Ya gapapa.

Saya sama sekali gak terganggu.

Tanya 8 @Fadyal :

Setelah menemukan cerita yang menarik itu sering sulit sekali saya menuliskanya. Pertama karena tidak tau mau mulai dari mana. Terus kedua itu bingung bagaimana alur cerita yang tepat untuk membuatnya sama menarik dengan cerita temuan saya. Kira2 ada tipsnya kah.

Jawab :

Kan udah tau ceritanya? Mulai aja dari sana. Apapun itu, tulis aja. Pokoknya harus dimulai. Kenapa begitu? Karena sering kali ide untuk memulai memang harus dipancing. Apa yang sudah terketik di layar bisa jadi kurang asyik tapi tulisan di screen itu akan berfungsi sbg pemancing. Gara-gara tulisan itu kita dapet ide, “Oh salah dong. Harusnya mulainya begini dulu.” Jadi intinya harus ditulis!

Tanya @Florens:

Ini kumpulan foto yg bercerita, bisa masuk kategori Cerpenting kah…? https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10155762656863819&id=739428818 Apakah masuk kategori Cerpenting?

Jawab :

Coba nilai sendiri. Penting gak? Cerpenting harus berupa tulisan yang minimal ada konflik sekecil apapun.

Tanya10 @Nastiti:

Apakah ada maksimum atau berapa kata yang pantas untuk posting cerita di sosial media seperti FB, untuk bisa menarik pembaca bertahan membaca cerita kita dari awal sampai akhir?

Jawab :

Gak ada ukurannya. Sebagai penulis kita harus menulis cerita yang panjangnya ideal. Ideal di sini maksud saya adalah panjangnya harus mengakomodasi seluruh cerita sehingga mudah dibaca oleh orang lain.

Saya pernah berdebat sama temen. Dia bilang menulis itu harus pendek karena orang bacanya di HP dan males baca cerita yg panjang-panjang. Saya gak setuju dengan pendapat itu. Lalu kami taruhan.

Saya disuruh bikin tulisan yg panjangnya 5 halaman A4. Dan saya akan dinyatakan menang kalo yang ngeshare minimal 20 orang. Saya terima tantangan itu, Saya menulis bukan 5 halaman tapi 14 halaman A4.

Dan saya yang menang. Tulisan itu dilike 1200 orang. 511 komen. Dan mendapat 941 shares.

Ini linknya https://www.facebook.com/search/top/?q=Olaf%20kesurupan%20Budiman%20Hakim&epa= SEARCH_BOX

Jadi pointnya bukan panjang atau pendek. Bukan juga karena orang gak mau baca yang panjang. Yang bener adalah tulisan kita yang gak punya kemampuan untuk memaksa orang membaca sampai habis.

Tanya 11 @Luqman Baehaqi:

Mudah²an masih bisa nanya ya kang

Saya pernah lihat acara TV ada acara reality show yang tokoh utamanya menyamar jadi orang gila gitu tapi karena aktingnya jelek jadi kliatan kalau settingan. Dan gak enak dilihat.

Baru2 ini ada artis melakukan gal serupa dan aktingnya bagus jadi enak dilihat dan banyak yg terbawa suasana.

Pertanyaannya kalau di penulisan adakah hal yang demikian? Kalau ada letaknya di mana?

Simpelnya, apa yg membuat dua tulisan dengan ide yang sama jika dibandingkan bisa lebih believable dibanding yang lainnya.

Jawab:

@Luqman Baehaqi Sering banget masalahnya ada di bagian karakterisasi. Banyak orang Indonesia yg gak peduli sama karakterisasi. Misalnya sinetron2 yang ada di TV. Semuanya tokohnya terlalu stereotype. Tokoh utamanya selalu ganteng, kaya dan dikelilingi oleh cewek2 cakep. Kita jadi muak ngeliatnya.

Coba kalo tokohnya dikasih karakter yang kuat maka biasanya akan jadi outstanding. Orang Indonesia yang paling saya kagumi soal karakterisasi adalah Pak Teguh pendiri Srimulat.

Kita tau tokoh Tarzan, Asmuni, Tessy, Gogon, Paul, Triman dll. Semuanya punya karakter yang kuat. Dan semua karakter itu diciptakan oleh Pak Teguh.

Tanya 12 @Meli Wardani:

Bagi tips untuk memperkaya diksi ya. Karena kalau nulis, sering bingung di pemilihan kata. Pengennya buru-buru selesai tulisannya, tapi sebenernya masih pengen cerita.

Jawab:

Diksi itu pilihan kata. Diksi ini sangat penting karena bisa membuat tulisan kita terlihat cerdas. Misalnya, saya pernah membaca “Bis berhenti dan MEMUNTAHKAN penumpangnya di halte tersebut.

Pernah juga saya membaca tulisan “Kau baluri lukaku dengan doa,” Buat saya ini keren banget. Yang namanya membaluri luka kan biasanya dengan salep. Hehehehehe….

Closing :

Teman-teman sekalian. Saya akan ngasih PR lagi. Sekali lagi ini buat yang mau aja. Coba bikin cerpenting. Ingat ya, ceritanya harus yan gak penting. Kelakuan anak kita, kucing kita berantem dengan kucing tetangga atau lagi e’e’ tapi ternyata gak ada air. Terserah yang penting seru.

Tapi kali ini ceritanya tidak dikasih ke saya atau Asep. Postinglah di social media kalian. Boleh di FB, IG atau di Blog, terserah. Jangan lupa ngetag saya, Asep dan Devina. Kenapa di social media Karena sekalian kita ngetest seberapa banyak engagement yang terjadi pada cerpenting kita.

Demikian materi saya malam ini. Kita akan bertemu lagi Selasa depan. Terima kasih banyak atas perhatiannya. Wabillahi taufik wal hidayah wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

————-

Di bawah ini adalah PR dari Om Bud yang sudah saya kerjakan. Alhamdulillaah, senang sekali sudah dikomentari secara positif oleh Om Bud.

Belajar Menulis Bersama Om Bud (Bagian 2)

Berikut adalah rangkuman materi dan diskusi kelas menulis bareng Om Bud. Sebelum masuk ke bagian kedua, Om Bud terlebih dahulu membahas pertanyaan susulan dari materi sebelumnya tentang creative attitude (klik di sini). Kode inisial masih berlaku sama, N untuk narasumber, M untuk moderator, dan P sebagai peserta

M : 1. Dari @⁨Faiza Huwaida⁩

Bagaimana caranya untuk membuat tulisan kita menjadi indah saat kita sedang meluapkan beban hidup dalam tulisan? Karena terkadang saya merasa bahwa tulisan yang sudah saya tulis tidak layak di baca orang lain

N : Kalo menulis untuk meluapkan beban hidup gak perlu indah. Pokoknya tulis aja supaya beban hidup kita terlepas. Belum tentu juga kata-kata indah itu manjur. Sekali lagi saya katakan bahwa menulis itu untuk menyenangkan diri sendiri. Bukan menyenangkan orang lain. Kalo orang lain juga suka, anggap itu bonus.

M: 2. Dari @⁨Indah Pujiati⁩

Menulis untuk meninggalkan legacy. Apakah kita gunakan bahasa kita sendiri, atau tetap harus mengikuti kaidah penulisan otobiografi?

N: Coba baca buku-buku saya. Saya adalah penulis yang banyak dimusuhi oleh dosen-dosen karena bahasa saya seenaknya. Tapi saya gak peduli karena saya kan menulis untuk menyenangkan diri sendiri. Orang lain gak suka, saya gak begitu pikirin. Kadang saya merasa tulisan yang mengikuti kaidah bahasa gak tersampaikan emosinya secara utuh

M: 3. Dari @⁨Ade Muharram⁩:

saya beberapa kali mencoba menulis di blog, beberapa kali mencoba membuat blog tematik. tapi setelah mencoba menulis selusin artikel,kadang seperti hilang ide. bingung mau angkat topik apa. pernah ga om pengen menulis tapi lagi merasa engga kreatif? ada trik ga untuk memunculkan sesuatu yang menarik kalo lagi begitu?

N: Sering banget! Dan itu semua dialami oleh semua penulis. Biasanya orang suka nyebut dengan istilah writer’s block. Ada beberapa trik yang akan saya share tapi itu ada di sesi berikutnya. Mungkin sesi 5 atau 6. Tunggu ya….

M: 5. Dari @⁨Robi’ah⁩: Salam Kang Herna, jujur di awal baca smbil lalu, begitu masuk k tema creative attitude mulai tenggelam Dan terhanyut dlm ulasan om bud. Apalagi blg kreativitas bkn job diskripsi, tp sikap sehari-hari. Itu pemahamannya gmn, apa kita mencari jalan2 penyelesaian dg sedikit pengorbanan atau gimana?

N: Intinya adalah berusahalah lebih peka dengan apa yang tertangkap oleh panca indera. Lalu tanyakan pada diri sendiri, “Bisa jadi ide apa yang tertangkap itu?”

Misalnya saya pernah ngeliat burung gereja bersarang di masjid. Terus saya kepikiran jadi ide untuk bikin iklan layanan masyarakat. Adegannya dimulai dengan gambar masjid. Kamera masuk ke pojokan masjid, di sana kita ngeliat burung gereja membuat sarang. Lalu terlihat burung gereja …

———

Sesi tanya jawab susulan berakhir. Saatnya kita menyimak materi kuliah selanjutnya yang dilaksanakan pada Rabu, 19 Juni 2019, mulai pukul 20.00 WIB.

N : Baik teman-teman. Alhamdulillah malam ini kita bisa ketemu lagi untuk masuk Sesi 2 sharing The Writers bersama Om Budiman Hakim. Malam ini Om Budiman Hakim akan membawakan materi menarik, “Copy Menggambar, Visual Bercerita”.

Sekedar mengingatkan, sebelumnya sharing dimulai, agar tertib, mohon diperhatikan regulasinya ya:

  1. Sharing akan dibagi 2 sesi, Sesi Sharing Materi (pk. 20.00 – 21.30); dan Sesi Tanya Jawab (pk. 21.30-22.00)
  2. Selama sharing berlangsung, member dilarang posting apapun, kecuali diminta oleh pemateri atau moderator
  3. Member diharap menyampaikan pertanyaan lewat WA saya sebagai moderator (0816909xxx). Saya akan utamakan 5 pertanyaan pertama untuk disampaikan ke pemateri di Sesi Tanya Jawab. Kalau masih ada waktu, pertanyaan berikutnya akan disampaikan ke pemateri.

Ok, mari kita sambut saja langsung Om Budimaaan Haaaakiiiiim. Silakan mulai, Om.

N: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Teman2 sekalian. Kemaren kita sudah belajar tentang manfaat menulis dan sebagian tentang Creative Attitude.

Perlu dipahami bahwa bagian creative attitude ini yang paling penting. Karena bersikap kreatif seharusnya adalah sikap keseharian manusia sehari-hari.

Jadi jangan lupa pernah lupa, hindari komen yang biasa-biasa doang. Hindari memakai ucapan-ucapan idul fitri yang udah basi. Tunjukkan bahwa kita punya Creative Attitude. Buktikan kalo kita selalu mampu membuat sesuatu yang baru. MERDEKAAAAA!!!!! (Loh kok merdeka….🤔🤔🤔

Sering-seringlah latihan menulis dan gak usah pilih-pilih harus nulis apa. Tulis apa aja yang kita nyaman.

Teman2 sekalian….

Dulu kalo lagi nginterview orang, saya butuh berjam-jam karena saya suka kasih test segala. Saya melakukan itu karena saya gak mau salah memilih karyawan. Jadi saya detil banget kalo ngetest calon karyawan

Sekarang saya cuma butuh 5 menit dan hanya dengan1 pertanyaan saja. Pertanyaan saya sederhana banget, “Kasih saya 1 alasan kenapa saya harus menerima kamu. Gak boleh lebih, cukup 1 saja.” Sederhana tapi menantang bukan?

Setelah itu saya minta link FB, Twitter, IG dan semua social medianya. Udah gitu doang tapi dari situ saya bisa menilai orang tersebut seperti apa. Kalo misalnya orang itu pernah menulis status seperti berikut,

“Gue telat ngantor, uang makan dipotong. Tapi elo dateng lebih telat dari gue gak diapa-apain. Enak juga jadi Boss, ya? Suatu hari gue mau jadi Boss juga kayak lo, Nyet!”

Atau dia bikin kayak gini, “Minta naik gaji katanya kantor sedang  rugi. Tapi elo sendiri ganti mobil baru lagi. Situ sehat? Lo gak ada bedanya sama koruptor penghisap darah rakyat, tauuuuk!”

Coba perhatikan baik2 status FB tersebut. Biar orangnya sehebat apapun saya gak akan pernah menerima orang seperti ini. Nyari orang pintar itu gak gampang tapi nyari orang pintar dengan good attitude, itu susahnya minta ampun.

Intinya adalah saya sangat terbantu sekali dengan adanya social media. Kalo ngewawancara orang off air, kita sulit menilai karya dan attitudenya. Karena kebanyakan port folio yang dibawanya adalah kerjaan keroyokan atau kerja kolektif. Tapi dengan mengintip social medianya, saya langsung tau seberapa kreatif orang ini dan seberapa bagus attitudenya.

Dan satu lagi! saya gak akan pernah menerima copywriter apabila yang bersangkutan tidak punya blog. Buat saya ini mutlak dan gak bisa ditawar-tawar lagi. Kenapa demikian? Karena membuat iklan, buat saya, adalah pertandingan. Sementara menulis di blog adaah latihan.

Kenapa bayak banyak sekali orang yang karyanya jelek? Karena dia tidak pernah latihan. Dia pikir berkarya itu sama kayak bikin Pop Mie, tinggal robek bungkusnya, seduh air panas…selesai! Masak berkarya disamain kayak bkin Mie instan?

Di jaman digital ini, kalo gak hati-hati, kita akan terperangkap menjadi generasi instan. Karena segala data dan informasi begitu mudah kita temukan di internet…. Syukurilah semua berkah yang bisa kita peroleh dengan instan. Tapi ingat! MENTAL GAK BOLEH INSTAN.!!!!

Respeklah pada Tuhan yang telah menghadiahkan otak pada kita. Pakailah itu semaksimal mungkin. Kita harus menyadari, mie instan saja diciptakannya tidak instan, loh. Ayo kita pekikkan pada dunia bahwa kita bukan generasi instan. Sebodoh-bodohnya manusia adalah mereka yang bermental instan.

Itu sebabnya orang kayak gitu dengan mudah ketipu dengan iming-iming umrah murah, arisan dengan untung berlipat ganda sampai mau-maunya ikut paranormal untuk menggandakan uang. Bukan cuma yg gak sekolah, loh. Yg punya gelar S3 juga banyak yang ketipu iming2 seperti itu. Kenapa? Semua itu gara-gara kita melecehkan kemampuan otak kita sendiri dan gak mau mikir, pokoknya maunya hanya yang serba instan.

Okay, sekarang kita kembali ke creative attitude.

Selanjutnya bagaimana cara melatih diri agar Creative Attitude senantiasa mengalir dalam darah kita. Kita tau yang namanya latihan pasti membosankan.  No doubt about it! Clear!

Lalu bagaimana supaya tetap enjoy berlatih agar kita selalu mempunya sikap kreatif? Bagaimana caranya supaya secara otomatis agar creative attitude selalu menjadi sikap kita dalam menghadapi segala sesuatu? Begini caranya.

COPY MENGGAMBAR. VISUAL BERCERITA.

Kalian semua punya akun Instagram, kan? Kalo punya follow saya dong? Hehehehehehe. Kalo kalian suka main Instagram berarti kalian beruntung. Karena Instagram adalah social media yang paling menyenangkan sebagai bahan latihan meningkatkan creative attitude.

Minum dulu ya….haus!

OK, jadi begini, guys….

Misalkan kalian sudah mempunyai foto untuk diposting di IG. Pahamilah bahwa foto yang kalian posting itu juga menyampaikan pesan. Karena itu jangan bikin caption hanya mengulang apa yang sudah dikatakan oleh fotonya. Misalkan kita posting foto pasangan cowo dan cewe.

Caption: Couple. PREET!!!!!

Jangan pernah bikin caption “COUPLE.” Tolong jangan ya….itu namanya kita gak punya creative attitude. Itu adalah caption yang mubazir dan tidak berguna. Karena kata couple sudah disampaikan oleh imagenya. Jadi di bagian caption, kita harus menuliskan hal lain. Sesuatu yang berbeda namun berintegrasi dengan imagenya.

Instagram adalah sarana visual. Caption berfungsi sebagai support untuk  menambah apa yang telah dikatakan oleh imagenya. Meskipun demikian caption juga sangat penting. Jadi di bagian caption, kita harus menuliskan hal lain. Imagenya telah menyampaikan pesan, yaitu ‘COUPLE’. Jadi tugas caption adalah mendukung atau menambah apa yang telah dikatakan oleh image tersebut.

Coba saya kasih 1 menit buat kalian mikirin. Sebaiknya caption apa yg harus kita cantumkan di bawah foto ini? Yak berpikir dimulai tik…tok….tik….tok…. Ada yang mau nyumbang ide? Kalo ada kirim ke Asep ya.

M: Silakan ya teman-teman, WA ke 0816909xxx. 🙂

N: Dalam konteks foto ini kita bisa bikin caption apa aja. Pokoknya asal TIDAK MENGULANG apa yg dikatakan oleh imagenya berarti udah betul. Saya bilang betul, belum tentu berarti bagus sih .

Misalnya kita bisa kasih caption “ WHEN I MET YOU, I FOUND ME.”Jadi keren kan?

M: Dari @Faikul Om: Kita oke kan!! 😀

N: Lumayanlah… Kita bisa bikin beberapa lalu pilih yang terbaik untuk caption kita.

M: Dari @+62 823-6666-xxxx: Bersama Abu abu dalam hitam & putih,

N: Misalnya, “Pasangan sejati adalah dia yang selalu ada saat kita butuhkan dan selalu menghilang saat kita tidak butuhkan.” Hehehehehe….

Iya udah cukup, Sep. Thanks.

Contoh lainnya lagi….

Coba buka IG kalian. Banyak banget foto Eiffel di sana. Dan yg bikin sedih banyak sekali yg bikin caption “EIFFEL”. Berarti orang tersebut belom pernah belajar Creative Attitude.

Okay, sekarang kita pikirin yang menara Eiffel? Kira-kira apa caption yg menarik? Gak usah dijawab, ya….

M: Dari @Joy to the world 😍: Selangkah demi selangkah untuk menggapai langit

N: Ini ada true story. Jadi pas outing kantor sebuah perusahaan ada orang Sunda dibawa ke menara Eiffel terus dia komennya begini: “Naon sih alusna menara ieu. Di kampung aing ieu ngaran na sutet. Loba pisaaaan.” HAHAHAHAHA…

M: Dari @aliya2017 , Eiffel : Masih di langit sama kok…

N: Yang orang Sunda pasti ketawa juga tuh….🤣🤣🤣

Jadi terjemahannya “Apa sih bagusnya menara ini? Di kampung saya mah banyak yg beginian, namanya SUTET. Banyak banget!” Hahahahahahaha….

Jadi dapat disimpulkan bahwa caption itu gak  selalu harus cerdas, gak perlu ilmiah. Yang penting isinya menyenangkan dan interaktif . Penting banget nih diketahui….

Contoh selanjutnya….

Ada anak kecil lagi main sendirian. Masak captionnya ‘Playing Alone?” Hueeeek….!!!!!!

Sebagai orang yang mempunyai creative attitude, kita harus memikirkan caption yg lain. Yg inspiratif tapi sekaligus bisa bekerja sama dengan gambarnya. Daripada bikin caption cuma’ playing alone’, kita bisa bikin misalnya:

“When you’re alone, don’t be sad. Maybe God drives all your friends away because He wants to play with you. Only with you.”

Atau kalo mau bahasa Indonesia juga boleh,

“Ketika sedang sendiri, jangan bersedih. Mungkin Tuhan memang mengusir semua orang karena Dia ingin bermain berdua saja denganmu.”

Mengharukan bukan? Tiba-tiba foto itu jadi lebih bagus dari seharusnya gara-gara caption yang kita bikin. Di situlah kehebatan sebuah caption.

Contoh lainnya lagi….

Caption: DOWN UNDER

Australia nama lainnya adalah down under. Tapi masak kita jadiin sebagai caption, sih? Malu-maluin banget!

Tapi orang yang posting foto ini tidak menggunakan caption itu. Alhamdulillah. Orang tersebut bikin caption lucu banget sehingga saya menjadikannya sebagai contoh.

“I prefer Australian kiss than french kiss. It’s almost the same but down under.”

Ini caption luar biasa banget. Terlepas dari joroknya, kalimat itu cerdas banget. Buat yang gak ngerti boleh japri saya setelah sharing. Hehehehehe….

Contoh selanjutnya…

Caption: Me with My Beer

Hadoh! Pengen saya gebukin nih orang yang bikin caption kayak gini. Eh? Itu saya yg bikin ya? Hehehehehe….

Gak kok. Saya gak bikin begitu. Saya bisa bikin yg jenaka sedikit. Misalnya: “SAVE WATER. DRINK BEER!”

Contoh berikutnya….

Caption: Jenasah!

M: Interupsi, Om.

N: Iya, silakan, Sep.

M: Untuk yang sudah ada pertanyaan, silahkan tulis ke WA saya di 0816909xxx. Akan dipilih 5 pertanyaan pertama untuk dijawab oleh Om Budiman Hakim. Terima kasih. Silakan lanjut Om.

N: Thanks, Sep.

Kita lanjut ya….

Udah gambarnya jenasah kok captionnya cuma ngulang doang…. TOBAT!

Kita bisa bikin misalnya “SEBELUM MATI BUATLAH MINIMAL 1 BUKU!” Hehehehehehehe….

Jadi seru, kan? Ada pesan moralnya.

Jadi apa yg kita bisa simpulkan dari semua contoh yg saya posting?

Jangan pernah bikin caption hanya dengan mengulang apa yg telah dikatakan visualnya.

Begitulah cara sedrhana untuk melatih creative attitude dengan memanfaatkan Instagram. Kita pasti enjoy latihannya karena sehari-hari kan kita memang main IG. Iya, kan?

Oh ya, kalo perlu kita juga bisa menggunakan kutipan orang lain namun jangan lupa menyebutkan sumbernya. Misalnya:

Coba liat foto ini. Garing abis kan? Coba kalo kita kasih caption.

Kebetulan saya menemukan caption kutipan dari orang lain. Captionnya begini: “Kalo udah sukses, suara kentutmu terdengar inspiratif. Tapi kalo blom sukses, omonganmu yang paling inspiratif pun terdengar seperti kentut.” –Jack Ma

Tentu saja saya menyantumkan nama sumbernya yaitu Jack Ma.

Perlu dipahami bahwa caption itu dahsyat sekali pengaruhnya. Foto yang biasa2 aja, kalo dikasih caption yang bagus maka foto kita terlihat jadi lebih bagus daripada kenyataannya. Kita sudah membuktikannya dengan contoh-contoh di atas. Jadi foto sejelek apapun pasti akan terlihat lebih bagus kalo dikasih caption.Bahkan foto tak berarti pun bisa punya makna ketika kita kasih caption. Misalnya:

Coba perhatikan image ini, cuma bidang item doang. Gak ada artinya sama sekali. Gak ada bagus-bagusnya…

Tapi ketika kita kasih caption. pandangan itu berubah. Misalnya Kita bisa bikin caption: EARTH HOUR. Tau2 jadi punya makna kan? Begitulah dahsyatnya caption.

Dari gambar bidang item doang kita bisa bikin caption macem-macem. Misalnya… I HATE PLN!!!

Jadi keren juga. Minimal punya maknalah kalo gak gitu keren….

Kalo mau romantis dikit, kita bisa nulis  kayak gini : “Even your shadow will leave you when you’re in the dark.”

Nah, keren banget. Itu baru bidang item. Kita bisa bikin bidang merah lalu kaitkan dengan kata berani. Bidang putih dengan kata suci. Bidang biru dengan kegalauan. Banyak banget yang bisa kita posting. Dan gak harus bagus karena creative attitude kita akan membuatnya jadi bagus.

KESIMPULAN

Jangan bikin caption cuma mengulang visual. Bikin caption yang beda tapi mendukung apa yg dikatakan visual. Kalo perlu gunakan kutipan orang lain dan dan jangan lupa menyebutkan sumbernya.

Caption yang bagus akan membuat foto/iklan kita bertambah jauh lebih bagus dari seharusnya. Bahkan gambar tak berarti pun akan mempunyai makna ketika dikasih caption.

Temen kantor saya, namanya Leo, pernah ngomong gini, “Om Bud, gue punya foto bagus banget nih.” sambil memperlihatkan foto tersebut di HPnya.

“Wah, keren, Le. Kok gak diposting di IG?” tanya saya.

“Udah dari 4 hari yang lalu seharusnya gue posting. Tapi belom manteb nih hati ini.” jawab Leo.

“Belom manteb kenapa?” tanya saya.

“Belom dapet caption yang keren.” sahut Leo.

Coba bayangin! Kalo kita punya foto keren banget, pastinya kita  gak sabar dan mau buru2 posting dong ke IG? Iya gak? Tapi Leo sanggup menunda posting hanya gara-gara belom punya caption yang OK.

Temen-temen sekalian, apa yang dilakukan oleh Leo tersebut, itulah yang namanya Creative Attitude.

Berdasarkan apa yang dikatakan Leo, mulai hari ini saya minta pada semua temen-temen di sini: Jangan pernah posting foto ke IG sebelum dapet caption yg okeh.

Berani? Berani dong, ya! Itu sangat penting untuk membangun creative attitude kita.

Latihan membuat caption ini akan membuat kita semakin kreatif dalam menulis. Bukan cuma buat yang mau nulis buku tapi juga sangat bermanfaat buat yang mau jualan di IG.

Sekarang ini banyak banget orang yang sudah punya produk dan brand yang dijual secara online. Banyak dari mereka yang memanfaatkan social media.

Sebagian peserta di sini tentu juga banyak yang berjualan di Instagram, kan? Nasihat saya, sering-seringlah berlatih bikin caption sesuai metode di atas. Ketika kita sudah mempunyai creative attitude, kta jadi bisa membuat caption yang menarik untuk dagangan kita.

Teman-teman sekalian, Judul materi kita hari ni adalah COPY MENGGAMBAR, VISUAL BERCERITA.

Jadi jangan cuma fokus pada captionnya doang. Kalo bikin iklan di IG, buatlah gambar yang bercerita supaya lebih menarik. Gabungan antara image yang bercerita dengan copy yang menggambar akan membuat iklan di Instagram jadi menarik perhatian. Kerja sama image dan copy akan membuat komunikasi kita bekerja secara maksimal.

Misalnya kalo saya harus membuat iklan di IG untuk obat pegel linu. Saya akan membuat gambar yang bercerita.

Caption: Misalnya saya akan membuat visual seperti ini

Di captionnya kita bisa bercerita bahwa betapa gak nyamannya kalo kita sedang menderita pegel linu.

Silakan cerita bla…bla…bla…Di endingnya, kalian bisa akhiri dengan …

“Bahkan Patung Pancoran pun sering hilang kalo jalanan lagi sepi. Karena dia juga butuh obat tersebut. Capek loh berdiri terus-terusan gak bergerak sambil nunjuk ke angkasa. Kalo gak percaya, silakan coba sendiri.” Hehehehehe..

Btw, karena IG juga punya fasilitas untuk sarana audio visual, kita juga bisa membuat video 1 menit untuk brand kita.

Sekarang ini kualitas HP sudah lebih dari cukup untuk membuat konten di IG , FB atau di Youtube. Dengan memproduksi video, semua benefit bisa kita masukkan dalam video tersebut berupa audio. Jadi di caption kita tidak perlu lagi bikin copy yang njlimet. Kita cukup memasukkan daftar harga dari barang akan kita jual beserta daftar harganya.

Kalo gak salah di sini ada peserta dari Cilacap yang bisnisnya pakan burung, ya? Siapa namanya? Lupa lagi saya….

P: Saya Om @Budiman Hakim

N: Nah, namanya Pak Biyan. Bila Bapak Biyan meminta tolong ke saya untuk membuat konten IGnya buat jualan maka saya akan buatnya seperti ini….

(video, maaf tidak bs diunggah)

Hehehehe…. simple banget, kan? Produksinya murah namun punya daya tarik yang tinggi. Sebetulnya pakan burung itu adalah produk yang sangat inspiratif. Kita bisa dapet ide banyak sekali dari sana.

Perlu diketahui bahwa 2 iklan yang saya buat di atas bukanlah iklan beneran. Kenapa kok saya berepot-repot membuat iklan bo’ongan ini cuma buat contoh materi ini?

Yak betul! Sekali lagi itu adalah CREATIVE ATTITUDE!

Baiklah teman-teman. Karena waktu sudah menunjukkan lebih dari pukul 9.30, kita berhenti dulu sampe di sini ya. Besok kita lanjutin masih seputar creative attitude. Dengan demikian, mike saya kembalikan pada moderator untuk masuk ke sesi tanya jawab. Silakan, Sep….

M: Baik Om. Sudah ada beberapa pertanyaan, kita masuk sesi tanya jawab ya. Pertanyaan 1 dari @Indah Pujiati: Bagaimana bila caption-nya tentang sejarah dalam foto? Apakah bisa disebut creative?

N: Bisa dong. Kreativitas kan tanpa batasan. Kreativitas itu mencakup semua bidang tanpa kecuali. Contoh Sri Mulyani. Buat saya dia adalah orang yg sangat kreatif. Coba search inovasi2nya di internet. Ada aja idenya yg gak kepikiran oleh menteri2 keuangan sebelumnya.

M: Berikutnya dari @Meadhe : Keberhasilan sebuah tulisan misal cerpen itu apa, pembaca terbawa hanyut sama kisah nya ?

N: Sebuah karya yang bagus adalah karya yg mampu menggugah emosinya. Kalo orang terharu bahkan sampe nangis baca cerpen kita maka kita tergolong berhasil. Atau kalo Stand up comedian berhasil membuat audiensnya ketawa ngakak, berarti dia berhasil.

M: Pertanyaan ke-3 dari @+62 857-3366-xxxx. Yth. Om Budiman, Om Asep. Nama saya Billy. Jika ada 2 jenis kalimat promosi 1 jelek, dan 1 bagus:

  1. Contoh Jelek (misal) : “Bledek Duer! Kejutan apalagi nihhh!! Beli satu dapat 2 mblo!”.

Dengan visual seadanya, orang memakai rambut palsu kribo. Tetapi produknya laku.

  1. Contoh Bagus (misal) : “Tidak seharusnya orang-tua menyaksikan anak mereka meninggal sebelum mereka, semua harapan besar, hilang hanya karena suatu hal yang kecil” – Visual yang niat, Produk kampas rem, kalimat penutup: “Jangan terlalu cepat anakku!”. Produknya gak seberapa laku.

Mana yang “berhasil” dari kedua writing di atas? Writing jelek tapi laku, atau writing bagus tapi tidak laku? Apa tujuan akhir dari Creative Writing? Uang, ketenaran? Bagaimana jika T Audience tidak seberapa pandai? Apakah kita harus memberikan “effort” lebih?Toh effort biasa aja juga bisa dapat hasil maksimal? Terima kasih. Maaf banyak pertanyaan.

N: Keberhasilan sebuah iklan satu2nya adah SALES! Kreativitas itu adalah keberhasilan sebuah komunikasi terhadap Target Audiencenya. Iklan nomor 1, bisa jadi sangat kreatif karena targetnya memang down market kaum alay. Kreatif itu gak ada hubungannya sama yg bodor atau serius. Pokoknya ketika konsumen tergugah emosinya maka itu artinya kreatif.

M: Pertanyaan ke-4 dari @agusharuna: Gimana tipsnya untuk menggali ide caption yang pas dengan gambar yang ada?

N: Pokoknya mulai aja dulu dengan menuliskan sesuatu yang belum disampaikan oleh gambarnya. Nanti ketika kita sedang berpikir, barulah kita punya ide-ide lain. Kita akan berdiskusi dengan diri kita sendiri, “Eh, apa gini aja ya? Atau giniin aja kali. Ah mendingan diginiin sekalian.”

Itu proses yang selalu terjadi. Cara ampuh untuk menjadi kreatif adalah dengan memulainya dulu. Nanti Tuhan akan ngasih cara dan ide pada kita. Ayah saya selalu bilang, “Tuhan itu hanya memberi hadiah pada umatnya yang bekerja. Jadi jangan nunggu proyek baru bekerja. Bekerjalah dulu maka proyek akan datang padamu.” Begitu juga dengan kreativitas.

M: Dari @aliya2017: OmBud bilang, nulis suka2 aja g perlunmikirin pendapat org. Tp gmn caranya bisa dptin poin yg plg pas teritegrasi dg gambar shg bisa bicara dg cerdas

N: Dalam konteks social media, cerdas hanyalah salah satu cara. Social media itu adalah MEDIA INTERAKTIF. Jadi caption yang mengundang interaksi seringkali lebih bekerja daripada yang cerdas tapi tidak mengundang interaksi. Jadi di social media, kalo mau cerdas saja gak cukup. Yang keren adalah cerdas sekaligus mengundang interaksi.

M: Dari @Faikul. Nanya om Bud, Selain blog media apalagi yg om saranin utk latihan menulis?? Saya jarang main IG sering mainanya FB pribadi dan ngelola Fanpage FB seminggu minimal 3kali posting. Trimakasih om… 🙏🙏

N: Semuanya bagus2 aja sih. Yang penting bukan di mana tapi seperti apa kontennya. Ketika saya mengatakan bahwa blog adalah keharusan, itu maksud saya khusus buat calon copywriter yang ngelamar ke kantor saya,

M: Dari @Shwa: Pengen banget nanya soal ini: Gimana ya caranya bikin cerita yang berkesan tentang betapa bagusnya perbedaan, tanpa menyinggung SARA? Soalnya kan cerita pasti ada konflik, nah di dalam konflik itu takutnya bakal menyinggung suatu etnis… ☹

N: Saya gak bisa ngejawab pertanyaan ini karena pertanyaannya terlalu general. Soal SARA itu sangat spesifik jadi saya harus baca dulu tulisan kamu seperti apa. Setelah itu baru saya bisa bilang apakah itu sensitif atau tidak. Untungnya saya punya group WA mantan pendaki gunung. Di group itu semuanya asyik2 aja. Jadi setiap kali saya menulis sesuatu yg kira2 sensitif, biasanya saya posting di group tersebut dan minta penilaian mereka.

M: Berikutnya dari @Biyan | Mbois Manis. Sy screen capture aja:

Pertanyaannya nyatu di image Om. Silakan.

N: Gambar apa ya itu? 🤔

M: Produk vitalitas. Sepertinya obat kuat Om.

N: Gak jelas gambarnya jadi saya jelasin aja tanpa mengacu gambar itu ya. Intinya Copy Menggambar, visula bercertita itu adalah seperti berikut, Pak Biyan. Copy itu kan artinya tulisan, jadi pasti kita akan bercerita sesuatu kan? Nah gambarnya juga harus bercerita, misalnya gambar patung pancoran yg tadi saya posting.

Semua orang Jakarta pasti tau itu adalah patung pancoran. Dan mereka bertanya-tanya kok gak ada patungnya? Lalu mereka ngeliat sachet obat pegel linu itu. Otak mereka akan bekerja menghubungak setiap elemen yg ada dan akhirnya mereka meemukan jawabannya. Dan jawabannya itulah yang berupa cerita. Oh, patung pancoran itu rupanya pegel akhirnya dia turun mencari obat pegel linu. Kira2 gitu….

M: Dari @muhariffudin: Selamat malam… Pertanyaan saya: Om Bud, bagaimana cara mengungkapkan tulisan retorika secara tertulis yang memiliki kekuatan dahsyat seperti ketika saat diucapkan/diteriakkan? Sebagaimana yg kita ketahui bersama bahwa saat diucapkan maka akan ada indera pendengar (audio) yang juga berperan, sedangkan saat ditulis itu hanya indera penglihatan saja. Terimakasih.

N: Dalam penulisan itu ada dua bagian besar. Yang satu disebut deskripsi (penggambaran) dan satunya lagi adalah narasi (penceritaan). Nah keduanya sangatlah penting.

Nah, untuk membuat kalimat berarti ada di bagian narasi. Untuk mendapatkan kesan seakan-akan itu didengar oleh telinga, caranya begini. Setiap kali ada adegan emosional, apakah itu orang marah, orang menangis, orang menjerit-jerit, gunakan kalimat langsung.

Anton sangat marah pada temannya karena dia tidak juga mau membayar hutangnya padahal sudah berkali-kali dia berjanji untuk membayar tapi tidak juga ditepati. Daripada menulis seperti di atas, gunakan kalimat langsung.

“Jadi kapan lo mau bayar utangnya? Hah!!! Lo udah janji berkali-kali tapi gak pernah ditepati. Jadi kapan lo mau bayar!!!!!” Bentak Anto mulai murka.

M: Dari @Muharram: Mau tanya, biasanya mulai dari mana, copy dulu atau visual dulu.

N: Tergantung ide yg kita temukan. Kadang kita menemukan ide berupa kata-kata lalu kita mikirin gimana visualnya. Atau sebaliknya.

M: Dari @luqmanbaehaqi: Banyak beredar quote² yang penuh inspirasi seperti “sebelum mati minimal buatlah satu buku.”

Pertanyaannya: Bagaimana cara memeras tulisan yang panjang menjadi satu kalimat inti yang dalam dan kaya makna.

N: Halo Luqman. Teman2 ini adalah Luqman temen saya. Dia stand up comedian loh. Hehehehe

Jadi begini Luq. Kalo kita menerjemahkan dari bhs Inggris ke dalam bhs Indonesia, biasanya kita memang kesulitan untuk membuat kalimat motivasi itu pendek, minimal sependek bhs aslinya. Misalnya kalimat “Youa are what you drive.” Sampe tua pun kita gak bakalan dapet kalimat yg sependek itu di terjemahannya.

Tapi kalo kita membuat kalimat motivasi sendiri. Bikin sendiri seharusnya itu lebih mudah. Tapi ini juga tergantung mau bikin kalimat apa. Pokoknya nomor 1 yg harus dilakukan adalah Tulis aja dulu kalimatnya yang udah kita dapet. Gak usah peduliin panjangnya. Lalu baru diulik-ulik dan dipotong sana-sini.

M: Dari @Fairuz N. Izzah: Kalau saya ingin promosi buku, saya mesti menarik perhatian orang, cuma kalau caption nya itu berisi info salah satu cerita di buku saya, apakah itu termasuk creative attitude?

Creative attitude itu kan sikap. Kita bersikap kreatif. Jadi keinginan untuk berpromosi itu udah creative attitude. Soal caranya itu masalah lain lagi. Pokoknya mau mempromosikan karya kita sendiri dan tidak mengandalkan pada penerbit, itu udah creative attitude.

M: Teman-teman, pertanyaan masih banyak. Tapi berhubung waktu bahkan sudah lewat 30 menit, untuk sementara sesi kita tutup dulu ya. Pertanyaan tersisa akan tetap saya sampaikan ke om Budiman Hakim.

Baik, sebelum ditutup, barangkali ada closing speech dari Om Bud, monggo.

N: OK, tadi saya udah tanya apakah kalian mau PR, gak? Sebagain mau dan sebagai gak mau. Jadi saya akan kasih PR buat yg mau aja. PRnya sederhana, coba kalian foto sesuatu, terserah apa aja. Lalu bikin captionnya yang tidak mengulang apa yg telah disampaikan oleh visualnya.

Buat peserta cewek, kirim ke Kang Asep dan buat yg cowok kirim ke saya.  Sekali lagi ini buat yg mau aja ya. Buat yg sibuk atau gak punya waktu gapapa. Kalian harus senang di group ini. Jadi saya gak mau kalian punay tekanan dikejar deadline atau stress karena belom bikin PR. Santai aja. Kalo sama saya dan Asep, semua harus merasa nyaman.

Demikian closing dari saya. Moho maaf kalo ada kata-kata yg kurang berkenan. Sekian dan wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

M: Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih Om Budiman Hakim, juga teman-teman. Seru banget malam ini. Semoga penuh berkah ya. Terima kasih juga untuk yang udah aktif bertanya, bikin tambah hangat aja.

Baiklah. Untuk sementara sesi sharing ini kita tutup dulu. Besok Kamis malam kita lanjut lagi. Dan ruang saya kembalikan ke teman-teman untuk bebas chat lagi. Mari kita berikan applause yang meriah untuk teman-teman.

Wassalamu alaikum warahmtullahi wabarakatuh. Selamat malam.

Belajar Menulis Bersama Om Bud (Bagian 1)

Skripsi saya bertema semiotika iklan. Salah satu bahan bacaan dalam menyusun skripsi tersebut adalah buku berjudul Lanturan Tapi Relevan karya Budiman Hakim (biasa dipanggil Om Bud). Pernah juga mengikuti diskusi dengan beliau sebagai narsum di Bentara Budaya Yogyakarta, bertahun-tahun lampau. Kesan saya beliau ramah, murah ilmu, dan mudah akrab.

Tempo hari, saya membaca status Om Bud soal kelas menulis yang beliau selenggarakan di WA. Saya mendaftar ke admin, yaitu Mba Devina. Kelas menulis ini diselenggarakan tiap Selasa, Rabu, Kamis, mulai pukul 20.00 WIB selama beberapa minggu. Biaya mengikuti kuliah ini adalah seikhlasnya, semampunya, selama tidak memberatkan peserta. Saya dimasukkan ke dalam WAG The Writer Angkatan II, yang anggotanya berjumlah 191 orang.

Tanggal 18 Juni 2019 pukul 20.00, dimulailah kuliah dan diskusi tentang menulis dg narasumber (N) Budiman Hakim. Moderator (M) dalam diskusi ini adalah Kang Asep Herna. Berikut ini adalah resume dari materi dan diskusi yang berlangsung  semalam.

M : Selamat malam teman-teman The Writers. Apa kabar semuanya? Insya Allah semua dalam keadaan sehat, asik dan bergairah ya, sehingga malam ini kita bisa enjoy mengunyah sesi sharing perdana The Writers dari Om Budiman Hakim.

Perkenalkan, saya Asep Herna, yang malam ini siap memoderasi sesi sharing ini.

Teman-teman, sejak malam ini, setiap Selasa-Rabu-Kamis kita akan intens melewati 12 sesi pelatihan. Dan malam ini Om Budiman Hakim akan mengawalinya dengan mengetengahkan tema “Creative Attitude”.

Om Budiman Hakim adalah seorang executive creative director yang telah berpengalaman lebih dari 20 tahun di dunia periklanan. Dari tangannya, lahir ratusan karya monumental baik dari brand-brand nasional maupun multinasional. Di antaranya, permen Frozz, Danamon, Telkomsel, Indosat, Djarum Black, Nestle, Bentoel Mild, Toyota, Auto 2000, dan banyak lagi.

Beberapa karyanya memenangkan banyak penghargaan baik di ajang festival iklan nasional maupun internasional seperti New York Festival. Salah satunya bahkan menjadi The Best of the Best di Citra Pariwara.

Dari tangannya juga Om Bud telah menerbitkan 10 buku kreatif, antara lain: Lanturan tapi Relevan, Go West and Gowes, Sex after Dugem, Ngobrolin Iklan Yuk, Si Muka Jelek, Saya Pengen Jago Presentasi, Saya Pengen jadi Copywriter, Saya Pengen jadi Creative Director, Storytelling, Si Kampret Master Selingkuh.

N: Selamat malam teman-teman. Nama saya Budiman Hakim. Di industri Periklanan saya biasa dipanggil ‘Om Bud’ .

Sharing ini akan berjalan sebanyak 12X pertemuan dengan 2 pemateri yaitu Asep Herna dan saya.

Perlu dicamkan bahwa Asep dan saya bukanlah guru kalian tapi teman kalian.

Kenapa kami gak mau dianggap guru?

Kalau mau, kalian juga boleh memanggil begitu. Semoga sharing kita kali ini penuh barokah buat kita semua. Aamiin.

Karena orang selalu merasa lebih nyaman berada bersama temannya.

Orang biasanya lebih mendengarkan apa kata temannya dibandingkan orang lain.

Setuju teman-teman? Setuju dong ya….

Ini adalah hari pertama dari pelatihan kita. Saya berterima kasih sekali buat semua yang sudah ikut berpartisipasi.

Partisipasi yang betul2 luar biasa karena dalam waktu cuma beberapa hari kita telah membentuk sebuah komunitas menulis yang berjumlah lebih dari 180 orang.

Wuiiiih…ternyata harapan kita akan terkabul. Sharing ini penuh barokah. Insya Allah.

Yang bikin saya surprise ternyata peserta di sini sangat beragam.

Ada mahasiswa, ada dosen, ada yg dari forex trading, ada produser film iklan, ada juga yang penulis buku, ada yang bekerja di pajak, ada coach dan ada juga yang pelaut. Ck…ck…ck…

Dari segi usia juga sangat bervariasi. ada yang junior 14 tahun dan ada yang senior, 71 tahun.

Dari domisili juga mencakup jarak yang beragam.

Ada yang dari Jkt, Bandung, Solo, Semarang, Solo, Yogya, Surabaya, Pakan baru, Balik Papan, Menado dan ada juga peserta yang berasal dari Singapore, Taiwan dan Turki. Luar biasa.  Terharu….

Okay, kita mulai dengan kenapa kita harus menulis?

Banyak orang bilang bahwa DIA TIDAK SUKA MENULIS bahkan TIDAK PERNAH MENULIS.

Nah,walaupun tidak terstruktur, sistematis dan masif,  saya berani bilang Itu pasti hoax!

Karena menulis adalah kebutuhan primer seperti halnya dengan makan, minum dan tidur.

Kita boleh bilang bahwa kita bukan culinary Man. Tapi toh kita tetap harus makan.

Begitu juga menulis. Kita mungkin gak suka menulis.

Tapi kita selalu ngetweet, kita bikin status di FB, kita bikin caption di Instagram, kita chatting di WA dll.

Kita menulis pelajaran di sekolah, kita membuat laporan di kantor, DLL.

Artinya, suka gak suka, kita tetap saja menulis.

Point saya adalah, karena kita tetap dan terpaksa harus menulis, kenapa kita tidak sekalian saja memperdalam ilmu penulisan kita.

Kenapa demikian? Karena menulis itu banyak sekali manfaatnya.

MANFAAT MENULIS:

  1. MENGABADIKAN PENGALAMAN HIDUP

Kita bisa mengabadikan hal-hal menarik dalam hidup kita.

Kenapa perlu kita abadikan? Karena yang perlu kita wariskan pada anak dan cucu kita bukanlah harta tapi pengalaman hidup dan wisdom kita.

Menulislah dan tidak usah malu mengungkapkan sisi hitam kita.

Karena bukan sisi negatif itu yang akan kita highlite tapi hikmah positif apa yang kita peroleh dari peristiwa tersebut.

  1. MENINGGALKAN LEGACY

Menulis membuat kita bisa meninggalkan legacy untuk keturunan kita.

Cucu-cucu yang gak sempet ketemu kita, pasti seneng banget ketika membaca, “Wah, nenek buyut, Niken, kita ternyata dulu seorang Forex Trader , Loh.

“Ih, kagum banget sama nenek buyut Niken!!”

“Gile, ternyata kakek buyut kita Joice Karouw adalah seorang pelaut. Hebat banget. Sayang kita gak sempet ketemu beliau.”

Mengharukan, bukan?

Dan kalo buku kita bagus, bukan cuma keluarga tapi dunia akan membaca buku kita.

Seperti orang bijak berkata, “If you want to know the world, READ. If you want the world to know you, WRITE!

  1. MEMBUANG SAMPAH EMOSI

Jiwa menderita, tubuh menjerit. Itulah yang tejadi di era modern seperti sekarang.

Sebagian besar penyakit yang menggeragoti tubuh selalu datang dari masalah psikis (Psychosomatic).

Alhamdulillah salah satu obat yang paling manjur adalah menulis.

Menulis berfungsi sebagai EMOTIONAL DETOX yang mampu mengusir rasa sakit, penderitaan, rasa bersalah, kesedihan dan stress.

Semua itu berpangkal dari enerji negatif yang semakin gila datang dari media digital.

Kalo semua enerji negatif tersebut dibiarkan dalam tubuh, lama kelamaan akan mengakibatkan tubuh kita sakit.

Orang2 psikologi biasa menyebutnya dengan istilah fungsi katarsis yang mencegah kita dari penyakit psikosomatis.

Jadi ketika kita sedang gelisah akan sesuatu, MENULISLAH!

Maka kegelisahanmu akan pudar.

Tapi jika kegelisahan itu terlalu personal untuk dibuka ke publik, tulis tentang hal lain. Tentang apa saja semau kita. Hasilnya?

Aneh bin ajaib, kegelisahan kita tetap menghilang. Begitu powerfulnya menulis bagi kesehatan kita.

  1. MENULIS ITU SEPERTI MAIN GAME

Main game sering disebut dengan melampiaskan aktualisasi diri.

Menulis itu persis seperti main XBOX atau PS (Play Station).

Perhatiin deh, game yang dipilih oleh anak kita, sebenernya sangat mewakili harapan dan imajinasinya.

Mereka memilih game balapan karena buat mereka seru dan ternyata menjadi pembalap adalah salah satu impiannya.

Tidak semua impian bisa jadi kenyataan tapi dengan main game sedikit banyak aktualisasi diri bisa terpenuhi.

Sama dengan main game, menulis juga bisa berfungsi sebagai aktualisasi diri.

Buat yg suka berkhayal pengen jadi jagoan, pengen jadi bintang film, pengen jadi Super Hero…pokoknya jadi apa aja, BISA.

Tuliskan cerita berdasarkan imajinasi itu.

Tokohnya tidak perlu harus kita. Ketika semua kita tuliskan maka semua hal yg kita ceritakan sebetulnya semuanya merupakan representasi dari pikiran, imajinasi, cita-cita, harapan kita.

Dengan menulis cerita, kita bisa jadi apa aja di sana.

Pokoknya apapun yang muncul dalam pikiran, apapun yang sering muncul dalam imajinasi kita, tuliskan. Insya Allah tulisan kita akan menjadi bagus. Kenapa?

Karena sesuatu yg sering kita imaginasikan pasti sangat sempurna minimal buat kita sendiri.

  1. MENULIS ITU MENCEGAH PIKUN

Banyak orang yang memasuki usia pensiun, seringkali bingung harus melakukan apa.

Hidup itu tentang mengejar sesuatu. Meskipun keliatan sepele, tetap harus ada yang dikejar.

Itu sebabnya banyak pensiunan cepat meninggal karena mereka gak punya sesuatu yang harus dikejar.

Mereka stress dan merasa gak berguna menjalani hidup.

Padahal Masa Pensiun itu bukanlah periode di mana kita tidak mengerjakan apa-apa.

Masa pensiun adalah masa di mana kita mempunyai kebebasan untuk memilih pekerjaan yang kita sukai.

Karena butuh kegiatan dan membutuhkan sesuatu untuk dikejar, akhirnya para pensiunan tersebut mencoba berkebun, kursus melukis atau kursus menulis.

Berdasarkan hal itulah, saya berpendapat, daripada menunggu tua baru belajar menulis lebih baik kita belajar dari sekarang.

Kalo hobby menulis, ketika kita tua nanti, kita mempunya kegiatan yang meneyanangkan.

Kita bisa berkarya, menulis sepuasnya, menerbitkan beberapa buku karena di jaman masih bekerja sering tertunda oleh kegiatan lainnya.

Artinya kita mempunya sesuatu yang menyenangkan untuk dikejar.

Dan hebatnya lagi, kegiatan menulis akan membuat kita terhindar dari penyakit pikun.

Kok bisa begitu?

Karena jika otak kita sering digunakan untuk berimajinasi dan berpikir maka otak kita akan terasah terus.

Orang yang terkena Alzheimer biasanya adalah orang yang kurang menggunakan otaknya untuk berpikir.

Otak adalah hadiah terhebat dari semua organ tubuh yang kita terima dari Tuhan.

Secara umum manusia yang paling pinter pun konon baru menggunakan kapasitas otaknya sebesar 10%.

Jadi bisa dibayangkan bagaimana hebatnya jika kita bisa memaksimalkan otak kita. Pastinya karya kita akan sangat bagus.

PLAK!!!! Aduh….banyak nyamuk nih di sini….😃

Kita lanjutin ya….

Ada teori yang mengatakan bahwa secara umum manusia terbagi dalam dua tipe; 1. Tipe pembicara dan 2. Tipe pendengar.

Terus terang saya kurang sepakat dengan teori itu.

Minimal di lingkungan saya, semua orang ingin menjadi pembicara sekaligus ingin didengarkan.

Karena itu menulislah.

Ketika orang memutuskan untuk membaca tulisan kita berarti dia dengan rela mendudukkan dirinya sebagai pendengar.

Dan kita sebagai penulisnya tentu saja adalah pembicaranya. Hehehehe…

KESIMPULAN:

Sekarang kita sudah mengetahui betapa banyak manfaat dan betapa pentingnya pengetahuan tentang penulisan.

Perlu dipahami bahwa segala kegiatan yang kita lakukan hampir semuanya berhubungan dengan penulisan.

Kita mau berjualan, berdakwah, presentasi, membuat film, membuat album lagu, melakukan penelitian dll, semua berhubungan dengan dunia penulisan.

Sejak kemunculan dunia digital, sekonyong-konyong ilmu penulisan semakin naik pamornya.

Di social media semua orang menulis, baik itu di twitter, Youtube, Facebook, Instagram, dll.

Tiba-tiba penulisan menduduki porsi yang sangat mendominasi.

Itu sebabnya belakangan ini kita melihat berbagai penawaran workshop tentang penulisan/copywriting begitu tinggi.

Jadi teman-teman, yuk kita tanamkan tekad, kita harus belajar dan memperdalam ilmu menulis.

Maap postingan saya makin lambat ya? Soalnya jari pegel juga nih lama2….😃

Okay. Perlu diketahui bahwa setiap kali saya mengajar, entah itu sharing tentang creative writing, storytelling, generating ideas, presentasi/public speaking dll, segmen pertama saya selalu sama, yaitu tentang CREATIVE ATTITUDE.

Saya tidak pernah mengajarkan kalimat template karena, buat saya, itu melecehkan kecerdasan otak kita.

Tuhan itu adalah FATHER OF CREATION.

Satu-satunya bakat yang diberikan pada manusia namun tidak diwariskan pada makhluk lain adalah berkarya (creation, to create and creative).

Jadi saya punya pemahaman bahwa Creative Attitude sangat penting dan merupakan landasan atau infrastruktur utama dari kreativitas kita.

CREATIVE ATTITUDE

Sebelum kita mulai belajar menulis ada hal yang sangat penting untuk ditanamkan dalam diri kita masing-masing. Yaitu Creative Attitude.

Perlu dipahami bahwa KREATIVITAS ITU ADALAH SIKAP HIDUP. BUKAN JOB DESKRIPSI.

Bersikap kreatif jangan hanya dilakukan ketika kita sedang mendapat pekerjaan.

Bersikap kreatif jangan hanya dilakukan ketika kita sedang mendapat masalah.

Creative Attitude harus menjadi sikap hidup kita sehari-hari.

Meskipun sedang tidak ada proyek, meskipun sedang tidak ada masalah, kita harus selalu bersikap kreatif.

Plak!!! Nah mati tuh satu nyamuk. Darahnya banyak😃 banget….

Lanjut lagi ya….

Temen saya pernah bercerita tentang seorang kerabatnya yang berasal dari Aceh yang bernama Farhan.

Farhan ini selalu mengaku tidak suka menulis.

Bahkan dia cenderung menganggap remeh kegiatan menulis.

Namun sebuah peristiwa besar telah merubah paradigma yang selama ini dianutnya. Apakah itu?

Tentu kita masih ingat bencana Tsunami yang terjadi di Aceh.

Sekitar 230.000 orang di 14 negara tewas akibat tsunami dahsyat yang melanda Samudra Hindia, pada tanggal 26 Desember 2004.

Tsunami dipicu gempa berkekuatan 9,1 pada skala Richter, yang episentrumnya berada Samudra Hindia, sekitar 85 km di barat laut Banda Aceh

Keluarga Farhan adalah salah satau korban dari gelombang Tsunami yang mengerikan itu.

Dalam bencana tersebut, dia kehilangan isteri dan anaknya. Dia merasa sangat sedih dan terpukul.

Rasa kehilangan yang begitu berat membuatnya sangat menderita.

Dia merasa depresi dan sering berteriak-teriak karena beban yang begitu menyesakkan dada tentunya harus dikeluarkan.

Tanpa disadari, secara naluriah dia mulai menulis untuk melampiaskan kesedihannya itu

M: Buat teman-teman yang sudah punya pertanyaan, silahkan tulis ke WA saya di 0816909xxx. Akan dipilih 5 pertanyaan pertama untuk dijawab oleh Om Budiman Hakim. Terima kasih. 🙂

N: Akhirnya Farhan menulis dan menulis lagi untuk mengeluarkan beban yang selama ini menindih hatinya.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa bencana Tsunami telah menjadi PEMICU untuk menulis.

Farhan yang mengaku tidak suka menulis akhirnya menulis.

Tapi perlu dicatat bahwa dia membutuhkan PEMICU YANG BESAR untuk memaksanya menulis.

Kasus lain lagi.

Pernah gak kalian perhatikan, ada banyak sekali seniman yang selalu berkarya dan karyanya bagus-bagus. Namun ada cerita selanjutnya yang banyak tidakkita ketahui

Seorang sahabat saya di Yogya pernah menganalisa tentang Ebiet GAD yg kemaren jadi tamu di acara Matanajwa..

Menurut teman saya tersebut, Ebiet sangat kreatif dan banyak membuat lagu ketika hidupnya masih susah.

Kesehariannya sering diisi dengan cara menggelandang di Malioboro dan merenung di pantai Parang Tritis.

Beban yang ada di pundaknya menjadi PEMICU yang dia lampiaskan dengan mencipta lagu.

Dan percaya gak? Lagunya bagus-bagus. Bahkan akhirnya dia mendapat kesempatan untuk rekaman dan albumnya meledak.

Dia mendadak menjadi terkenal, mendapat banyak penghargaan dan bergelimang dengan uang.

Konon dia lalu menikah dengan sesama artis dan tinggal di rumah mewah di bilangan kebayoran baru.

Ebiet GAD hidup bahagia bersama isteri dan anak-anaknya. Kisah hidupnya seperti novel yang berakhir dengan happy ending.

Namun selanjutnya apa yang terjadi?

Setelah dia hidup mapan, kita tidak pernah lagi mendengar karyanya meledak.

Bahkan kita tidak tau apakah dia masih mencipta lagu atau tidak.

Tapi apa yang terjadi pada Ebiet memang banyak dialami sebagian besar seniman.

Banyak yang setelah menjadi kaya, mereka sulit sekali berkarya.

Bukannya mereka tidak mau.

Setiap hari mereka berusaha mencipta lagu.

Mereka sudah berusaha mati-matian tapi tetap saja tidak terlahir lagu-lagu yang kualitasnya sama dengan jaman dia hidup susah dulu. Kenapa bisa terjadi begitu?

Rupanya ketika hidup mapan, dia merasa tidak lagi mempunyai PEMICU.

Dulu beban yang ada di pundaknya bisa dia konversikan menjadi lagu. Tapi ketika hidup mapan tanpa beban?

Ide-idenya gak keluar. Otaknya buntu.

Mereka membutuhkan ‘kekejaman Tuhan’ berupa beban hidup sebagai PEMICU untuk berkarya.

Banyak seniman di dunia ini mengalami hal yang seragam. Mereka punya karya yang mumpuni saat sedang menderita tapi blank ketika hidupnya sudah mapan.

Nah, di sinilah pentingnya CREATIVE ATTITUDE!

Kalo kita terlatih dan memiliki Creative Attitude, KITA TIDAK MEMBUTUHKAN PEMICU YANG BESAR UNTUK BERKARYA.

Kita tidak butuh bencana Tsunami untuk memaksa kita menulis.

Kita tidak butuh beban penderitaan hidup untuk berkarya.

Sebuah KATA atau KALIMAT sederhana akan menjelma sebagai PEMICU jika CREATIVE ATTITUDE sudah menyatu dengan aliran darah kita.

Dari pemaparan di atas, kita tentu setuju bahwa creative attitude itu sangat penting dan harus dilatih secara terus menerus.

Bagaimana caranya?

Sebetulnya caranya sederhana saja.

Kita harus peka pada apa yang terjadi di sekeliling kita. Kita harus sering-sering menganalisa apa yang ditangkap oleh pancaindera kita.

Begitulah yang namanya creative Attitude. Persoalannya, bagaimana cara melatihnya?

KOMEN DI FACEBOOK

Di jaman sekarang banyak waktu kita tersita di social media.

So, supaya gampang, ayok kita manfaatkan situasi itu.

Pasti kalian sering ngasih komen di social media orang lain, kan?

Misalnya kalian sedang melihat status FB temen.

Di sana kita membaca status tersebut berbunyi “Anak kita tidak cukup hanya diberi nasihat tapi berilah dia contoh.”

Nah, terus kalian ngasih komen begini “Setubuh…eh setuju!”

Astaghfirullah! Jangan, ya? Itu adalah segaring-garingnya komen.

Kalo bikin komen seperti itu berarti kalian tidak punya creative attitude.

Joke tersebut adalah joke tahun 70-an. Udah ampir setengah abad umurnya!

Masa sih kita gak mau menulis komen yang baru?

Tulislah komen yang kita ciptakan sendiri sehingga temen kita merasa surprise dengan komen kita.

Ingat! Semua orang suka SURPRISE!

Saat hari lebaran banyak banget kalimat-kalimat indah berseliweran.

Pesan saya cuma satu:  HINDARI NYONTEK ucapan-ucapan yang sudah basi.

Misalnya “Ketika jemari tak sempat bertaut….” Hadoh! Basi amat!

Atau “Ketika kata menggores luka…..” NAJONG!

Apalagi bikin pantun “Ikan kakap ikan patin. Mohon maaf lahir bathin.” TOBAT!!!!!!!!!!!

Guys, please! Jangan bikin temen kita muak dengan ucapan selamat kita!

Bikin dong kalimat sendiri yang baru. Temen kita juga akan seneng bacanya.

Atau pas temen kita nulis tentang dirinya yang mencari kacamatanya ternyata kacamatanya ada di kepalanya.

Jangan pernah bikin komen “FAKTOR U!”

Kenapa demikian? Karena pasti ada banyak orang lain yang akan menuliskan kalimat yang sama.

Akibatnya komen kita jadi GENERIK.

Dengan creative attitude seharusnya komen kita jadi UNIK.

Sekali lagi komen kita harus jadi SURPRISE buat yang membacanya.

Hal ini penting. Bukan untuk membahagiakan temen kita tapi untuk membahagiakan diri sendiri.

Kalo temen kita juga suka, anggap aja bonus!

Kasus selanjutnya.

Temen kita bercerita di FB tentang seorang isteri yang dateng ke kantor suaminya.

Sang isteri tersebut mau ngecek karena mencurigai suaminya berselingkuh dengan resepsionisnya.

Terus kita ngasih komen, “Pengalaman pribadi, ya?”

Ya, ampun! Wake up, guys! Komen seperti itu juga pasti akan dituliskan oleh oleh orang lain.

Kita perlu mengantisipasi kira-kira orang lain akan komen apa.

Nah, kita harus bikin yang lain. Yang unik. Yang unexpected. Sesuatu yang tidak terpikirkan oleh orang lain.

Jadi bisa disimpulkan bahwa CREATIVE ATTITUDE adalah sikap hidup yang harus selalu dilakukan dalam keseharian kita.

Baiklah teman-teman. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 9.30, kita berhenti dulu sampe di sini ya.

Besok kita lanjutin masih seputar creative attitude.

Dengan demikian, mike saya kembalikan pada moderator untuk masuk ke sesi tanya jawab.

M: Tips memahami psikologi seseorang untuk menulis copywriting?

N: Waduh! Saya bukan psikolog, Ros. Tapi kalo untuk memahami attitude TA atau konsumen, kita harus menggali consumer insight mereka. Dan cara untuk menemukan insight tersebut biasanya saya melakukan riset dengan FGD baik itu kuantitaif maupun kualitatif.

M: Terkait dengan membuang sampah emosi. Kok saya merasa kalo curhat ke temen saya bisa menceritakan kesedihan dan kekesalan saya dengan lancar ke teman. Tapi apa yg saya curhatjan via verbal ketika saya tulis kok beda jadi berbelit2 dan bertele-tele, gak seperti waktu saya ngomong

Pertanyaannya, mengapa bisa seperti itu, apa yg harus dilatih biar menulisnya efektif

N: Caranya sederhana, kalo kamu lebih nyaman ngomong, coba install aplikasi Speech notes. Aplikasi ini sangat membantu orang yang seperti kamu. Jadi caranya kamu ngomong aja di mikenya dan aplikasi tersebut akan mengetik apa yang kamu omongin.

Jadi setelah selesai ngomong, kamu bisa periksa lagi untuk merevisi tata bahasa dan tanda bacanya. Saya juga sering banget melakukan itu. Misalnya saya lagi di coffee shop terus dapet ide. Saya langsung ngomong di aplikasi tersebut. Sampe rumah bary saya betulin.

M : Pertanyaan ke-3 dari @Rian Setiawan: gmana caranya memetakan banyak ide yg muncul di kepala, agar bisa jadi satu buku.

N: Kalo saya setiap dapet ide saya catet di notes HP. Setelah itu saya bikin folder sendiri di laptop dengan judul ‘GUDANG IDE’. Jadi setiap saat saya mood untuk menulis, saya tinggal buka folder itu. Lalu mulai menulis…

Gak usah mikirin jadi buku dulu. Setiap orang sering frustrasi kalo berencana bikin buku. Kebayang tebelnya aja kita udah putus asa duluan. Biasakan bikin artikel. Kalo udah banyak kelompokkan artikel yang sama kategorinya. Lalu hitung gabungan artikel tersebut jumlahnya berapa halaman. Setelah itu baru kita bikin buku. Past rasanya lebih semangat karena tau2 kita udah punya naskah yang lumayan panjang.

M: Dari @DEDENS: Bagaimana cara kita menyadari bahwa kita sudah menjadi kreatif dalam keseharian ????

N: Sering2 menulis di social media. Kalo yang like, comment dan share semakin lama semakin banyak berarti kamu udah berkarya. Kalo karyanya udah banyak berarti kamu udah kreatif. Kalo engagementnya udah tinggi, berarti kamu udah layak bikin buku atau karya lainnya.

Dulu kita selalu nanya ke orang yg lebih pinter, tulisan kita udah bagus belom? Sekarang gak perlu lagi. Engagement di social media bisa menjadi ukuran apakah karya kita udah bagus atau tidak.

M : Dari @+62 857-4707-xxxx Selamat malam kang Asep Herna. Perkenalkan saya Yusuf.

Mohon izin bertanya, dalam proses menulis, saya sering merasa ah tulisan saya kok jelek ya. Akhirnya saya hapus semua atau ga jadi saya post.

Kadang juga ragu dipost ga ya, dipost ga ya. Akhirnya ga jadi post.

Mohon saran agar jadi makin pede terhadap hasil tulisan sendiri.

Terima kasih 🙏

N: Hampir semua orang mengalami masalah yang sama. Tapi tetap semua harus dilakukan. There is always the first time. Hidup adalah tentang melakukan hal yang baru. Kalo kita selalu melakukan hal yang sama berarti kita jalan di tempat.

Perlu dipahami bahwa menulis itu bukan untuk menyenangkan orang lain tapi untuk menyenangkan diri sendiri. Posting aja tulisan kamu. Dengan pemahaman tadi, kita gak akan begitu terganggu ketika tulisan kita kurang mendapat respon. Selamat berjuang, Bro!!!

M: Dari @maymona deviani:  Apakah dalam menulis kita harus selalu punya literatur yg valid sebagai rujukan,?  Apa boleh cuma sekedar share pengalaman pribadi aja

Terus bagaimana cara menghadapi situasi dimana tulisan kita jadi kontroversi

N: Tergantung tulisan seperti apa yang mau kita tulis. Saran saya adalah tulislah apa yang paling kita suka. Tulislah materi yang paling kita ngerti. Menulis pengalamn pribadi adalah yang paling aman karena kitalah yang paling memahami pribadi kita.

Kalo soal kontroversi, saya gak bisa jawab karena pertanyaannya terlalu general.  Pertanyaan seperti ini harus spesifik. Kontroversi tentang apa? Apa kasusnya? Agama? Politik atau urusan pengetahuan tentang kopi? Hehehehe….

M: Dari @Oktaviani Nur Khayati, pertanyaan saya : bagaimana mengatasi mood yg hilang timbul ketika ada ide untuk menulis,, kadang kesibukan membuat mood menulis tertunda dan dikala waktu sudah tersedia ganti mood yg hilang

N: Nah, ini masalah yang juga sangat umum terjadi untuk orang yang kepengen menulis. Mood itu jangan diturutin, lama-lama dia bisa ngelunjak dan akhirnya kita gak pernah nulis aa-apa.

Biasanya saya suka mancing mood supaya dateng. Caranya adalah dengan menyalakan laptop di meja kerja walaupun saya gak berecana untuk menulis. Secara psikologis, saya suka kesian sama laptop saya kok udah nyala tapi dianggurin sia-sia. Akhirnya saya duduk lalu membuka folder gudang ide yang tadi saya ceritakan di atas. Pas saya baca-baca, hampir selalu saya terpicu utntuk menulis. Abis nulis saya terperangah sendiri, “Kok gue bisa nulis sepanjang ini ya? Padahal kan gue lagi gak mood menulis.”

M: Dari @!nDr1 @$tUt|k, Malam om…apakah ide itu bisa mampat ya karena dulu sempat ikutan nulis antologi tapi kok sekarang malah sulit memulai promosi… Bagaimana dengan waktu n tertib administrasi…kadang suka malas nulis yang rajin…acak adut

N: Ide itu jarang sekali ujug-ujug dateng sendiri ke kita minta ditulis. Ide itu persis kayak ikan, jadi seringkali memang harus dipancing. Bagaimana memancingnya? Itu ada di sesi berikutnya ya….

M: Dari @annisaqla , Om, saya mau tanya, menurut teori kapan kah waktu yang tepat untuk belajar menulis? Apakah ada trik trik dan waktu khusus untuk belajar membuat tulisan yang bermutu? 🙏

N: Gak ada waktunya. Setiap orang itu unik sehingga mereka juga punya kebiasaannya sendiri dalam menulis. Saya punya dua temen menulis. Yang satu namanya Noorca Massardi, dia kalo mau nulis selalu pergi ke Ubud meninggalkan anak isterinya. Dia butuh keheningan untuk menulis.

Yg satu lagi namanya Radtya Dika. Nah kalo anak ini bisa makan siang atau ngopi bareng saya di Kafe sembari menulis. Pas saya tanya, “Dik, lo lagi nulis apa, sih?” Dia nyaut, “Gue lagi nulis buku, Om Bud. Buku baru nih.”

“emang lo gak terganggu dengan kebisingan orang seperti ini?” tanya saya. Dia nyaut lagi, “Generasi saya gak butuh keheningan untuk menulis. Pokoknya kalo dapet ide langsung tulis gak peduli ada di mana. Makanya saya ke mana-mana selalu bawa laptop”

Gitu katanya. Kamu termasuk jenis yang mana? Kenali diri sendiri dulu maka selanjutnya kita akan merasa lebih mudah untuk melakukan apa-apa.

M: Dari Tika @Atika Rusli, Saya suka nulis dan ‘’merasa’’ punya sedikit creative attitude hehehe, namanya aja merasa gak pa2 kan ya kang, namun sudah bertahun-tahun menjadikan “kesibukan” sebagai alas an untuk malas nulis, bahkan sudah gak pernah lagi nulis di blog. Gimana ya biar alasan2 atau pembenaran2 atas kemalasan saya itu dihilangkan? Makasih Om Bud dan Kang Asep

N: Coba kamu baca lagi manfaat menulis yang saya tulis di awa-awal materi ini. 👆. Semoga kamu terpicu untuk memulai lagi. Coba posting tulisan kamu di Social media. Like, komen dan share yang kamu terima akan memproduksi hormon endorphine yang akan membuat ketagihan. Kalo belom dapet ide mungkin kamu memang harus belajar memancing ide untuk ditulis. Dan cara memancing ide akan ada di sesi selanjutnya.

M: Pertanyaan berikut dari @aliya2017:

OmBud, kenapa y dulu saya rajin nulis diary setiap malam, setiap waktu. Kok skrg mau nulis, mentok..seperti g merasa ada passion u menuangkan semuanya.

Setiap pegang pulpen, buka buku, tutup lagi.

Saya kangen nulis walaupun sekedar nulis dan gak banget

N : Ini pertanyaannya kurang lebih sama dengan pertanyaan Atika. Jadi jawabannya juga hampir sama. Coba kamu baca lagi manfaat menulis yang saya tulis di awal materi ini. Semoga kamu terpicu untuk memulai lagi. Coba posting tulisan kamu di Social media. Like, komen dan share yang kamu terima akan memproduksi hormon endorphine yang akan membuat ketagihan. Kalo belom dapet ide mungkin kamu memang harus belajar memancing ide untuk ditulis. Dan cara memancing ide akan ada di sesi selanjutnya. Hehehehe….

M: Dari @Sandya Ichwan: Apa perbedaan menulis dan mengetik? Apa positif dan negatifnya? Khususnya untuk kalangan muda seperti saya. Hehe. Ada yg bilang ngetik aja yg muda, via hp or laptop. Ada juga yg bilang nulis tangan aja biar kongkrit. Mana yg lebih baik?

N: Seperti saya bilang di atas, setiap individu itu unik dan punya kebiasaan sendiri2. Kadang kita gak punya keharus untuk membandingkan sesuatu dengan yg lainnya. Pokoknya pilih yng paling nyaman aja buat kita. Mau nulis di laptop atau mau nulis di HP atau mau nulis di mesin tik, itu gak masalah. Yang penting BERKARYA.

Usia muda justru harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk berkarya. Kelebihan orang muda dan orang tua cuma terbatas di jumlah usianya doang. Kualitas manusia hanya bisa diukur dari karyanya. Bukan umurnya.

M : Pertanyaan terakhir di sesi ini dari @Fairuz N. Izzah, yang kemarin baru launching buku kerennya ya. Saya Fairuz Nurul Izzah. Saya punya pertanyaan tapi lebih dari satu.

  1. Saya pernah menulis berdasarkan apa yang saya tonton, apakah itu tidak apa-apa?
  2. Saya masih bingung soal Creative Attitude. Kan kita mesti surprise orang yang menulis cerita. Apakah Ombud tahu bagaimana cara surprise orang yang menulis cerita supaya punya Creative Attitude?

N: Hai, Fairuz. Pertama sekali tentunya saya ngucapin selamat atas terbitnya buku ketiga yang baru launching. Semoga jadi best seller deh ya. Insya Allah…..

Banyak kok orang yang menulis berdasarkan apa yang mereka tonton. Teman saya seorang penyair pernah membuat puisi yang berjudul FORREST GUMP. Itu beradasarkan filmnya Tom Hank dan haslnya bagus banget….

Creative Attitude itu adalah sesuatu yang kita tangkap dari panca indera dan terkonversi menjadi karya. Semakin banyak kita berkarya maka berarti creative attitude kita sudah mendarah daging dalam aliran darah kita, Sebuah karya yang bagus adalah yang mampu menggugah emosi pembacanya. Bagaimana cara menggugah emosinya? Kita harus membuat sesuatu yang unexpected sehingga menjadi surprise buat mereka.

Baiklah teman-teman. Saran saya cobalah lebih peka pada sekeliling kita. Tuhan telah menanamkan ide banyak sekali dan ditaruh di mana-mana. Tugas kita adalah menemukannya dan untuk itu Tuhan memberi otak dan panca indera. Oanca indera untuk menemukan pemicu dan otak untuk mengeksekusi ide menjadi karya.

Berkaryalah teman-teman. Manusia tanpa karya, ketika dia mati hari ini esoknya orang sudah lupa lagi sama kita. Tapi kalo kita punya karya maka sprit kita, melalui karya tersebut akan hidup selamanya. Kita berjumpa lagi besok. Sekian dan selamat malam.

 

————————————–

Demikian isi kuliah dan diskusi dengan Om Bud. Sesuai salah satu yang Om Bud sampaikan tentang manfaat menulis, sy juga tergerak untuk membuat situs ini demi mencegah pikun hehehe. Saya merasa beberapa tahun terakhir ingatan dan daya hafal saya tidak setajam sebelumnya. Saya khawatir banyak yang akan sy lupakan kelak saat menjalani hari tua. Maka, sy mulai belajar membuat situs dan menuliskan kegiatan-kegiatan saya, sereceh dan se-nggak penting apapun itu hihihiii…. Mudah-mudahan ada hikmah yang bisa dipelajari oleh anak saya, atau bagi siapapun yang mampir kemari.

Literasi Emosi

Jumat 12 April 2019

Hari ini tim LiterASIh yang terdiri dari Kak Asih, Kak Namuri, Kak Dwi, Kak Listra, dan Kak David bertamu ke Kelas 2 SD Alam Lampung, kelasnya ananda Bintang. Pukul 08.00, kami tiba di lokasi dengan bantuan Kak Rendy membawa boks buku bacaan.

Kelas 2 SD Alam Lampung dibina oleh Bu Vera dan Bu Ayu. Terdapat 26 murid di dalamnya, sebagian besar anak laki-laki yang bertenaga ekstra. Dalam kunjungan kali ini, tema yang dibawakan adalah literasi emosi.

Setelah berkenalan dengan anggota tim, anak-anak diminta untuk menyebutkan apa saja yang pernah mereka rasakan. Ada yang menjawab rasa senang, sedih, marah, dan lucu. Anak-anak memperagakan wajah dengan ekspresi-ekspresi tersebut dengan contoh dari Kak Listra dan Kak Dwi.

Ekspresi wajah senang ditandai dengan mata yang berbinar dan senyum yang merekah. Biasanya rasa ini hadir jika anak-anak mendapat prestasi, memperoleh barang yang diingini, menerima pujian, bermain bersama teman, dsb. Wajah sedih ditandai dengan sinar mata yang meredup dan tak jarang disertai air mata. Juga senyum yang hilang dari wajah. Sedih dapat dirasakan jika kita kehilangan sesuatu, mengharapkan sesuatu tetapi tidak terwujud, atau karena tidak dihargai teman atau bahkan dimarahi orang tua/guru. Rasa marah dapat dilihat jika mata kita memerah, melotot, gigi gemertak, sampai nafas tersengal-sengal. Wajah tampak seram jika kita marah, dan kita akan dijauhi oleh teman-teman. Marah adalah perasaan yang wajar, terutama jika ada teman yang mengejek kita terus-terusan. Kita boleh menunjukkan rasa tidak suka dengan wajah tanpa senyum atau bicara secara langsung mengungkapkan ketidaksukaan kita. Yang tidak boleh dilakukan saat marah adalah melempar barang, memukul teman, atau mengucapkan kata-kata yang tidak pantas.

Dipandu oleh Kak Namuri yang pandai melukis, anak-anak menggambar ekspresi wajah. Dimulai dari menggambar lingkaran, menggambar setengah lingkaran (garis lengkung di bawah) untuk mulut yang menunjukkan rasa senang, garis alis mata yang melengkung ke bawah, dan bola mata yg berbinar. Untuk wajah sedih, gambar mulut diubah menjadi setengah lingkaran yang garis lengkungnya di bagian atas, garis alis mata melengkung ke atas, dan gambar mata diberi titik-titik di bawah yang mewakili tetesan air mata. Ekspresi marah digambarkan dengan bentuk garis alis yang seperti garis miring ke kiri dan ke kanan, serta gambar gas di sekitar hidung yang menunjukkan nafas tersengal-sengal.

Anak-anak menggambar dengan gembira. Setelah selesai menggambar, anak-anak membaca buku, termasuk buku soal emosi, yang dibwakan oleh boks buku keliling koleksi pustaka LiterASIh.

Manajemen Waktu untuk Pelajar

20 Maret 2019

Hari ini Kak Asih dan tim kembali diundang oleh Kelas Motivasi Sekolah Alam Lampung untuk berbagi pengalaman. Sewaktu dengan Kak Hafiz, pesertanya khusus anak-anak SMA. Kali ini pesertanya terdiri dari anak SMP dan SMA. Anggota tim pemateri adalah Kak Nono dan Kak Nova. Pada kesempatan ini Kak Asih berperan sebagai pendamping saja karena alasan kesehatan. Sebagai Manajer Republik Asih Management (hahahaa joking), sebisa mungkin membersamai artes-artes yang manggung untuk kemaslahatan masyarakat 😀

Kelas Motivasi pekan ini mengusung topik “Manajemen Waktu untuk Menjadi Remaja Produktif”. Pemateri pertama adalah Kak Nova, dosen Teknik Biomedis Itera. Kak Nova berasal dari Sumatera Berat dan menyelesaikan studi S2 di Universiteit Gent, Belgia dan RWTH Aachen University Jerman. Iya, kampusnya Pak Habibie yang tersohor itu. Kak Nova juga pernah mendapatkan beasiswa untuk kursus Bahasa Inggris selama dua bulan di Iowa State University, Amerika Serikat. Bagaimana Kak Nova bisa berprestasi sedemikian rupa?

Kak Nova menjelaskan beberapa teori yang dikuasai sekaligus dipraktikkan seputar manajemen waktu. Secara umum, manajemen waktu adalah bagaimana mengatur atau membagi waktu secara efektif untuk kegiatan dan target kita. Manajemen waktu yang baik dapat melatih kita untuk belajar mandiri, disiplin, dan bertanggung jawab. Bebarapa strategi yang dapat diterapkan dalam mengelola waktu kita antara lain: memiliki buku agenda, mencatat kegiatan yang direncanakan di dalam buku tersebut sesuai tanggal, menyusun prioritas kegiatan, dan mematuhi jadwal yang sudah ditetapkan.

Dalam skala waktu tertentu, kita memiliki banyak kegiatan yang harus diselesaikan. Untuk itu, kita harus dapat mengatur waktu sefektif mungkin agar tidak menimbulkan efek-efek samping seperti jatuh sakit atau merasa tertekan. Oleh sebab itu, sepadat apapun jadwal yang telah disusun, kita sebaiknya tetap berpedoman pada hal-hal mendasar seperti mengalokasikan waktu tidur yang cukup, menetapkan awal dan akhir waktu kegiatan, menetapkan waktu minimal untuk belajar/pengembangan diri, dan menyisihkan waktu untuk kegiatan sosial/bermain. Dengan pengaturan demikian, diharapkan para siswa dapat menjalani kegiatan dengan bugar, teratur, sekaligus menyenangkan.

Materi berikutnya adalah seputar pengalaman mengatur waktu oleh Kak Nono. Kak Nono adalah dosen Teknik Geofisika Itera, asal Pasuruan, dan lulusan Program Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) Angkatan 1 dari Kemenristekdikti. Kak Nono menyelesaikan S2-S3 dalam waktu 4 tahun di ITB di usia 26 tahun. Bagaimana manajemen waktu yang diterapkan Kak Nono? Mari kita telisik.

Kak Nono tidak menyangka bahwa ia bisa kuliah, mengingat latar belakang orang tuanya seorang petani dan pengupas kapas. Ia setengah nekad mendaftar di Fisika Universitas Negeri Malang dan alhamdulillaah diterima. Praktis ia merantau ke Malang dan kuliah disambi kerja karena tidak bisa mengandalkan pembiayaan dari orang tua lagi.

Semasa kuliah S1, kegiatan utama Kak Nono secara garis besar sesuai urutan prioritas adalah kuliah, bekerja, dan berorganisasi. Kegiatan tersebut berlanjut sampai belio menamatkan S2-S3 dengan beberapa penyesuaian seperti melakukan penelitian. Dengan rasa disiplin dan tanggung jawab, kerja keras Kak Nono membuahkan prestasi berupa IPK 4, beberapa tulisan ilmiah yang dipublikasi di jurnal internasional, serta kunjungan ilmiah ke luar negeri seperti Singapura, Malaysia, China, Jepang. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan oleh Nono kecil, anak petani di Pasuruan. Kisah hidup Kak Nono ini rencananya akan disadur dan diterbitkan dalam bentuk novel. Profil singkat Kak Nono dapat disimak di video ini. Sangking terpesonanya dengan video ini, sampai-sampai guru pendamping kelas tidak memotret Kak Nono saat presentasi hehe. Itulah mengapa tidak ada foto Kak Nono sedang in action hehehe….

Setelah menyimak materi, beberapa pertanyaan diajukan oleh siswa sebagai berikut:

Tanya: Sudah menyusun jadwal, bagaimana supaya bisa konsisten?

Jawab:

Kak Asih: Demotivasi, mood yang berubah, lelah, dan bosan, adalah sesuatu yang wajar. Yang penting adalah bagaimana membangkitkannya kembali. Strategi yang bisa diterapkan adalah dengan berorientasi pada hasilnya, atau bisa juga membayangkan penyesalan yang mungkin timbul akibat kita lalai atau tidak disiplin. Itu disesuaikan dengan kecenderungan pribadi masing-masing.

Kak Nono: Tidak perlu membuat jadwal yang rigid. Cukup garis besarnya saja sehingga lebih fleksibel.

Kak Nova: Variasikan kegiatan supaya tidak monoton.

Tanya: Bagaimana jika cita-cita kita sekolah di luar negeri tidak disetujui orang tua?

Jawab:

Kak Nova: Orang tua tidak setuju biasanya karena tidak tahu. Tugas kita adalah memberikan informasi yang jelas ke orang tua apa yang hendak kita pelajari di sana, bagaimana situasi sosial di sana, siapa saja teman-teman kita di sana, dan bagaimana kita bertahan hidup di sana.

Kak Asih: Hindari berprasangka buruk pada orang tua. Sikap demikian timbul karena saking sayangnya kepada anak, bukan karena ingin menghalangi kesuksesan. Tidak perlu membantah pendapat orang tua. Cukup tunjukkan bukti, prestasi, dan kesungguhan kita sampai hati mereka luluh dan ridha.

T: Bagaimana menerbitkan karya tulis siswa?

Jawab:

Kak Nono: Bisa mencari daftar jurnal terakreditasi nasional Kemristekdikti dan mengirimkan tulisan di sana.

Kak Asih: Melalui ikut serta di lomba karya tulis ilmiah atau kompetisi sains seperti OSN atau IFSA (jika menyukai kegiatan ilmiah yang fun)

Tanya: Apakah kuliah juga berjuang? (diajukan oleh seorang siswa berkebutuhan khusus)

Jawab:

Kak Nova: tentu saja menuntu ilmu adalah perjuangan. Di dalamnya kita harus sungguh-sungguh dan kerja keras.

Kak Asih: dalam kitab Ta’lim Muta’allim karya Imam Jarnuzi, dijelaskan bahwa tujuan utama mencari ilmu adalah mensyukuri akal. Mensyukuri tidak hanya berterima kasih, tetapi menggunakan sesuai tujuan diciptakannya. Nah, menggunakan akal sebaik mungkin supaya bisa berpikir dan bekerja secara haq adalah sebuah perjuangan.

Di akhir acara, kami mendapat kenang-kenangan berupa parfum laundry yang diproduksi oleh salah seorang siswi. Oiya, dalam foto bersama terdapat pose simbol L yang dibentuk jari telunjuk dan jempol. Perlu diketahui bahwa lambang tersebut bukan untuk kampanye elektoral, tetapi pose dengan salam khas Lampung (huruf L) sebagaimana salam khas gerakan literasi.

Pada sesi kali ini, pustaka LiterASIh tidak membawa kontainer buku keliling karena fisik Kak Asih belum memungkinkan untuk menyusun buku dan membawanya ke sekolah.

Literasi Lingkungan di SMAN 1 Abung Semuli Lampung Utara

2 Maret 2019

Akhir pekan ini Kak Asih ada agenda ke Kotabumi bersama dosen Teknik Lingkungan (TL) Itera yaitu Kak Alfian dan Kak Alam. Lepas shalat shubuh, kami berangkat ke Stasiun Tanjung Karang untuk membeli tiket KRD Seminung. Di sana sudah ada enam orang mahasiswa TL yang menunggu. Kami (Asih, ananda Bintang, Afian, dan Alam) kebagian duduk di gerbong 3. Kereta melaju tepat pukul 06.30.

Setelah menempuh 2 jam perjalanan dan melintasi 11 stasiun, tibalah kami di Stasiun Kali Balangan, Lampung Utara. Kami dijemput oleh dewan guru SMAN 1 Abung Semuli yang mengundang kami. Sesampainya kami di sekolah, kami terkesan dengan sambutan kepala sekolah dan para siswa yang berjajar menyalami kami satu per satu. Sambutan yang sangat hangat serta memuliakan tamu ini tak lepas dari upaya sang kepala sekolah yaitu Drs. Muhamad Suharyadi, M.Pd. (lebih populer dengan panggilan Pak Em) yang hendak menjadikan sekolahnya sebagai wahana pendidikan budi pekerti dan berwawasan lingkungan.

Kami masuk ke ruangan kepala sekolah untuk berdiskusi sembari menunggu persiapan tempat dan alat selesai. Pak Em banyak bercerita tentang program-program yang sudah berjalan di sekolah. Untuk pendidikan budi pekerti, sekolah melibatkan siswa dalam berbagai acara seperti penyambutan tamu (bergilir menjadi pembawa acara, pembaca doa), perlombaan tingkat lokal maupun nasional, menghias sekolah, membangun koperasi siswa, merawat kebun, mengelola bank sampah, menghadirkan pakar/tamu dari berbagai instansi, dan sebagainya. Program-program tersebut dijalankan untuk meningkatkan rasa percaya diri siswa, menumbuhkan rasa cinta siswa pada lingkungan dan sekolah, meningkatkan rasa solidaritas, dan meningkatkan prestasi.

Setelah mendapat gambaran umum tersebut, kami beranjak ke ruangan tempat penyuluhan digelar. Tema yang diangkat adalah: Sosialisasi Sanitasi Berbasis Masyarakat di Tingkat Sekolah. Acara dibuka oleh pembawa acara secara dwibahasa (Indonesia dan Inggris), dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan doa, serta pidato sambutan dari tuan rumah dan perwakilan tamu. Pidato dari kepala sekolah sangat meriah dan lucu. Peserta tampak antusias dan gembira menyimaknya. Padahal, pidato pak kepala sekolah banyak bully-an jenaka hihihiii. Giliran Kak Asih menyampaikan pidato sambutan, isinya berupa apresiasi kepada pihak sekolah dan kesan mendalam serta positif atas apa yang sudah diupayakan oleh sekolah.

Acara selanjutnya adalah penyampaian materi. Materi pertama diberikan oleh Kak Asih, yaitu tentang pola pikir berwawasan lingkungan. Sumber materi ini adalah buku Green Deen karya Ibrahim Abdul Matin, seorang konsultan lingkungan untuk Wali Kota New York. Meskipun dikembangkan dari spirit Islam, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya berlaku universal bagi manusia yang menganut agama apapun. Perihal memelihara bumi memang bukan tugas kelompok atau umat agama tertentu, tetapi amanah bagi seluruh umat manusia.

Terdapat enam prinsip “agama hijau” yang berkaitan dengan pemeliharaan lingkungan hidup, yaitu:

  1. Tauhid

Segala sesuatu berasal dari Sang Pencipta. Manusia sebagai puncak penciptaan hendaknya mencerminkan sifat-sifat baik dari Yang Menciptakannya. Sifat-sifat tersebut antara lain: sifat kasih sayang dan memelihara sesama makhluk.

  1. Ayat/Tanda

Segala sesuatu yang terjangkau oleh indera kita adalah tanda (ayat) betapa Maha Agung Sang Pencipta kita. Akal, yang merupakan karunia istimewa bagi manusia, menjadi alat untuk memahami tanda-tanda tersebut menjadi lebih bermakna dan bermanfaat.

  1. Khalifah

Prinsip ini berkaitan dengan peran manusia diutus ke muka bumi sebagai khalifah atau wakil dari Tuhan untuk mengelola berbagai-berbagai urusan. Pengelolaan tersebut tentunya perlu dikerjakan dengan baik, tanpa menimbulkan kerusakan.

  1. Amanah

Kepercayaan yang diberikan Tuhan kepada manusia hendaknya diemban dengan saksama. Akal manusia digunakan untuk melindungi bumi, bukan justru untuk memperdayanya.

  1. Adil

Dengan menerapkan prinsip adil, kita turut menjaga hidup banyak manusia dari bencana. Kerap kali korban pertama dari bencana adalah rakyat biasa. Dengan bersikap adil, kita turut berupaya memelihara jiwa-jiwa agar terhindar dari marabahaya.

  1. Selaras (Mizan)

Tuhan menciptakan alam semesta secara sempurna dan seimbang. Hukum alam dan agama diatur sedemikian rupa secara presisi untuk menjaga keseimbangan tersebut.

Salah satu hadits yang berkesan bagi penulis buku Green Deen berbunyi bahwa bumi adalah masjid. Artinya, bumi adalah sesuatu yang sakral. Bumi harus dirawat dan dikelola sebagaimana kita mengelola tempat ibadah: penuh hormat, sepenuh hati, dan bersih.

Seturut dengan prinsip-prinsip tersebut, yang dapat dilakukan untuk menjaga lingkungan adalah mengembangkan kebiasaan tidak menyampah. Saat ini, beban bumi akan sampah sudah semakin berat. Anjuran buanglah sampah pada tempatnya sudah usang. Sebisa mungkin, kita tidak nyampah sama sekali. Kebiasaan tersebut dapat dimulai dari pola makan kita. Jika kita menerapkan ajaran Nabi Muhammad SAW untuk makan sesudah lapar dan berhenti sebelum kenyang, niscaya tidak ada sisa makanan lagi. Sisa-sisa bahan makanan saat memasak bisa diolah menjadi kompos. Bahan-bahan sisa juga dapat diolah secara kreatif sehingga memiliki nilai tambah berupa nilai estetis dan nilai ekonomis, misalnya untuk bahan kerajinan tangan. Berikutnya adalah menggunakan tas/kantung sendiri saat belanja kebutuhan sehari-hari. Dengan membawa tas tersebut, kita dapat mengurangi penggunaan plastik yang sulit diurai. Langkah selanjutnya adalah menyimpan bahan-bahan makanan dalam wadah permanen yang bisa dicuci ulang. Yang terakhir, usahakan membuat sendiri makanan yang kita konsumsi. Empat kebiasaan ini tentunya membutuhkan tekad kuat dan konsistensi dalam menjalankannya.

Setelah materi perihal mindset, materi kedua oleh Kak Alfian membahas perihal teknis yaitu Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), khususnya sanitasi di sekolah. Pengertian STBM adalah upaya pendekatan untuk mengubah perilaku higienis dan saniter melalui pemberdayaan masyarakat dengan cara menumbuhkan kesadaran diri. Tujuan dari STBM yaitu mewujudkan perilaku masyarakat yang higienis dan saniter secara mandiri untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Terdapat 5 Pilar STBM:

  1. Tidak buang air besar sembarangan
  2. Mencuci tangan dengan sabun
  3. Pengelolaan air minum rumah tangga
  4. Pengelolaan sampah rumah tangga
  5. Pengelolaan air limbah rumah tangga

Ada 4 faktor utama sanitasi sekolah, yaitu kesehatan, pendidikan, kesetaraan gender, dan agen. Dari segi kesehatan, sanitasi sekolah adalah langkah awal mewujudkan lingkungan belajar yang sehat. Pelaksanaan program sanitasi sekolah yang berkualitas mampu mencegah penyebaran penyakit.  Pada faktor pendidikan, air, sanitasi, dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), seperti cuci tangan dengan sabun dapat menurunkan angka ketidakhadiran secara signifikan hingga 21-54%. Mengkonsumsi air minum di sekolah juga dapat meningkatkan konsentrasi dalam menyerap pelajaran di sekolah. Kedua hal ini secara tidak langsung dapat meningkatkan prestasi belajar di sekolah. Sanitasi sekolah yang layak  dapat mendorong kesetaraan gender. Studi UNESCO menemukan bahwa secara global, 1 dari 5 anak perempuan yang berusia di atas sekolah dasar putus sekolah, salah satunya akibat fasilitas sanitasi yang tidak layak di sekolah. Berkaitan dengan faktor terakhir, yaitu agen,  sanitasi sekolah adalah salah satu jalur terbaik untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Anak usia sekolah dasar dapat menjadi agen perubahan hidup bersih dan sehat di lingkungannya.

Pada tingkat global, sanitasi sekolah juga merupakan salah satu prioritas pembangunan yang termasuk ke dalam SDGs (Sustainable Development Goals) dalam tujuan 4a. Tujuan 4a adalah “Membangun dan meningkatkan fasilitas pendidikan yang ramah anak, penyandang cacat, dan gender, serta memberikan lingkungan belajar yang aman, anti kekerasan, inklusif, dan efektf bagi semua”. Lebih rinci lagi pada tujuan 4a1 dinyatakan bahwa “Proporsi sekolah dengan akses
ke: (a) listrik, (b) internet untuk tujuan pengajaran, (c) komputer untuk tujuan pengajaran, (d) infrastruktur dan materi memadai bagi siswa difabel, (e) air minum layak, (f) fasilitas sanitasi dasar per jenis kelamin, (g) fasilitas cuci tangan”. Sejalan dengan tujuan SDGs, maka sanitasi sekolah terdiri dari akses air, sanitasi, dan fasilitas cuci tangan.

Sebuah sekolah dapat dikatakan menerapkan sanitasi sekolah yang baik apabila sekolah tersebut dapat memenuhi tiga aspek yang saling berkaitan satu dengan lainnya. Pertama, sekolah memenuhi ketersediaan sarana dan prasarana sanitasi, terutama akses pada sarana air bersih yang aman dari pencemaran, sarana sanitasi (jamban) yang berfungsi dan terpisah antara siswa laki-laki dan perempuan, serta fasilitas cuci tangan dengan sabun. Kedua, sekolah melaksanakan kegiatan Pembiasaan Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sekolah, seperti kegiatan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) secara rutin dan memastikan pelaksanaan Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) secara konsisten.  Ketiga, adanya dukungan manajemen sekolah untuk mengalokasikan biaya operasional dan pemeliharaan sarana sanitasi dan biaya kegiatan PHBS.

Beberapa rekomendasi untuk mewujudkan sekolah sehat antara lain:

  1. Di setiap toilet disediakan wastafel dan sabun untuk cuci tangan
  2. Di setiap ruangan diletakkan poster tentang PHBS
  3. Toilet diberi tanda untuk membedakan toilet antara pria dan wanita
  4. Di setiap kotak sampah diberi label sampah kering dan sampah basah
  5. Diadakan Kegiatan Jumat Bersih bersama seluruh warga sekolah agar lingkungan bersih
  6. Baiknya setiap tanaman diberi label nama jenis tanaman
  7. Tersedianya fasilitas UKS yang lengkap
  8. Dilakukan pengelolaan sampah dengan benar
  9. Pengelolaan makanan dan minuman yang baik dan aman
  10. Tersedia drainase dan septic tank yang baik serta dilakukan perawatan

Setelah pemberian materi dan diskusi, Pak Em mengajak kami berkeliling sekolah mengamati kebun tomat, cabai, sawi dan melon, kebun tanaman obat keluarga (toga), instalasi hidroponik, tempat pengelolaan sampah, kantin, koperasi, ruang konseling, ruang prakarya, dan ruang kelas. Di depan kelas terdapat tempat cuci tangan beserta sabun dan rak sepatu. Siswa masuk kelas dengan menanggalkan sepatu sehingga lantai kelas bersih tak berdebu. Air bekas cucian tangan disalurkan ke lubang resapan. Kak Alfian menyarankan agar lubang resapan tersebut diberi tutup agar genangan air tidak menjadi sarang nyamuk.

Secara umum, suasana di SMAN 1 Abung Semuli sangat menyenangkan dan menyegarkan. Di setiap dinding, terdapat kutipan kata-kata mutiara yang membangun motivasi dan afirmasi positif untuk warga sekolah. Paving block diwarnai bersama oleh siswa dengan motif etnik seperti tapis Lampung, batik Jawa, dan ukiran Bali. Siswa difasilitasi untuk menyalurkan bakat melalui kegiatan seni musik dan prakarya dari barang-barang bekas. Siswa dan guru tampak akrab dan saling menyayangi.

Di sore hari, Kak Asih dan Pak Em mengantar Kak Alfian, Kak Alam, dan rombongan mahasiswa ke stasiun Kali Balangan. Kami senang sekali dapat berbagi dengan SMAN 1 Abung Semuli. Alih-alih membagi ilmu, justru kami banyak belajar dan mengambil ilmu dari Pak Em dan warga sekolah tentang banyak hal, terutama dalam menghormati tamu. Selama penyampaian materi, peserta menyimak dengan penuh perhatian tanpa sibuk dengan gadget masing-masing. Pak Em juga tidak menghiraukan smartphone-nya saat membersamai kami. Harapan kami, kerja sama ini dapat terus berlangsung dan membawa manfaat yang lebih luas.

Literasi Digital di Kelas Motivasi Sekolah Alam Lampung

Rabu, 20 Februari 2019

Senaaaang sekali hari ini Kak Asih dan Kak Hafiz bakal manggung di sekolah menengah (SM) Sekolah Alam Lampung (SAL). Salah satu program SM SAL adalah kelas motivasi. Kelas ini tidak berisi mata pelajaran khusus, tetapi materi kekinian yang dapat mendukung pengembangan diri siswa. Kami berdua diundang untuk memberikan materi seputar kesiapan siswa untuk menghadapi era digital. Sebelum berangkat ke SAL, Kak Asih dan Kak Hafiz mengambil boks buku pustaka keliling LiterASIh di rumah Kak Asih yang lokasinya tidak jauh dari SAL.

Sesampainya di SAL, kami disambut oleh Bu Dara, guru bidang studi Matematika di SM SAL. Bu Dara meminta sebagian siswa untuk menggotong boks ke ruang kelas tempat Kak Asih dan Kak Hafiz berbagi cerita. Acara dibuka oleh Bu Dara. Terdapat sekitar 20 siswa dan 3 orang guru yang turut menyimak.

Pemaparan pertama disajikan oleh Kak Hafiz. Kak Hafiz ini adalah dosen Teknik Informatika di Itera. Lulusan UGM dan University of Paris. Kak Hafiz menceritakan pengalaman selama sekolah di Paris dengan beasiswa LPDP. Penekanan kisah Kak Hafiz adalah mengenai interaksi kita dengan orang asing di negeri asing. Hendaknya, dalam pergaulan antarbangsa kita tumbuhkan kesadaran bahwa kita adalah duta bangsa kita. Oleh karena itu, kita harus menjaga perilaku dan sebisa mungkin berprestasi untuk mengharumkan nama bangsa.

Selanjutnya, Kak Hafiz menyampaikan materi tentang perubahan produk-produk teknologi seiring berubahnya zaman. Bagaimana dahulu orang menyimak musik dari kaset dan sekarang dari aplikasi. Kalau dahulu sebuah keluarga ngariung di meja makan sambil ngobrol, sekarang sambil nunduk tengok HP masing-masing. Perubahan gaya hidup karena intervensi teknologi tidak bisa dielakkan.

Perubahan zaman tersebut memerlukan kesiapan keterampilan dari siswa yaitu penguasaan bahasa asing. Pergaulan dan komunikasi antarbangsa makin masif dan tak terhalang oleh jarak. Siswa dapat menambah pengalaman bergaul dengan orang-orang dari beragam latar dengan menggunakan Bahasa Inggris sebagai perantara. Selanjutnya siswa juga perlu membekali diri dengan literasi teknologi dan informasi. Kak Hafiz menjelaskan pula ihwal finance literacy dan digital economy. Kak Hafiz memaparkan aplikasi  Angsur yang dibuatnya, yaitu layanan belanja daring bagi mahasiswa dengan cara mengangsur dan tanpa kartu kredit. Start-up ini memenangi hibah dari Kemenristekdikti. Info lengkap perihal Angsur dapat mengunjungi angsur.id

Setelah Kak Hafiz selesai, materi berikutnya disampaikan oleh Kak Asih. Materi dari Kak Asih seputar penyikapan dan karakter yang harus dibangun dalam menghadapi perkembangan zaman yang pesat. Manusia mengalami berbagai periode perubahan zaman dari berburu, bercocok tanam, revolusi industri 1 berupa mekanisasi, revolusi industri 2 berupa mekanisasi masal atau industrialisasi, revolusi industri 3 yang menerapkan elektronisasi dan digitalisasi, dan revolusi industri 4 yang melibatkan internet of things, big data, digital economy, robotics, dan artificial intelligence.

Apapun zaman yang dihadapi, manusia tetap bisa bertahan dan tidak punah. Abad 21 membutuhkan manusia dengan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, dan memecahkan masalah. Untuk mengasah keterampilan tersebut, manusia Abad 21 perlu memiliki literasi di berbagai bidang seperti civic literacy, finance literacy, dan ICT literacy. Materi Kak Asih fokus ke civic literacy. Beberapa karakter yang perlu ditumbuhkan untuk membangun civic literacy antara lain:

  1. Berpijak pada nilai-nilai luhur. Di tengah arus informasi yang membanjir dan suasana media sosial yang rawan pecah belah, hendaknya kita tetap menjaga adab dan nilai-nilai luhur yang meneguhkan kemanusiaan kita. Mengembangkan cara berpikir kritis dapat membantu kita untuk menyeleksi informasi yang sahih sehingga tidak mudah menyebar hoax dan terombang-ambing di tengah gorengan isu-isu. Pijakan berpikir kritis adalah nilai-nilai. Berpihak bukan kepada kelompok, figur, atau kepentingan, tapi berpihak kepada nilai-nilai yang baik yang membedakan kita dari mesin dan makhluk-makhluk lain. Nilai-nilai seperti kesantunan dan saling menghormati tidak akan lekang oleh zaman. Nilai-nilai luhur akan membawa kita berpihak pada kebenaran dan kepatutan.
  2. Memahami diri sendiri. Literasi diri diperlukan masing-masing manusia untuk mengenali kekuatan dan kelemahan diri. Dengan kekuatan dirinya, seseorang dapat berbuat lebih dan penuh manfaat untuk diri sendiri dan lingkungan sekitarnya. Dengan memahami kelemahan diri, seseorang dapat lebih mawas diri dan rendah hati.
  3. Memperluas wawasan dan pergaulan (don’t live in a filter bubble). Sebagai generasi muda yang tumbuh kembangnya diiringi teknologi komunikasi dan informasi, hendaknya kita memanfaatkan teknologi tersebut untuk kegiatan yang positif. Pergaulan di media sosial sebaiknya menghadirkan orang-orang dengan beragam kalangan dan pendapat. Pergaulan demikian akan membuka wawasan kita mengenai berbagai bidang.  Akrab dan terbiasa dengan aneka pendapat dan pemikiran akan menumbuhkan sikap dewasa, tenggang rasa, dan toleransi. Hidup dalam gelembung pergaulan yang terbatas dapat menyebabkan sifat picik yang merasa benar dan hebat sendiri serta sulit menerima masukan dan perubahan. Selama berpijak pada nilai-nilai luhur yang sudah disebutkan di muka, pergaulan dengan siapapun yang berbeda dari kita akan tetap terjalin dengan baik.
  4. Mengembangkan passion saja tidak cukup. Anak muda lazim gandrung dengan passion masing-masing. Banyak yang berpikir jika hidup sesuai passion akan mudah sukses dan bahagia. Padahal, bayangan tersebut belum tentu benar. Meski bekerja sesuai passion, tetap ada unsur kerja keras. Passion hanya menitikberatkan pada kesenangan pribadi. Alih-alih passion, kita perlu menyadari pula agar menjadi man of purpose: tujuan dan manfaat apa yang dapat kita berikan ke lingkungan sekitar dari passion yang kita kembangkan.

Setelah Kak Hafiz dan Kak Asih selesai menyampaikan materi, berlangsung diskusi sebagai berikut:

  1. Bagaimana strategi bisnis di era ekonomi digital?

Kak Hafiz: sedikit berbeda itu lebih baik dari pada sedikit lebih baik. Tetapkan apa yang unik/berbeda dari bisnis kita. Tidak perlu berpikir terlalu jauh, teman-teman bisa melihat dari kebutuhan yang terdapat di sekitar. Seperti antar jemput laundry sepatu.

Kak Asih: apapun bisnisnya, tetap berpijak pada nilai-nilai. Dalam hal ini nilai-nilai yang perlu dijunjung adalah jujur dan amanah.

  1. Bagaimana supaya kita tidak hidup dalam bubble?

Kak Hafiz: berpikir secara terbuka. Bekali dengan Bahasa Inggris.

Kak Asih: lihatlah manusia lebih dekat. Manusia adalah puncak penciptaan Tuhan, karya seni Tuhan. Perlakukan manusia dengan hormat dan mulia, apapun suku, agama, ras, jenjang pendidikan, status ekonomi, atau preferensi politiknya. Pandanglah manusia dengan kasih sayang, bukan dengan rasa benci atau permusuhan.

  1. Bagaimana menyikapi kegagalan?

Kak Hafiz: Semua orang pasti punya jatah gagal. Sebelum kuliah ke Perancis, pernah juga 3x gagal seleksi beasiswa. Habiskan jatah gagal kita. Setelah habis, jatah kita selanjutnya adalah jatah sukses.

Kak Asih: Tetap bersyukur atas apa yang dijalani. Jangan mengeluh dan menggerutu. Pasti ada hikmah atau rahasia Tuhan yang kita belum tau dan baru mengerti setelah sekian tahun berlalu.

  1. Pekerjaan apa yang prospektif?

Kak Asih: Banyak pekerjaan di masa depan yang belum terbayangkan saat ini. Ke depan, banyak pekerjaan rutin dan mekanis yang akan dikerjakan oleh robot. Namun, pekerjaan saat ini yang masih akan lama bertahan adalah pekerjaan yang berhubungan dengan manusia secara intensif seperti guru, psikolog, bidan, perawat, dsb.

Acara ditutup dengan pemberian kenang-kenangan dari salah satu siswa SM SAL dan berpose bersama pustaka keliling LiterASIh. Senang sekali dikasih kopi. Apalagi Kak Hafiz doyan ngopi. Jatah kopi Kak Asih buat Kak Hafiz deh karena Kak Asih enggak ngopi hehehehe….

Di sore hari, Bu Dara mengirim pesan WhatsApp ke Kak Asih bahwa anak-anak sangat senang dengan materi tadi. Biasanya di kelas motivasi pada sesi-sesi sebelumnya, para siswa cenderung ribut. Akan tetapi, pada sesi kali ini secara umum bisa dikatakan siswa bersikap tenang dan penuh perhatian. Bahkan, ada salah seorang siswa yang berkomentar: “Bu, pikiran saya terbuka sekarang, bu. Keren!” Alhamdulillaah.

Aku dan Musik

Saya menyukai musik, terutama jenis musik simfonik, jazz, dan etnik. Sempat belajar biola, tapi hanya di level 1 metode Suzuki. Saya bermain biola hanya untuk mencari notasi saat mencipta lagu. Juga karena waktu itu sangat terkesan dengan permainan Henry Lamiri di musikalisasi puisi Sapardi Djoko Damono, Aku Ingin, versi Dua Ibu (Ibu Tatiana Subijanto dan Ibu Reda Gaudiamo). Sudah selesai menemukan notasinya dan bisa memainkan biola untuk lagu tersebut, praktis saya malas latihan serius lagi hihihiii. Hanya sesekali saya main biola, terutama jika sedang gandrung dengan lagu-lagu Ismail Marzuki yang diaransemen dalam versi keroncong.

Semasa kuliah di Jogja, saya kerap menghadiri konser-konser. Jogja adalah surga konser. Paling terkenang adalah saat bisa nonton Twillite Orchestra dan konser Trio Lestari. Sewaktu berkesempatan berfoto dengan Addie M.S., saat belio menjadi konduktor tamu di sebuah konser di Sanata Dharma, saya menyampaikan impian saya ke belio yaitu membentuk Itera Orchestra. Ternyata oh ternyata, Addie M.S. adalah teman SMA dari Wakil Rektor Akademik. Di Itera sudah ada Paduan Suara Mahasiswa Lipphu Ghesa (kebetulan diamanahi sebagai pembina UKM tersebut, Lipphu Ghesa dalam Bahasa Lampung, artinya paduan suara) dan Itera Band (salah satu personilnya adalah Rektor).  Semoga jalan menuju terbentuknya Itera Orchestra semakin terbuka. Ingin sekali bisa membawakan atau menyimak lagu Indonesia Raya, Teluk Lampung, Mars Itera, dan Hymne Itera dalam versi Itera Orchestra. Semoga kelak terwujud.

Untuk menuju ke sana, sy pribadi berusaha menggali bakat musik yang sudah tenggelam sedemikan dalam. Saya merasa memiliki bakat tersebut tapi memang tidak diasah dengan baik. Saya tidak akan menyalahkan keadaan apalagi orang tua (yang karena ketidaktahuannya, tidak mengembangkan bakat saya). Saya sangat bersyukur dibesarkan oleh orang tua saya. Toh, jejak-jejak bakat tersebut masih ada hingga kini. Adalah tugas dan tanggung jawab saya untuk menumbuhkan apa yang tertanam dalam jiwa saya sendiri.

Sewaktu SD, saya bisa menemukan dengan mudah nada-nada lagu yang saya dengar dan memainkannya di sebuah piano mainan. Semasa SMP, ada pelajaran seni musik dan saya selalu mendapat nilai 10 jika menulis not balok (konversi dari not angka ke not balok). Selera musik saya cenderung berbeda dengan teman-teman kebanyakan. Beberapa kali menyukai suatu komposisi musik dan ternyata komposisi tersebut mendapat Grammy atau Academy Awards (Oscar) untuk musik terbaik. Intuisi musik sudah ada, hanya memang belum dipertajam secara serius.

Sejak mempelajari soal misi hidup dan fitrah diri, saya merasa punya hutang kepada Tuhan untuk merawat dan mensyukuri bakat ini. Dari kesadaran yang sedikit di situ, saya membuat lagu mars dan hymne untuk kampus. Semoga Tuhan berkenan dengan karya tersebut. Semoga karya tersebut dinilai sebagai sebentuk rasa syukur saya kepada-Nya atas karunia-Nya kepada saya,  yang diwujudkan dalam pelayanan kepada lingkungan terdekat saya  melalui media seni.

Dari refleksi atas bakat musik, saya memutuskan untuk belajar piano, gitar, dan vokal. Setidaknya, belajar materi dasar-dasarnya agar saya tidak terlalu blank saat mencipta lagu atau mendampingi anak-anak  PSM. Selain itu, beberapa acara bertajuk seni dan budaya bisa diselenggarakan bersama anak-anak PSM, kawan-kawan dosen, dan juga UKM lain. Sejak mulai pulang ke kampus (September 2017) sampai akhir 2018, setidaknya sudah enam acara digelar. Bersyukur sekali memiliki rekan-rekan dan jajaran pimpinan yang mendukung penyelenggaraan konser atau pentas budaya di kampus.

Untuk tahun 2019 ini, perhelatan konser yang sudah direncanakan memang tidak sebanyak tahun lalu. Tapi, yang pasti rekrutmen anggota untuk pembentukan orkestra telah dibuka. Juga, tiap pekan saya masih rutin latihan piano dan vokal, serta fun jam session di studio musik kampus dengan teman-teman.

Pustaka Keliling ke TK ‘Aisyiyah Sukarame

Hari Kamis, 6 Februari 2019, tim LiterASIh diundang berkunjung ke TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal, Sukarame, Bandar Lampung, sebuah amal usaha Muhammadiyah yang dibina oleh Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah, Sukarame, Bandar Lampung. Siswa di TK ‘Aisyiyah yang baru berdiri ini berjumlah 16 orang. Saat tim LiterASIh hadir, terdapat dua orang siswa yang tidak masuk karena sakit.

Kali ini tim LiterASIh yang hadir adalah Kak Asih, Kak Harits, Kak Jejen, dan Kak Nur. Dalam kunjungan tersebut, tim LiterASIh membawa kontainer berisi 30-an eksemplar buku anak-anak untuk dibaca di lingkungan sekolah. Terdapat dua orang guru yang menyambut, seorang wali murid yang mendampingi anaknya, dan dua orang dari pengurus ‘Aisyiyah. Sebelumnya, tim LiterASIh sudah diberitahu bahwa pembelajaran di TK pada pekan ini adalah tentang profesi.

Selanjutnya, Kak Asih membuka acara, memberikan pengantar dengan senam huruf Hijaiyah. Anak-anak terlihat senang dan semangat karena berusaha menirukan bentuk-bentuk huruf Hijaiyah dengan gerakan badan. Terdapat seorang anak yang menangis karena melihat Kak Nur memakai jas putih. Dikiranya, Kak Nur adalah dokter yang akan menyuntik, padahal bukan hehehehe.

Setelah anak-anak selesai senam, Kak Harits mulai mendongeng tentang musang dan ayam, juga kisah gagak dan angsa. Sesekali Kak Asih dan Kak Jejen menimpali agar suasana cerita lebih dramatis.

Selesai acara dongeng, Kak Nur mulai tampil mengenalkan profesi yang menggunakan jas putih tapi bukan dokter, yaitu apoteker. Berangkat dari kisah yang diceritakan Kak Harits tentang ayam yang terluka dan gagak yang sakit perut, Kak Nur mengajak anak-anak bermain peran: ada yang jadi anak sakit, ada yang berperan sebagai perawat, dokter, dan apoteker. Kak Nur menjelaskan bahwa apoteker adalah teman dokter. Teman-teman bisa menjumpai apoteker saat membeli obat di apotek. Kak Nur juga memperagakan cara membuat obat dan minum obat yang benar.

Acara pengenalan profesi sudah selesai. Anak-anak mulai membuka kontainer buku dan mengambil buku yang menarik perhatian mereka. Terdapat beberapa buku tentang profesi seperti tentara, pilot, palaentolog, ahli obat, dan dokter. Buku hanya boleh dibaca di sekolah; tidak diperkenankan dibawa pulang. Kontainer akan ditinggal di sekolah selama dua minggu, lalu diputar lagi untuk keliling ke sekolah lain. Acara ditutup dengan foto bersama.

Yang menyenangkan dari hari ini adalah melihat wajah-wajah ceria para anak TK yang lucu dan lugu. Yang menegangkan dari hari ini adalah saat naik mobil dan dikemudikan oleh Kak Jejen yang sudah tiga tahunan tidak menyentuh setir mobil. Sempat rem mendadak dan macet-macet saat pindah gigi. Syukurlah mobil Kak Asih tetap aman dan mulus setelah dikendarai oleh Kak Jejen dan Kak Nur. Alhamdulillaah, selamat pergi, selamat kembali 🙂

Menghikmati Nikmat Hidup

Sebagian Pelajaran Hidup yg Diperoleh Selama Lima Tahun Terakhir:

1. Berpihaklah pada nilai-nilai, bukan pada kelompok/golongan/kepentingan/figur
2. Syukuri, sayangi, dan jagalah marwah agama, negara, keluarga, dan instansi tempat bekerja dg perilaku yg baik
3. Orientasikan semua perbuatan sebagai wujud pengabdian dan pelayanan kpd Tuhan. Jangan pernah berharap eksistensi, reputasi, popularitas, status, harta, jabatan, kehormatan, puja-puji, like/share, penghargaan, vote, cum, atau berharap apapun dr manusia
4. Meskipun pernah berperan sbg perintis/pembuka jalan/bagian dr sejarah, jangan pernah berharap untuk diingat. Anggap saja bahwa salah satu keniscayaan menjadi perintis adl dilupakan dan diabaikan. Biasa saja. Balik ke nomor 3
5. Jika harus menjalani suatu peran politis, kerjakan dalam bingkai politik kebangsaan dan politik ketatanegaraan yg beradab, bukan politik praktis/kekuasaan apalagi tansaksional
6. Boleh menanjaki karir secara obsesif dan ambisius, asal caranya beradab, sesuai aturan yg berlaku, serta tidak menginjak/menyikut/menjerumuskan teman
7. Bekerja keras dan berinteraksi dg kasih sayang, tulus, dan gembira. Berbuat baik atau membantu orang lain dg tulus, bukan karena pamrih atau berharap dibalas kebaikan yg setara/lebih
8. Berbuat dan berkarya saja, tidak usah main klaim
9. Sebisa mungkin sekuat tenaga berpedoman pada firman Allaah, sabda Rasul, titah ibunda, petuah gurunda, dan sumpah pd negara
10. Biarpun dibilang kuno di era disrupsi ini, tidak perlu gengsi, malu, dan sungkan dg cita-cita menjadi PNS. Baik itu atas keinginan sendiri maupun demi mewujudkan harapan orang tua
11. Apapun impian/cita-cita, gapai dahulu restu dan ridho orang tua
12. Enggan beranjak dr zona nyaman bukanlah sebuah aib, bukan pula sebentuk sikap pengecut
13. Ada saat di puncak dan ada saat di dasar jurang. Lumrah. Sikapi dg rendah hati dan penerimaan (acceptance). Terima dg lapang dada tanpa harus jumawa atau kecewa
14. Mengakui, meminta maaf, dan menjalani konsekuensi jika memang salah. Tidak perlu menyangkal dan berdalih membela diri
15. Jika teramat jenuh dan lelah, ambil waktu 1-2 hari tanpa tujuan/target apapun, sekadar untuk menyendiri, mager, dan ga ngapa-ngapain sama sekali, termasuk tidak akses hp/internet
16. Berusahalah menjadi pribadi yg mandiri dan selesai dg diri sendiri
17. Hindari berhutang banyak atau dalam jangka waktu lama. Bersabar. Hidup secukupnya, kendalikan keinginan-keinginan dan kebanggan akan kepemilikan material yg semu belaka
18. Bersama kesulitan, ada kemudahan. Jangan pernah berpikir bahwa suatu keadaan akan berlangsung selamanya. Everything is changing. This too shall pass
19. Berdoalah dan mohonlah pertolongan Allaah, seabsurd dan se-impossible apapun isi doa dan permohonan tsb selama beradab (tidak mengharapkan keburukan bagi org lain)
20. Bagaimanapun jalan hidup yg dilalui, percaya saja bahwa Allaah Maha Baik dan Maha Kasih Sayang. Semua fase kehidupan yg dilalui adl proses terbaik yg membentuk diri kita saat ini. Jangan bandingkan hidup kita dg hidup org lain
21. Pantang mengeluh dan menyerah. Jangan mudah terpesona dan tergiur pd proses yg instan
22. Sesekali boleh baper, tapi ga pake lama dan ga pake dendam. Hilangkan rasa dendam, iri, dengki, dan benci
23. Galilah dan salurkan passion/bakat agar jiwa lebih hidup. Mungkin saja ada setitik pengetahuan ttg rahasia misi hidup yg tersimpan di dalamnya. Namun, harus diingat bahwa passion/bakat saja tidak cukup
24. Percayai dan ikuti intuisi. Memang bisa jadi intuisinya salah, tetapi tidak akan membahayakan atau mencelakakan diri
25. Berbahagialah tanpa syarat. Kebahagiaan adl tanggung jawab diri sendiri, bukan bergantung pd benda2/atasan/teman/keluarga/lingkungan/peristiwa
26. Sedapat mungkin beribadahlah dg sepenuh syukur dan gembira, bukan dg berat hati dan terpaksa
27. Prioritas dan fokus pada dunia nyata. Abaikan kegaduhan dunia maya; jauhi debat dan nyinyir yang serba embuh dan ngehek itu
28. Utamakan jejaring dan silaturahmi di dunia nyata. Jaga hubungan baik dg keluarga besar, teman, dan tetangga
29. Fokus pada masa kini. Hindari nostalgia pd kejayaan masa lampau, dan kecemasan akan masa depan
30. Fokus pd solusi. Lihat lebih dekat dan lebih utuh, jangan sepotong-sepotong. Selesaikan suatu masalah dg “seni” dan “humor”
31. Fokus pd diri sendiri dan segala urusan yg harus diselesaikan. Jangan terdistraksi dan menghabiskan waktu utk sibuk dg persoalan di luar jangkauan/wilayah kita
32. Seaneh apapun keadaan, kepribadian, dan selera diri; terima, kenali, syukuri, berdamai, dan jadilah diri sendiri, tidak perlu asal ikut trend/mainstream. Tiap orang unik dan keunikan yg satu tidak lebih baik/buruk dari keunikan yg lain
33. Biasakan diri dg aneka ragam paradigma berpikir dan kembangkan keterampilan berpikir kritis. Bekali dg ilmu filsafat dan sejarah
34. Teori/pendapat/metode harus direkontekstualisasi/di-review sesuai kondisi
35. Jangan terlalu memusingkan persoalan remeh temeh dan pendapat yg ga nyambung/sesat pikir. Kita tidak bisa selalu menyenangkan semua orang. Pasti ada orang yg ga ngerti (bahkan suuzhan) dg maksud/tujuan kita, sebaik apapun substansi dan cara yg ditempuh
36. Selalu berpikir positif walaupun terkesan naif. Jangan bermudah-mudah melabeli negatif org lain hanya dr secuil representasi di dunia maya/nyata
37. Perkaya hati dan wawasan dg seni dan humor; berekspresilah dg menyanyi, main musik, melukis, menari, merias, merancang, menata, memotret, menulis lagu/puisi/cerita, membaca puisi/novel, menonton konser/film/teater/pameran, dan beranilah menertawai diri sendiri
38. Keteladanan adl kunci pendidikan dan pengasuhan
39. Tumbuhkan empati
40. Hindari merasa diri paling benar dan merasa sudah bermanfaat/berjasa banyak
41. Hindari semua yg toksik bagi jiwa dan pikiran
42. Di dalam hati yg patah/luka, terdapat pelajaran yg luar biasa
43. Tidurlah dg durasi cukup
44. Olahraga semampunya, tidak perlu dipaksakan. Olahraga harus membuat segar dan rileks, bukan malah menimbulkan stress
45. Diet sewajarnya. Makanlah dg rasa syukur yg berlimpah, bukan dg gerutuan akibat terlalu mikirin berat badan/penyakit/program diet/penilaian orang