Selayang Pandang Latihan Dasar CPNS

Pekan terakhir di bulan Juni ini adalah pekan yang lumayan padat. Pekan sebelumnya, saya mendapat undangan dari Kantor Bahasa Lampung untuk menghadiri acara Diseminasi Gerakan Literasi Nasional di Lampung 26-28 Juni. Sayangnya, sejak Mei saya sudah ditugasi untuk menghadiri acara Workshop Pengajar Latihan Dasar (Latsar, atau istilah yang lebih populer: diklat prajabatan) CPNS pada 25-27 Juni di Pusdiklat Kemristekdikti di Kompleks Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), Serpong, Tangerang Selatan. Jadilah saya menghadiri acara workshop tersebut.

Saya berangkat sambil membawa ananda Bintang karena kebetulan dia sedang libur sekolah plus tidak ada yang menjaganya di rumah. Kami berangkat tanggal 24 Juni pukul 17 dengan pesawat Garuda. Kami sampai di Wisma Tamu Puspiptek (WTP) sekitar pukul 20.00. Kami disambut dan dilayani dengan sangat ramah dan tulus oleh panitia.

Pada hari Selasa, 25 Juni, kami berangkat dengan bis yang disediakan ke lokasi pelatihan. Bintang ikut serta juga. Saya berpesan kepadanya agar ia bisa tertib dan berlaku sopan kepada siapapun. WTP dan Gedung Pusdiklat sesungguhnya masih berada dalam satu kompleks, yaitu kompleks Puspiptek. Hanya saja, saking luasnya, kami harus naik bis untuk menuju ke gedung acara. Kompleks Puspiptek ini adalah “warisan” Pak Habibie. Gedung tempat kami pelatihan beserta interiornya bahkan masih sama dengan kondisi pertama kali dibangun. Di dalam kompleks ini, terdapat kantor BATAN, BPPT, laboratorium berbagai bidang penelitian, pusat pendidikan dan pelatihan (pusdiklat), perumahan dinas, wisma tamu, sarana olahraga, dan sebagainya.

Acara dimulai dengan menyanyinyakan lagu Indonesia Raya 3 stanza yang sukses membuat air mata berlinang. Setelah itu, sambutan disampaikan oleh Kepala Pusdiklat Kemristekdikti, Ir. Wisnu S. Sunarso, M.Eng. Beliau menyampaikan latar belakang diselenggarakannya pelatihan ini. Di Kemristekdikti, terdapat 7800-an CPNS hasil perekrutan tahun 2018. Sesuai amanat UU ASN, mereka semua harus berstatus PNS dalam kurun waktu setahun sejak penetapan SK. Padahal, dengan jumlah sebesar tersebut, Pusdiklat yang selama ini mengurus diklat prajabatan Kemristekdikti tidak mungkin bisa menyelesaikannya karena keterbatasan sumber daya dan waktu.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, berdasarkan Peraturan Lembaga Administrasi Negara (LAN) No 12 Tahun 2018, dilakukan terobosan dengan menjalin kerja sama antara Pusdiklat Kemristekdikti dengan perguruan-perguruan tinggi negeri yang memiliki fasilitas berupa ruang kelas yang banyak dan asrama untuk residensi peserta diklat prajabatan. Selain itu, dosen-dosen dari berbagai PTN juga dibekali pelatihan untuk menjadi fasilitator atau pengajar diklat prajabatan, seperti yang sekarang sedang saya ikuti. Merupakan suatu kehormatan dan keberuntungan bagi saya karena ternyata banyak guru besar, bahkan Rektor (Universitas Negeri Padang), yang turut serta mengikuti pelatihan ini. Saya juga bertemu dengan dosen saya dahulu di UNY yang mengampu mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan. Sungguh suatu momen yang berharga untuk saya “ngalap berkah” sekaligus belajar rendah hati dari beliau semua.

Materi hari ini disampaikan oleh Dr. M. Taufiq, DEA selaku Deputi Bidang Kajian Kebijakan LAN, yang menjelaskan kebijakan pengembangan SDM ASN dan Latihan Dasar Terintegrasi untuk CPNS RI. Terdapat dua tantangan yang mendasari kebijakan latsar untuk CPNS ini.

Pertama, tantangan lingkungan strategis. Indonesia akan menghadapi bonus demografi dan berprospek menduduki peringkat ketujuh negara berekonomi kuat tahun 2030, dan naik ke peringkat keempat pada tahun 2050. Hal ini didukung oleh pengaruh pertumbuhan ekonomi di Asia yang mencapai 5,4%, tertinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan ekonomi global sebesar 2,7%. Seiring pertumbuhan ekonomi dan bertambahanya populasi hingga mencapai 8,3 miliar di tahun 2030, kita membutuhkan sumber daya air (40%), bahan pangan (35%), dan energi (50%) lebih banyak dari saat ini.  Indonesia akan mengalami bonus demografi pada tahun 2045 saat jumlah penduduk mencapai 319 juta, dengan proyeksi angka kelahiran 2,1; usia harapan hidup mencapai 75,5 tahun; jumlah lansia 63,3 juta; penduduk tinggal di perkotaan 62,9%. Di saat negara-negara lain mengalami aging demography, tidak demikian halnya di Indonesia. Demografi ini harus disiapkan kualitasnya agar ia menjadi “bonus”, bukan malah menjadi “bencana”.

Kedua, tantangan pengembangan kompetensi ASN. Laporan World Economic Forum 2015-19 tentang kendala pembangunan di Indonesia adalah korupsi, infrastruktur, dan inefisiensi birokrasi. Saat ini, birokrasi di Indonesia secara umum dioperasikan oleh aging generation. Padahal, kebutuhan akan birokrasi yang lincah dan cekatan tidak dapat ditunda lagi. Berpijak pada proyeksi Indonesia di masa depan di atas, diperlukan inovasi untuk meningkatkan kompetensi ASN demi menjawab tantangan zaman dan lingkungan di atas. Arah pembangunan ASN dilaksanakan secara berkelanjutan yang tercantum dalam 4 tahap RPJM. RPJM 2005-2009 pengembangan kompetensi ASN ditujukan untuk menciptakan good governance. RPJM 2010-2014 mengamanatkan reformasi birokrasi. Selanjutnya, di RPJM 2015-2019 diberlakukan ASN Merit System. Semua pengembangan tersebut demi mewujudkan world class government (RPJM 2019-2024) dengan profil ASN yang memiliki nasionalisme, integritas, hospitality, networking, dan menguasai teknologi informasi, bahasa asing, serta keterampilan kewirausahaan.

Untuk melahirkan ASN yang sesuai profil di atas, perlu disusun strategi pembelajaran Latsar yang lebih kontekstual dan terintegrasi. Tren saat ini mengindikasikan adanya penurunan pembelajaran dengan metode klasikal. Pembelajaran dengan pendekatan teknologi mulai banyak diterapkan. Demikian pula pembelajaran dengan metode magang (on the job experience). Metode pembelajaran latsar perlu disesuaikan dengan karakter generasi milenial yang akrab dengan e-learning, podcast, gamification, wiki, mobile based learning, dan project based learning.

Komposisi pembelajaran Latsar CPNS adalah 10% pembelajaran di kelas, 20% mentoring/coaching, dan 70% on the job experience. Dengan komposisi tersebut, diharapkan tercipta sistem pembelajaran yang responsif, efisien, dan terintegrasi. Dengan demikian, CPNS  mampu beradaptasi dengan lingkungan strategis yang berubah cepat karena akan banyak mengeyam pembelajaran organisasi alih-alih pembelajaran individual. Pembelajaran organisasi akan membangun budaya ASN yang kuat di atas identitas sektoral dan daerah. CPNS juga akan belajar mengintegrasikan proses pembelajarannya dengan kinerja organisasi dalam mewujudkan arah kebijakan pemerintah. Di saat yang sama, CPNS juga dapat membangun leadership development dengan strategi organisasi.

Berdasarkan UU ASN Pasal 63-65, CPNS wajib menjalani masa percobaan selama 1 (satu) tahun melalui proses diklat terintegrasi untuk membangun integritas moral, kejujuran, semangat dan motivasi nasionalisme dan kebangsaan, karakter kepribadian yang unggul dan bertanggungjawab, dan memperkuat profesionalisme serta kompetensi bidang. CPNS yang dinyatakan tidak lulus pendidikan dan pelatihan akan diberhentikan sebagai calon PNS. Misi Latsar CPNS adalah untuk mempersiapkan CPNS memasuki kultur baru di birokrasi dengan mandat dan untuk membentuk karakter PNS, dan kemampuan PNS agar dapat bersikap dan bertindak profesional mengelola tantangan dan masalah keragaman sosial kultural, dengan menggunakan perspektif whole of government atau one government serta didasari nilai-nilai dasar PNS berdasarkan kedudukan dan peran PNS dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada setiap pelaksanaan tugas jabatannya sebagai pelayan masyarakat sebagai wujud nyata bela negara seorang PNS.

Dasar pengembangan kompetensi adalah Pasal 10 UU ASN tentang fungsi ASN sebagai pelaksana kebijakan publik, pelayan masyarakat, dan perekat dan pemersatu bangsa. Agar seorang PNS dapat mengemban fungsi tersebut, diperlukan diklat yang membangun kompetensi PNS yang meliputi sikap perilaku Bela Negara; aktualisasi nilai-nilai dasar PNS dalam pelaksanaan tugas jabatannya; aktualisasi kedudukan dan peran PNS dalam kerangka NKRI; dan penguasaan kompetensi teknis yang dibutuhkan sesuai bidang tugas. Untuk itu, disusunlah latsar terintegrasi CPNS yang meliputi tiga agenda besar dengan masa pelatihan total 51 hari kerja (Orientasi 1 hari, Agenda 1: Bela Negara selama 5 hari, Agenda 2: Nilai-nilai Dasar PNS selama  5 hari, Agenda 3: Peran dan Kedudukan PNS selama 2 hari, Aktualisasi dan Habituasi  selama 30 hari, Evaluasi selama 3 hari)

Agenda pertama dilaksanakan selama 5 hari di lokasi diklat (on campus/class). Agenda ini meliputi materi wawasan kebangsaan dan nilai-nilai Bela Negara; analisis isu kontemporer (korupsi, narkoba, money laundry, komunikasi massa, proxy war, dan terorisme); kesiapsiagaan bela negara (tata upacara sipil, PBB, keprotokolan, kewaspadaan dini, team building, caraka malam dan Api Semangat Bela Negara). Tujuan dari agenda ini adalah membentuk sikap bela negara. Terdapat 45 jam pelajaran (@45 menit) yang diperlukan untuk agenda ini, yang merupakan porsi terbanyak dari semua agenda on campus.

Terdapat pertimbangan khusus perihal ini yaitu adanya survey dari Alvara Research Center yang menyebutkan bahwa 19,4% PNS tidak setuju dengan ideologi Pancasila, dan sebanyak 22,2% setuju dengan konsep khilafah. Artinya, terdapat krisis nasionalisme dan pola pikir yang harus dibenahi terkait kesetiaan kepada NKRI dan Pancasila. Fenomena ini mengindikasikan adanya disorientasi budaya dan escapology. Akses informasi yang tanpa batas, gaya hidup yang materialis, berbagai keinginan dapat terpenuhi tapi pada saat yang sama merasa hampa, memicu sebagian orang untuk mencari alternatif ideologi yg non-NKRI. Penambahan jam pelajaran untuk agenda ini (dari sebelumnya 18 jam pelajaran) bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran bagi rekrutan CPNS baru agar memahami posisi dirinya sebagai abdi negara yang harus setia kepada bentuk dan ideologi negara. Kesadaran ini krusial karena CPNS baru saat ini adalah para pengambil keputusan pada 20-25 tahun mendatang.

Agenda kedua dan ketiga bertujuan untuk membentuk karakter PNS yang profesional. Agenda kedua , membekali CPNS dengan nilai-nilai dasar berupa akuntabilitas, nasionalisme, etika publik, komitmen mutu, dan antikorupsi (ANEKA); masing-masing 12 jam pelajaran.  Agenda ketiga, terdiri dari materi manajemen ASN, pelayanan publik, dan whole of government; masing-masing 6 jam pelajaran. Materi dalam kedua agenda ini dapat disampaikan dengan metode pembelajaran on campus, baik secara tatap muka maupun e-learning.

Selanjutnya, CPNS mengikuti kegiatan aktualisasi dan habituasi dengan sistem belajar on the job experience (off campus) selama 30 hari di instansi kerja masing-masing agar dapat menguasai kompetensi teknis sesuai bidangnya, baik secara administratif maupun substantif. Mereka diwajibkan untuk menerapkan agenda 1-3 di instansi kerja masing-masing, dengan dibimbing oleh coach dan mentor. Perlu dipertimbangkan mentor yang dapat diteladani untuk memutus lingkaran setan birokrasi yang tidak efektif dan pembelajaran kolektif negatif yang “mencemari” SDM baru. Sebelum terjun ke instansi, peserta wajib mempresentasikan rencana aksinya. Setelah selesai melaksanakan aktualisasi dan habituasi, peserta wajib menyajikan laporan hasil aksinya kepada penguji, mentor, dan coach.

Dengan latsar terintegrasi ini, diharapkan CPNS akan memiliki keterampilan manajerial, teknikal, dan sosiokultural. Juga tertanam sikap Bela Negara, nilai-nilai PNS, serta peran dan kedudukan PNS dalam NKRI. Paduan metode pembelajaran berupa metode klasikal, praktik langsung, role play, team building, coaching, mentoring, on the job training, project based learning, dsb bertujuan untuk menumbuhkan semangat pratiotisme, tidak profit oriented, dan rela berjuang untuk negara dalam konteks profesi masing-masing.

Manajemen Waktu untuk Pelajar

20 Maret 2019

Hari ini Kak Asih dan tim kembali diundang oleh Kelas Motivasi Sekolah Alam Lampung untuk berbagi pengalaman. Sewaktu dengan Kak Hafiz, pesertanya khusus anak-anak SMA. Kali ini pesertanya terdiri dari anak SMP dan SMA. Anggota tim pemateri adalah Kak Nono dan Kak Nova. Pada kesempatan ini Kak Asih berperan sebagai pendamping saja karena alasan kesehatan. Sebagai Manajer Republik Asih Management (hahahaa joking), sebisa mungkin membersamai artes-artes yang manggung untuk kemaslahatan masyarakat 😀

Kelas Motivasi pekan ini mengusung topik “Manajemen Waktu untuk Menjadi Remaja Produktif”. Pemateri pertama adalah Kak Nova, dosen Teknik Biomedis Itera. Kak Nova berasal dari Sumatera Berat dan menyelesaikan studi S2 di Universiteit Gent, Belgia dan RWTH Aachen University Jerman. Iya, kampusnya Pak Habibie yang tersohor itu. Kak Nova juga pernah mendapatkan beasiswa untuk kursus Bahasa Inggris selama dua bulan di Iowa State University, Amerika Serikat. Bagaimana Kak Nova bisa berprestasi sedemikian rupa?

Kak Nova menjelaskan beberapa teori yang dikuasai sekaligus dipraktikkan seputar manajemen waktu. Secara umum, manajemen waktu adalah bagaimana mengatur atau membagi waktu secara efektif untuk kegiatan dan target kita. Manajemen waktu yang baik dapat melatih kita untuk belajar mandiri, disiplin, dan bertanggung jawab. Bebarapa strategi yang dapat diterapkan dalam mengelola waktu kita antara lain: memiliki buku agenda, mencatat kegiatan yang direncanakan di dalam buku tersebut sesuai tanggal, menyusun prioritas kegiatan, dan mematuhi jadwal yang sudah ditetapkan.

Dalam skala waktu tertentu, kita memiliki banyak kegiatan yang harus diselesaikan. Untuk itu, kita harus dapat mengatur waktu sefektif mungkin agar tidak menimbulkan efek-efek samping seperti jatuh sakit atau merasa tertekan. Oleh sebab itu, sepadat apapun jadwal yang telah disusun, kita sebaiknya tetap berpedoman pada hal-hal mendasar seperti mengalokasikan waktu tidur yang cukup, menetapkan awal dan akhir waktu kegiatan, menetapkan waktu minimal untuk belajar/pengembangan diri, dan menyisihkan waktu untuk kegiatan sosial/bermain. Dengan pengaturan demikian, diharapkan para siswa dapat menjalani kegiatan dengan bugar, teratur, sekaligus menyenangkan.

Materi berikutnya adalah seputar pengalaman mengatur waktu oleh Kak Nono. Kak Nono adalah dosen Teknik Geofisika Itera, asal Pasuruan, dan lulusan Program Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) Angkatan 1 dari Kemenristekdikti. Kak Nono menyelesaikan S2-S3 dalam waktu 4 tahun di ITB di usia 26 tahun. Bagaimana manajemen waktu yang diterapkan Kak Nono? Mari kita telisik.

Kak Nono tidak menyangka bahwa ia bisa kuliah, mengingat latar belakang orang tuanya seorang petani dan pengupas kapas. Ia setengah nekad mendaftar di Fisika Universitas Negeri Malang dan alhamdulillaah diterima. Praktis ia merantau ke Malang dan kuliah disambi kerja karena tidak bisa mengandalkan pembiayaan dari orang tua lagi.

Semasa kuliah S1, kegiatan utama Kak Nono secara garis besar sesuai urutan prioritas adalah kuliah, bekerja, dan berorganisasi. Kegiatan tersebut berlanjut sampai belio menamatkan S2-S3 dengan beberapa penyesuaian seperti melakukan penelitian. Dengan rasa disiplin dan tanggung jawab, kerja keras Kak Nono membuahkan prestasi berupa IPK 4, beberapa tulisan ilmiah yang dipublikasi di jurnal internasional, serta kunjungan ilmiah ke luar negeri seperti Singapura, Malaysia, China, Jepang. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan oleh Nono kecil, anak petani di Pasuruan. Kisah hidup Kak Nono ini rencananya akan disadur dan diterbitkan dalam bentuk novel. Profil singkat Kak Nono dapat disimak di video ini. Sangking terpesonanya dengan video ini, sampai-sampai guru pendamping kelas tidak memotret Kak Nono saat presentasi hehe. Itulah mengapa tidak ada foto Kak Nono sedang in action hehehe….

Setelah menyimak materi, beberapa pertanyaan diajukan oleh siswa sebagai berikut:

Tanya: Sudah menyusun jadwal, bagaimana supaya bisa konsisten?

Jawab:

Kak Asih: Demotivasi, mood yang berubah, lelah, dan bosan, adalah sesuatu yang wajar. Yang penting adalah bagaimana membangkitkannya kembali. Strategi yang bisa diterapkan adalah dengan berorientasi pada hasilnya, atau bisa juga membayangkan penyesalan yang mungkin timbul akibat kita lalai atau tidak disiplin. Itu disesuaikan dengan kecenderungan pribadi masing-masing.

Kak Nono: Tidak perlu membuat jadwal yang rigid. Cukup garis besarnya saja sehingga lebih fleksibel.

Kak Nova: Variasikan kegiatan supaya tidak monoton.

Tanya: Bagaimana jika cita-cita kita sekolah di luar negeri tidak disetujui orang tua?

Jawab:

Kak Nova: Orang tua tidak setuju biasanya karena tidak tahu. Tugas kita adalah memberikan informasi yang jelas ke orang tua apa yang hendak kita pelajari di sana, bagaimana situasi sosial di sana, siapa saja teman-teman kita di sana, dan bagaimana kita bertahan hidup di sana.

Kak Asih: Hindari berprasangka buruk pada orang tua. Sikap demikian timbul karena saking sayangnya kepada anak, bukan karena ingin menghalangi kesuksesan. Tidak perlu membantah pendapat orang tua. Cukup tunjukkan bukti, prestasi, dan kesungguhan kita sampai hati mereka luluh dan ridha.

T: Bagaimana menerbitkan karya tulis siswa?

Jawab:

Kak Nono: Bisa mencari daftar jurnal terakreditasi nasional Kemristekdikti dan mengirimkan tulisan di sana.

Kak Asih: Melalui ikut serta di lomba karya tulis ilmiah atau kompetisi sains seperti OSN atau IFSA (jika menyukai kegiatan ilmiah yang fun)

Tanya: Apakah kuliah juga berjuang? (diajukan oleh seorang siswa berkebutuhan khusus)

Jawab:

Kak Nova: tentu saja menuntu ilmu adalah perjuangan. Di dalamnya kita harus sungguh-sungguh dan kerja keras.

Kak Asih: dalam kitab Ta’lim Muta’allim karya Imam Jarnuzi, dijelaskan bahwa tujuan utama mencari ilmu adalah mensyukuri akal. Mensyukuri tidak hanya berterima kasih, tetapi menggunakan sesuai tujuan diciptakannya. Nah, menggunakan akal sebaik mungkin supaya bisa berpikir dan bekerja secara haq adalah sebuah perjuangan.

Di akhir acara, kami mendapat kenang-kenangan berupa parfum laundry yang diproduksi oleh salah seorang siswi. Oiya, dalam foto bersama terdapat pose simbol L yang dibentuk jari telunjuk dan jempol. Perlu diketahui bahwa lambang tersebut bukan untuk kampanye elektoral, tetapi pose dengan salam khas Lampung (huruf L) sebagaimana salam khas gerakan literasi.

Pada sesi kali ini, pustaka LiterASIh tidak membawa kontainer buku keliling karena fisik Kak Asih belum memungkinkan untuk menyusun buku dan membawanya ke sekolah.

Menghikmati Nikmat Hidup

Sebagian Pelajaran Hidup yg Diperoleh Selama Lima Tahun Terakhir:

1. Berpihaklah pada nilai-nilai, bukan pada kelompok/golongan/kepentingan/figur
2. Syukuri, sayangi, dan jagalah marwah agama, negara, keluarga, dan instansi tempat bekerja dg perilaku yg baik
3. Orientasikan semua perbuatan sebagai wujud pengabdian dan pelayanan kpd Tuhan. Jangan pernah berharap eksistensi, reputasi, popularitas, status, harta, jabatan, kehormatan, puja-puji, like/share, penghargaan, vote, cum, atau berharap apapun dr manusia
4. Meskipun pernah berperan sbg perintis/pembuka jalan/bagian dr sejarah, jangan pernah berharap untuk diingat. Anggap saja bahwa salah satu keniscayaan menjadi perintis adl dilupakan dan diabaikan. Biasa saja. Balik ke nomor 3
5. Jika harus menjalani suatu peran politis, kerjakan dalam bingkai politik kebangsaan dan politik ketatanegaraan yg beradab, bukan politik praktis/kekuasaan apalagi tansaksional
6. Boleh menanjaki karir secara obsesif dan ambisius, asal caranya beradab, sesuai aturan yg berlaku, serta tidak menginjak/menyikut/menjerumuskan teman
7. Bekerja keras dan berinteraksi dg kasih sayang, tulus, dan gembira. Berbuat baik atau membantu orang lain dg tulus, bukan karena pamrih atau berharap dibalas kebaikan yg setara/lebih
8. Berbuat dan berkarya saja, tidak usah main klaim
9. Sebisa mungkin sekuat tenaga berpedoman pada firman Allaah, sabda Rasul, titah ibunda, petuah gurunda, dan sumpah pd negara
10. Biarpun dibilang kuno di era disrupsi ini, tidak perlu gengsi, malu, dan sungkan dg cita-cita menjadi PNS. Baik itu atas keinginan sendiri maupun demi mewujudkan harapan orang tua
11. Apapun impian/cita-cita, gapai dahulu restu dan ridho orang tua
12. Enggan beranjak dr zona nyaman bukanlah sebuah aib, bukan pula sebentuk sikap pengecut
13. Ada saat di puncak dan ada saat di dasar jurang. Lumrah. Sikapi dg rendah hati dan penerimaan (acceptance). Terima dg lapang dada tanpa harus jumawa atau kecewa
14. Mengakui, meminta maaf, dan menjalani konsekuensi jika memang salah. Tidak perlu menyangkal dan berdalih membela diri
15. Jika teramat jenuh dan lelah, ambil waktu 1-2 hari tanpa tujuan/target apapun, sekadar untuk menyendiri, mager, dan ga ngapa-ngapain sama sekali, termasuk tidak akses hp/internet
16. Berusahalah menjadi pribadi yg mandiri dan selesai dg diri sendiri
17. Hindari berhutang banyak atau dalam jangka waktu lama. Bersabar. Hidup secukupnya, kendalikan keinginan-keinginan dan kebanggan akan kepemilikan material yg semu belaka
18. Bersama kesulitan, ada kemudahan. Jangan pernah berpikir bahwa suatu keadaan akan berlangsung selamanya. Everything is changing. This too shall pass
19. Berdoalah dan mohonlah pertolongan Allaah, seabsurd dan se-impossible apapun isi doa dan permohonan tsb selama beradab (tidak mengharapkan keburukan bagi org lain)
20. Bagaimanapun jalan hidup yg dilalui, percaya saja bahwa Allaah Maha Baik dan Maha Kasih Sayang. Semua fase kehidupan yg dilalui adl proses terbaik yg membentuk diri kita saat ini. Jangan bandingkan hidup kita dg hidup org lain
21. Pantang mengeluh dan menyerah. Jangan mudah terpesona dan tergiur pd proses yg instan
22. Sesekali boleh baper, tapi ga pake lama dan ga pake dendam. Hilangkan rasa dendam, iri, dengki, dan benci
23. Galilah dan salurkan passion/bakat agar jiwa lebih hidup. Mungkin saja ada setitik pengetahuan ttg rahasia misi hidup yg tersimpan di dalamnya. Namun, harus diingat bahwa passion/bakat saja tidak cukup
24. Percayai dan ikuti intuisi. Memang bisa jadi intuisinya salah, tetapi tidak akan membahayakan atau mencelakakan diri
25. Berbahagialah tanpa syarat. Kebahagiaan adl tanggung jawab diri sendiri, bukan bergantung pd benda2/atasan/teman/keluarga/lingkungan/peristiwa
26. Sedapat mungkin beribadahlah dg sepenuh syukur dan gembira, bukan dg berat hati dan terpaksa
27. Prioritas dan fokus pada dunia nyata. Abaikan kegaduhan dunia maya; jauhi debat dan nyinyir yang serba embuh dan ngehek itu
28. Utamakan jejaring dan silaturahmi di dunia nyata. Jaga hubungan baik dg keluarga besar, teman, dan tetangga
29. Fokus pada masa kini. Hindari nostalgia pd kejayaan masa lampau, dan kecemasan akan masa depan
30. Fokus pd solusi. Lihat lebih dekat dan lebih utuh, jangan sepotong-sepotong. Selesaikan suatu masalah dg “seni” dan “humor”
31. Fokus pd diri sendiri dan segala urusan yg harus diselesaikan. Jangan terdistraksi dan menghabiskan waktu utk sibuk dg persoalan di luar jangkauan/wilayah kita
32. Seaneh apapun keadaan, kepribadian, dan selera diri; terima, kenali, syukuri, berdamai, dan jadilah diri sendiri, tidak perlu asal ikut trend/mainstream. Tiap orang unik dan keunikan yg satu tidak lebih baik/buruk dari keunikan yg lain
33. Biasakan diri dg aneka ragam paradigma berpikir dan kembangkan keterampilan berpikir kritis. Bekali dg ilmu filsafat dan sejarah
34. Teori/pendapat/metode harus direkontekstualisasi/di-review sesuai kondisi
35. Jangan terlalu memusingkan persoalan remeh temeh dan pendapat yg ga nyambung/sesat pikir. Kita tidak bisa selalu menyenangkan semua orang. Pasti ada orang yg ga ngerti (bahkan suuzhan) dg maksud/tujuan kita, sebaik apapun substansi dan cara yg ditempuh
36. Selalu berpikir positif walaupun terkesan naif. Jangan bermudah-mudah melabeli negatif org lain hanya dr secuil representasi di dunia maya/nyata
37. Perkaya hati dan wawasan dg seni dan humor; berekspresilah dg menyanyi, main musik, melukis, menari, merias, merancang, menata, memotret, menulis lagu/puisi/cerita, membaca puisi/novel, menonton konser/film/teater/pameran, dan beranilah menertawai diri sendiri
38. Keteladanan adl kunci pendidikan dan pengasuhan
39. Tumbuhkan empati
40. Hindari merasa diri paling benar dan merasa sudah bermanfaat/berjasa banyak
41. Hindari semua yg toksik bagi jiwa dan pikiran
42. Di dalam hati yg patah/luka, terdapat pelajaran yg luar biasa
43. Tidurlah dg durasi cukup
44. Olahraga semampunya, tidak perlu dipaksakan. Olahraga harus membuat segar dan rileks, bukan malah menimbulkan stress
45. Diet sewajarnya. Makanlah dg rasa syukur yg berlimpah, bukan dg gerutuan akibat terlalu mikirin berat badan/penyakit/program diet/penilaian orang