Menjadi Ibu Tunggal

Ya, saya seorang ibu tunggal. Alias janda. Cerai hidup. Saya tinggal dengan seorang anak laki-laki, seorang pembantu rumah tangga yang juga berstatus janda, dan enam ekor kucing di rumah.

Bunda, Bintang, Piti, dan Ulil
Pekarangan dan halaman rumahku surgaku yang ditanami singkong untuk cadangan makanan di masa pandemi 😀

Saya menyadari bahwa secara umum stigma janda di masyarakat cenderung negatif. Saya menuliskan hasil pengamatan saya ihwal stigma janda di jurnal ini. Sebelumnya, stigma tentang janda juga terepresentasi dari dialog-dialog dalam film pendek Tilik dengan karakter Bu Tejo-nya yang sempat heboh tempo hari.

Usia saya tergolong muda, masih di bawah 40 tahun. Anak saya saat ini baru kelas 4 SD. Atribut janda muda memang pasti auto-melekat di diri saya. Saya pribadi belum pernah, setidaknya secara langsung (entah kalau di belakang saya hahaha), mendengar stigma yang dilabelkan ke saya terkait status saya tersebut. Alih-alih sebutan janda, teman-teman baik saya punya panggilan kesayangan ke saya, yaitu “gadis” atau “ibu gadis” dan sering mengajak saya “begadisan” (dalam artian hang out bareng rame-rame).

Begadisan siang2: kerja kerja kerja 😀

Begadisan malem2 kalo ga nonton film, makan2, hunting duren, ya jadi program manager untuk kawan2 manggung di konseeerrrr

Saya beruntung memiliki lingkungan sosial yang sangat mendukung dan menyayangi saya dengan tulus. Dari mulai keluarga seperti ibu, kakak, adik, saudari-saudari ipar, hingga ke lingkungan kerja seperti rekan sejawat, atasan, sampai mahasiswa. Saya merasakan kasih sayang yang mereka curahkan ke saya sampai luber-luber. Luberan itu sebisa mungkin saya salurkan lagi ke makhluk Tuhan yang lain, entah teman, tetangga, mahasiswa, maupun kucing. Indah sekali ya jika semua makhluk saling berkasih sayang? Kasih sayang memang modal yang ampuh untuk bertahan dalam situasi sulit, termasuk saat menghadapi perceraian.

Support system keluarga besar kesayangan lahir batin dunia akhirat <3
Support system: lingkungan kerja (atasan dan sejawat). Aing emang posisinya di depan bareng para guru besar ixixixixix, semoga suatu saat kelak bisa mengenakan toga seperti beliau-beliau
Support system: mahasiswa

Tentunya, perceraian adalah jalan terakhir yang terpaksa ditempuh setelah sebelumnya mencoba berbagai cara yang lain. Tidak ada orang yg sengaja menikah untuk bercerai, bukan? Bahkan jika akhirnya mengalami lebih dari satu kali perceraian, saya yakin itu pula bukan karena hobi atau gaya hidup. Pasti sudah dipikirkan masak-masak sebelum memutuskan bercerai, apapun alasannya.

Sayangnya, dalam kasus perceraian, pihak perempuan yang lebih kerap diberi stigma dan disalah-salahkan. Padahal, komentator biasanya tidak mengerti duduk perkaranya, boro-boro meninjau secara hukum agama/negara. Memang ada dua pihak dalam rumah tangga dan masing-masing memiliki sumbangsih yang berujung pada perceraian. Saya juga tidak pernah merasa sebagai pihak yang paling benar. Sebagai istri, saya pasti banyak kekurangan dan kesalahan. Yang jadi pegangan adalah keputusan hakim. Bagi saya, itu sudah lebih dari cukup. Siapapun yang menggugat cerai lalu divonis untuk bercerai, InsyaAllaah itu memang sudah sesuai baik secara hukum agama, maupun negara.

Di agama saya, terdapat pilihan berumah tangga secara ma’ruf atau bercerai secara ihsan (al-Baqarah: 229). Pernah dijelaskan oleh gurunda saya, perihal ma’ruf ini berkaitan dengan urusan (‘amr) yang harus ditunaikan; hak dan kewajiban masing-masing dalam berumah tangga. Jika memang secara syariah ada yang dilanggar serta tidak bisa saling ma’ruf lagi, pilihannya adalah bercerai secara ihsan. Ihsan kurang lebih artinya baik dari segi batin. Pihak yg bercerai harus sama-sama beradab dalam menempuh prosesnya. Baik adab lahir, maupun adab batin (misalnya ikhlas, sabar, ridho, dsb). Perceraian adalah perkara yang dibenci-Nya, tapi Dia juga menghalalkannya. Ingat, yang dibenci adalah peristiwa perceraiannya, bukan manusia-manusia yang bercerai. Tidak mungkin Dia Yang Maha Mencipta membenci makhluk ciptaan-Nya sendiri, terlebih yang sudah berusaha sekuat tenaga mengupayakan yang terbaik untuk rumah tangganya.

Sebisa mungkin saya menjaga adab ihsan. Minimal sekali saya tidak menjelek-jelekkan mantan suami (mansu) baik di depan anak saya maupun di hadapan orang lain, untuk menjaga kehormatan beliau dan menjaga perasaan anak saya. Kalaupun saya bercerita perihal yang negatif, saya bisa pastikan itu hanyalah ke pihak-pihak yang berwenang seperti atasan dan hakim pengadilan agama, sebagai bagian dari proses hukum yang harus saya lalui. Pastinya adab ihsan saya jauh dari sempurna, tapi semoga Allaah berkenan dengan ikhtiar saya.

Ke sana sini sama Bintang, kecuali ke Pengadilan Agama heheehe

Saya tidak ingin anak saya membenci ayahnya. Bagaimanapun, mansu adalah orang tua sah dari anak saya, dengan segala lebih dan kurangnya. Yang dimiliki anak saya hanyalah kenangan tentang ayahnya di masa kecil yang sebentar. Saya tidak ingin merusak kenangan indahnya itu. Dia sudah “kehilangan” ayahnya sejak kelas 1 SD. Tidak patut jika saya juga menghilangkan kenangan manis dia tentang ayahnya. Dia berhak bahagia dengan kenangan tersebut. Mungkin itu adalah modalnya untuk kelak menjadi manusia yang mandiri dan tangguh. Sesuai makna salah satu unsur dalam nama lengkapnya, yang disematkan oleh ayahnya.

Memang pilu hati ini jika ia menangis saat rindu pada ayahnya. Dan betapa saya merasa menjadi orang tua yang tidak berguna ketika tidak sanggup mengabulkan keinginannya untuk berjumpa dengan ayahnya (karena sesungguhnya saya pribadi pun tidak tahu persis di mana ayahnya berada). Bahkan saat menulis ini, air mata saya menggenang dan tenggorokan saya tercekat saking berusaha menahan perasaan yang tersayat-sayat karena tidak mampu memenuhi hak anak akan kehadiran orang tua yang utuh. Rasa sedih yang hadir bukan karena saya tidak punya suami; oh, I’m essentially just fine with my single status. Duka yang menghujam lebih kepada karena anak saya harus terluka batinnya dan kehilangan salah satu orang tuanya. 

Gurunda saya menyampaikan bahwa apapun peristiwa yang dihadapi anak saya, InsyaAllaah sudah dalam pertimbangan Tuhan dengan segala rencana dan skenario-Nya yang penuh hikmah dan perhitungan yang presisi; sepresisi Dia menetapkan orbit planet dan berbagai konstanta hukum-hukum alam sampai digit satuan yang terkecil. Memang tidak bisa instan. Mungkin baru bertahun-tahun kelak, anak saya akan mengerti sesi pelajaran hidupnya yang tumbuh di keluarga yang bercerai dan dibesarkan oleh seorang ibu tunggal.

Fokus saya saat ini hanyalah menjalani semua yang digariskan-Nya dengan ridho, sebisa mungkin tanpa mengeluh. Berperan menjadi orang tua tunggal, ternyata tidak seburuk dan seberat yang saya bayangkan di awal. Sudah 4 tahun berlalu, alhamdulillaah kami baik-baik saja, lahir dan batin. Saya tidak mengalami depresi atau isu kesehatan mental yang mengganggu keseharian saya. Bintang masih bertanya tentang ayahnya, meskipun tidak sering. Saya pikir, semua masih dalam kewajaran yang bisa diterima dan dikelola dengan pengendalian diri.

Bintangku, penunjuk arahku….

Tentu saja, saya melewati fase-fase emosi seperti sedih, kecewa, merasa bersalah, hampa, cemas, dan insecure. Saya tidak pernah menyangkal semua perasaan yang hadir itu. Mereka adalah “tamu-tamu” yang dihadirkan Tuhan, agar saya lebih dekat kepada-Nya. Tamu-tamu itu berkunjung ke hati saya dan yang perlu saya lakukan adalah menerima dan menjamu mereka dengan baik. Bukankah tamu harus dimuliakan? Setidaknya para tamu itu memberi pelajaran dan kesadaran bahwa saya masih manusia, bukan robot atau mesin tanpa emosi. Dan, bukankah pertolongan Allaah adalah dekat? Tangan-Nya hadir lewat tangan makhluk-makhluk baik penuh cinta kasih di sekitar saya, yang Dia gerakkan untuk membantu dan mendukung saya.

Sangat bodoh dan ingkar jika saya hanya fokus pada sisi “penderitaan”. Tapi, hey, nyatanya saya tidak menderita lah 😂 Saya punya Tuhan Yang Maha Segalanya, anak yang sehat cerdas baik, ibunda seorang janda luar biasa yang lebih dari pantas untuk saya jadikan role model. Plus, saya juga dilingkupi oleh keluarga besar yang rukun, pekerjaan yang nyaman, lingkungan kerja yang kondusif, ekonomi yang cukup dan mandiri, hewan peliharaan yang lucu, alat musik yang bisa dipakai untuk art therapy, tetangga yang tanggap, perpustakaan mini dengan buku-buku yang bermutu, kawan-kawan yang tulus, komunitas yang berdaya tempat saya jadi relawan seperti Single Moms Indonesia (SMI) atau Gema Indonesia Menyusui (GIM), dan masih banyak lagi. To sum up, I’m living my life happily ❤️ Saya hanya perlu bersyukur tanpa henti. Itu saja. Alhamdulillaah.

Emakku (sebelah kanan), teladanku <3
Bersama para relawan Single Moms Indonesia yang luar biasa perkasaaaaaa
Gema Indonesia Menyususi (GIM)-bira bersama para relawan panutan uwuuuu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *