Tentang Menyandang Nama Jabatan/Profesi yang Overclaim

Disclaimer: Isi tulisan ini tidak bertujuan untuk menyerang individu/organisasi/komunitas tertentu. Saya bukanlah tipe orang yang senang berperang/berdebat. 😂 Ini murni hasil mengamati (alias menonton santuy sambil ketawa-ketawa) fenomena perilaku yang merentang dari yang underclaim sampai overclaim, dan saya temukan dalam radar pengetahuan saya (yang amat mungkin tidak seluas jangkauan radar pengetahuan orang lain), lalu direnung-renung sendiri. Bisa saja ini salah. 😁

Entah kenapa agak ga sreg dengan penamaan jabatan di komunitas/organisasi/individu yang kesannya overclaim, bombastis, gigantis, dan hiperbola. Setidaknya terlihat demikian di mata saya. Ini subjektif sekali, tentu saja. 😁 Dan, orang lain boleh punya pendapat yang berseberangan atau jauh berbeda 😁

Misalnya, jabatan presiden untuk pemimpin Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Kenapa harus banget disebut presiden? Secara umum, kita sepakat bahwa presiden adalah nama untuk jabatan kepala negara. Untuk jadi presiden dalam artian tersebut, itu susahnya setengah mati. Kerja keras, nama baik, tim yang solid, pembiayaan finansial, dan masih banyak lagi syarat untuk dapat menduduki kursi presiden, termasuk konon “wahyu keprabon” atau suratan takdir Tuhan. Lalu bandingkan: ada organisasi “kecil” (dibandingkan negara) yang dengan enteng menggunakan nama jabatan tersebut untuk pemimpin organisasinya. Apakah menggunakan kata “ketua” sebagai nama jabatan tertinggi dalam organisasi tersebut tidak cukup? Berlaku juga untuk nama jabatan lain seperti menteri, rektor, dekan, bupati/walikota, jenderal, ustadz, dsb yang digunakan di luar konteks resmi/baku.

Juga nama profesi seperti konselor, widyaiswara, atau ustadz(ah). Saya punya sertifikat konselor dari lembaga resmi. Akan tetapi, saya tidak pernah menjadikan status tersebut sebagai profesi. Ya, mungkin karena sudah punya pekerjaan tetap yang lain. 😁 Yang membuat saya heran: ada yang tidak pernah ikut pelatihan konseling atau latar pendidikannya bukan ilmu psikologi atau bimbingan konseling, tapi melabeli dirinya sebagai konselor hanya karena didaulat sebagai konselor di sebuah komunitas. 😁 Lebih terkejut lagi kalau ada yang pasang tarif konseling melebihi tarif konsultasi dokter atau psikolog yang kuliahnya bertahun-tahun. 😁 Anyway, saya tidak paham sih apakah ada regulasi terkait penerapan tarif jasa konselor ini. 😁

Saya juga mengantongi sertifikat fasilitator Prajabatan/Latihan Dasar (Latsar) CPNS yang diterbitkan Lembaga Administrasi Negara (LAN). Dengan itu, saya sah menjadi narasumber/pelatih, atau lazim disebut sebagai widyaiswara, dalam program prajab/latsar CPNS. Namun, saya pribadi tidak cukup percaya diri untuk mendaku diri ke publik luas sebagai widyaiswara karena saya tahu bahwa itu profesi resmi yang ada jenjang karirnya dan angka kredit/akumulasi jam terbangnya. Dan profesi sy jelas bukan itu. 😁 Rasanya tidak pantas menisbatkan diri sebagai widyaiswara hanya karena punya sertifikat dari LAN tersebut. Pun tidak enak hati kepada para beliau yang profesinya widyaiswara sungguhan. Menggunakan kata fasilitator saat manggung di latsar, sudah amat cukup bagi saya. 😁 Apakah orang-orang yg mendaku atau didaku sebagai (pura-puranya) widyaiswara, tapi aslinya bukan widyaiswara dan tidak punya sertifikat widyaiswara dari lembaga otoritatif, merasa tidak cukup dengan menyebut diri sebagai fasilitator saja? 😁 Teman saya yang sudah bergelar doktor, menjabat struktural tertentu dalam lingkup dinas pendidikan dan kebudayaan, dan mau inpassing menjadi widyaiswara pun tidak mudah jalannya karena ada syarat dan ketentuan yang belum dipenuhi 😊

Profesi resmi saya adalah dosen, dengan status pegawai negeri sipil. Jenjang karir tertinggi sebagai dosen adalah menjadi guru besar dengan gelar profesor. Di ranah struktural, jabatan tertinggi yang bisa dicapai seorang dosen adalah menjadi rektor. Kadang kala, teman2 saya, dengan maksud bercanda, memanggil dengan julukan “Bu Prof” atau “Bu Rektor/Wakil Rektor”. Akan tetapi, sy tidak senang dipanggil seperti itu dan pasti saya ralat. Pertama, semata karena saya memang bukan seorang profesor/rektor/wakil rektor. Kedua, saya juga tidak merasa layak dipanggil demikian meskipun hanya bercanda. 😁 Saya tahu persis, angka kredit saya masih jauh dari cukup untuk meraih prestasi sebagai profesor. Di ranah struktural, saya tidak ada niatan untuk menjadi rektor. 😁 Membaca syarat-syarat menjadi rektor dalam peraturan menteri saja, saya sudah keburu bilang: no, thanks 🙏

Saya juga menolak dan segera menegur jika ada yg menyebut saya “ustadzah” saat komen saya di media sosial kebetulan mengutip ayat/hadits/hikmah sufi. 😊 Dalam konteks ini, saya memaknai ustadzah sebagai orang yang mempelajari ilmu agama secara formal atau bersanad jelas pada alim ulama. Di sisi lain, saya juga kerap menjumpai ada yang sangat nyaman dipanggil demikian, meskipun yang bersangkutan tidak ada latar pendidikan keagamaan atau berkecimpung di kegiatan yang membuatnya layak menyandang sebutan ustadz(ah).

Atas fenomena mudahnya orang menisbatkan suatu nama jabatan/profesi yang dalam konteks aslinya harus dicapai dengan syarat dan ketentuan yang banyak (diatur dalam dasar hukum tertentu), saya jadi bertanya-tanya sendiri. 😊 Apakah fenomena itu mencerminkan obsesi subliminal bahwa penggunanya atau pencetusnya haus atau ingin sekali menyandang jabatan dengan nama tersebut sehingga nama jabatan yang nuansanya lebih netral dan umum seperti ketua/kepala/pemimpin menjadi tidak dilirik lagi? Apakah nama jabatan seperti ketua/kepala/pemimpin tidak cukup representatif untuk mengakomodir tanggungjawab dan tugas-tugas yg mereka lakukan di organisasi/komunitas tersebut sehingga harus “meminjam” nama jabatan/profesi yg kalau di konteks aslinya, itu lumayan berliku untuk diraih? Mengapa membutuhkan nama jabatan yang “overclaim/bombastis/gigantis/hiperbola”? Apakah hal tersebut tidak berisiko menimbulkan rasa bangga diri yang tidak pada tempatnya? Lalu, di mana adab rendah hati yang konon harus ditanamkan termasuk saat berkomunitas/berorganisasi/membawa diri? Ataukah itu wujud delusional dan halusinasi untuk membesarkan hati dan menghibur diri karena tidak bisa menjadi presiden/menteri/rektor/dekan/bupati/konselor/widyaiswara/ustadz betulan? Yang jika dalam konteks dunia nyata kesehariannya, memang mustahil untuk dicapai karena memang tidak berkarir/berlatar pendidikan/keahlian sesuai nama jabatan/profesi tersebut? Mengapa orang-orang umum bisa penuh percaya diri menyandang nama jabatan/profesi seperti itu? Sedangkan, orang yang punya potensi dan jenjang karir sungguhan ke arah sana saja amat risih dan sungkan dipanggil dengan sebutan demikian, meskipun hanya bercanda? Apakah mereka tidak pernah merasa rikuh, sungkan, atau segan kepada pihak-pihak yang memang punya jabatan/profesi resmi sungguhan tersebut? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang mencuat di benak saya yang mungkin levelnya sampai di overthinking 😀 😀

Tidak masalah, saat ikut di suatu komunitas/organisasi atau sebagai individu, kita boleh bermimpi setinggi-tingginya, serta memperbaiki dan mengembangkan diri semaksimal mungkin. Plus, tidak ada larangan juga menggunakan nama jabatan/profesi tertentu untuk mengasah peran publik di level individu/komunitas/organisasi. Dan, saya yakin semua itu bisa seiring sejalan dengan mengasah rasa rendah hati dan beradaptasi dengan konteks atau norma umum yang berlaku. Misalnya, dimulai dari menggunakan nama jabatan/profesi yang tidak terkesan overclaim 😊 Kalau sulit sekali, ya mungkin perlu ditelisik mengapa sampai segitunya ingin menyandang nama jabatan/profesi yang bukan hak/kompetensi kita, dan enggan dengan nama jabatan/profesi yang lebih netral dan umum seperti “ketua/kepala/pemimpin”. Apakah ada kaitannya dengan kesan bergengsi atau kesan “wah”? 😊

Di sekitar saya, banyak orang-orang yang sesungguhnya punya banyak prestasi atau peran publik yang “wah” di mata saya. Tetapi, mereka cenderung underclaim. Atau kalaupun meng-claim ya secukupnya. Biasanya pun untuk kepentingan administrasi atau professional, yang memang ia jalani di dunia nyata. Mereka cenderung rendah hati dengan apa-apa yang sudah dicapai. Namun, di sisi lain, saya juga menemukan yang overclaim, padahal ya seperti yang sudah saya jabarkan di atas, aslinya mereka ga ada peran-peran di kehidupan sehari-hari di dunia nyata, sebagaimana yang mereka claim.

Sorry to say, saya sebagai orang luar yang menangkap (baca: menonton santuy sambil ketawa-ketawa) fenomena ini, merasa geli saja sih. Saya seperti menonton orang yang sedang bermain peran. Nampak ada yang lagi main-main jadi presiden2an, menteri2an, rektor2an, bupati2an, ustadz2an, jenderal2an, dst. 😁 Lalu, apakah yang menggunakan nama jabatan/profesi tersebut di luar konteks resmi, memang sejatinya sedang bermain-main? Entahlah 😊 Kalau memang iya, ya sudah, saya turut senang dengan keseruan permainan tersebut 😊

Merayakan Enam Tahun Itera Berkiprah

Secara de jure, 6 tahun Itera berkiprah. Tapi bagiku, usiamu saat ini adalah 8 tahun sudah 🤗❤️

Kau adalah “anakku” setelah Bintang yang 9,5 tahun usianya. Berangkat kerja bertemu “anakku” Itera, pulang ke rumah kembali bersama anakku Bintang. Bukankah tidak ada hal lain yg paling membahagiakan seorang ibu selain berkumpul dan menyaksikan tumbuh kembang anandanya?❤️

Jika Gus Baha mengajarkan pola pikir bahwa anak kandung adalah penerus tauhid, maka Itera bagiku adalah “anak” yang kelak menjadi pewaris peradaban. Fondasi yg kami letakkan semoga dapat kokoh menopang ❤️

Dua tahun de facto berusaha “melahirkanmu” bersama teman-teman dosen Angkatan 2012; merintis sejarahmu dari tiada menjadi mengada; dengan segala suka dan duka, tangis dan tawa, asa dan doa ❤️

Sebagai “anak” baru, tentunya banyak yg harus dipelajari. Tak pernah kurang daftar kiprah yang harus kau tekuni. Bahkan semua itu tak akan habis hingga kelak aku wafat nanti. Kau akan terus menjulang tinggi dan berkembang lebih dahsyat lagi, jauh dari apa yang dapat ku bayangkan saat ini ❤️

Pastinya, aku belum optimal dalam membesarkanmu. Tapi percayalah, kalaupun waktuku habis untukmu serta lelah dan sakitku adalah hasil jerihku membersamaimu; ku lakukan semua dengan suka cita dan harapan akan kebaikan-kebaikanmu, yang tak pernah henti menyala tanpa ragu ❤️

Aku menerima hadirmu sejak dahulu, dengan segala lebih dan kurangmu. Setiap hariku tanpa menggerutu, diisi dengan pikiran yang akan ku sumbangsihkan untukmu. Laguku akan merekam betapa aku menyayangi dan membanggakanmu ❤️

Kau digariskan menjadi “anakku” yang telah termaktub dalam kitab buaian-Mu. Aku bersyukur tinta-Nya telah menuliskan takdir bahwa aku menjadi salah satu “orang tua”mu. Selanjutnya adalah sejarah yang kita catat seiring waktu 🤗❤️