Belajar Menulis Bersama Om Bud (Bagian 7)

Semalam, 2 Juli 2019, kulwap menulis bareng Om Bud memasuki sesi ke-7.

M: Sudah pukul 20.00 pas nih. Kita mulai ya sharing-nya. Malam temen-temen semua. Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, malam ini, kita ketemu lagi bareng Om Budiman Hakim.  Kali ini Om Bud akan membawakan tema: “Ruang Imajinasi dan Ruang Editing”.

Seperti biasa, mohon diperhatiin tata tertib sharing-nya ya

  1. Sharing akan dibagi 2 sesi, Sesi Sharing Materi (pk. 20.00 – 21.30); dan Sesi Tanya Jawab (pk. 21.30-22.00)
  2. Selama sharing berlangsung, member dilarang posting apapun, kecuali diminta oleh pemateri atau moderator
  3. Member diharap menyampaikan pertanyaan lewat WA saya sebagai moderator (Asep Herna, WA 0816909xxx). Saya akan pilih 5 pertanyaan pertama untuk disampaikan ke pemateri di Sesi Tanya Jawab. Bila masih ada waktu, 5 pertanyaan berikutnya akan disampaikan ke pemateri.

Oke teman2. Om Bud sudah terlihat siap, dan mari kita sambut langsung Om Budiiiiimaaaan Haaaakiiiiiim….😁👏👏👏 Silahkan, Om, dimulai.😊🙏

N: Terima kasih Pak Moderator….🙏🙏 Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…. Pakabar, temen2? Kita ketemu lagi malam ini di Kelas Penulisan, The Writers, Sesi 7. Sebelum mulai, saya ingin menuliskan sebuah kalimat yang saya suka banget. Bunyinya begini :

“You say you love rain, but you use an umbrella to walk under it. You say you love sun, but you seek shelter when it is shining. You say you love wind, but when it comes you close your windows. So that’s why I’m scared when you say you love me.”

 

Orang yang mengcapkan kalimat ini adalah Bob Marley, seorang penyanyi reggae terkenal berasal dari Jamaica. Bob Marley adalah salah seorang tokoh idola saya. Kemampuannya menulis sering membuat saya kagum. Misalnya kalimat di atas. Bagus banget, ya? Bisa kita pake tuh kalo kita mau merayu cewek kita. Hehehehe….

Seperti saya, Bob Marley adalah seorang yang relijius. Ehem…. Dia sering menggunakan istilah FATHER OF CREATION untuk menyebut TUHAN. Kenapa demikian? Menurut Mas Bob, satu-satunya warisan dari Allah untuk manusia (dan tidak diwariskan pada makhluk lainnya) adalah BERKARYA (Creation, to create, creation). Kalo kita gak pernah berkarya, kita gak ada bedanya seperti tanaman dan binatang, begitu kata Kak Bob. Jadi selama menjalani hidup, kita harus berkarya. Mungkin karya kita tidak laku dan tidak sukses….gak masalah. Minimal kita sudah berkarya dan dengan berkarya, kita telah membedakan diri kita dengan makhluk lainnya. Tuhan adalah Father of creation. Jadi dapat disimpulkan bahwa, sebagai manusia, Kita harus berkarya (T0 CREATE).

Bagaimana caranya agar kita bisa berkarya terus menerus? Kita harus memiliki CREATIVE ATTITUDE. Itu sebabnya dari sesi awal saya cerewet banget ngomongin Creative Attitude melulu. Mungkin kalian sudah muak mendengar istilah tersebut tapi saya gak akan berhenti mengingatkan masalah itu terus-menerus. Karena itu adalah fondasi dari semua manusia untuk berkarya. Sebagai makhluk ciptaan Allah kita sudah ditakdirkan untuk selalu berkarya.

Teman-teman sekalian. Janganlah menganggap bahwa berkarya itu susah. Kita bisa mulai dari yang kecil-kecil. Ketahuilah bahwa status Facebook itu juga karya. Tweet kita di Twitter juga karya. Foto dan caption kita di Instagram juga adalah karya. Setuju?

Nah, kalo kita sepakat dengan hal itu, tentu saat membuat status FB, Ngetweet, bikin caption di IG, seharusnya kita juga melakukannya dengan Creative Attitude. Kalo semua hal itu dilakukan dengan reatve attitude, kita akan surprise karena  yang nge-like, komen dan nge-share tulisan kita akan bertambah. Bahkan bisa jadi follower kita juga akan meningkat tajam.

Status atau postingan yang kita buat gak perlu ilmiah, yang penting KREATIF. Kita bisa bikin humor, motivasi, makna ganda, plesetan, tekateki atau apapun yang sekiranya menarik perhatian. Membuat status, tweet dan caption yang cerdas adalah cara kita berlatih menulis dan pada gilirannya akan bermanfaat ketika kita hendak berjualan produk di social media.

Jadi setiap kali kita tergugah emosinya, kita harus langsung bertanya pada diri sendiri,  “Bisa gue jadiin ide apa ya joke ini?” Kalo itu joke tentunya. Maap nih wifi kok putus nyambung terus ya? 😩 Kalo kita terbiasa melakukan hal itu, hasilnya pasti bagus. Saya jamin itu. Karena sudah terbukti bahwa kita saja tergugah emosinya, jadi kalo kita bikin dan kemas ulang pastinya karya kita akan lebih dramatis daripada originalnya.

Misalnya: Saya pernah menemukan buku best seller yang ditulis oleh Flannery O’Connor. Judulnya “A Good Man is Hard To Find”. Orang baik sulit ditemukan.

Nah, tiba-tiba judul buku tersebut diplesetin oleh Mae West di tahun 1930. Mae West saat itu memang dikenal sebagai bintang film yang sering tampl sexy. Bomb sex istilahnya. Dalam sebuah momen, Mae bercerita pada wartawan kehidupan sexnya dengan banyak pria. Mae West berpendapat bahwa rata2 cowok itu payah dalam soal sex. Katanya: Susah sekali menemukan cowok yang bisa memuaskannya. Di akhir press conference, dia menutup ceritanya dengan mengatakan,  “A HARD MAN IS GOOD TO FIND”. Hahahahaha…

Semua hadirin tertawa terbahak-bahak karena semua mengerti bahwa Mae West sedang main plesetan. Dia memelesetkan judul buku “A good man is hard to find’ menjadi ‘A hard man is good to find.’ Kalimat aktris bomb sex ini langsung melegenda. Kalimat plesetan dari Mae West ini bahkan menjadi jauh lebih terkenal daripada kalimat yang diplesetinya….. Hebatnya, dengan cerdik, Brand Viagra menggunakan kaliamat Mae West ini untuk headlinenya “A Hard Man Is Good To Find” . Hahahahaha…. Kocak, ya? Iklan ini dibuat dan ditayangkan oleh brand Viagra untuk memanfaatkan momentum Hari Valentine. Ini dia iklannya….

Coba perhatikan iklan tersebut. Biaya produksinya murah banget. Gak ada model, gak ada pemotretan tapi tetep aja bagus. Bahkan iklan ini memenangkan beberapa festival iklan di beberapa negara. Jadi bisa disimpulkan kalo ilmu menulis kita udah jago, seringkali komunikasi kita cukup diwakili oleh tulisan yang cerdas. Buat yg gak ngerti arti iklan Viagra itu boleh japri saya ya. Hehehehe….)

Jadi ide itu datang seringkali bukan karena kita pikirin berhari-hari. Kita musti membuka pancaindera di mana pun kita berada. Kita harus lebih peka terhadap apa yang kita lihat, dengar, cium, rasa dan kecap. Karena bisa jadi di situlah Tuhan menyelipkan ide-ide yang keren.

Inti dari materi hari ini: Tuhan tidak pernah memberi kita karya. Tuhan memberi kita ide dan kitalah yang mengolah ide tersebut menjadi karya. Seperti halnya Tuhan tidak pernah memberi kita pasangan yang sempurna. Tuhan memberi pasangan untuk kita saling menyempurnakan.

Manusia adalah makhluk cerdas. Kita gak perlu mengiba-iba pada Tuhan untuk minta diberi ide. Karena banyak  ide sudah diletakkan Tuhan di mana-mana, di sekeliling kita. Untuk menemukannya, kita dibekali otak olehNya. Yak betul! Hidup itu seperti puzzle dan itulah yang menjadikannya menarik. Jadi yang perlu kita lakukan adalah bagaimana kita lebih peka menangkap apa yang diterima pancaindera lalu kirim ke otak untuk diolah menjadi karya.

Ketika ide sudah ditemukan, penting diketahui bagaimana cara menuliskannya supaya imajinasi kita berjalan sejauh mungkin. Seperti saya sebutkan di materi sebelumnya bahwa semakin jauh imajinasi kita maka cerita kita akan disukai orang. Kenapa? Karena cerita kita jadi unexpected (tidak disangka-sangka) dan penuh surprise. Jadi jangan sampai imajinasi kita KEPOTONG gara-gara ada gangguan dari luar atau gangguan dari diri sendiri. Kalo takut gangguan dari luar kita bisa mengurung diri dalam kamar. Kalo perlu…KUNCI! Kalo gangguan dari diri sendiri, bisa kita hindari dengan cara di bawah ini.

RUANG IMAJINASI DAN RUANG EDITING

Kalian tentu masih inget materi kita sebelumnya yang berjudul ‘MENULIS TANPA IDE’, bukan? Itu loh, metode menulis dengan cara memanfaatkan 6 benda yang ada di sekitar kita. Inget kan?

Salah seorang teman saya di London, bernama Taufiq Hadimadja mencoba mempraktekin formula ini. Kebetulan dia lagi naik kereta api dari London ke kota lain. Selesai menulis dia ngasih komen di FB:

  1. kereta api
  2. kursi kosong
  3. buku
  4. perempuan
  5. handphone

“Udah jadi tulisan gue, Om Bud! Wah, beneran berhasil formulanya. Tapi kenapa cerita gue jadinya jorok banget, ya?  Hahahahaha….”

Nah, ini menarik! Apa yang terjadi pada temen saya ini sama sekali gak masalah. Karena dalam proses penulisan, ada dua ruangan yang perlu kita masuki. Yang pertama adalah Ruang Imajinasi dan yang kedua adalah Ruang Editing. Kedua ruangan ini sama pentingnya. Aduuuuh…..putus melulu nih wifi-nya. Maaf ya, temen-teman…..

Perlu dicatat bahwa kita harus memasuki kedua ruang tersebut satu persatu. Jangan pernah kita menyatukan kedua ruang tersebut dan jangan pernah kita memasuki kedua ruangan dalam waktu yang bersamaan.

Yang pertama kali harus kita masuki adalah ruang imajinasi. Di ruangan ini kalian DILARANG KERAS mengedit sebuah tulisan. Biarkan tulisan terpampang seperti apa adanya. Jadi bila kita sudah TERLANJUR  menulis sebuah kata makian yang dilontarkan seorang bapak pada anaknya, “Anjing lu!”Biarkan aja begitu. Jangan diedit. Kenapa demikian? Di ruang imajinasi, kita sedang memberdayakan imajinasi kita. Kata-kata yang sudah tertulis adalah jejak emosi dari cerita yang sedang kita buat. Setiap kata yang tertulis adalah jembatan yang sedang kita lalui menuju ke imajinasi berikutnya. Kalau kita berhenti lalu mengedit tulisan tersebut, itu sama saja kalian memutus imajinasi yang sedang berjalan. Jadi biarkan semua kata tertulis apa adanya. Teruslah menulis sampai cerita selesai. SEKALI LAGI: Teruslah menulis sampai cerita selesai! Putus lagi….HADEUH!!!

Kita lanjut lagi ya. Semoga lancar sampe selesai. Bismillah….

M: Interupsi Om…

N: Yak, silakan, Sep

M: Buat yang udah punya pertanyaan, silahkan tulis via WA saya di 0816909xxx, sekarang ya. Akan dipilih 5 pertanyaan pertama untuk dijawab oleh Om Budiman Hakim. Terima kasih.😊🙏

Silakan lanjut Om.

N: Thank you, Sep.

Di ruang imajinasi ini kalian harus MENGHAMBA PADA KEBEBASAN. Lupakan kesalahan ejaan, acuhkan soal norma dan aturan, jangan ada nilai-nilai yang mengekang, misalnya kekerasan, pornografi, SARA dll. Abaikan semuanya! Nikmati kebebasan itu! Bersenang-senanglah dengan imajinasi yang sedang berjalan. Biarkan imajinasi itu menjadi liar tak terkendali. Biarkan imajinasi itu akhirnya mengambl kontrol atas pikiran dan tangan kita. Ikuti saja kemana imajinasi itu pergi. Biarkan jemari kalian menari tanpa terkendali. Biarkan cerita berjalan sampai akhirnya selesai. Kalo proses ini dijalankan sebebas-bebasnya maka kalian akan terkejut sendiri, “Masak, sih, ini tulisan gue? Rasanya gak mungkin gue menulis seperti ini.” Kita bergumam sendiri karena keheranan.

Tapi itulah yang selalu terjadi pada saya setiap kali menulis. Proses menulis biasanya begitu. Pertama kita berpikir. Setelah itu kita berpikir sambil berimajinasi. Selanjutanya kita berimajinasi masih dalam kontrol kita. Akhirnya imajinasi mengambil kontrol dan bekerja sendiri. Jari-jari kita terus mengetik seolah jemari itu bukan milik kita. Luar biasa banget! Itu sebabnya ketika teman-teman membaca tulisan kita, mereka gak percaya bahwa itu tulisan kita. Jangankan temen, kita sendiri nyaris gak percaya kita bisa menulis seperti itu. Seperti ada makhluk lain yang menguasai tubuh kita. Makhluk itulah yang menulis dengan meminjam jari-jari kita.

Pernah suatu hari saya sedang menulis novel di kantor. Baru mau mulai tiba-tiba Kang Asep datang dan pamit karena mau meeting. “Okay, silakan, Sep.” kata saya lalu mulai bekerja. Sekitar beberapa menit saya nengok ke arah Asep yang masih saja berada di kantor. Saya tanya, “Gak jadi meeting, Sep?”

“Udah meetingnya. Ini baru pulang.” kata Asep.

“Heh? Kok cepet banget? Emang meeting di sini?”tanya saya lagi keheranan.

“Cepet apanya? Saya udah 4 jam meninggalkan kantor.” kata Asep lagi.

Saya kaget bukan main. Perasaan baru beberapa menit yang lalu Asep pamit. Saya ngeliat jam. Dan bener loh  Ternyata sudah 4 jam berlalu. Sebenernya apa yang terjadi? Saya ‘keasyikan berada di ruang imajinasi sehingga terasa seperti time laps.

Kemudian saya baca apa yang telah saya tulis. Ternyata saya udah nulis banyak banget! Dan, masya Allah, saya gak percaya sama sekali bahwa itu tulisan yang saya buat. Isinya gila dan unexpected banget. Begitulah dahsyatnya jika kita biarkan diri kita larut dalam ruang imajinasi. Hhhhhh….merinding saya jadinya. Tapi seru!

Ketika tulisan sudah rampung, barulah kita memasuki ruang editing. Di tahap ini, kita bisa membaca lagi cerita dari awal dan merevisi semua kata yang rasanya terlalu kasar. Terlalu sadis. Terlalu norak. Terlalu porno  dan sebagainya. Dalam kasus Taufik di atas, dia bisa memperbaiki, merevisi atau menyensor bagian yang rasanya terlalu jorok. Di sinilah kesempatan kita untuk mengedit cerita dari awal sampai akhir. Di ruang editing inilah nilai-nilai normatif kita masukkan. Begitulah proses menulis yang betul.

Misalnya soal makian ‘Anjing lu!’ di atas. Pastinya kita merasa kok gak pantes banget seorang bapak memaki anaknya dengan kata sekasar itu. Okay, kita bisa menggantinya dengan kata ‘Kurang ajar, kamu!’ atau kalo mau yang lebih halus lagi “Keterlaluan, kamu’. Silakan pilih yang paling cocok. Revisi semua yang ingin kalian revisi. Yang penting proses editing itu jangan dilakukan di ruang imajinasi. Silakan dipraktekin.

Ruang imajinasi akan membuat karya kita jadi unexpected karena kita melepaskan imajinasi kita melanglang-buana sebebas-bebasnya. Ruang editing akan membuat karya kita menjadi sempurna karena kita meluruskan sesuatu yang tidak wajar atau melanggar norma-norma. Sebetulnya metode inilah yang sering saya sebut dengan teknik “LANTURAN TAPI RELEVAN” yang juga merupakan judul buku pertama saya.

Jadi bagaimana teman-teman? Sudah dapet ide untuk ditulis? Kalo sekiranya masih juga belum dapat ide mungkin kita perlu latihan lagi untuk memancing ide cerita keluar. Nah, latihan kali ini adalah cara lain untuk memancing ide. Sebenernya metode ini adalah lanjutan dari metode 6 benda yang kita lakukan sebelumnya. Bedanya adalah kalo sebelumnya kita hanya menuliskan 6 benda yang ada di sekeliling kita maka kali ini kita harus memilih 6 kata yang JAUH hubungannya.

Jangan menuliskan kata yang, secara makna, terlalu deket, misalnya ‘buku – pensil, meja – kursi, mobil – oli, dsb. Pilih kata yang secara makna JAUH satu sama lain. Misalnya ‘kodok’ dan ‘Paracetamol’. Jauh banget, kan? Kenapa kita harus memilih yang jauh? Karena semakin jauh hubungan antar-kata akan semakin MEMICU IMAJINASI kita. Itu rahasianya.

Okay, karena ini baru latihan pertama, maka keenam kata kali ini, saya yang akan pilihkan untuk kalian. Jadi semua peserta akan mempunyai kata yang sama. Nanti dari hasilnya kita bisa membandingkan siapa yang imajinasinya paling “GILA”.

Oh, iya satu lagi. Mohon dengan sangat, kalian jangan terlalu cepat puas dengan hasil tulisan pertama. Jangan begitu dapet ide, buru-buru ditulis terus langsung dikirim ke saya. Selama waktu masih ada, proses kreatif tidak boleh berhenti. Manfaatkan ruang imajinasi sebebas-bebasnya dan semaksimal mungkin.Gunakan ruang editing sebaik-baiknya. Tolong baca lagi yang bener lalu sempurnakan. Capek loh baca puluhan tulisan yang tata bahasanya ngaco dengan typo di mana-mana.

Okay. Kalo udah siap, ini keenam katanya:

  1. Bintang
  2. Perahu
  3. Alien
  4. Telanjang
  5. Darah
  6. Ranjang

Keenam kata tersebut harus ada dan berhubungan satu sama lain dan membentuk cerita yang menarik. Ingat! Perhatikan setiap kata lalu masuki setiap makna yang terkandung di dalamnya.

Misalnya kata ‘Bintang’ bisa kita maknai sendiri dengan makna bintang di langit, zodiac, bir bintang, bintang film, semuanya sah-sah saja. Gunakan imajinasi kita seliar-liarnya. Gak ada istilah tabu, jorok, porno dan haram di ruang imajinasi.

Jangan buru-buru masuk ke kata kedua. Selama kita masih asyik berimajinasi dengan kata pertama, ikuti saja terus. Ketika cerita mulai mentok, barulah kita masuk ke kata kedua. Seperti tadi, perhatikan kata tersebut lalu masuki semua maknanya. Dan begitu seterusnya.

Tulisan seperti biasa diposting di social media kalian, ya. Jangan lupa kasih judul yang menarik. Karena berawal dari judullah orang akan membaca tulisan kita. Sekali lagi PR ini buat yang mau aja, ya. Buat yang gak mau karena sibuk atau alasan tertentu, gapapa gak bikin PR. Pokoknya di kelas saya kalian harus nyaman dan harus senang. Saya gak mau ada tekanan deadline atau tekanan harus bikin PR sampe stress. Gak boleh itu. Kita semua harus enjoy…..SETUJU?

Okay cukup sampe di sini. Mike saya kembalikan pada moderator. Silakan, Sep…..

M: Terima kasih Om.

Teman-teman, silakan untuk yg mau bertanya, tulis pertanyaan via WA saya: 0816909xxx. Kita masuk sesi tanya jawab ya

Pertanyaan 1 dari @+62 811-6141-xxx: Assalamu’alaikum , Perkenalkan saya Rudi. Saya sedang menulis buku tapi, sudah sampai bab 3. Ketika mw melanjutkan tulisan saya blank. Malah saya menulis buku ke 2, baru selesai bab 1.

Pertanyaannya, apa yg harus saya lakukan. Melanjutkan buku pertama atau kedua, sementara itu pas mw lanjutin buku pertama saya blank.

Pertanyaan selanjutnya, bolehkah saya mengutip beberapa materi di buku om Bud dengan menyertakan sumbernya?

Terima kasih Om. Barakallah.

N: Wah, ini pertanyaan yang menarik. Dan jawabannya gak ada yang pasti. Misalnya temen saya, dia selalu gak mau menulis buku berikutnya sampe buku yang sedang dikerjakannya selesai. Sedangkan saya sebaliknya. Saya punya novel udah 3 tahun belum kelar-kelar. Padahal dalam kurun waktu 3 tahun yang sama, saya menyeleseaikan dan menerbitkan dua buku lain.

Buat saya menulis buku itu adalah rekreasi. Menulis tujuannya untuk menyenangkan diri sendiri jadi saya ikut mood saya aja. Seperti sekarang ini saya seang menulis 3 buku sekaligus. Itu kalo saya. Jadi kamu ikutin aja kata hati. Yang nyaman aja. Lakukan yang kira-kira paling produktif.

M: Pertanyaan ke-2 dari Fairuz: Aslm, Kang Asep. Ini pertanyaan saya buat Ombud: Apa bedanya cerpenting dengan visual storytelling?

N: Cerpenting adalah Certa Pendek Tidak Penting. Tujuannya adalah berlatih memanfaatkan kejadian sepele sebagai pemicu untuk menulis. Jadi kejadiannya harus sepele. Meskipun sepele tapi kita mampu mengemasnya sehingga pembaca tetap tergugah emosinya.

Visual storytelling adalah cerita yang menggunakan image atau audio visual. Di dalamnya harus terkandung konflik yang merupakan syarat sebuah cerita. Contohnya adalah iklan obat pegel linu yang pernah saya posting. Yang menggunakan patung pancoran.

M: Pertanyaan 3 dari @sosialitatv: Jika slogan atau plesetan yang kita buat dan kita tawarkan langsung kepada company secara pribadi bisa kah? Atau tetap melalui Agency?

N: Ini maksudnya gimana ya? Kok saya gak ngerti pertanyaannya? Bisa dibantu, Sep?

M: Jadi, apa bisa kita ajukan sendiri ke client, atau harus via agency advertising dari sisi etiknya. Mungkin gitu Om?

N: Ooooh, maksudnya kalo kita punya ide buat Telkomsel misalnya, dan kita bukan anak agency. Bisakah kita ajukan langsung ke klien. Gitu kan? Jawabannya sangat bisa. Biasanya klien malah seneng karena membauar perseorangan jauh lebih murah daripada bayar agency. Dulu sih gak bisa karena dulu kode etiknya lumayan strick. Sejak jaman digital semuanya mungkin.

M: Berikutnya dari @Ade R Sobandi : Kenapa cerpen yang dibuat saya berdasar imajinasi lebih kaku daripada yang real terjadi, emosinya lebih dapat.

N: Yang bikin kaku biasanya adalah apa yang kita perbuat di ruang editing. Atau mencampuradukkan ruang imajinasi dan ruang editing. Emosi didapatkan dari imajinasi bukan dari hasil editing.

M: Pas 4 detik sebelum nutup, ada pertanyaan dari @Hakim | www.LARIZKA.com, Om: Saya Hakim, mau tanya ke Om Bud. Terkait ruang imajinasi dan ruang editing yang tadi dipaparkan. Ketika saya mulai menulis, biasanya saya membaca tulisan saya. Kalau apa yang saya tulis ternyata typo, rasanya nggak nyaman banget di mata. Alhasil, saya langsung mengeditnya agar bener sesuai tata bahasa yang saya tahu.

Untuk orang yang cukup perfeksionis seperti saya, tips seperti apa yang tepat agar nggak mudah kepengen ngedit di ruang imajinasi ya, Om?

N: Seperti yg saya tulis sebelumnya, ketika menulis kita akan mulai berpikir, lalu nerpikir sambil berimajinasi, selanjutnya berimajinasi tanpa berpikir. Kalo masih gatel pengen benerin typo berarti sebagai penulis kita belum membebaskan imajinasi untuk menguasai diri kita. Saran saya, lawan aja. Pertanyaan ini sama dengan pertanyaan, saya kok mau bangun dari tempat tidur kok males ya? Soalnya masih ngantuk. Jawabannya gak ada yang lain….PAKSA! Itu memang proses yang harus kita jalani. Kita memang gak bisa sekonyong-konyong ahli pada suatu hal. Semua ada prosesnya.

M: Satu lagi Om dari @emma holiza: Malaaam.. antara nanya sama curhat nih om. Kok setelah ikut kelas ini dan tahu beberapa ilmunya, saya kok malah mandeg, gak PD dan menguap creative attitudenya yaa? Kira – kira apa yang salah nih dari saya? 🤔😁

N: Gak ada yang salah. Saya juga dulu begitu. Untungnya saya punya group WA mantan pendaki gunung jaman kuliah dulu. Biasanya saya kirim ke group itu dan minta pendapat mereka. Kadang saya minta pendapat tanpa menyebutkan bahwa saya penulisnya. Kalo reaksi mereka positif, baru deh kePDan saya tumbuh dan langsung saya posting.

M: Sepertinya pertanyaan Emma terakhir Om. Dan sekarang sudah pukul 22 lewat. Saatnya sesi berakhir. Sebelumnya, silakan kalo ada closing speech Om.

N: Thank you, Sep.

Teman-teman sekalian. keenam kata dari saya di atas mohon dicoba ya (buat yang mau). Karena kata-kata itu uda melalui proses pemilihan yang cukup rumit dari berpuluh-puluh kata yang kami kumpulkan. Ke enak kata tersebut yang paling memancing ide dan imajinasi. Semoga tulisan kalian jadi bagus dan unexpected ya. Insya Allah.

Okay saya cukupkan sampe di sini. Selamat malam teman-teman.

M: Terima kasih, Om Budiman Hakim. Terima kasih teman-teman semua. Semoga sharing ini bermanfaat buat kita ya. Baiklah… Sesi Sharing sementara saya tutup, dan forum saya kembalikan ke ruang bebas chat untuk teman-teman. Mari kita beri applause dan ucapan terima kasih untuk Om Budiman Hakim ya. Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.😊🙏👏👏👏

4 thoughts on “Belajar Menulis Bersama Om Bud (Bagian 7)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *