Belajar Menulis Bersama Om Bud (Bagian 12)

Sesi 12 ini adalah sesi terakhir dari rangkaian kulwap menulis kreatif. Sabtu, 13 Juli 2019, Kang Asep menyampaikan materi pamungkas dengan dimoderatori oleh Om Bud, dan melibatkan interaksi dengan peserta (P).

M: Temen2 sekalian. Hari ini adalah sesi 12 sekaligus sesi terakhir dari level 1. Hari ini Kang Asep Herna akan membawakan sesi terakhir yg pastinya akan menjadi puncak dari seluruh sesi yg sudah kita jalani. Jadi mari kita sambut saja segera Asep Hernaaaaa.. .!!!Silakan Sep…

N: Terima kasih Om Budiman Hakim. Assalamu Alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat malam teman-teman.

Saat ini adalah sesi terakhir kita. Dan saya berharap, teman-teman banyak yg ikut live di momen ini. Karena, saya akan putar 1 video yg nanti nggak saya open public, berhubung isinya adalah sugesti rileks. Jadi kuatir ditonton oleh orang di luar grup kita, tanpa tahu intruksinya.

Teman-teman. Terakhir kita sudah mempelajari 6 teknik Hypnotic Copywriting, yaitu Rhyming, Repetisi, Klimaks & Antiklimaks, Metafora & Personifikasi, Quote serta Eksplorasi Kata Benda ya. Saat ini saya akan share teknik-teknik lainnya.

Sebelumnya, untuk teman-teman yg bersedia, saya akan guide temen-temen, buat mampu menyerap 20 teknik ini dengan mudah dan menyenangkan secara otomatis, sehingga seusai mengikuti sesi-sesi di kelas saya ini, disadari atau tidak, teknik ini menjadi Unconscious Competency teman-teman. Tertanam dalam diri teman-teman. Dan ini hanya berlaku buat, sekali lagi, yg ikut LIVE malam ini. Bersediakah, teman-teman? Silakan ucapkan/tulis di sini bersedia buat yg mau.😊

P: Bersedia

N: Siapppp, terima kasih. Instruksi ini hanya diperkenankan untuk teman2 yg berada di ruang tenang, ruang aman. Bukan di ruang publik apalagi di dalam kendaraan/jalan. Yg di ruang publik atau di kendaraan, saya LOCK, hanya sebagai pengamat saja. Mohon sekarang HINDARI posting di timeline ini ya.

Oke, saya siap mengajak rileks teman-teman sejenak. Dan saya minta semua ambil posisi yang paling nyaman, paling aman. Sebelum saya mengajak rileks teman-teman semua, saya minta teman-teman untuk membaca dan mengucapkan sugesti berikut, di dalam hati, SEKARANG:

“SAAT SAYA MEMASUKI MOMEN RILEKS DAN SEMAKIN RILEKS PALING DALAM DI 10 DETIK, SAYA IZINKAN DIRI SAYA UNTUK MENYERAP DAN MENGUASAI SEMUA MATERI HYPNOTIC COPYWRITING DARI KANG ASEP DENGAN SANGAT MUDAH DAN MENYENANGKAN. SAYA MINTA SUBCONSCIOUS SAYA, UNTUK MENJADIKAN SKILL HYPNOTIC COPYWRITING INI, SEBAGAI UNCONSCIOUS COMPETENCY SAYA. SAYA BISA, SAYA EXPERT, DAN SAYA SEMAKIN BISA. TERIMA KASIH TUHAN.”

Baik temen-temen, ijinkan kalimat di atas, diproses dalam subconscious-mu. Silakan ikuti instruksi di Video yang sebentar lagi saya putar. Dan di AKHIR VIDEO ini, TUTUP mata Anda, nikmati suasana sunyi diri Anda, dan setelah 10 detik, ingat, setelah 10 detik, Anda bangun dengan SEGAR, SEHAT, NYAMAN dan BAHAGIA. Siap ya?

Baik. Silakan duduk yang rileks. Pastikan posisinya aman dan nyaman. Silakan minta subconscious diri memroses sugesti yang tadi Anda baca dan ucapkan dalam hati. Lalu lihat video ini:

https://youtu.be/q_75ad6g0Wc

Silakan. Sudah selesai?

P: Selesai. Kaget pas lihat tulisan TIDUR…hampir tertidur 😳😳😳

N: (Oke, sy set privacy dulu Youtube-nya ya. Ngeri ada di luar grup kita memutarnya). Siapppp, kita lanjut.

Teknik ke 7 dari Hypnotic Copywriting adalah: GUNAKAN POLA WAKTU SEKARANG. PRESENT CONTINUES TENSE. Terkhusus saat temen2 melakukan call to action ke audience, gunakan penanda waktu SEKARANG, SAAT INI, DETIK INI, bukan nanti, bukan akan, bukan besok.

Hindari kata “akan”, “bakal”, “nanti”, dan sejenisnya, karena kata-kata itu bermakna sesuatu yang MUSTAHIL terjadi. Dan hal ini ditangkap keren oleh supir angkot lho, lewat stiker yang sering kita lihat ini:

Sampai kita tuntut ke pengadilan internasional di Denhaag sekalipun, si supir angkot akan menang, karena kata “Besok” tidak dikenali sebagai sebuah realitas, sehingga kata GRATIS tidak bakal ada dalam konteks kalimat di atas. Gratis menjadi sesuatu yg mustahil terjadi.

  1. KATA NEGATIF VERSUS KATA-KATA POSITIF

Sama halnya dengan kata “akan”, “nanti”, “bakal”, kata-kata negasi TIDAK dikenali oleh subconscious kita. Seperti kata “tidak”, “jangan”, “no” dan sejenisnya. Tahukan teman-teman, tempat paling pesing nomor 2 selain toilet adalah pojokan yang ada peringatan: “Jangan Kencing di Sini!” Atau pernahkah lihat, di lokasi yang ada tulisan “JANGAN BUANG SAMPAH DI SINI”, eh malah sampahnya menggunung?😂 Ini karena memang subconscious manusia tidak mengenali kata-kata negasi.

Ini ilustrasi menarik, di mana pernah ada percobaan dengan menyebut kata “Jangan intip. Bahaya!”, eh malah memancing semua orang untuk mengintipnya. Dan semua orang mengabaikan kata JANGAN itu. Mungkin temen2 pernah liat video ini:

https://www.youtube.com/watch?v=cDQ5YRQ920M&t=35s

Saya pernah didatangi seorang ayah yang complain ke saya, karena dia mengikuti saran saya untuk memberi sugesti positif ke anak di saat ngantuk berat ketika mau tidur. Dia bilang, kenakalan anaknya malah makin menjadi-jadi. “Bikin malu,” katanya. Saya tanya, memang gimana, Pak, bunyi sugestinya? Dia menyebut sugestinya: “Nak, mulai sekarang kamu (JANGAN) nakal. (Jangan badung. (Jangan) ngelawan sama ibu, sama ayah, sama guru. Mulai sekarang dan seterusnya, kamu (JANGAN) mempermalukan ayah. Ya, nak?” Bayangin temen-temen. Kalimat di atas, yang tujuannya baik, tapi karena tidak tahu mekanisme mental manusia, tiba-tiba jadi bahaya banget. Saat kata (JANGAN) dibuang, maka sugestinya menjadi sangat mengerikan: “Nak, mulai sekarang kamu nakal. Badung. Ngelawan sama ibu, sama ayah, sama guru. Mulai sekarang dan seterusnya, kamu mempermalukan ayah. Ya, nak?” Mengerikan banget, kan?😂

Tapi teman-teman, kita boleh lho pake kata-kata negasi ini, bila GOAL kita memang bertujuan agar audience men-delete negasi tersebut. Dan saat di-delete, makna positifnya yang muncul. Misal, kata “JANGAN BACA IKLAN INI”. Maka ini adalah contoh copywriting yang brilian, karena ditulis dengan goal: BACA IKLAN INI. Salah satu member di Forum NLP yg saya buat, sampai bikin buku serial yang judulnya pake eksplor kata negasi seperti di atas, “BUKAN UNTUK DIBACA”, dan impactnya, malah dicetak beberapa kali dan dibaca banyak audience.

Oke kita lanjut teknik berikutnya:

  1. SEBAB AKIBAT

Eksplor kalimat dengan format sebab-akibat atau sebaliknya, untuk memancing kepercayaan audience. Pikiran bawah sadar sangat peka dengan formulasi kalimat seperti ini, bahkan ketika format “Sebab-Akibat” ini tidak memiliki hubungan logis.

Saya sering saat menghipnosis massal, ketika demonstrasi membuat TRANCE beberapa orang, saya minta orang lain bertepuk tangan meriah. Lalu saya bilang: “TEPUK TANGAN teman-teman kamu, membuat kamu tidur lebih dalam dan lebih dalam lagi.” TEPUK TANGAN adalah SEBAB. TIDUR lebih dalam adalah AKIBAT. Paradoks kan? Aneh. Karena tidak ada hubungan logis antara suara gemuruh tepuk tangan dengan tidur dalam. Malah logikanya sebaliknya. Gara-gara berisik, tidur jadi bangun semestinya, kan. Tapi, uniknya, sugesti SEBAB-AKIBAT ini benar-benar ampuh. Dan subjek pun terlena dalam tidur dalam. Itulah realitas subconscious. Sok berpikir logis, padahal irasional.

Ada salah satu iklan COPY-IMPACT, yang isinya copywriting semua, dan formatnya konsisten pake kalimat SEBAB-AKIBAT. Dan iklan ini sangat kuat serta monumental sampai saat ini. Iklan ini juga memenangkan CANNES festival. Dia dg puitik merancang copywritingnya dg pola Sebab akibat:

Bacanya nanti aja gak apa-apa ya. Kita hemat waktu.

Teknik 10, PRESUPOSISI

Teknik ini sering saya pakai untuk terapi. Ini adalah sugesti, yang dikemas sebagai sebuah praduga bahwa akan terjadi sebuah tindakan/kejadian, di waktu tertentu, dalam suasana terrentu. Praduga atau asumsi ini membentuk sugesti kuat yang menggiring audience untuk merealisasikannya.

Di waktu test “Mengunci Mata” dulu, saya memakai teknik PRESUPOSISI. Mengapa ini saya pakai? Karena saya tidak bisa memandu temen-temen sambil menutup mata dari awal kan, berhubung sugesti saya adanya di teks. Bagaimana bisa temen-temen baca sugesti saya kalo mata diminta nutup dari awal, haha… Nah, akhirnya saya pake teknik PRESUPOSISI, dengan membuat framing: “SAAT ANDA MENUTUP MATA, LALU MENGHITUNG DARI 10 HINGGA 1, MAKA MATA ANDA TERKUNCI DALAM 10 DETIK. INGAT, 10 DETIK”

Ini tulisan powerful lho. Coba teman-teman, di mana kira-kira letak presuposisinya? Presuposisinya:  Saat temen2 menghitung mundur dari 10-1, di hitungan 1 mata terkunci dlm 10 detik. Kalo dalam contoh iklan, Copywriting yang dibuat dengan pola PRESUPOSISI, kira-kira seperti ini:

“LIHAT. TUJUH HARI SEJAK ANDA BERSAHABAT DENGAN POND’S, BERSIAPLAH MEMIKAT SIAPA PUN YANG ANDA INGINKAN.”

Kalo ada waktu, coba temen-temen simak salah satu lagu Afgan, yang judulnya “Wajahmu Mengalihkan Duniaku”. https://www.youtube.com/watch?v=Z_17woj3JNE

Di sini, diceritakan, dengan soft tentunya, bagaimana dalam 7 hari, si tokoh “Kamu” mampu mengalihkan dunia tokoh “Aku”. Dari mana kata 7 hari ini muncul? Dari salah satu produk Flawless White yang mengandung 7 bahan aktif Derma Strength, yang konon bisa membuat kulit cerah bersinar dalam 7 hari.😁 Di strateginya kayak gitu.

Copywriting ini sangat KUAT impactnya terhadap perilaku. Kenapa? Di dalamnya, selain ada ASUMSI, ada penanda waktu juga, yang secara spesifik memancing pikiran dan tubuh audience untuk merealisasikannya. Audience, bisa benar-benar dalam 7 hari semangatnya tumbuh dengan ANCHOR POND’S, lalu dalam hari ke-7, kepercayaan dirinya sempurna, dan darinya kemudian wajahnya cerah bersinar sempurna, lalu ia mampu mengalihkan dunia siapapun pria yang melihatnya.

Jadi, teman-teman, hati-hati dengan pola kalimat PRESUPOSISI/ ASUMSI, Waspadai jangan sampai hal buruk terjadi, ya. Ini salah satu contoh iklan radio yang saya buat dengan teknik ini:

Semoga bisa dibuka.

Sebelum BREAK dengen KITKAT, kamu lemes. Setelah BREAK dengan KITKAT, kamu punya SPIRIT kuat.

Saat itu, strategi KitKat kita jadikan sbg Pendongkrak Semangat (Uplifting Spirit)

Teknik 11, DOUBLE BIND

Mengkondisikan audience kita seakan memiliki 2 pilihan. Padahal realitas sebenarnya audience tidak memiliki pilihan, kecuali ide yang kita tawarkan. Mengapa ini sangat powerful? Karena kita menempatkan audience sebagai pemilik kendali. Sebagai decision maker yang bisa memilih apa saja. Padahal, keduanya, sekali lagi, bukan pilihan.

Contohnya: “Saat melihat iPhone ini, Anda boleh berdecak kagum sebentar, lalu membelinya dengan cicilan bunga 0%; atau Anda bisa serta merta merogoh cash tanpa pikir panjang lagi!”. Contoh lain: “Memahami Hypnotic Copywriting, kamu bisa langsung ingin menguasainya, atau mungkin dalam 2 menit menunda untuk kemudian semangat mempraktekkannya.” Pilih yg mana pun bebas, krn dua2nya konten pesan yg kita inginkan. Itu-itu juga.

Saya sering memakai teknik ini sama anak kalo sesekali mogok mandi. Saya bilang: “Ade, mandi dulu sama ayah, yuk, atau mau sama Ibu?” Dengan lantangnya, si Ade menunjukkan perlawanannya sama saya: “Sama Ibu!” Nggak kenapa-kenapa, kan? Yang penting, idenya adalah MANDI.

M: interupsi!!!!

N: Silakan Om.

M: Buat temen2 yg udah punya pertanyaan silakan Japri ke saya. 5 pertanyaan terbaik akan saya posting di sini untuk dijawab oleh Kang Asep. Terima kasih…. Lanjut, Sep…

N: Siappp. Nuhun Om.

Teknik 12. YES SET QUESTION

Mengkondisikan subjek selalu setuju pada apa yang kita ungkapkan. Dengan pola itu, critical factor subjek lengah, lalu kita giring ke wilayah trance. Kita gunakan pertanyaan-pertanyaan, atau statemen-statemen, yang memungkinkan pembaca atau audience hanya menjawab atau bereaksi dengan kata “YA!”. Ini banyak dilakukan para marketer nih. Saya juga sering dapat email blast serupa ini, hahaha.

Contoh: Hai…

Apakah kamu menginginkan diri kamu selalu diliputi rasa bahagia?

Apakah kamu ingin kamu senantiasa merasa tenang dan nyaman di setiap waktunya?

Apakah kamu ingin masa depan kamu secure dan terjamin?

Apakah kamu ingin siapapun orang-orang tercinta kamu selalu baik-baik saja?

Apakah kamu mau di setiap detik, menit, jam, hari, dan tahun demi tahun, uang bukan lagi masalah bagi kamu?

Kontak deh Vonny di 020 0020 000, sekarang juga.

Ini misal contoh buat iklan asuransi.😂

  1. REGRESSION

Pola dengan mengajak audience mengingat, mengenang, dan merasakan secara intens masa lalu dia, lalu mengubahnya menjadi trance. Salah satu karya Mas Rizky Nur Zamzamy, senior saya, untuk Sarimie, yang saya suka, taglinenya: ”DARI AROMANYA,TERBAYANG KELEZATANNYA”. Dan ini memakai Pola Regresi. Semua pengalaman yang berkaitan dengan aroma dan kelezatan Sarimie, hadir serta merta. Dan ini, dalam mekanisme yang sudah kita pelajari di sesi lalu disebut Transderivational Search.

  1. Eksplor SUBMODALITAS

Eksplorasi kata-kata yang sesuai dengan tipikal indrawi audience kita. Apakah subjek tipe Visual? Audio? Kinestetik? Olfactory? Atau Gustatory? Gunakan kata-kata sesuai hobinya, minatnya, disiplin ilmunya, karakternya. Kalo bentuknya MASS MEDIA, gunakan teknik SAPUJAGAT. Eksplor semua rasa yang menjadi properti manusia. Eksplor kata2 yang menyentuh 5 indranya. Gunakan kata, “Rasakan, bayangkan, imajinasikan, dengarkan”.

  1. IMAGERI

Eksplorasi kata yg membentuk citra utuh visual, audio, kinestetik, gustatori, dan olfactory (VAKOG). Biarkan kata, frase, kalimat, paragraf, membentuk utuh CITRA tertentu secara konsisten.

===

Ini puisi IMAGERI yang dibikin dosen saya, dosen Om Budiman Hakim, juga dosen Mas Rizky Nur Zamzamy (satu perguruan nih hahaha), yang bener2 membentuk imageri secara utuh. Bahkan imagerinya begitu terpola.

Bayangkan Mencintai dengan Sederhana, digambarkan seperti: KATA yang tak sempat diucapkan KAYU kepada API yang menjadikannya ABU. Terpola kan? Atau digambarkan seperti: ISYARAT yang tak sempat diucapkan AWAN kepada HUJAN yang menjadikannya TIADA.

Maksud saya utuh dan terpola, DIUCAPKAN KAYU KEPADA API… bukan tiba-tiba DIUCAPKAN KAYU KEPADA “TANAH” misalnya. Kalo diganti TANAH pasti jadi ancur tuh puisi.

Teknik 16, CONFUSING

Teknik kalimat yang membingungkan, mampu membuat critical factor Audience kita lelah, lalu memilih istirahat dan memasuki area trance. Jadi, struktur mental yang terjadi, Critical Factor disibukkan mengkritisi seluruh info yang banyak dan membingungkan, sehingga ketika ada tawaran “istirahat” sebentar, ia yang kelelahan memilih untuk istirahat. Dan pada saat keeper Critical Factor pasif istirahat, maka gawang pun jebol.

Confusing ini bukan cuma dalam bentuk kalimat ya, tapi bahkan visual. Saya pernah bikin beberapa seri iklan yang ACAK, membingungkan audience, dan mengajak berinteraksi audience untuk merapikannya. Di sela-sela itu, saya selipkan kalimat TAKE A BREAK, TAKE A KITKAT.

Ini salah satu contohnya. Kita kasih urutan gambar acak, dan kita minta audience untuk mengurutkannya jadi cerita.

Teknik terakhir. Saya bakal bikin bingung temen2 nih.😂😂😂

INDIRECT/EMBEDDED COMMAND

Indirect Suggestion/Embedded Command, adalah sebuah perintah tidak langsung, yang diselipkan atau dibenamkan dalam sebuah medium lain, sehingga, crirical factor tidak ngeuh atas perintah ini.

Saya punya 2 teknik soal ini.

  1. Teknik “My Friend, John”

Tapi sebelumnya, saya mau cerita dulu nih tentang sebuah kisah nyata saya ya, saat menggunakan teknik ini DI RUANG TERAPI saya. Hanya tolong, KISAH ini hanya boleh diBACA oleh temen2 yang sedang duduk dan tidak sedang di ruang public ya. Juga tidak sedang nyetir. DEAL teman-teman? Oke silakan disimak, sebelum saya hapus. BEGINI.

Saya punya teman, namanya ANDA.

Ia pembaca yang tekun dan seksama, persis kira-kira seperti Anda saat ini, yang seksama membaca huruf demi huruf  yang saya ketik.

Mas Iskandar, Mas Vietri, Mas Edi, Mba Puspa, Mba Vonny dan teman-teman lainnya, betul kan sedang membaca huruf-huruf yang saya ketik?

Nah, ia datang ke ruang saya, sekadar ingin menikmati, bagaimana rasanya RILEKS saat memasuki kondisi hypnosis. Berbeda dengan Anda, ia orangnya sulit dan malah memperolok saya. Kurang ajar banget deh, hahaha…

Akhirnya, saya minta dia DUDUK kalo mau RILEKS. Persis seperi saya minta Anda saat ini duduk dan rileks.

Saya bilang, “ANDA, coba fokuskan pikiran Anda ke kepala dan RILEKSkan kepala sejenak. Biarkan nyaman. LEMASkan.” Walau masih bingung, ia mengikuti saya.

Terus saya bilang lagi.

“Coba Anda rasakan, bayangkan, imajinasikan, rasa RILEKS menebar ke seluruh tubuh. RASAKAN tulang di LEHER Anda seperti luruh, begitu LEMAS.”

“Lalu rasa LEMAS MENGALIR ke arah tubuh Anda. Bayangkan rasakan, TULANG punggung, dada, dan tubuh Anda SEAKAN LURUH, sehingga tubuh Anda SEPERTI KAIN yang begitu LEMAS, begitu malas bergerak. Semakin LEMAS, semakin NYAMAN dalam DIAM.”

Ia sangat FOKUS, seperti Anda yang makin fokus mengikuti huruf demi huruf tulisan ini, mengikuti instruksi saya.

“SEKARANG Anda alirkan rasa rileks dan lemas ke tulang Paha… Betis… dan Telapak Kaki Anda…

Bayangkan, rasakan, tulang PAHA Anda seakan LURUH dan LEMAS. Merambat ke tulang BETIS yang semakin LEMAS, lalu rasakan bayangkan, sekarang TELAPAK KAKI Anda begitu SEMAKIN LEMAS. Dan sekarang lihat, rasakan, bayangkan, SAAT INI, seluruh tubuh Anda begitu NYAMAN dalam DIAM. Bagaikan badan tak bertulang.

LURUH,

LEMAS,

Semakin LURUH,

Semakin LEMAS

dan saking lemasnya,

ANDA saat ini kehilangan kemampuan untuk berdiri.

Anda begitu sulit berdiri.

Semakin LEMAS. Semakin MALAS. Semakin NYAMAN dalam DIAM. Dan semakin tak kuasa berdiri.”

Entah disadari atau tidak, anehnya, Ia, teman saya, SEPERTI ANDA, teman saya, SERTA MERTA LEMAS dan kehilangan kemampuan untuk berdiri. Sulit sekali berdiri.

Eh… kok…

Mohon check, saat ini Anda LEMAS dan kesulitan berdirikah?

Eh, serius sy Tanya, Ada temen2 yg merasa lemes saat baca tulisan ini?

P: Ga lemes, tapi tambah betah duduknya

N: Hahaha… Yg lain?

P: Gak lemes, tapi malas berdiri 😁

P: iya lemes, dan masih membayangkan teman² yg blm sy kenal

N: Skrng coba check berdiri. Bisa ya?

P: Bisa 🤣

P: Lemas, males berdiri, ngelumbruk kayak handuk basah

P: saya td curiga Kang, jadi saya skim bacanya… saya gpp

P: masih bisa tapi males 😊

P: Saya nggak lemes bacanya

N: Coba @emma holiza skrng udah bisa berdiri? Kalo susah Sy guide normalin dulu.

P: Agak malas berdiri, lemas nggak terlalu

P: Bisaaaaa.. wlpn berat

P: Berasa berat untuk bangun

N: Yg merasa berat bangun. Coba atur nafas, hitung 1-5, di hitungan lima, SEGAR BUGAR!😁. Kita lanjut ya.

Nah teman-teman, ini adalah teknik “MY FRIEND, JOHN”. Teknik ketika kita SEAKAN berkisah atau bercerita tentang atau pada orang lain, padahal sebenarnya kita sedang bercerita pada audience kita. Sy bicara tentang teori my friend John dan cerita tentang temen saya, pdhl sy sedang menghipnosis temen2.

Kita lanjut, sekalian sy Bicara pada subconscious yg baca di sini: teknik yang  sepert saya COba ContohkAn dalam teks saya tadi, telah diuji COba oleh mbah guru hypnosis dunia, milton hyLAnd erickson.

walopun kaum ericksonian hypnosis menyebut kelompok saya sebagai kaum extreme dan authoritarian hypnosis, tapi saya adalah pengagum berat milton erickson. saya sangat percaya, milton erickson sendiri tidak kenal apa itu ericksonian. dia adalah sosok yang sangat menguasai semua teknik hypnosis, baik teknik direct (yang dibilang authoritarian) maupun indirect (conversational yang sangat kompromis).

*aduh HAUS. MINUM dulu ah, hehehe….*

baiklah. kalo kita mengacu pada contoh di atas, COba ingat, teman-teman, dan lalu CAri pattern dari cerita mengenai teman saya itu. KOk saya sepertinya sedang bercerita tentang orang LAin ya, padahal sebenarnya saya sedang memberi pesan yang ditujukan pada temen-temen.

nah, bisa juga teman-teman modifikasi COba format lain. misalkan CAranya kita seperti sedang COndong ngomong sama orang LAin, padahal kita sedang ngomong sama orang yang kita tuju (audience kita).

teknik seperti ini, jelas, membuat lengah penjaga subCOnscious mind yang kita kenal dengan nama critiCAl factor kita. hasilnya, subCOnscious kita LAngsung mampu mersepons pesan yang disembunyikannya.

Teknik ke-2: Embedded Command.

Eh, sebelumnya saya mau TANYA, kalo ingat minuman seger, BRAND apa yang ada di kepala Teman-teman SAAT ini? Jawab sekarang langsung tanpa mikir ya? Ayo sy tunggu. Spontan.

P: Sprite ?

P: Fanta😊

P: Coca cola

P: La segar

N: Masih sy tunggu. Ada 19 orang di sini.😂

P: Teh kotak

P: Teh pucuk

P: Urang sunda mah biasa na cendol 😃🤭

N: Siapa yg udah baca teks ini?

P: kirain typo teks nya ga ngeuh

Gpp, karena tadi udah sy kasih bocoran, bahwa sy menulis sesuatu, sebenarnya sedang bermain dg mental temen2.

P: Sebenarnya pas baca udah mulai nyadar kayaknya kang asep ngarahin ke coca cola nih 😄

N: Yupppp betul. Teks ini adalah contoh paling PERMUKAAN dari “Embedded Command.” Upaya untuk menyembunyikan sesuatu dlm teks apapun.

Hukum pikiran: Semakin TERSEMBUNYI pesan kita dari pikiran kritis audience, SEMAKIN NANCEP pesan kita di bawah sadar audience. Contoh di atas, karena biar lebih mudah dipahami temen2, ketersembunyiannya terlalu terlihat. Apalagi sebelumnya temen2 udah sy kasih “peringatan”, bahwa saya sedang memengaruhi mental temen2. Efeknya, critical factor sebagian temen2 bangkit. Sehingga pesan yg sy sembunyikan TERBACA. Pesannya adalah brand COCA COLA

Yg penting, intinya adalah, SEMBUNYIKAN pesan, jgn sampai tertangkap rasionalitas audience kita. Biarkan pesan JELAS hanya ditangkap subconscious audience kita. Karena subconsciouslah yg menggerakkan audience tindakan kita.

Demikian temen2. Waktu sampai melar nih. Saya serahkan forum ke Om Budiman Hakin. Mohon maaf melewati batas waktu sharing.😊🙏

M: Kita langsung ke sesi tanya jawab ya…. OK pertanyaan pertama dari Biyan, Cilacap…. Selamat malam Om Bud. Pertanyaan saya : Kang Asep, kenapa kata “jangan/bukan” ngga dikenali otak ? Maaf sekalian nambah Om. Jd perintah “jangan berzina”, “jangan makan babi”, “jangan mencuri” & perintah2 yg diawali dg “jangan” itu kecenderungannya dilanggar ya Kang?

N: Karena Tuhan menciptakan kita sebagai mahluk positif. Itu sebabnya, Tuhan menberikan berbagai kata kunci untuk kita berpikir positif. Ke siapapun, termasuk pada diri kita sendiri. Khusnudzon, bukan suudzon.

Ini pernah jadi diskusi sy dg teman2 saya. Jawabannya adalah: Sesuatu diberikan utk yg berhasil mengetahui rahasianya. Kata “Jangan”, dijadikan “medium” seleksi, karena hanya bbrp orang yg menguasai rahasia hidup yg berhasil mencapainya. Itu sebabnya, meski ada Kalam “Jangan Berzina”, “Jangan Mencuri”, bahkan “Jangan Berdosa” lainnya, sebagia besar manusia justru melajukannya. Berzina, Mencuri, Berdosa. Dan ini, mekanisme seleksi, sebagai cara Tuhan untuk membagi 2, ada penghuni surga dan neraka. Wallahu alam bishowab.

M: Pertanyaan kedua dari Rarasati: Kang Asep, bagaimana memilih teknik hypnotic copywriting yang mana yang cocok/ampuh untuk saya pakai? Apakah ada semacam panduan, atau bagaimana? Nuhun

N: Semuanya cocok. Semakin bnyk teknik dlm satu teks, semakin efektif. Saya sendiri di setiap script menggunakan lebih dari 3 teknik.

M: Pertanyaan ketiga dari Emma. Malam om Bud, Tanya: apakah teknik – teknik yang sedang dijelaskan oleh kang Asep sejak sesi kmrn itu bisa diterapkan dalam pembuatan tulisan  selain copywriting, misal novel.  Apa keuntungan nya/ efek positif nya? Karena sy bkn copywriter 🙏🏼

N: Sangat sangat sangat 1 juta kali, bisa! Saya sedang menulis novel tentang konflik Sunda Galuh dan Majapahit, ihwal Bubat. Sy Hadirkan 1 panglima pasukan berani mati Galuh Sunda yg jagoan puisi. Setiap mau bertempur, dia baca puisi. Puisi ini sebenarnya mantra, yg saya susun dg teknik Hypnotic language pattern, utk memengaruhi pembaca. Agar kuat, agar semangat, agar sehat, dan berpikir positif. Semoga ilustrasi ini cukup menjawab pertanyaan @emma holiza.

M: Pertanyaan 4 dari Fairuz:  Aslm, Om. Ini pertanyaan saya buat Kang Asep: Apa beda tipe subjek Olfactory dan Gustatory?

M: Olfactory sangat kuat di penciuman hidung. Kalo kita ngomong ke tipe ini, perbanyak kata2: “Hiduplah…”, “Serap wewangian yg semerbak mengisi ruangan ini,” dll.

GUSTATORY sangat kuat di penceraoan lidah. Sama orang kayak gini, sentuh rasa lidahnya, dg banyak mengejsplorasi sesuatu yg bernuansa rasa di lidah. Misal: Kamu adalah orang hebat, karena kamu sudah tahu asam dan asinnya hidup. Kira2 seperti itu, Fairuz.😊

M: Pertanyaan 5 dari Mukhlis: Pertanyaan u/ sesi 12 : dengan hypno seperti ini sepertinya bisa sebagai “Obat Kuat dan Tahan Lama” juga ya kang? Terimakasih.

N: Pertanyaannya menjebak. Jawaban saya adalah apa yg ada di kepala penanya.😁

M: Dari Biyan lagi. Ini mencoba langsung memperaktekkan ajaran Kang Asep. gimana?

Begitu Pakai KLBF LANGSUNG TERDENGAR GACORNYA

Tadi captionnya ketinggalan…😂

N: Ini adalah embedded command. Dg naro gambar brand jadi pertanyaan saja udah bentuk “jualan”.😂 Tapi dg jawaban saya, peserta aware, Dan critical factornya bangkit. Jadi, jawaban saya adalah perisai bagi subconscious teman2.😂😂😂😂

M: Sepertinya itu pertanyaan terakhir. Dan sekarang udah jam 10.25, jadi sesi terakhir ini akan ditutup. Silakan closing statement dulu, Sep….

N: Terima kasih Om. Alhamdulillah temen-temen. 4 sesi Materi “The Power of Hypnotic Copywriting” akhirnya selesai sudah. Saya berharap, ini bisa menjadi amunisi buat kita semua. Buat temen-temen dan buat saya juga tentunya, untuk membuat karya yang memiliki efek signifikan.

Saya tentu amat berpesan, bila temen-temen nanti mengaplikasikannya, mohon diaplikasikan dengan “bijak”, seperti makna “bijak” yang ada dalam persepsi teman-teman. Insya Allah, manfaat baiknya kian tumbuh, bila kita landasi dengan spirit positif.

Saya mohon maaf bila selama menyampaikan materi ini banyak kekurangannya. Juga bila ada kata-kata yang kurang berkenan bagi teman-teman. Wassalamu Alaikum warahmatullahi wabarakatuh.😊😊🙏

M: Wa’alaikum salam. Teman2, dengan demikian berakhirlah sudah 12 sesi kita. Mari kita beri tepuk tangan yg meriah untuk Suhu kita Asep Herna…. 👏👏👏👏👏👏👏👏👏👏👏👏👏👏👏👏👏👏👏👏

Belajar Menulis Bersama Om Bud (Bagian 11)

Berikut adalah rangkuman sesi 11 serial kulwap menulis  yang dilaksanakan pada Rabu, 10 Juli 2019. Masih dengan Kang Asep sebagai narasumber (N), dan Om Bud jadi moderatornya.

M: Selamat malam teman2… Hari ini sudah memasuki sesi 11. Jadi tinggal 1 sesi lagi maka 12 pertemuan kita akan berakhir.

Sambil menunggu Kang Asep yg masih terjebak di kemacetan, saya akan mengisi sharing ini dengan sesuatu yang mungkin bermanfaat…. Saya mau cerita sedikit….

Oh okay, ternyata Kang Asep dari tadi udah ada di ruang rias. Saya gak jadi cerita kalo gitu hehehe….

Okay kita sambut saja segera untuk naik ke panggung. Kang Aseeeeeep….!!!!! Silakan, Sep.

N: Terima kasih Om.

Assalamu Alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat malam teman-teman. Nggak terasa kita sudah akan memasuki Sesi #11 ya. Hingga saat ini, kita sudah sama-sama mempelajari:

–              Mekanisme mental manusia

–              Sugestivitas Target Audience

–              Lalu sesi kemarin kita sudah mempelajari Trans Derivational Search, Bahasa dan Trance, serta 12 item Creative Brief yang harus kita pahami sebelum kita membuat sebuah campaign.

Yg ngerjain PR-nya dikit tapinya.😂 Baiklah.

Setelah memahami creative brief atau communication strategy atau brand strategy dengan baik, maka kita mulai masuk ke teknik2 Hypnotic Copywriting yang telah saya himpun. Ada beberapa karakteristik pola bahasa, yang bener-bener powerful menyentuh subconscious, dan menggerakkan audience, bahkan, sekali lagi bahkan, SEKETIKA lho. Temen-temen sudah mengalaminya beberapa waktu lalu dalam praktek kita.

Apa itu polanya?

  1. RHYMING/ RIMA

Rima adalah pola kalimat yang mempermainkan bunyi. Bisa di akhir kata, bisa di akhir kalimat, bisa juga di setiap awal kata. Rima terdiri dari 2 jenis:

  1. Aliterasi (bunyi konsonan yang diulang-ulang)
  2. Asonansi (bunyi vocal yang diulang-ulang)

Pelajaran SD banget ya.😁 Begitulah. Kita akrab banget dg rhyming ini sejak kita ingat, tanpa menyadari powernya begitu luar biasa. Temen-temen yg muslim coba lihat di ayat suci Al Quran. Betapa sebagian besar ayat-ayatnya benar-benar memperhatikan rima. Dan dahsyatnya, ini gabungan dari aliterasi dan asonansi sekaligus!

Qul Auudzu bi rabbinnaas // Malikinnaas // Ilahinnaas // Min syarril waswaasil khannaas // Alladzii yuwaswisu fii suduurinnaas // Minal jinnati wannaas

Coba liat juga teknik-teknik mantra. Hampir semuanya menggunakan pola rhyming. Hampir semuanya! Ini mantra yg saya temukan di suatu daerah, di pelosok Jawa Barat: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10156562922076564&id=696866563

Dugu hulu // Tanding kapuk // Dug hamapang // Tanding kapas // Hulu batu sarebu // Badan batu salaksa // Ya aing Aji Brejamusti.

Saya menyukai banget bunyinya, dan saya pernah bongkar kode2 rahasianya.

Guru saya, Prof. Dr. Multamia RMT Laudeer, meneliti lebih dari 400 mantra di seluruh dunia, dan hamper semuanya mengandung pola rhyming, selain pola-pola lainnya yang nanti akan saya bahas berikutnya. Uniknya, di hasil penelitian Bu Multamia ini, aspek bunyi-nya pun spesifik. Bunyi yang powerful menggerakkan subconscious manusia adalah bunyi-bunyi yg dari daerah artikulasi kita termasuk bunyi RENDAH. Seperti ‘A’, ‘O’, ‘I’.

Coba liat di ayat-ayat suci, vocal yang dipakai adalah vocal rendah. Bukan huruf ya, tapi bunyi (aspek fonetis). Lihat juga mantra keramat dalam hindu yang berbunyi “Om”, itu adalah bunyi vocal rendah yang selalu mengawali dan mengakhiri pembacaan Kitab Suci Weda. (Mohon maaf bila saya salah soal ini, ya). Tapi dari aspek bunyi, itu betul banget.

Perhatikan juga ketika saya memraktekkan MATA TERKUNCI pada teman-teman Minggu lalu. Kata-kata yang teman-teman ingat mungkin ada bunyi:

reKAT // leKAT // peKAT // raPAT // kuAT

Itu memang saya bikin sengaja dengan sadar. Dalam praktek iklan, saya sangat biasa bikin iklan dengan pendekatan RIMA. Dan ini biasanya justru ketika saya malas mikir, hahaha. Pendekatan RIMA adalah pendekatan paling gampang. Ini contohnya. Saya eksplor untuk brand polo bunyi-bunyi “O”, konsisten dg bunyi brand-nya sendiri.

Itu contoh lainnya. Medianya cuma taplak meja tempat anak2 SMA nongkrong. Trus rombong. Beberapa truck stage band yg mobile ke berbagai tempat.

Murah. Tapi semua nancep di benak audience. Ini juga sy mainin rhyming.

Ini juga sy mainin rhyming.

  1. REPETISI

Repetisi adalah pengulangan kata, atau pengulangan frase, atau pengulangan kalimat, bahkan menurut saya termasuk pengulangan bunyi di atas, itu bagian dari repetisi. Bagi saya, rhyming Dan repetisi kekuatannya 11-12. Bentuknya itu2 juga. Sama halnya dengan bunyi, repetisi juga sangat akrab di ayat suci, mantra, lagu, orasi-orasi orang terhebat dunia seperti Soekarno, Hitler, dll. Repetisi sangat mampu menembus subconscious audience.

Di Qur’an surat Arrahman, kalo kita lihat, ada kalimat “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan”. Perhatikan, kalimat yang memang secara struktur sangat kuat ini, diselipkan di berbagai bagian yang berbeda, sampai 31 kali. Dan ini adalah KODE, tanda bagi subconscious manusia untuk menangkapnya.

Kekuatan repetisi ini sangat HEBAT. Dan ini bener2 disadari lho, sama sosok seorang Hitler, untuk mem-brainwash massa-nya agar mengikuti apa yang ia ucapkan. Ia bilang: “Betapapun sebuah data diragukan kebenarannya, saat disampaikan berulang-ulang, ia akan dianggap sebagai sebuah kebenaran.” Nggak heran, kalo perintah “pembunuhan” yang notabene nilainya adalah “aib” ya, tiba-tiba menjadi sebuah gerakkan histeria yang membuat bangga orang2 yang melakukannya, ketika Hitler CS melakukan genocide terhadap musuh-musuhnya. Dari sini, temen2 bisa memahami cara kerja “firehose of falshood”, yg bener2 membuat manusia jadi robot, tergerak oleh sesuatu yg dianggap benar, karena pesan itu diproduksi berulang dan massif.

Kita ada beberapa iklan yang menggunakan pola repetisi. Repetisi ini jangan dimaknai saklek plek-plekkan mengulang kata secara utuh ya. Tapi bisa juga kemiripan bunyi, kemiripan struktur kata dll., seperti iklan berikut yang team kami bikin dan memenangkan The Best Copywriting di Citra Pariwara.

https://youtu.be/cEj_hVYJU_E

Iklan KitKat ini memiliki pola kata dan bunyi yang berulang. Dan uniknya, sampai bikin ada anak satu kelas di TK hapal persis lho sama kata-katanya.

Contoh lainnya yang mengeksplorasi pola repetisi ini adalah iklan serial yang team kami bikin. Kebetulan di saya cuma ada 2 nih arsipnya:

Ini iklan serial: “No… No…” Konsepnya, “Nothing without Black”. Bukan cuma format copywriting itu yang diulang; bahkan secara eksekusional kita ULANG dalam bentuk serial yang banyak:

Serial yang lainnya: “No Black, No Soul”. Di laptop saya gak ada arsipnya.

  1. Teknik berikutnya adalah pola bahasa Klimaks atau Antiklimaks.

Sebuah pola yang mengurutkan himpunan kata yang berderet berdasarkan hierarki-nya. Hierarki ke atas (pola naik) sama kuatnya dengan hieraki ke bawah (pola turun).

Contoh hierarki ke atas: “Tangan Peri adalah syal yang begitu dicintai siapapun juga. Anak-anak, remaja, dewasa, orang tua, bahkan opa sampai oma kita.”

Contoh hierarki ke bawah: Dari Presiden sampai ajudan, dari jenderal sampai kopral, dari manager sampai messanger, semua menyukai lezatnya Indomie.”

Tahukan teman-teman, pola DEEPENING (memperkuat intensitas sugesti) yang saya lakukan saat bikin kaku jari dan mengunci mata teman-teman, baik dengan menghitung naik dari 1 sampai 10; atau menghitung mundur dari 10 sampai 1, itu adalah contoh mengeksplorasi dari kekuatan pola KLIMAKS dan ANTIKLIMAKS? Begitulah adanya, dan begitulah dayanya. Kita pernah memeraktekkannya di minggu lalu.

Dalam cara yang sangat elegan, senior saya, Mas Rizky Nur Zamzamy, seperti juga pernah Om Budiman Hakim bahas, membuat headline dengan pola klimaks yang sampai detik ini saya menyukainya. Berikut ini iklan cetak yang beliau bikin:

Headlinenya pake pola naik yang penuh dengan permainan logika: “Bicara soal Frank & Co, saya nggak bisa bilang SUKA. Saya CINTA.”

Bayangkan teman-teman, kata SUKA saja nilainya sudah demikian positif. Tapi ia napikan dengan kata, “Saya nggak bisa bilang SUKA.” Burukkah, Frank & Co? Ternyata tidak, malah muncul derajat kata yang nilainya jauh berlipat dari “suka”, yaitu: “Saya CINTA.” Kalo kata saya waktu SMA, “Anjrit. Gokil banget nih headline.”

Ini ada 2 momen yang terjadi pada audience. Pertama Audience mengalami TDS (trance derivational search), saat copywritingnya menulis hal sebaliknya, “Saya nggak bisa bilang suka.” Audience bingung. Belum selesai bingung, dihadirkan momen kedua, yaitu SHOCKING, dengan memunculkan kata yang  di luar dugaan: “Saya CINTA.” Maka nggak heran, kalo copywriting ini cukup monumental.

  1. Metaphora dan Personifikasi

Kedua jenis ini adalah majas perbandingan. Metafora adalah sebuah teknik membandingkan suatu hal dengan benda yang memiliki kesamaan sifat atau karakter. Bahasa gampangnya, membandingkan sesuatu dengan suatu benda. Contohnya:

  • Ia MEMBATU, diam dan kaku.
  • Setiap gigit coklat itu membuat tubuhku MELELEH, MENCAIR, lalu hilang sampai kemudian aku sadar, bahwa masih ada separuh coklat lagi yang harus kulumat.

(Hayo, gratis tuh buat pemilik brand coklat😁).

Kalau personifikasi sebaliknya, memberi sifat manusiawi pada benda. Personifikasi harfiahnya adalah MEMANUSIAKAN benda atau mahluk selain manusia. Contohnya: “Dering handphone itu MEMANGGIL-MANGGIL lembut MEMBANGUNKANKU pelan dari tidur yang lelap.”

Pendekatan metaphora khususnya, membuat sesuatu yang SENSITIF bahkan terasa halus. Ini salah satu iklan dengan pendekatan metafora yang pernah dibikin. Tolong jangan direspons negatif ya, ini hanya contoh bagaimana metafora bisa membungkus sesuatu yang sensitif menjadi entertain. Ini juga contoh eksplorasi kreativitas untuk Festival Award saja.

https://youtu.be/1UbEjef__gU

Contoh lain, iklan yang pernah Om Budiman Hakim bikin dan memenangkan GOLD Award.

M: interupsi….

N: Silakan Om.

M: Buat teman2 yg udah punya pertanyaan, silakan japri ke saya ya….  Lanjut Sep….

N: Terima kasih Om.

Melihat iklan ini, coba, metaphora apa yang terkandung di dalamnya? Yup betul. Di sini, Om Budiman Hakim secara ironi membandingkan KOIN Indonesia dengan PERMEN, di mana ini ditujukan untuk menyindir kebiasaan minimarket-minimarket di kita saat memberikan uang kembalian ketika terjadi transaksi belanja.

  1. Quote.

Iklan dengan Quote, memiliki kekuatan tersendiri. Entah kenapa, manusia/ audience begitu percaya pada omongan yang dikutip oleh seseorang, bahkan ketika audience nggak kenal sekalipun tentang siapa gerangan sosok yang quote-nya dipetik itu. Misalnya, saat saya mengatakan, “HIDUP ADALAH PERJUANGAN DARI KATA-KATA”. Audience bisa saja bilang, “Sok-sokan puitik nih.”

Tapi ketika saya bilang, “Dengarkan, Rendra pernah bilang, ‘Hidup adalah Perjuangan dari kata-kata.” Maka walaupun sambil nggak ngerti isinya, audience paling tidak bilang, “Wah, keren juga bacaan Kang Asep ya.” Hahahaha…

Saya sendiri pernah kesulitan banget meminta Art Director saya untuk merevisi desain lay out yang ia buat. Setelah bersitegang panjang, saya kerap mengalah. Suatu saat, ada kasus yang sama. Saya mesti merevisi lay out yang dia bikin juga. Setelah mikir sebentar, saya datengin dia: “Bro, gua sih sebenarnya udah suka banget dengan lay out yang lu bikin. Keren. Tapi PAK ARIYANTO (Presdir kami) BILANG, INI VISUALNYA HARUS DIGANTI PAKE GAMBAR SKATE BOARD. Bisa sore ini kan, Bro?”

“SIAPPPPP, MAS, 10 menit juga selesai.”

Gubrakkkkk! Dia langsung bergerak. Aneh, kan? Padahal Pak Ariyanto juga nggak pernah bilang begitu lho, hahahaha… Begitulah kekuatan Quote. Kekuatan dari meminjam kekuatan orang lain.

Berikut ini contoh-contoh iklan QUOTE yang powerful. Dan uniknya, kita nggak perlu mikir. Cukup cari Quote yang SESUAI dengan brand kita. Beresssss!

Ini iklan cuma dibikin 3 jam dan ngedadak. Saat itu besoknya Hari Valentine. Lalu kita berinisiatif bikin iklan buat brand Fiesta, yang terkait dengan valentine. Maka ketemulah Quote dari William Gladstone, yang kita sendiri nggak tau, siapa dia, hehehe…

(Ya setelah searching tau sih, dia ternyata Perdana Menteri Inggris yang terpilih sampai 4 kali, dari tahun 1868 sampai 1894).

Bikin iklan Quote ini selain powerful gampang banget. Nggak perlu mikir. Tinggal cari benang merahnya, langsung layout deh. Pasti keren.

Ini 2 contoh iklan SMART City Car, yang secara brand essence-nya Compact & Ramah Lingkungan. Taglinenya sudah ada di worldwide-nya. “Think Smart. Open Your Mind.” Kita bisa bikin ratusan iklan keren dg pendekatan ini. Kejeniusannya adalah mencari quote yg relevan dg brand-nya.

Yang paling saya suka sih iklan Quote yang dibuat Ogilvy Singapore. Ini iklan layanan masyarakat yang berangkat dari keresahan gereja dan Ogilvy atas jiwa materialistic dan skulerismenya masyarakat Singapore. Gereja dan Ogilvi bekerjasama ingin mengembalikan spiritualitas masyarakat Singapore. Lalu mereka bikin serial GOD CAMPAIGN. Salah satunya adalah iklan ini:

Yang tahu siapa Nietsche, pasti merasa kagum dengan iklan ini. Nietsche adalah filsuf  eksistensialis Jerman yang lewat karyanya, Zarahustra, dia bilang, “God is Dead”. Menurut dia, puncak kehebatan itu manusia. Maka yang menghalangi manusia harus disingkirkan. Dan satu-satunya adalah Tuhan.

Sekarang, apa yang terjadi? Tahun 1900, Nietsche meninggal. Dan sampai detik ini, Tuhan masih hidup bersemayam di setiap hati manusia. Maka, Ogilvy langsung bikin Qute, yang nggak tanggung-tanggung, Quote-nya seakan Tuhan yang bicara: “Nietsche is Dead.” –GOD.

Iklan ini memang banyak menuai kontroversi juga sih. Termasuk protes dari asosiasi gereja lain. Mereka protes, karena creator iklan ini mengada-adakan hal yang nggak ada. Kata mereka, tidak ada firman Tuhan yang bilang “Nietsche is Dead.” Bener juga sih ya. Quote, kalo dalam konteks yang bilang adalah Tuhan, disebutnya berarti firman, kan?

Teknik terakhir di sesi ini:

  1. EKSPLORASI KATA BENDA

Perkaya copywriting kita dengan memperbanyak kata benda daripada kata kerja atau kata sifat. Kata benda lebih memancing imaginasi. Dan imaginasi berpotensi menjadi realitas dengan cepat. Kata benda adalah sesuatu yang konkret dipersepsikan oleh subconscious. Misalnya, daripada kita bilang: “Kamu CANTIK dan MEMPESONA.” Kekuatannya akan jauh lebih hebat dengan bilang: “KECANTIKANMU penuh PESONA.”

Daripada nulis: “SAYA ingin MELAHAP Indomie yang MENGGODA, sampai LUDES.” Lebih baik diubah dengan memaksimalkan kata benda menjadi:  “SAYA adalah PELAHAP dan PENYAPU bersih KELEZATAN INDOMIE, si PENGGODA tangguh ini.”

Demikian teman2. Masih ada banyak teknik lain, tapi nanti kita lanjut di sesi berikutnya ya. Saat ini sudah pukul 21.30 lewat, kita masuk sesi tanya jawab. Saya kembalikan ke moderator, Om Bud. Matur suwun.😊

M: Okeh. Menarik banget ya. Buat temen2 yg udah punya pertanyaan silakan japri ya… Kita masuk ke sesi tanya jawab…

Pertanyaan pertama dari Atika: Aslm. Om Bud, contoh2 yg disampaikan Kang Asep sangat mencerahkan, jd ngangguk2 bacanya sambil ngucap “iya ya… keren iklan2nya” ☺. Pertanyaannya: apakah rima, repetisi dkk hanya cocok diterapkan untuk pembuatan iklan? Bagaimana dgn untuk penulisan lain dgn ruang yg lebih luas? Makasih Om Bud dan Kang Asep

N: Rima tidak cuma buat iklan. Banyak yg mengeksplorasinya, dan keren. Contohnya, closing speech Nazwa Sihab di Mata Nazwa. Dia konsisten menggunakan rima. Begitu juga puisi, Rima dan repetisi seakan jadi polanya. Rima, repetisi, juga teknik2 lain yg sudah saya share sangat bisa diaplikasikan ke banyak hal. Artikel, cerita fiksi, bahkan healing, parenting, dll, sepanjang yg meneelukan bahasa sbg alatnya. Sangat sangat luas.

M: Pertanyaan kedua dari Blend: Kang Asep,  Menarik ini , Repetisi memang sebuah kekuatan, saya rasakan ini ketika mendengarkan lagu atau syair. notasi nya di ulang ulang, reff nya di ulang ulang dan kata nya juga diulang ulang..akhirnya apal yg denger dan jadi Hits itu lagu.. berarti Repitisi yang ini juga bisa masuk ke dalam alam bawah sadar kita ?

N: Betul banget Mas Blend. Repetisi, Rima, dalam berbagai bentuknya jadi alat yg sangat efektif menerobos langsung ke bawah sadar manusia. Temen saya nulis tesis, kenapa kok lagu Rhoma Irama kuat nancep di benak masyarakat, sampe dia punya kekuatan yg massif pada zamannya? Salah satu kesimpulannya: Rima dan Repetisi.😁

M: Pertanyaan 3 dari Pelaut kita Joice Karouw atau Joey: Dari sini, temen2 bisa memahami cara kerja “firehose of falshood”, yg bener2 membuat manusia jadi robot, tergerak oleh sesuatu yg dianggap benar, karena pesan itu diproduksi berulang dan massif. Pertanyaannya bagaimana melawan atau mengcounter firehose of falshood🙏🏽 terima kasih om Bud

N: Pertanyaannya berat tapi menantang banget. Dan nggak cukup di sesi ini buat jawabnya. Tapi, coba sy Jawab garis besarnya.

Pertama, fire hose of falsehood bisa dilawan dg melatih diri/masyarakat untuk selalu aware dan berpikir kritis atas apa yg diterima. Kognisinya diaktifkan.

Kedua, dg collapsing anchor. Hadirkan pengimbang yg jauh lebih kuat. Firehose of falsehood biasanya bermuatan negatif. Hal negatif, kalo “diguyur” dg sesuatu yg positif, beranjak netral. Bahkan kemudian tergantikan jadi positif.

Kira2 begitu. Next Om.

M: Ternyata sudah habis pertanyaannya. Jadi sebaiknya kita tutup dulu. Ntar kalo ada pertanyaan susulan bisa langsung di forum ini.

N: Siapppp Om. Oya, satu lagi melengkapi jawaban untuk Joey.

Ketiga, dg hypnotic seal. Dipasang perisai di bawah sadar kita untuk terbentengi dari efek firehose of falsehood. Dg 3 cara ini, saya yakin bisa kita tangkal efek buruknya. Demikian Om.

M: Ada pertanyaan datang. Pertanyaan dari Andi Joy: Kalau bikin iklan ngambil quote. Itu gak perlu izin?

N: Kalo orangnya masih hidup, baiknya kita minta izin dulu. Untuk quote2 tokoh public, biasanya itu udah jadi public domain. Seperti Nietzsche, Hitler, Mahatma Gandhi, Bung Karno dll. Tapi wajib untuk dicantumkan nama mereka (authornya).

M: Selanjutnya dari Fadyal: Maaf om saya telat hadir buat nanya.  Klo masih sempet saya mau nanya. Penggunaan pola bahasa yang  itu apakah tergantung dengan target audiencenya, atau semua pola bahasa itu bisa cocok untuk target audience semua kalangan?

N: Kalo pola, semua pola bahasa cocok untuk semua target. Yg harus dipikirkan adalah, DIKSI (pilihan kata) dan gayanya, tentu terikat sama profile target. Jadi, silakan gunakan polanya, dan eksplor diksinya sebebas mungkin sesuai gaya target kita bicara.

M: Okeh. Pertanyaan sudah habis. Silakan closing statement dulu, Sep….

N: Baik Om. Teman-teman, pertanyaan Fadyal tadi mengingatkan saya untuk bilang, bahwa pola kalimat ini jangan membuat teman-teman kaku dlm berkomunikasi. Jangan menjadikan gaya tutur kita kayak robot. Pola ini serap filosofinya, dan teman2 bebas mengeksplorasinya sehidup mungkin.

Terima kasih untuk malam ini, wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.😊🙏

Belajar Menulis Bersama Om Bud (Bagian 10)

Pekan ini adalah pekan terakhir penyelenggaraan kulwap menulis bareng Om Bud. Selasa, 9 Juli 2019 adalah sesi yang ke-10. Seperti dalam sesi 9, Om Bud dan Kang Asep bertukar peran sbg moderator (M) dan narasumber (N). Proses perangkuman sesi 9 dan 10 ini amat terbantu oleh jasa adminwati yang baik hati, Mba Devina.

M: Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat malam teman-teman. Kita ketemu lagi di sharing session ke-10 The Writers dan pematerinya masih Kang Asep. Dan saya  yang menjadi moderatornya.

Seperti biasa selama sharing dimohon tidak ada yg posting ya. Jika ada pertanyaan, silakan dikirim ke moderator dan 5 pertanyaan terbaik akan saya posting ke timelibe. Ok temans. Mari kita sambut saja segera Asep Hernaaaaa.. .!!!! Silakan Sep…

N: Terima kasih Om. Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat malam, teman-teman. Saat ini kita memasuki Sesi #10: The Power of Hypnotic Copywriting, sebagai bagian dari pelatihan The Writers.

Kemarin kita sudah membahas mengenai mekanisme mental manusia, tipikal sugestivitas audience, sekaligus kita mendemonstrasikan bagaimana POWER diksi atau kata serta sebuah struktur kalimat mampu membawa trance audience.

Sebagian dari teman-teman ada yang berhasil merasakan efeknya, langsung dan ekstrem. Bahkan, di grup 1 level 2 Minggu kemarin, saat kata-kata memandu mereka di trance Automatic Writing, salah satu peserta mengalami “Past Life Regression” (PLR), fenomena di mana peserta masuk ke wilayah masa lalu, jauh sebelum kelahirannya, yaitu tahun 1763. Itulah the power of words, di mana Teman-teman bisa menanfaatkannya utk segala keperluan. Dan saat ini, saya batasi utk keperluan persuasi (campaign).

Dalam praktek kita minggu kemarin (test sugesti), sebagian dari teman-teman juga ada yang berhasil merasakan efeknya, langsung dan ekstrem ya. Ada yg jarinya kaku dan keras, ada yang matanya terkunci dan kuat. Persis seperti yang dikatakan Stanford Hypnotic Succeptibility Scale (SHSS), kita mendapati bahwa dalam test kita kemarin ada teman-teman yang Sangat Sugestive, ada yang Moderat (Biasa-biasa saja), dan ada yang Sulit. Prosentase-nya saja yang berbeda ya. Pertanyaannya, bagaimana KATA, apalagi dalam format texting seperti di WA ini, mampu memengaruhi audience bahkan menciptakan trance pada audience?

Teman-teman, tentu saja, kata tersebut disusun dalam sebuah formula tertentu. Dalam sebuah struktur tertentu. Dalam sebuah cara tertentu. Sehingga “kata-kata” tersebut bisa menciptakan trance.Dalam pandangan hipnosisme dan neuro linguistic programming sendiri, kata sangat dipercaya berkaitan dengan emosi. Kata, sudah sangat mutlak merepresentasikan sebuah pengalaman. Dan setiap pengalaman memiliki nilai. Apakah menyenangkan, apakan menyedihkan, apakah membuat jijik, membuat takut, marah, dan semua nilai emosi lainnya.

Ketika sebuah kata diucapkan, ditulis, didengar atau dibaca, maka manusia akan melakukan pencarian terhadap sebuah pengalaman terkait kata tersebut, lengkap dengan emosinya. Inilah yang disebut dengan Trans Derivational Search (TDS). TDS ini istilah yang sangat akrab dengan hypnosis aliran Ericksonian juga dengan Neuro Linguistic Programming (NLP), yang berbasis conversational hypnosis (hypnosis percakapan).

TDS adalah proses pencarian makna yang dilakukan seseorang ke dalam internal dirinya, atas suatu data (kata/bahasa) yang ia terima. Mekanismenya mirip dengan ketika kita ngetik suatu KATA di kolom SEARCHING Google. Begitu suatu kata kita enter, taruhlah kata “BAHAGIA”, maka akan muncul beratus ribu atau bahkan mungkin berjuta laman yang terkait dengan kata “BAHAGIA” yang terarsip di dalam data Google. Begitu juga proses TDS yang terjadi pada manusia. Ketika seseorang menerima data kata BAHAGIA, maka otak manusia melakukan SEARCHING atas makna kata BAHAGIA itu. Akan muncul (secara unconscious) semua pengalaman BAHAGIA ketika sejak keluar dari janin hingga detik ini, lengkap dg segala warna-warni emosinya. Bayangkan, berapa triliun pengalaman bahagia kah jumlahnya? Apa yang kita rasakan ketika sensasi bahagia ini hadir? Dan itulah akumulasi dari berbagai momen bahagia. Itulah ajaibnya arsip manusia, yang JAUH melebihi kemampuan arsip Google!

Itu sebabnya pula, kita harus hati-hati memilihi DIKSI atau kata, jangan sampai yang masuk ke dalam diri kita kata-kata NEGATIF. Karena proses TDS siap berlangsung, menghadirkan sensasi dari hasil pencarian makna kata tersebut, saat dikaitkan dengan momen-momen kata negative tadi. Pengalaman berikut emosi negatif tersebut akan real hadir saat itu juga. Melihat proses TDS berlangsung, maka sudah dipastikan, saat TDS, manusia sedang mengalami TRANCE!

Nah terus, apa hubungannya TDS dengan Copywriting? Copywriting adalah sebuah kerja terkait dengan memasukkan DATA-DATA berupa KATA, agar pada audience kita terjadi TDS yang kita harapkan. Terjadi TRANCE yang kita harapkan. Trance yg diharapkan adalah tindakan membeli, atau mengingat brand kita. Nah, bahasa memang merupakan alat trance yang sangat efektif. Rasakan, atau bayangkan pengalaman kita kemarin, saya memang sengaja memunculkan pengalaman trance dengan mengeksplorasi bahasa. Dan ini saya set, untuk sekaligus kita memahami, bahwa bahasa adalah alat trance yang begitu sempurna.

Milton Erickson, Bapak Hipnosis Modern Dunia, adalah tokoh yang sangat piawai dalam hal ini. Nggak heran, orang sekelas seorang ahli linguistik seperti Dr. John Grinder, bareng dengan ahli komputer seperti Dr. Richard Bandler, memetakan pola-polanya menjadi awal mula NLP, dengan Milton Modelnya. Saat saya mengenal NLP, saya baru tahu, ternyata Dr. John Grinder ini, metodenya, sangat terpengaruh oleh tokoh linguistik kiblatnya para dosen saya di UI, seperti Noam Chomsky, yang terkenal dengan teori Tatabahasa Generatif-nya (Transformational Generative Grammar).

John Grinder mengadopsi pemikiran Chomsky yang bilang bahwa bahasa itu terdiri dari dua: Deep Structure (Struktur batin di mana konsep bahasa muncul); dan Surface Structure (Struktur permukaan ketika bahasa diimplementasikan dalam bentuk bunyi, kata, kalimat). Nah, dari struktur ini, Grinder menemukan bahwa apa yang muncul dalam wujud bahasa, kerap berbeda dengan apa yang ada dalam struktur batinnya. Ringannya: Apa yg diomongin, kerap beda dg apa yg dimaksud. Apakah karena proses distorsi atau deletion, dll. Ini yang kemudian jadi fokus bahasan John Grinder dan Richard Bandler, di dalam NLP-nya.

Nah teman-teman, berdasarkan beberapa praktek saya tentang Proses Copywriting dalam mengembangkan ratusan brand selama 20 tahun lebih ini; juga praktek di dunia hypnosis; eksplorasi eksperimentasi pada proses terapi, empowerment dan kegiatan lingusitik yang saya lakukan; maka terkumpul beberapa teknik yang mungkin teman-teman bisa adopsi dan kembangkan juga. Sebelum membahas teknik-teknik detailnya, di dalam membuat sebuah Creative Campaign di mana Copywriting menjadi bagian di dalamnya, saya dan kita semestinya memiliki sebuah pemahaman mendalam dulu tentang brand kita. Itu sebabnya, orang-orang di creative periklanan, selalu memiliki Creative Brief, sebagai sebuah guide, yang sebelumnya sudah dirancang oleh Strategic Planner, tentang strategi komunikasi apa yang melandasi campaignnya. Saya sangat merekomendasikan temen-temen untuk mendalami pemahaman tentang brand strategy, dengan belajar langsung ke pakarnya, bisa ke Om Budiman Hakim, bisa ke Pak Subiakto Priosoedarsono.

Nah, teman-teman, saat mau merancang sebuah campaign, promo, bikin Iklan atau apapun istilahnya, teman-teman mesti memahami dulu minimal 12 item terkait brand kita yang nanti menjadi acuan campaign kita. Jadi nggak sembarangan langsung bikin desain, atau film, atau materi kreatif lain dg media  channel apapun… Bisa aja temen2 tanpa mikir strategi, mampu bikin materi yg keren. Jelas bisa, tapi kalo itu bukan merupakan sebuah kebetulan, bisa jadi hasilnya out of strategy.

Nah, teman-teman, saat mau merancang sebuah campaign, teman-teman mesti memahami dulu minimal 12 item terkait brand kita yang nanti menjadi acuan kita bikin iklan/campaign. Berikut di antaranya (untuk temen2 yg udah jago banget di strategi, mohon maaf ya. Karena member kita 180 lebih, dan beda2 pemahaman, saya harus bahas ini dulu. Sebelum kita masuk Hypnotic Copywriting technique):

  1. Nama brand-nya apa?

Di sini temen2 ada yg punya brand kan? Saya liat banyak. Seperti @Fairuz N. Izzah, minimal udah punya 3 brand, bukunya: “Keluargaku, Jiwaku”, “My Life My Dream”, dan “The Lessons of Friendship”. Campaign/promo/ dsb, kenapa perlu berbasis strategi? Karena kita ingin mempersepsikan brand kita dg sesuatu yg tepat. Karena kita ingin memberi makna yg pas, untuk brand kita.

  1. Kategori PRODUK/BRAND-nya apa?

Ini juga harus dipikirkan. Apakah saat kita bermain di kategori tertentu, brand kita “stand out”? Superior? Sendirian? Atau clutter? Banyak pemilik brand, untuk menghindari “berkelahi” di kategori yg banyak, ia memutar strategi, menempatkannya sbg “kategori baru”, sehingga ia hadir sendirian.

Kategori dlm konteks bukunya Fairuz yg berjudul “Keluargaku Jiwaku”, jelas, masuk ke “antologi cerpen”. Kalo misa Fairuz ingin keluar dari pertempuran di kategori buku “antologi cerpen”, Fairuz bisa membuat kategori baru” “Buku Antologi Cerpen Anak”, misal. Tiba2, buku ini hadir sendirian. Atau bertempur di wilayah yg gak ramai.

  1. Target Marketnya siapa? Target Audience siapa?

Rumuskan:

– Status Ekonominya kayak gimana

– Pendidikannya

– Psikografinya (kebiasaan, gaya hidup dll.)

– Tinggalnya di mana (urban atau suburban)

– Dll. yg detail

M: interupsi!

N: Silakan Om.

M: Buat teman2 yg udah ada pertanyaan, silakan japri saya ya. Jangan malu2. Lanjut, Sep….

N: Siap Om, terima kasih. Kita lanjut ya teman-teman.

  1. Kompetitor brand kita siapa?

Kita bagi 2: Direct Competitor (yg head to head dg brand kita) siapa aja. Lalu Indirect  Competitor, yg jauh tapi potensial menggerogoti pasar kita.

  1. Problem-nya apa?

Saya biasa membagi 2 problem. Problem yg dimiliki brand kita apa? Gali sedalam mungkin. Mungkin ada kelemahan dr brand kita soal apapun. Inventarisir aja. Kemudian, problem target audience kita apa? Daya beli? Kultur? Dan bongkar detail sehingga kita tahu petanya. Problem ini penting digali, karena campaign kita, sesungguhnya kita bangun untuk menjawab problem itu.

  1. Unique Selling Poin (USP)/ Diferensiasi

Keunikan BRAND kita apa? Bedanya dg brand lain apa? Kenapa audience harus beli brand kita? Harus ada bedanya. Kalau tidak ada, ciptakan! Kalo tidak bisa juga, ya bikin cara campaignnya saja yang beda, hehehe… Kalo gak bisa juga: “Kill your brand!”😂

  1. Benefit

Apa manfaat atau kelebih yg dikasih BRAND kita utk audience sehingga mereka mau beli BRAND kita. Saya biasa membagi 2, manfaat fisik (rational benefit), manfaat batin (emotional benefit).

  1. Objective/Tujuan/Goal

Apa yg ingin dicapai dengan bikin campaign ini? Kita bagi 2:

– Marketing Objective (biasanya ini capaian yg indikasinya angka-angka), misal: “Ingin menaikkan penjualan sebesar 20% dari sebelumnya.” Atau, “Ingin menciptakan sakes 1000 Buku perbulan.”

-Communication Objective: Ini terkait tujuan dari sudut pandang persepsional. Yaitu, ingin membentuk image brand kita seperti apa.

  1. Positioning

Brand kita mau ditempatkan di benak audience kita seperti apa? Saya biasanya pake rumus seperti ini: Positioning: Brand N (nama) adalah satu-satunya produk C (category) dengan keunikan (USP)

sehingga (TA) merasakan benefit (B).

Misal kalo untuk brand Djarum Black yg pernah saya pegang: Djarum Black adalah satu-satunya rokok mild berwana hitam sehingga anak muda 18-25 merasa beda, unik dan kreatif.

Untuk permen POLO: Permen POLO adalah satu-satunya permen BOLONG untuk anak 15-17 yg berani dan Rebel yg rasa mint-nya bikin mereka PLONG

  1. Key Message

Rumuskan dulu pesan yang mau disampaikan apa. Tentu ini terkait dg rumusan yg udah di-breakdown di atas. Kalo Black, dulu kita bikin, ke Message-nya:

– Full of imagination (campaign awal)

– Nothing without Black (campaign ke-2)

– Think Black (campaign ke-3)

– dst

  1. Personalitas Brand

Gambarkan karakter brand kita kayak gimana. Kalo dia jadi orang seperti apa. Black, kami beri karakter: cowok, modern, keren, kreatif, smart, witty. Kalo orang/seleb: Jhony Deep

  1. Tone & Manner.

Tentuin nada, gaya campaign kita seperti apa? Yang pas dengan karakter brand dan karakter target audience kita. Misal, kalo Black: simpel, unexpected (jadi selalu kita hadirkan kejutan), macho (makanya tone color pun selalu sedikit agak “gelap” vinyet, bold, dll.

Begitu temen2. Saya berharap temen2 sebelum bikin sebuah materi promo utk apapun brand temen2, kenali dulu dan petakan brand temen2 sesuai rumusan tadi. Jadi, amunisi yg kita tembakkan terarah, gak sporadis.

Saya kembalikan ke Om Budiman Hakim, barangkali sudah ada pertanyaan dari teman2. Terima kasih.

M: Menarik sekali ya materi malam ini. Beruntunglah bagi para peserta yg memiliki produk atau brand. karena menulis strategi komunikasi adalah hal yg sangat penting.

Ok pertanyaan pertama…. Dari Uke Sedjati: Om bud dan Kang Asep memperdalam tentang segmentation dan targeting, Gimana caranya bisa tau tentang kecenderungan psikografi dan behaviorsnya secara detil? Dengan cara apa om?

N: Terima kasih @Uke Sedjati. Kalo masa traditionsl advertising, kita melakukan riset mendalam, dan berbiaya mahal. Begitu pula, finding fact dari riset itu harus dikaji dg analisis yg tepat. Krn, kalo nggak, banyak data yg malah membuat langkah meleset. Contoh untuk menemuksn insight, Ada ilustrasi dari Om Bud yg selalu sy inget:

Seorang preman Benhil, badannya gede, macho, brangasan, bertatto, dan sering masuk penjara. Kalo diinterview, seledti apa lu, dari kata2nya aja dia adalah sosok pemarah, tough, berani, tegar. Ternyata, saat kita ikuti keseharian, suatu saat dia beli lagu, ternyata yg dia beli lagunya “Gelas-gelas Kaca” dan “Bintang Kehidupan” Nike Ardila jadul.😂😂😂 Artinya, riset lewat interview dg dia menghadirkan data PALSU. Krn sesungguhnya, data aslinya, insightnya, dia adalah MELOW.

Bayangin, kalo kita jualan ke di dg pendekatan macho, pasti gak kena. Nah, di era digital advertising, untuk profiling target, kita lebih mudah, dan semua terukur lengkap dg populssnya. Kita bisa dg detil tau Audience Insight, dst. Atau dg eksplor big data, yg lengkap peta profikenya kita dapat dg sangat detail.

M: Pertanyaan kedua dari Blend: Om Bud kang Asep. Saya suka musik Trance , kalo di sini yg dimaksud Trance apa om

N: Trance adalah keadaan mental seseorang yang sedang terfokus pada internal dirinya. Dan dlm keadaan ini, seseorang jadi sangat SUGESTIF, mudah dipogram. Keadaan trance juga bisa dikondisikan dg musik, salah satunya. Tapi, beda dg istilah “music trance”.

M: Pertanyaan ketiga dari Ocha Karnita: Saya pernah mencoba hipnoterapi utk penyembuhan trauma, dan terapisnya bilang, kita hrs open minded dulu dan terbuka utk menerima sugesti2. Krn kalau kita menolak, hipnotis tsb tidak akan bisa terjadi. Kalau utk bikin iklan kasusnya, gmn caranya bikin org tergerak atau tertarik sehingga kemudian bisa dipersuasi dgn metode hypnotic writing? Bgm caranya? Dan membedakannya dgn hipnoterapi?

N: Filosofinya sama dg hipnoterapi. Betul apa yg dibilang hipnoterapis itu, bahwa, kita hrs open minded utk menerima sugesti itu. Artinya apa, artinya, bahwa tak ada yg lebih berkuasa atas diri seseorang, kecuali orang tersebut. Kalo ia menutup diri, maka apapun tak bisa menyentuh mentalnya.

Di Hypnotic copywriting, Ada teknik utk memengaruhi audience dirinya terbuka. Dlm konteks, subconsciousnya terbuka. Misal, ada teknik embedded command, di mana pesan dibenamkan terselubung, tanpa ter-detect oleh rasionalitasnya yg selalu melakukan rejection. Dan cara lainnya yg nanti kita bahas di sesi berikutnya.

M: Pertanyaan keempat dari Joy: Apakah dgn unsur hipnosisnya akan membatasi kreatifitas menulis? Bisa-bisa nanti bahasanya  menjadi seragam, jika semua copy writing harus ada unsur hipnosisnya. Mohon pencerahan. Trims

N: Ini yg kerap salah kaprah. Hypnosis itu ekplorasi dunia imajinasi. Banyak orang yg belajar hipnosis dan NLP, hanya belajar cangkangnya. Bukan filosofinya. Bukan esensinya. Hasilnya? Gaya ngomongnya jadi aneh, kayak robot, terpola, kaku, formulaik. Dan ini bnyk terjadi di Indonesia. Semoga yg belajar Hypnotic Copywriting gak begitu. Walaupun, orang2 tekstual bisa menangkapnya kaku.😂

Sy sangat pengen tawa ketika banyak oran yg mengaplikasikan teknik NLP di dalam email marketing, atau pola2 sales page. Sangat formulaik dan kaku. Dan itu menurut saya keliru.

M: Pertanyaan 5 dari Ibu Najah: Sy merasa yg paling sulit dari runtutan brand adalah menemukan DNA/USP brand kita  dari kompetitor. Setelah ketemu malah masalah berikutnya membuat campaign yg menarik pdhl sdh pake agency tp masih zonk. Bagaimana Kang Asep mgk bs memberikan clue campaign2 menarik tsb ? Tksh

N: Menurut saya, campaign menarik hanya bisa diciptakan dari strategi menarik. Strategi menarik itu yg inspiring. Bukan yg mengunci step berikutnya jadi stuck. Sy sering menguji Big Idea yg bagus, dg, Allah Big Idea ini bisa dibuat campaignable atau nggak? Bisa diturunkan tak terbatas atau nggak. Kalo nggak, berarti big idea dari sebuah strategi itu gagal.

Sbg contoh, saat KitKat dibedah, dari fakta product sbg wafer dg cokkat yg tebel, terus insight audience-nya anak yg rebel, anti mainstream tapi keren, dll. Juga dr rumusan seperti poin2 di atas. DidapatlH essence: BREAK. Saya, sangat terinspirasi dg BREAK ini, krn ini bisa dirunkan dg buuaaanyak terjemahan: 1. Break the Pattern; 2. Break the rules; 3. Break the habit; Dll.

Dari masing2 terjemahan, sy bisa bijin ratusan campaign .Contoh, break the habit: setan dan malaikat itu selalu musuhan, tapi, kita bikin cerita, saat dia liat cewek cantik, ehhhh, dua2nya sepakat, dan bilang, suiiit suiiiit. Dan ada banyak contoh lain.

M: Pertanyaan 6 dari Fairuz: Aslm, Om Bud. Ini Fairuz. Ini pertanyaan saya buat Kang Asep: Aslm Kang Asep. Kan Hypnotic Copywriting Technique yang ke 4 itu kan tentang competitor brand. Apakah artinya sambil promosi brand kita mesti ‘bertarung’ dengan brand lain?

M: Waalaikum salam.  Maksudnya, sebelum bertarung, kenali dulu lawan kita. Siapa lawan utama, siapa lawan yg nggak langsung ada di depan kita. Ketika kita sudah tau lawan kita, kita bisa melakukan strategi:

  1. Kita hindari perang, dg cara, kita posisikan brand kita bukan ada di area kategori lawan kita.
  2. Kita tetap perang dg lawan kita, tapi kita sudah punya kelebihan yg tidak dimiliki lawan kita.

Begitu Fairuz.😊

M: Pertanyaan 7 dari Hanto L; Om Budi, ini pertanyaan Saya. Maaf ada, satu hal menarik mengenai linguistik dan kaitannya dengan hypnotherapy. Cuma saya masih belum jelas mengenai kaitannya ini. Secara pribadi saya hanya bisa menafsirkan, bahwa Kata-kata ada simbol ungkapan batin kita. Masalahnya kadang kita susah menemukan kata-kata yang pas untuk mewakili apa yang ingin kita sampaikan melalui tulisan. Jadi bagaimana Cara atau metode yang pas untuk mencari kata-kata yang pas sesuai apa yang ingin kita sampaikan? Terima kasih.🙏

N: Pakai trik metode kami Mas @hanto, metode Om Bud dan saya: Proses kreatif ada 2 ruang: 1. Ruang Imajinasi; 2. Ruang Edit.

Saat kita menulis, kita sedang menggunjan Ruang Imajinasi. Bebaskan aja. Lepaskan aja. Mau ngeluarin pilihan kata apaoun, lepasin. Itu ruang insting dan spontanitas kita. Kalo di sini kita udah digondeli harus bagus, harus keren, harus sopan, harus sesuai EYD, harus bla bla bla, kita sudah menasukkan ketakutan, keraguan, prinsip benar dan salah, yg itu adanya di Ruang Edit. Artinya kita salah kamar. Efeknya, kita stuck

Saat semua selesai, masuk Ruang Edit, polisi tulisan kita. Diksinya ini enak ini kurang enak. Ini harus huruf kalital itu harus huruf kecil. Ini mestinya di-takeout ini harus dipertahankan, dsb. Percayai, ruang yg paling cerdas adalah ruang imajinasi.

Dlm nenulis copy/headline, David Ogilvy kerap bikin sampe 100 biji. Tulisan 1 hingga 5 pertama produk insting, tulisan berikutnya hingga ke-100 sudah dg pertimbangan macem2, dan dia selalu merasa yg terbaik adalah tulisan pertama. Semoga bisa menjawab.

M: Ok, sebetulnya masih ada beberapa pertanyaan tapi karena sudah 40 menit dari waktu maka terpaksa saya stop sampe disini. Silakan buat Asep kl ada closing statement….

N: Terima kasih Om. Teman-teman, silakan bedah brand teman2 sesuai pola di atas. Kalo udah, boleh kirim japri ke saya, nanti saya komen, cukup inspiring atau nggak. Tapi, jangan minta saya yg bikin ya. 😂😂😂 (Eh, boleh juga sih kalo mau, nanti sy kasih nomor strategic planner saya). Baikkkkk, saya tunggu karyanya. Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.😊🙏

M: Wa’alaikum salam. Terima kasih Kang Asep. Mari kita beri standing ovation buat Kang Asep.

Belajar Menulis Bersama Om Bud (Bagian 9)

Sesi 9 serial kulwap menulis, dilangsungkan pada hari Kamis, 4 Juli 2019. Kali ini bertindak sebagai narasumber adalah Kang Asep Herna dan Om Bud sebagai moderator. P adalah kode untuk peserta.

M: Materi kali ini sangat menarik dan tidak biasa. Memang di situlah kelebihan Asep Herna.

Judul materinya adalah….. The Power of Hypnotic Copywriting

Seperti apakah itu? Mari kita langsung persilakan Asep Herna untuk menjelaskannya. Silakan, Sep….

N: Terima kasih, Om Bud.

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat malam teman-teman The Writers..

Alhamdulillah, malam ini, kita bisa bertemu di grup WA ini, pada sesi awal diskusi intens kita di sesi saya, tentang The Power of Hypnotic Copywriting.

Sebelumnya, singkat, saya perkenalkan diri dulu ya. Saya Asep Herna, Founder MindStream Institute (lembaga yang bergerak di bidang pelatihan kreatif). Saya juga Creative Director di MACS909 Advertising, sebuah biro iklan lokal di Jakarta. Saat ini masih aktif sebagai Profesional Member di The Indonesian Board of Hypnotherapy (IBH), Authorized Instructor Prana Shakti International Brotherhood (PSIB), dan Peminat Linguistik yang sempat nyantri di Universitas Indonesia.

Teman-teman, Hypnotic Copywriting ini adalah salah satu alat dari Subconscious Communications Tools yang saya dalami, di samping alat-alat lain seperti Subliminal Message, Automatic Writing, Memahami Feedback lewat Micro Expression dan Eye Acessing Cues, serta Hypnotic Brainstorming yang saya kembangkan.

Semua perangkat ini saya eskplor dari disiplin hipnosisme, neuro linguistic programming (NLP), psikolinguistik, neuro semantic, dan pemahaman semiotic. Jadi berterima kasih sekali untuk para penemu disiplin di atas. PLUS, gabungan dengan pengalaman saya selama 19 tahun memegang

Campaign-campaign besar seperti Nestle Group (KitKat, FOX’S, Polo), Djarum Black, Indosat, Danamon, LippoBank (sebelum merger jadi CIMB Niaga), BTN, Sutra, McDonald’s, Daihatsu, Toyota, Mercedes-Benz dan ratusan brand lainnya.  Oya, di kontestasi pileg dan pilpres kemarin, saya juga kebetulan ikut urun ide. Di salah satu partai peserta kontestasi, saya dan team bahkan ditugasi untuk meraup suara milenial, dan konon, 20% suara milenial berhasil didapat.

Selain untuk menulis promo, dasar filosofi teknik ini juga bisa kita gunakan untuk edukasi, parenting, teaching, empowering dll., karena strukturnya sangat multi-aplicable (bisa dugunakan untuk apa saja. Jadi sangat multiaplicable.  Di sesi Hypnotic Copywritingselama 4 sesi ini, saya punya GOAL, yang saya harap ini jadi GOAL teman-teman juga, bahwa begitu selesai mengikuti 4 sesi saya ini, teman-teman:

  1. Paham dan makin paham mekanisme mental/ pikiran manusia pada umumnya, target audience kita, khususnya
  2. Teman-teman memahami pola bahasa hipnotik dan mampu mengaplikasikannya di dalam proses copywriting/ penulisan naskah iklan, yang mungkin bisa bermanfaat menunjang bisnis temen-temen, atau kelak untuk mempromosikan buku temen-temen kalo udah terbit. Aaaamiiin.

Hypnotic Copywriting terdiri dari dua kata. “Hypnotic” dan “copywriting”. Hypnotic adalah state kesadaran di mana manusia sedang berada dalam wilayah sugestif, wilayah subconscious (bawah sadar); sementara “copywriting” adalah teknik penulisan naskah dengan gaya persuasif (membujuk audience) untuk melakukan sesuatu.  Jadi, Hypnotic Copywriting adalah proses penulisan naskah iklan dengan tujuan memengaruhi Subconscious Audience, untuk melakukan tindakan sesuai pesan yang disampaikan.

Bedanya dengan copywriting biasa, bila copywriting biasa berusaha memengaruhi PIKIRAN SADAR manusia untuk bertindak (Persuasif); maka Hypnotic Copywriting berusaha memengaruhi PIKIRAN BAWAH SADAR manusia untuk bertindak (Sugestif).  Terus, apa untungnya dengan kita menulis untuk Subconscious Mind target audience kita?

Teman-teman, kesadaran manusia terbagi ke dalam 2 level.

  1. Conscious Mind (Pikiran Sadar), yaitu kondisi ketika rasionalitas manusia sedang bekerja. Di sini areanya logika, pertimbangan-pertimbangan kritis, perhitungan-perhitungan, hal-hal eksak, angka-angka, perbandingan-perbandingan antar satu pengalaman dan pengalaman lainnya.

Ciri khas dari Conscious Mind adalah kritis, sehingga, sifatnya defensive, dan cenderung mempertahankan data yang masuk, bahkan me-reject-nya. Oleh sebab itu, Conscious Mind ini, daya pengaruhnya pada tindakan manusia sekitar 12%.

  1. Subconscious Mind (Pikiran Bawah Sadar), yaitu kesadaran manusia yang sangat reseptif terhadap SARAN. Hal-hal yang ada di wilayah subconscious adalah emosi, perasaan, spiritualitas, cinta kasih, imajinasi, kreativitas, art. Ciri Subcosncious Mind ini sangat menerima data apapun yang masuk ke dalamnya. Lugu. Ia tidak mengenal perinsip benar dan salah. Semua data yang masuk dianggap kebenaran mutlak. Data baik, data buruk, data positif, data negatif, dianggap sebagai sebuah realitas yang harus hadir dalam tindakan.

Para ahli hipnoterapi dan NLP, biasanya melakukan program therapeutic di wilayah kesadaran ini. Itu sebabnya efeknya sangat cepat, bahkan instan!  (Btw, di grup ini ada NLP Silver Master Trainer lho, Coach Jimmy Susanto. Sialakan kalo mau belajar NLP lebih jauh).  Nah, daya pengaruh Subconscious Mind terhadap tindakan manusia sekitar 88%.

Tak heran, kalo Emanuel James Rohn, salah satu gurunya Antony Robbins, pernah bilang bahwa: “Efektivitas komunikasi itu berangkat dari 20% apa yang Anda tahu (maksudnya rasionalitas); dan 80% apa yang Anda rasa (maksudnya emosionalitas/Subconscious).”  Kami sendiri, orang-orang iklan, walaupun mungkin sambil nggak memahami mekanisme mental manusia tersebut, seperti sepakat memercayai bahwa:  “Pendekatan Iklan Paling Efektif adalah Menghadirkan EMOTIONAL BENEFIT. Bukan RATIONAL BENEFIT.”

Nah, kalo saat ini teman-teman sudah memahami karakter Subconscious Mind Manusia ini, bayangkan, bagaimana Powerful-nya Hypnotic Copywriting, karena pesan yang disampaikan memang ditujukan untuk Subconscious Mind manusia.  Jadi, untuk sementara, kesimpulan sekaligus saran dari saya, SAAT KITA MAU MENYAMPAIKAN PESAN, SAMPAIKAN PESAN YANG MENYENTUH SUBCONSCIOUSNYA. Berikan manfaat emotional (kepuasan batin); bukan sekadar manfaat rasional (kepuasan fisik). Kepuasan fisik, jadikan hanya sekadar penyokong (reason why) dari kepuasan batin yang kita tawarkan. Sehingga, dengan sinergi seperti ini, daya bujuk kita 12% + 88% = 100%.

Kita lanjut.

Teman-teman, menurut Stanford Hypnotic Susceptibility Scale (SHSC), tingkat kemampuan manusia MENERIMA SARAN terbagi ke dalam 3 kelompok.

  1. Kelompok Pertama, orang yang MUDAH disugesti. Populasinya 10%.
  2. Kelompok kedua, orang MODERAT, tidak sulit tidak mudah, populasinya 85% (paling banyak).
  3. Kelompok ketiga, tipe yang SULIT disugesti, populasinya 5% saja (paling dikit).

Kira-kira temen-temen masuk ke dalam kelompok mana yaaa? Mau tau temen-temen ada di kelompok mana dari 3 kelompok menurut statistik dunia ini? Insya Allah ntar kita identifikasi bareng-berang ya. Bentar lagi.

Nah, identifikasi ini juga bisa dijadikan identifikasi Target Market kita; atau Target Audience kita, bahwa:

– 10% kemungkinan target audience kita, bisa LANGSUNG ACTION, melakukan pembelian (sugestif)

Asik, kan? Minimal 10% dari target kita lho. Potensial secara ekstrem beli produk kita kalo mau dan tau caranya.

– 85% kemungkinan target audience kita, berpikir-pikir dulu, MENIMBANG-NIMBANG dan mengendapkan, lalu action membeli, atau malah gak jadi.

Biasanya dia searchind dulu produk/brand kita, liat-liat reviewnya, kalo oke, beli. Kalo gak sreg, batal.

– 5% kemungkinan target audience kita melakukan REJECTION (menolak membeli)

Promo kita dimasukin ke keranjang sampah. Tapi, bukan berarti yang 5 persen ini gak bisa kita bujuk ya. Tetap bisa. Hanya perlu waktu.

Ini identifikasi yang saya adopsi dari Stanford Hypnotic Suceptibility Scale (SHSS) tadi ya.

Nah, saya yakin, 185 teman-teman yang ada di sini, mewakili gambaran statistik Target Market/ Target Audience kita di atas.

Seperti tadi saya janjikan di depan, saya akan mengajak teman-teman melakukan permainan.

Apakah teman-teman masuk ke dalam 10% yang SUGESTIF; 85% yang MODERAT; atau 5% yang sulit menerima sugesti?  Saya mau tanya dulu nih sama temen-temen. Mohon dijawab langsung di grup ini. Semua bersedia, kan?  Cung yang bersedia? Mana nih suaranya?

—- 19 orang bersedia—-

Oya, mohon DIINGAT, temen-temen yg ada di ruang publik atau sedang berkendara, DILARANG ikutan permainan ini ya. Karena ini permainan yg perlu fokus. Teman-teman, sekali lagi, pastikan saat ini sedang berada di RUANG YANG AMAN dan NYAMAN ya. Bukan sedang berada di luar dan di tempat publik. Harap temen2 yang sedang berkendara atau di tempat umum, tidak mengikuti permainan ini.

Syarat dari test ini, karena kita tidak berada dalam satu ruang, teman-teman harus FOKUS MENGIKUTI INSTRUKSI saya. Test ini saya kemas khusus untuk Live di Whatsapp, artinya, saya DAMPINGI saat ini. (Mohon saat saya tidak minta posting, dan sedang memberi instruksi, tidak ada yang posting apapun ya. Karena akan mengganggu konsentrasi temen2. Sekali lagi, syarat dari test ini, karena kita tidak berada dalam satu ruang, teman-teman harus FOKUS MENGIKUTI INSTRUKSI saya. Test ini saya kemas khusus untuk Live di Whatsapp, artinya, saya DAMPINGI saat ini. Selebihnya, test ini SANGAT AMAN dan SANGAT ASIK, karena saya kemas dalam permainan.

Saya biasa melakukannya offline, di momen empowerment massal, atau di ruang terapi personal.

Oke sudah siap semuanya ya…? Saya punya 2 permainan. Permainan pertama:

Sekali lagi, syarat biar test ini lancar, teman-teman HARUS MENGIKUTI INSTRUKSI saya dengan seksama dan fokus ya. Dan pastikan ini AMAN.

Oke. Saya minta temen-temen mengepalkan tangan temen-teman dengan KERAS. Lalu acungkan jari telunjuk teman-teman. Kira-kira posisinya seperti ini ya:

Oke, sementara MATA teman-teman FOKUS pada huruf-huruf di layar monitor, PIKIRAN teman-teman FOKUS pada jari tangan teman-teman.

Siappppp…? Mulai…

Tuhan menganugerahi kekuatan yang luar biasa atas diri kita. Kekuatan untuk mengendalikan apapun. Kekuatan untuk mengendalikan sekitar. Kekuatan untuk mengendalikan diri kita sendiri, termasuk kekuatan untuk mengendalikan jari tangan kita.

SEKARANG, niatkan dalam hati. Ijinkan jari… minta jari… untuk MENGERAS seperti BESI. Untuk KAKU seperti BAJA. Keras SEKERAS-KERASnya, kaku SEKAKU-KAKUnya. Sehingga sedemikian KERAS dan KAKUnya, jari menjadi sulit sekali untuk dibengkokkan.

Rasakan dan imajinasikan jari Anda semakin KERAS seperti BESI, semakin KAKU seperti BAJA. Jauh lebih KERAS lagi. Jauh lebih KAKU lagi. Sehingga sedemikian KERAS dan KAKUnya sekarang jari Anda menjadi sulit untuk dibengkokkan.

Saya akan memperkuat keKAKUAN jari Anda dengan menghitung dari 1 hingga 3. Setiap hitungan membuat jari Anda semakin KERAS seperti BESI, semakin KAKU seperti BAJA. Bagus…

SATU, keras seKERAS-KERASnya. DUA, 100 kali lipat lebih KAKU dan KERAS. TIGA… sempurna KERAS dan KAKUnya, sehingga sedemikian KERAS dan KAKUnya, jari Anda semakin SULIT untuk dibengkokkan.

Semakin Anda berupaya membengkokkan, semakin KAKU jari Anda seperti BESI dan BAJA. Semakin berupaya lagi lebih kuat Anda membengkokkannya, semakin jauh lebih KAKU dan lebih KERAS jari Anda seperti BESI dan BAJA.

Coba bengkokkan kalo bisa… SULIT, kan?Coba bengkokkan lagi lebih kuat… makin SULIT kan? Nah…

Saya minta untuk teman-teman yang jarinya KAKU, silakan FOTO tangan dan jari Anda dan posting di grup ini. Saya tunggu 30 DETIK ya, sebelum nanti saya ajarkan untuk menormalkannya lagi. Silakan ya. Sudah?

Oke sementara yang lain ngirim foto, saya normalkan dulu ya jarinya. Perhatikan ini.

SEKARANG, saya akan MENGAJARKAN teman-teman untuk menormalkannya. INGAT ini ya.

“Silakan hitung dari 1 sampai 3, dan pada HITUNGAN 3 katakan dalam hati: NORMAL.

Silakan mulai sekarang.”

Untuk yang belum bisa menormalkannya, saya ulang:

“Silakan hitung dari 1 sampai 3, dan pada HITUNGAN 3 katakan dalam hati: NORMAL.

Silakan mulai sekarang.”

Sudah semua ya? Normal.

N: @Dyah Aprilia termasuk kelompok mana? Tadi di awal sudah mengira. Apa sama dg perkiraan?

P: @Dyah Aprillia : Moderat Kang, di 10 detik pertama emang kaku tapi makin disugesti malah kekakuannya hilang. Sesuai dengan perkiraan.

P: @ Luqman Baehaqi: Saya mencoba benar2 buat mengikuti dan fokus. Tapi tetap bisa bengkok.

N : Iya gpp Mas, krn ada 3 tipe seperti yg sy sebut di atas.

P: @ Anto Pangestu: first time main ini juga dulu saya cuma kaku sebentar..gak lama bisa bengkok lagi

P: @ Florens: saya sesuai dng perkiraan

P: @Hanto L: Tadi saya hampir ikut jadi Kaku, cuma ketika diakhir perintah, pikiran saya langsung perintahkan untuk tidak ikuti instruksi.

N: Mungkin masuk kelompok moderat.

P: @ Valen: Saya awal2 susah banget gak bisa kaku, trs cb lebih konsentrasi bisa kaku juga

P: @ Agung Sugiharto: Pas selesai moto, langsung bengkok

N: Kita adalah panglima atas diri kita.

Oke, kita lanjut permainan yang KEDUA, ya.

Saat berhasil, teman-teman boleh juga mem-foto-nya ya untuk kenang-kenangan, hahaha. Boleh juga minta teman untuk memfotonya. Atau yang pake laptop, silakan aktifkan kamera videonya untuk merekam ya.

Untuk test ini, saya akan terlebih dulu mengajarkan teman-teman buat menormalkannya ya.

Seperti tadi, UNTUK MENORMALKANNYA, Anda cukup menghitung dari 1 sampai 3, dan pada hitungan ke-3, katakan NORMAL. Dan semua kembali NORMAL. Paham teman-teman? Bisa kan ya?

Saya harus mastiin, temen-temen BISA dan PAHAM.

Saya ulang: Saya ajarkan dulu di depan cara untuk menormalkannya. Seperti tadi, UNTUK MENORMALKANNYA, Anda cukup menghitung dari 1 sampai 3, dan pada hitungan ke-3, katakan NORMAL. Dan semua kembali NORMAL.

Nanti saya tidak akan menginstruksikan untuk menormalkannya. Silakan teman-teman menormalkannya sendiri, SETELAH 10 DETIK TEST KE-2 INI TERUJI. Sekali lagi, SETELAH 10 DETIK TEST KE-2 INI TERUJI.

Oke. Sekarang kita mulai test-nya.

Sekarang, Anda cukup MENGIKUTI, membaca sambil menghayati huruf demi huruf INSTRUKSI SAYA. Pastikan pikiran bawah sadar Anda MEMAHAMInya, dan MENGINGATnya.

Baik… Kita mulai test-nya ya.

SAAT sebentar lagi saya minta Anda MEMEJAMKAN MATA Anda, maka BAYANGKAN, ada lem yang SANGAT KUAT mengalir di kedua kelopak mata Anda. Saat Mata Anda sebentar lagi TERPEJAM, bayangkan, rasakan dan imajinasikan… LEM semakin KERING, sehingga membuat kedua kelopak mata Anda RAPAT seRAPAT-RAPATNYA, REKAT seREKAT-REKATNYA. LEKAT seLEKAT-LEKATnya. Jauh lebih RAPAT lagi, jauh lebih REKAT lagi, jauh lebih LEKAT lagi, sehingga sedemikian REKAT dan RAPAT, maka saat mata Anda terpejam, mata Anda TERKUNCI BEGITU KUAT. Semakin KUAT. Jauh lebih KUAT lagi.

Sekarang. Saya minta, saat Anda MEMEJAMKAN MATA, Anda menghitung dari 1 hingga 10, dan setiap hitungan, membuat mata Anda semakin terkunci seRAPAT-RAPATnya. SemakinRAPAT dan KUAT. Saking RAPAT dan KUATnya, Anda begitu sulit untuk membukanya.

Semakin Anda berupaya membukanya, semakin TERKUNCI RAPAT mata Anda begitu KUAT.

Baik.

Silakan SEKARANG PEJAMKAN mata Anda, mulai MENGHITUNG dari 1 hingga 10. Dan setiap hitungan, membuat mata Anda semakin RAPAT dan TERKUNCI SEMAKIN KUAT!

Tutup MATA dan mulai menghitung SEKARANG!

——————

N: Oke teman-teman, siapa yang tadi berhasil terkunci matanya?

P: @ Indah Pujiati: saya

N: Saya tunggu report yang lain ya…

P: @ Dyah Aprilia: ☝ Dan lagi Hanya sampai hitungan 7

P: @ Indah Pujiati: semakin saya berusaha membuka semakin susah

P: @ Hanto L: Saya Kang Asep, cuma ini pikiran Saya ketika ditengah-tengah mau terkunci, pikiran meminta saya untuk buka mata segera.

P: @Indah Pujiati: saya sampai ketawa

P: @ Emma Holiza: Saya

P: @ Vera Serpong: saya lg merem digangguin anak-anak… jadi blm berhasil

N: Saya mastiin semua sudah berhasil membuka mata.

P: @ Blend: saya menjadi ngantuk

P: @Hanto L: Mungkin saya melakukannya sambil merokok

N: Gak apa-apa, Aman Mas Blend.

P: @ Hanto L: Jadi nggak sampai terpejam rapat

N: Asep Herna: Ini mah gak ngikutin instruksi. Oke, saya anggap semua yang berhasil matanya terkunci, sudah terbuka normal lagi ya.

P: @Indah Pujiati: saya sampai ketawa, karena agak takut sebenarnya, takut ga bisa mbuka mata

P: @ Anto Pangestu: pas baca sugesti..mata mulai perih..pas ngitung emang makin berat..tapi beres ngitung langsung bisa kebuka lagi

P: @Dyah Aprilia: Repot kalau ada yg belum kebuka matanya, apalagi dia sendirian

P: @ Luqman Baehaqi: Masih belum berhasil

N: Nggak apa-apa, itu masih termasuk sugestif sebenarnya.

Teman-teman, apapun sensasi yang terjadi pada temen-temen. Apakah ekstrem merespon dengan sangat sugestif; apakah sensasinya hanya sedikit dan kemudian normal lagi; atau sama sekali tak ada reaksi apa-apa; itu semuanya NORMAL. Itu adalah identitas diri temen-temen, yang dengan temen-temen tahu karakter diri, kita jadi tahu bagaimana MEMPERLAKUKAN diri kita ke depan. Begitu juga ini bisa kita lakukan pada orang-orang di sekitar kita, pada anak kita, pada suami/isteri, pada audience kita, sehingga pada saat kita tahu identitas mereka, kita tahu bagaimana cara komunikasi yang efektif dengan mereka.

Nah, Teman-teman, dari permainan yang tadi kita lakukan, ada beberapa hal yang bisa kita jadikan pelajaran:

  1. Pola kalimat yang saya gunakan, bahkan ketika hanya sekadar texting, bisa memengaruhi subconscious sebagian teman-teman. Pola kalimat ini, nanti akan kita bongkar di sesi-sesi berikutnya.
  2. Sebagian dari teman-teman yang merespons secara ekstrem teks tadi, atau sugesti tadi, mewakili gambaran dari seluruh target audience kita. 10% sangat sugestif; 85% ada di tengah-tengah; dan 5% sulit dipengaruhi.

Statistik ini, pada saat di lapangan, kadang terbalik. Jadi angka-angka ini tidak absolut ya. Ini cuma hasil studi, dan penting untuk mensimplifikasi pemahaman kita.

  1. Subconscious Mind, ketika berhasil ditembus dan menerima sebuah data, akan menjadikan data itu REALITAS yang kemudian direspons menjadi sebuah tindakan. Saat data bahwa jari tangan kita adalah besi, saat berhasil terinstal di subconscious, maka reaksinya tangan layaknya besi. Begitu juga mata. Bayangkan, kalau data yang masuk ke dalam subconscious adalah data/perintah jualan, call to action, sugesti terapi, seperti apa hasil baiknya?

Jangan salah, data buruk pun bisa sama efektivitas tertanamnya. Itu sebabnya ada yang namanya trauma. Fobia. Psikosomatik, di mana problem mental muncul dalam simptom fisik. Itu adalah power bahwa diri kita begitua luar biasa, mampu merealisasikan apapun yang terprogram di sunconscious kita. Sayangnya, kita begitu terlatih memprogram hal buruk ya. Semoga, sejak saat ini dan seterusnya, kita selalu aware, dan kita hati-hati sama diri kita.

Demikian temen-temen. Saya mohon maaf sama Om Budiman Hakim, karena membuka percakapan langsung di grup WA ini, karena memang perlu respons langsung terutama saat di 2 latihan tadi. Bila ada pertanyaan dari teman-teman, silakan. Boleh ditanya langsung di sini, atau via Om Budiman Hakim. Kalau mau langsung, mohon tertib ya. Silakan kalo ada pertanyaan. Kita diskusi santai saja.

M: Hanto L: Kang Asep, mengapa tadi setiap ada suggesti. Pikiran saya melakukan blok sugesti tersebut?

N: Ada banyak hal. Yang jelas, critical factor Mas @Hanto L sedang aktif. Bisa juga Mas Hanto tidak memercayai instruktur. Atau, mungkin takut dan lain-lain, sehingga memilih sebagai pengamat saja. Tapi, kalo membaca tadi sekilas komen yang bilang sempat mata terasa berat (kalo tak salah ya), sebenarbya Mas Hanto bisa masuk kategori sugestif. Sekali lagi, kalo diri tidak mengizinkan, tak ada satu pun yang kuasai mengatur kita.

M: @Andi Sunarto: Kang Asep, minta contoh iklan yg sudahberedar yg ada hypnosis copywritingnya?

N : Saya nggak nyebut brand yg saya bilang ini dibuat dg metode hypnotik ya, tapi IKLAN SPRITE versi Cak Lontong yang pertama, itu sangat memenuhi sebagai iklan yg punya aspek hypnotik. Kemudian Bilboard GoJek yang di Jalan Kuningan, yg isinya teks semua, itu malah 100% memiliki aspek hypnotic. Nanti saya bahas di sesi berikutnya. Saya sendiri membuat rangkaian campaign (maaf tdk bisa saya hadirkan), untuk mereduksi efek negatif dari “firehose of falsehood”.

M: @Dyah Aprilia: Mau tanya, kalau kita sedang berbicara dengan diri sendiri (self-talk). Apakah percakapan terjadi di subconscious mind?

N : Belum tentu. Tapi lebih mengarah ke situ, karena terjadi proses internalisasi diri. Hypnosis process sesungguhnya adalah komunikasi pada diri sendiri. Itu sebabnya Positive Self Talk itu penting. Lebih penting lagi, kita tahu di waktu sangat tepat melakukannya. Misal, saat kita rileks, saat kita menjelang tidur. Saat kita bangun tidur. Saat kita berdoa. Dll.

M: @Luqman Baehaqi: Brarti ilmu ini bisa saya pake buat nambah follower sosmed sampai jutaan ya?

N: Bisa dong…

M: @Ridzki Utami: Kang, Di sebuah mall saya pernah mengahampiri booth yang menjual satu set alat masak. Saya awalnya tertarik dengan panci presto, karena saya memang butuh. Salesnya dengan sigap menawarkan, tapi dengan menggabung beberapa item barang yang kalau di-total hampir 4 jutaan. Yang tadinya tertarik, saya jadi malas. Wong butuh Cuma 1 item paling harga 400 an ribu. Berbagai trik sales lakukan agar saya tertarik, tetap saya tidak tertarik, karena saya nggak ada dananya. Hahahaha. Pertanyaan: Andai saya jadi salesnya, bagaimana supaya SAYA jadi membeli?

N: Waaaah, ini banyak caranya. 1. Memahami insight audience. Jualan kita laku kalo kita tau apa yang dibutuhkan audience. 2. Bicara sesuai cara, gaya, hobi, pola gerak, pola nafas, dan semua aspek yg sama dengan audience. Dll.

M: @Biyan: Malam Kang Asep. seperti apa pesan2 yg menembus pikiran bawah sadar & kata/kalimat seperti apa yg bisa menembus pikiran bawah sadar tsb? Apa sesuatu yg lucu/humor? Nuwun

N: Salah satunya iya, yang tadi disebut @Biyan. Soal kalimat, ini yg akan kita bahas di 3 sesi berikutnya. Tentu bertahap, agar filosofinya dapet. Kalo coba simak TEKS yang saya bikin, minimal di situ ada 3 kunci. 1. Permainan bunyi. 2. Repetisi. 3. Teknik saya nge-lock kepala temen-temen untuk action di waktu tertentu sesuai pesan saya (jari kaku/ mata rapat). Dan lain-lain.

M: @Hanto L: Kang Asep, saya pernah lihat iklan Rokok Surya Pro, dengan slogan Never Quit. Apa itu termasuk iklan yang sifatnya bisa mempengaruhi pikiran subconscious?

N: Kira-kira Mas @Hanto L pertimbangan apa sehingga melihat iklan ini seperti itu?

Tapi di dalam teknik hypnotic campaign emang ada yang namanya “analog marking”, penanda buat subconscious sehingga pesan lebih nancep dan jadi program. Bisa Visual, Audi, Kinestetik, Aroma, atau Rasa di Lidah.

P: Hanto L: Soalnya dalam iklan tersebut selalu dianalogikan dengan olah raga, martial arts. Seakan-akan kita diminta untuk tidak mudah berhenti usaha. Tapi setelah saya pikir secara mendalam. Iklan ini bisa dianalogikan agar perokok sebisa mungkin never quit untuk merokok. Apalagi seringkali merokok disandingkan dengan figure macho dan maskulin. Kira-kira begitu, kalau dari pemahaman saya.

M: @Biyan: Satu lagi Kang. Dapur mess sy bau pandan. Sy tanya ke beberapa teman. Ada yg jawab kl di eternit ada luwak. Ada yg jawab ada hantu di dapur. Knp sy lebih percaya dg jawaban kedua ya Kang?

N : Artinya @Biyan termasuk tipikal yang rasional.

M: @Hanto L: Kang Asep cuma Satu pertanyaan saja. Tapi penting….. Bisa nggak Kita menghipnotis diri agar bisa termotivasi untuk menulis?

N: Sangat BISA. Hypnosis paling kuat adalah hypnosis yang dilakukan oleh diri sendiri. Karena nggak ada yang lebih bisa dipercayai oleh kita kecuali diri sendiri.

Caranya : Temen2 di The Writers 1, sekarang udah masuk level 2, salah satu di antaranya ada metode Automatic Writing. Itu adalah metode yang secara langsung maupun tak langsung membangkitkan kesadaran untuk bergairah menulis. Itu cuma salah satu cara.

M: @Valen: Kang asep mau tanya, sekitar 2th yll saya pernah dicoba hipnoterapi biar tidur, tp sama sekali tidak bisa, pdhl sdh dicoba berulang ulang dan akhirnya gagal. Tapi knapa barusan saya ngikuti instruksi bisa berhasil ya, faktor apa yg mempengaruhi

N: Saya banyak menghadapi kasus ini. Dan biasa terjadi. Kemungkinannya sangat banyak. Hukum “trance” itu, trance kedua pasti lebih intens dari trance pertama. Trance ke-3 lebih kuat dari ke-2. Begitu seterusnya. Bisa jadi, Valen, subconsciousnya sebenarnya sudah terlatih di sesi hipnoterapi pertama itu. Kemudian yg kedua, aspek “trust” tadi. Ketiga bisa jadi “skill” hipnoterapisnya. Jadi ada banyak kemungkinan ya.  Tapi pada intinya, SEMUA ORANG bisa dan mampu memasuki kondisi hipnosis.

N: Closing. Baik Om. Teman-teman, permainan tadi, hasilnya, tidak menunjukkan yg satu lebih hebat dari yg lain, atau yg lain lebih powerful dari yg satu. Itu sekali identitas yg Tuhan berikan pada kita, sehingga kita kenal dan tau cara memoerlakukannya dg tepat. Semoga hari ini baik, dan ke depan makin lebih baik. Wassalamu Alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

 

Belajar Menulis Bersama Om Bud (Bagian 8)

Pada hari Rabu, 3 Juli 2019, kulwap dengan Om Bud memasuki sesi 8 dengan isi sebagaimana dirangkum berikut. Masih bersama Om Bud sebagai narasumber (N) dan Kang Asep sebagai moderator (M).

M: Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat malam teman-teman. Kita ketemu lagi di sharing session ke-8 The Writers bareng Om Budiman Hakim. Malam ini adalah sesi terakhir Om Bud. Dan Om Bud akan membawakan materi: “University of Life”.

Baiklah teman-teman, mari kita sambut langsung Om Budiiiiimaaaan Haaaakiiiiiim….😁👏👏👏 Silakan, Om, dimulai.

N: Thank you Sep.

Selamat malam temen2 semua….. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Seperti yg dikatakan Kang Asep. malam ini adalah sesi terakhir saya. Sesi berikutnya akan diisi oleh Kang Asep yang materinya mantulllll. Jadi malam ini saya berharap semua peserta bisa hadir real time dan mengikuti materi saya ini.

Pakabar, temen2? Kita ketemu lagi malam ini di Kelas Penulisan, The Writers, Sesi 8. Judul materi kta kali ini adalah University of life.

Kenapa saya memilih topik ini? Karena ilmu itu banyak sekali kita peroleh dari kehidupan. Buku-buku yang diterbitkan banyak sekali yang merupakan rekaman dari kehidupan sehari-hari. Lembaga pendidikan resmi memang sangat penting tapi percayalah, belajar dari hidup lebih penting dan tidak pernah berakhir sampai kita dipanggil Allah. Jadi nikmatilah hidup: Berbaurlah dengan kehidupan. Berusahalah bersinerji karena kita bagian dari kehidupan itu sendiri.

Kalau kita selalu peka pada apa yang terjadi di sekitar kehidupan kita maka kita akan terus belajar. NEVER STOP LEARNING BECAUSE LIFE NEVER STOP TEACHING. Kita akan belajar peka terhadap kehidupan sehari-hari. Pokoknya kita harus menemukan ide yang telah disembunyikan oleh Tuhan di sekitar kita.

OKAY. Pertama kita akan membahas HEADLINE (untuk materi periklanan) atau JUDUL (untuk materi film, konten, buku dll). Yuk kita mulai, ya.

BELAJAR BIKIN HEADLINE

Saya pernah menjadi pengajar di sebuah workshop Creative Writing. Persertanya berjumlah lebih dari 60 orang, terdiri dari profesi dan usia yang beragam. Dalam workshop tersebut saya menunjukkan sebuah gambar, foto temen saya David, yang sedang menyelam di dasar laut. Gambarnya adalah seperti di bawah ini.

Kemudian saya berkata pada audiens, “Teman-teman, ini adalah sahabat, saya namanya David. Dia hobby banget olahraga menyelam.” Semua orang memperhatikan gambar di atas dengan rasa ingin tahu. “Nah, seandainya ini adalah cover sebuah novel, coba kalian bikin judul novel berdasarkan gambar ini. Waktunya saya kasih 5 menit di mulai dari sekarang,” kata saya lagi.

Semua peserta langsung mencoret-coret kertas. Dan ga lama kemudian menyerahkan kertas yang berisikan judul buatannya. Setelah membaca seluruh kertas peserta, ternyata hasilnya cukup menarik untuk di analisa.

Pertama, lebih dari 50% peserta, memberi judul : “DAVID MENYELAM DI DASAR LAUT.” Okay saya tulis di bawah gambar ya, biar keliatan koneksi antara gambar dan copynya.

Nih udah saya tulis “David menyelam di dasar laut.”

Saya hitung dan pelajari jawaban peserta. Tenyata jawaban kedua terbanyak memberikan judul “David mencari mutiara.” OK, saya tempel lagi di gambarnya ya…..

Nih….

Uniknya ada satu jawaban. Jadi jawaban ini hanya satu. Ada satu perempuan berusia 16 tahun memberi judul “David mencari isteri.” Saya tempel lagi ya sama gambarnya….

Selanjutnya saya mencoba membahas ketiga judul ini pada para peserta. Selanjutnya saya mencoba membahas ketiga judul ini pada mereka. “Okay, dari ketiga judul ini, yang mana yang paling bagus?”

Saya bertanya pada peserta mana yang mereka pilih dan yang paling suka….

Believe it or not, semua peserta menjawab dengan suara kencang dengan pilihan yang seragam. “David mencari isteriiii!” jawab seluruh kelas. Saya sudah menduga mereka pasti akan menjawab demikian. Dan saya yakin sebagian besar peserta di sini juga memunyai jawaban sama.  Kenapa? Karena judul pertama sama sekali gak inspiratif. Kalimat “David menyelam di dasar laut” hanyalah PENGULANGAN dari apa yang sudah disampaikan oleh visualnya. Buat apa bikin judul mubazir begitu? Sayang dan sia-sia kan?

Judul kedua “DAVID mencari mutiara” sudah agak bergeser sedikit. Minimal kita jadi lebih jelaslah bahwa David menyelam di dasar laut untuk mencari mutiara. Tapi apakah judul ini sudah cukup inspiratif? Buat saya BELUM. Koneksi antara judul dan visual masih terlalu erat hubungannya satu sama lain. Pergeserannya terlalu sedikit.

Sekarang judul ketiga “David mencari isteri.” Coba bandingkan dengan visualnya. Jauh banget kan? Akan tetapi di situlah kerjasama keduanya menjadi sangat kuat. Ingat saya beberapa kali mengatakan bahwa karya yang bagus itu adalah karya yang mampu memaksa kita berpikir dan berimajinasi. Judul dari peserta perempuan berusia 16 tahun ini adalah contoh yang sangat bagus. Membaca judul tersebut, Membuat rasa ingin tau pembaca terusik. Membuat pembaca berimajinasi; ngapain Si David nyari isteri sampe ke dasar laut? Kita merasakan ada cerita di sana. Bahkan ada banyak peristiwa yang kita bisa gali dari judul di atas. Coba perhatikan orek2an saya berikut ini.

Perhatikan perbandingan no. 1, No 2 dan no. 3. Saya kasih 3 menit untuk memandang coretan tersebut. No. 1 lingkarannya bertumpuk shg terlihat seperti 1 buah lingkaran saja. No. 2 ada pergeseran sedikit sehingga terjadi irisan. No. 3 jauh banget antara judul dan image sehingga lingkarannya sangat berjauhan.

Kenapa kita PALING terinspirasi untuk menulis novel tentang David berdasarkan judul nomor 3? Yuk, mari kita bedah lebih dalam.

Misalkan visual David sedang menyelam kita sebut dengan titik 1. Judul ‘David mencari isteri’ kita sebut dengan titik 2. Perhatikan baik-baik: Jarak antara kedua titik itulah yang akan memudahkan kerja kita. Jarak antara titik 1 dan 2 adalah yang biasa kita sebut dengan RUANG KREATIF. Semakin jauh jaraknya semakin besarlah ruang kreatif tersebut sehingga otomatis ruang imajinasi kita juga semakin luas. Kenapa? Saya ulang karena typonya kebanyakan. Karena cerita yang akan kita buat pastilah sebuah alur yang akan MENGHUBUNGKAN titik 1 dan titik 2.

Novel yang kita buat pastilah bercerita tentang bagaimana David menemukan wanita pujaannya, kemudian dia kawini. Lalu entah bagaimana istrinya hilang entah ke mana dan cerita menjadi semakin seru ketika kita mengemas pengalaman David mencari isterinya. Dia mungkin mencari isterinya ke mana-mana, mencari di pegunungan, di gurun, di hutan rimba sampai akhirnya ke dalam laut. Keren kan?

Begitulah kita mengasah kemampuan untuk membuat headline atau judul. JUDUL tulisan kita haruslah menginspirasi semua orang.  Judul tulisan haruslah menginspirasi pembaca kita. Itu sebabnya saya suka cerewet pada kalian untuk ngasih judul tulisan yang menantang. Sering-seringlah berlatih membuat headline atau judul. Judul adalah ujung tombak yang akan memancing orang untuk membaca tulisan kita.

Agar lebih jelas saya akan menerangkan bagaimana belajar menulis JUDUL, ISI dan MEMAKSA pembaca membaca tulisan kita sampai selesai dengan metode POWER THREE

POWER THREE.

Untuk berlatih menulis, sekarang ini kita bisa menulis di mana saja. Saya menganjurkan pada kalian untuk menulis di status Facebook. Memposting tulisan di FB besar sekali manfaatnya. Kalo nulis di FB, kalian gak perlu tanya lagi ke saya, ‘Apakah tulisan kalian bagus atau tidak’. Kalian bisa mengamati reaksi temen-temen terhadap tulisan kita. Kalo banyak yang like, komen apalagi share, berarti tulisan kali bagus. Intinya adalah engagement yang kita peroleh bisa menjadi parameter untuk menilai tulisan kita.

Menulis buku dan menulis artikel di FB sama sekali berbeda. Bedanya begini: Kalo orang membaca buku kita, berarti mereka memang sudah berencana dan menyiapkan waktu khusus untuk membaca buku yang kita tulis. Tidak demikian jika kita menulis di FB. Kalo kita menulis di FB, kita harus memaksa user supaya tertarik membacanya. Dan caranya sama sekali gak mudah. Kenapa? Karena Facebook user biasanya browsing di timelinenya dan mengamati postingan teman-temannya dengan cepat. Jari-jarinya bergerak dan sangat mungkin TULISAN KITA TERLEWATI BEGITU SAJA.

Nah, kajian POWER 3 adalah strategi yang sering dipakai oleh lingkungan saya untuk memaksa Facebook User yang sedang scroll dow untuk berhenti di tulisan kita. Bukan hanya berhenti tapi juga bagaimana memaksa mereka untuk membaca artikel kita sampai habis. Power 3 ini sebenarnya adalah metode untuk mencari ide iklan yang saya peroleh dari senior saya di dunia periklanan, namanya Subiakto Priosoedarsono. Namun setelah saya pelajari dengan seksama, teori Power 3 ini justru lebih tepat dipakai untuk teknik penulisan di social media. Okay, jadi apakah POWER 3 itu?

Jadi Power three itu adalah:

  1. STOPPING POWER

Stopping power adalah strategi untuk memksa orang untuk membuatnya berhenti. Pastinya yang pertama dilhat orang adalah JUDUL. Biasanya orang akan berhenti pada satu judul yang menarik. Judul yang provokatif, nyeleneh, sadis dan berbau sex biasanya akan segera menarik pembaca. Mereka akan langsung mengklik artikel itu dan mulai membaca.

Di tahap ini, boleh dikatakan kita berhasil mempraktekkan tahap 1 yaitu STOPPING POWER. Artikel kalian akan banyak didatangi pengunjung. Tapi jangan buru-buru seneng. Ingat! Di tahap satu kalian sudah menjanjikan sesuatu yang menarik bagi pengunjung. Jangan kecewakan mereka! Masih ada tahap 2 dan 3. Seharusnya tahap berikutnya haruslah lebih menarik dari tahap awal.

  1. SHOCKING POWER

Di tahap ini kita mulai dengan awal cerita dan kita harus bercerita tentang sesuatu yang mengagetkan pembaca. Ciptakanlah suspense sehingga membuat keingintahuan mereka semakin menggunung. Contohnya pada cerita detektif yang dimulai dengan pembunuhan, pencurian, pemerkosaan, pokoknya konflik selalu dimulai di bagian awal. Kalo kita berhasil membuat pembaca shock, itu berarti kita sukses melaksanakan tahap 2.

Nah, selanjutnya tentu kita berharap orang akan membaca artikel kita sampe habis, kan? Kalo gak, ya, percumalah dua tahap yang sudah kita bangun. Bagaimana memaksa netizen untuk membaca sampai habis?

  1. STICKING POWER

Tahap ini fungsinya paling berat yaitu bagaimana memaksa pembaca untuk membaca artikel kita sampe selesai. Coba kita liat apa modal yang kita punya? Dalam cerita pasti ada konflik. Kalo ada konflik tentunya kita punya solusi, kan? Pertanyaannya apakah solusi cukup menarik sebagai ending cerita? Kalo dirasa kurang, ga ada salahnya kita kasih dramatisasi agar jadi lebih dramatis. Selain itu kalian juga bisa menyelipkan jokes, keywords atau kutipan tokoh-tokoh terkenal yang relevan dengan tulisan kita. Bisa juga kita memanfaatkan CERPENTING yang sekiranya cocok dengan jalan certa yang kita tulis. Jadi itulah salah manfaat cerpenting yang telah kita pelajari kemaren.

Satu lagi sebagai tambahan, gunakanlah gaya bahasa sendiri, jangan mencontoh gaya penulis lain. SEHEBAT APAPUN CARA KITA MENIRU, KITA GA AKAN PERNAH LEBIH HEBAT DARI ORANG YANG KITA TIRU.

Kalo kita berhasil mempraktekkan POWER 3 ini dengan baik, kalian gak usah takut untuk menulis sepanjang mungkin. Kalo tulisan kita panjang tapi masih banyak orang yang mau membacanya sampai selesai maka itulah sebuah indikasi bahwa orang sangat menyukai tulisan kita. Selanjutnya tulisan kita insya Allah akan ditunggu-tunggu oleh visitor.

Jangan pernah menggunakan judul yang bombastis dan provokatif tapi isinya ga relevan dengan isi. Misalnya kalian membuat judul “Bersetubuh dengan mayat”. Manteb banget dong judulnya? Hehehehe….. Saya jamin orang akan langsung ngeklik link tulisan kita. Tapi hati-hati! Mereka akan kecewa berat kalo isinya ternyata ga seheboh judulnya. Apalagi kalo isinya sama sekali ga ada hubungannya dengan keseluruhan tulisan. Kalian malah akan dibully sebagai penulis penipu.

Satu lagi yang perlu dipahami, jangan pernah minta orang lain kasih komen di artikel kita. Biarkan tulisan kita yang mengetuk hati para pembaca untuk ngasih komen sendiri. Kalo pake diminta segala, komen mereka jadinya gak jujur. Mereka kasih komen hanya semata-mata berdasarkan order kita.

Terakhir, jangan hanya menulis satu topik saja. Orang cenderung membandingkan dengan tulisan kita sebelumnya. Akibatnya kita jadi sulit untuk membuat yang lebih bagus dari tulisan sebelumnya. Ada banyak topik menarik di dunia ini yang bisa kita petik. Hidup ini terlalu berharga untuk diisi hanya dengan 1 hal saja.

Sekarang mari kita belajar lebih dalam lagi tentang JUDUL dan POWER THREE sekaligus.

BELAJAR DARI SUPIR TRUK.

Kalau sedang mengendarai kendaraan di belakang sebuah truk, kita pasti pernah melihat gambar-gambar yang lucu di bagian belakang truk itu. Gambar-gambar tersebut biasanya dilengkapi dengan kalimat yang tak ubahnya berfungsi sebagai Headline atau Judul. Kalimat-kalimat dari supir truk ini banyak yang menggelitik emosi. Kalo kita terhibur atau sampe ketawa terbahak-bahak, ketularan galau, pokoknya kita sampe tergugah, berarti headline supir truk tersebut inspiratif banget.

Coba kalian perhatikan baik-baik tulisan mereka. Sebagian memang tidak ada maknanya, tapi sebagian lainnya kadang begitu bercerita dan mempunyai makna yang cukup dalam. Beberapa contoh tulisan di truk yang sering kita temui:

  1. Lupa namanya, ingat rasanya
  2. Pulang malu, tidak pulang rindu
  3. Pergi karena tugas, pulang karena beras
  4. Senyummu merobek dompetku
  5. Kau lebih cerewet dari mantan isteriku

Kadang para supir truk memanfaatkan kata yang sudah ada lalu diperlakukan sebagai singkatan. Biasanya kata yang dipakai adalah kata yang berasal dari sebuah merk. Contohnya:

  1. DJARUM : Demi Janda Aku Rela Untuk Mati
  2. ARDATH : Aku Rela Ditiduri Asal Tidak Hamil

Pernah juga saya ngeliat para supir situ menggunakan kata dalam bahasa inggris, tapi maknanya bukan pada penulisannya, tapi ada di pengucapannya. Misalnya:

  1. The me is three;
  2. Be young care rock

Kreativitas mereka tidak berenti sampe di sini. Pasti kalian pernah ngeliat bagaimana para supir menggabungkan huruf, angka dan bunyi sehingga kadang kita perlu mikir sejenak untuk mengartikannya. Contoh:

  1. BER 217 AN
  2. MER 123 LAK
  3. p 6 pilan 1/3 dis
  4. H 234 DIN daRI KLA 10

Contoh tulisan di truk

Luar biasa ya? Semua tulisan-tulisan di truk itu telah membuka mata saya bahwa barangkali saya sendiri bukan lawan mereka dalam hal kreativitas. Seringkali kita cuma ketawa doang ngebaca tulisan-tulisan itu. Tapi coba pikirkan proses pembuatannya dan tela’ah bagaimana semua itu mencerminkan kegalauan hidup mereka. Bukan jarang emosi saya tergugah membaca curhat mereka.

Sekarang saya akan menceritakan sebuah tulisan di truk yang paling melegenda dan pasti semua orang pernah membacanya. Saya pernah melihat gambar wanita cantik mengenakan kemben. Salah satu tangan wanita itu sedang menyibakkan rambutnya ke atas dengan cara yang amat sensual. Dan di samping gambar terdapat sebuah kalimat pendek berbunyi “Kutunggu jandamu.” Mengharukan sekali bukan? Kalimat sederhana ditunjang dengan gambar yang berbicara merangsang keingintahuan kita apa yang melatarbelakangi penciptaan itu.

Bukan mustahil gambar itu adalah ekspresi rasa sakitnya Pak Supir ketika berpisah dengan pujaan hatinya sewaktu di desanya dulu. Ada banyak sekali cerita yang bisa digali. Sebagai penulis, saya tergugah oleh tulisan “Kutunggu Jandamu” tersebut. Begitu tergugahnya sehingga saya terpicu untuk membuat ceritanya. Kalau boleh saya mereka-reka cerita di balik gambar itu, mungkin ceritanya seperti berikut ini:

KUTUNGGU JANDAMU

“TIDAAAAAAAAAAAAK!!!!”

Suara teriakan memilukan datang dari seorang supir yang sedang mengendarai truknya. Air mata mengucur deras dari matanya. Entah kesedihan apa yang menderanya sehingga Sang supir berkendara sambil memekik histeri seperti itu.

Ciiiiiiii!!!!! Karena kurang konsentrasi hampir saja truk tersebut nyelonong masuk jurang. Untunglah Maman, demikian nama supir tersebut, sempat menginjak remnya dan selamatlah dia dari malapetaka.

Menyadari bahwa keadaannya tidak cukup tenang untuk berkendara, Maman memutuskan untuk berhenti sejenak di pinggir jalan. Untuk melampiaskan hatinya yang pepat, dia keluar dari truknya, berdiri di pinggir jurang dan kembali berteriak sepuas-puasnya, “TIDAAAAAK!!!!!”

(Cerita Flashback ke beberapa waktu sebelumnya).

Maman bersimpuh dan mohon pamit pada ayahnya yang sedang sakit. Tekadnya sudah bulat hendak menjadi supir truk lintas Sumatera, membawa hasil bumi dari Padang ke Jakarta.

Tidak sanggup dirinya terus tinggal di desanya setelah sang kekasih, Jamilah, dijodohkan orang tuanya dengan pedagang material kayu dari Sukabumi.

Namun setelah setahun lebih mengemudikan truk, ia belum juga dapat melupakan wajah Jumilah.

Selalu saja terbayang kekasihnya sedang mencuci pakaian di sungai dengan kemben basahnya.

Sesekali ia harus menyibakkan rambutnya yang terjatuh karena harus senantiasa menunduk ke arah sungai.

Rindu yang tak tertahankan membuat Maman memberanikan diri pulang ke desanya di hari Lebaran.

Tapi apa yang ditemuinya? Jamilah sudah punya anak dan tampak hidup berbahagia dengan  suaminya.

Lebaran hari kedua, Maman langsung pergi lagi dan berusaha tenggelam dalam pekerjaannya.

Namun ke mana saja truk ia kendarai, bayangan Jamilah terus saja mengikutinya.

Aduh bagaimana ini? Keluhnya dalam hati. Bagaimana mengeluarkan rindu yang akan meledak di dada?

Dan muncullah idenya untuk berekspresi: Dia menggambar Jamilah dengan tulisan

“KUTUNGGU JANDAMU.”

_______________

Bagi orang lain, gambar di truk itu hanyalah sebuah gambar yang menghibur dan mengundang senyum. Tapi dari sudut lain, supir truk itu telah memberi contoh pada kita tentang bagaimana gambar (visual) mempunyai kerjasama yang kuat dengan kata-katanya (copy).

Kita dapat membaca ada keperihan di situ. Ada kerinduan, ada airmata dan ada cerita menarik yang lebih membumi daripada sinetron-sinetron yang ada di TV.

Dengan menggambarkan seluruh ilustrasi di atas, saya bermaksud membuktikan bahwa; sejak lahir semua orang telah dikaruniai ilmu penulisan. Tua muda, kaya miskin, laki-laki perempuan pokoknya semua.

Penulisan sebagai ilmu pengetahuan bukanlah barang baru. Naluri menulis ada dalam diri kita semua. Menulis adalah bagian dari tingkah laku kita sehari-hari . Termasuk Maman, Si Supir Truk.

Inilah yang saya maksud dengan Univerisity of life. Kita belajar berempati pada sekeliling kita. Mulai sekarang, cobalah kalian mengamati tulisan-tulisan di bak truk. Mulailah melihat dengan cara pandang yang lain. Kalo ada yang lucu, miris atau mengharukan, cobalah membuat ceritanya seperti tulisan saya di atas. Masukan ke dalam blog kalian. Kalo banyak yang nge-like atau ngasih komen, berarti tulisan kalian menarik.

Cobalah lakukan berulang-ulang. Kenapa? Karena dengan membaca tulisan-tulisan di truk, kita bisa membedakan mana headline yang inspiring dan mana yang tidak. Dengan menulis cerita berdasarkan tulisan itu, tanpa terasa kita menemukan cara yang efektif untuk melatih menulis cerita yang bagus.

Saya kira cukup sekian sharing ini. Takutnya gak ada waktu buat sesi tanya jawab. Terima kasih atas perhatiannya. Semoga Tuhan makin sayang sama kita. Aamiin.

M: Pertanyaan pertama dari @florenslee11: Hari ini saya menulis PR di FB,  dan banyak yang mampir apa karena judulnya Ranjang X bla bla bla…” Mungkin kalo judulnya “Ranjang XXX” akan lebih banyak lagi kali yang mampir ya om Bud….?

N: Hai Florens, saya rasa judulnya memang sangat menantang rasa ingin tahu. Betul kalo kamu bikin jadi Ranjang XXX tentunya semakin menjanjikan tapi hati-hati, kalo isi cerita tidak sesuai dengan harapan pembaca, mereka bisa kecewa. Kalo udah kecewa mereka gak mau komen. Kalo udah kecewa mereka gak mau share. Jadi pastikan untuk memilih judul yang menantang tapi tetap sesuai dengan isi ceritanya.

M: Pertanyaan ke-2 dari @Joey : bagaimana membangun suatu dramatisir cerita seolah2 nampak nyata pembaca masuk ke cerita….tolong tips Bang Bud🙏🏽 karena setiap membaca tulisan Bang Bud saya seolah2 ikut didalamnya. Thanks salam.

N: Pilih bagian dari cerita kita  yang paling menggugah emosi. Kemudian bagian yang penuh emosi tersebut masukkan percakapan dengan kalimat langsung. Kalimat langsung bisa membius pembaca seakan-akan kita dibawa ke real time. Itu sebabnya pembaca ikut hanyut dalam emosi yang ada. Itu sebabnya pembaca sering merasa berada dalam cerita tersebut.

M: Pertanyaan 3 dari @Ocha 😺 R. Karnita 🍁 : Mau tanya yg 3 power ke om Bud. Dulu saya pernah ikut workshop juga di pinasthika jogja entah thn brp, ttg formula 3S yg sama, tapi yg satu adalah striking power. Apa bedanya dgn shocking power? Apakah striking power hanya utk diaplikasikan pada iklan supaya org mau beli produknya, dan shocking power lebih utk yg umum seperti utk menulis cerita?

N: Kurang lebih sama kok. Metode power 3 ini sebenernya bisa diaplikasikan ke bidang apa saja. Misalnya dalam penulisan buku. Kalo kita bikin buku maka yang menjadi stopping powernya adalah covernya. Gunanya tentu supaya orang yang berada di toko buku dan sedang berjalan di lorong antara rak-rak tersebut mau berhenti dan mengambil buku kita. Begitu juga di film, novel bahkan lagu. Jadi gak ada yang spesial untuk iklan atau bidang tertentu.

M: Pertanyaan 4 dari @Munaaaa : Bagaimana cara kita menentukan/menemukan garis khayal antara judul dan visual yang jauh kaitannya dalam rangka menciptakan judul yg inspiratif?

N: Gampang kan? Kalo judul dan visual jaraknya jauh maka garis khayal yg kamu maksud adalah jarak yang jauh tersebut. Jadi sebagai penulis kita tinggal berimajinasi dan merancang cerita untuk mendekatkan kedua elemen tersebut.

M: Pertanyaan 5 dari @Yusuf Eko : Sering saya kesusahan mengatur tempo dalam menyajikan konflik dan solusi. Baru aja konflik eh uda langsung solusi. Kadang konfliknya uda dimunculkan tapi kelamaan menuju solusi malah akhirnya jadi antiklimaks. Mohon sarannya. Terima kasih.

N: Ini pertanyaan yg bagus. Memang dibutuhkan kejelian dari penulis untuk menciptakan jarak antara konflik dan solusi. Analoginya persis kayak juri Indonesian idol pas ngumumin pemenang. Kan sering dilama-lamain tuh, maksudnya sih supaya penonton tegang. Maksudnya baik tapi kalo kelamaan kita juga jadi muak ngeliatnya. Sementra kalo gak dilama-lamain, suspense tidak tercipta.

Ini masalah jam terbang menulis. Kalo kita terbiasa menggarap sebuah konflik, kita akan tau kapan kita sudah harus masuk ke solusi. Atau bisa juga kita membuat beberapa konflik. Jadi ada konflik utama dan kita ciptakan konflik bawahan. Biasanya penulis suka nyicil dengan memberi konflik bawaan dulu. Setelah semuanya terselesaikan barulah konflik utama dikasih solusi supaya menjadi super klimaks..

M: Pertanyaan ke-6 dari @maymona deviani: Lebih baiknya bikin cerita dulu baru nentuin judulnya, apa bikin judul dulu baru nulis cerita yang relevan sm judul tsb?

N: Gak ada satupun teori yang cocok buat semua orang. Kenali diri kita sendiri dan pilih yang nyaman gimana enaknya. Ide kadang muncul berupa judul. Misalnya novel saya yang udah 3 tahun gak kelar-kelar itu berangkat dari pemikiran yang berbentuk judul: PENJELAJAH MIMPI.’ Barulah saya mikirin gmn caritanya.

Tapi buku-buku saya yang lain lebih banyak yang bermula dari ceritanya dulu. Pokoknya liat ide itu dan pilih nyamannya mulai dari mana. Semuanya sah. Semuanya OK.

M: Pertanyaan ke-7 dari @Joy to the world 😍 : Untuk orang berkarakter cuek dan masa bodo. Apa saran Om Bud biar menjadi peka? Trims

N: Hahahahahaha….Waduh pertanyaannya. Pada dasarnya gak ada orang cuek di dunia ini. Mereka cuma peduli pada hal yang spesifik. Nah saran saya cobalah dalami hal yang spesifik tersebut lalu gali cerita apa yang kita bisa gali dari sana.

M: Pertanyaan terakhir dari @@way 😁 Assalammu’alaikum Om Bud dan Kang Asep Herna. Pertanyaan saya adalah :  Punya gaya bahasa sendiri, itu sah-sah saja ? Punya gaya bahasa sendiri, mungkinkah bisa jadi sebuah trademark ?

N: Bisa dong. Coba baca buku-buku saya. Kenapa saya bikin bahasanya begitu? Kayak orang ngobrol shg secara KBBI mungkin banyak yang ga cocok. Dan dosen2 PT banyak yang ngritik tulisan saya.

Tapi sebenernya saya memang sengaja menulis seperti itu. Karena saya tau banyak orang kita lebih suka ngobrol daripada baca. Makanya saya nulis dengan bahasa ngobrol. Akibatnya orang sering tidak merasa sedang membaca buku tapi sedang ngobrol dengan saya. Misalnya salah satu buku saya berjudul “NGOBROLIN IKLAN YUUUUK!!!!!”

M: Om, sepertinya itu pertanyaan terkhir. Dan sudah lewat 17 menit dari pukul 22. Sebelum sesi kita akhiri, silakan barangkali ada closing speech Om.

N: Teman-teman, saya mau kasih PR lagi. Dan sekali lagi PR ini cuma buat yang sempat aja,

Jadi begini. Kan saya udah bikin cerita tuh berdasarkan tulisan di truk “Kutunggu jandamu.”

Nah sekarang giliran kalian buat cerita ya? Kalian harus cari tulisan di truk lalu pilih yg paling inspiratif untuk dibuat cerita. Eh pasti pada males ya nyari truk malem2 Hehehehehe…..

Okay khusus untuk kalian, udah saya catetin tulisan di truk. Jadi silakan pilih sendiri mana yang menggoda untuk dibuat cerita. Ini list tulisan di truk yang berhasil saya kumpulin but dijadiin cerita.

  1. Anda butuh waktu, kami butuh uang;
  2. Naik Gratis, Turun Bayar
  3. Ma2ku 1/3 dis
  4. THE ME IS THREE
  5. Jagalah Jandamu
  6. JANGAN DINIKAHI BILA SEGEL RUSAK
  7. TABAH MENANTI
  8. Ku Nanti Jandamu
  9. SEKARANG BAYAR, BESOK GRATIS
  10. APKTNTAJ.COM
  11. Ber 2 1 7 an
  12. MER – 123 – LUCK
  13. Abang yang enak, adek yang beranak
  14. Be are the kill us all come fuck
  15. BE YOUNG CARE ROCK
  16. Alone By Must
  17. Cintamu Tak Semurni Bensinku
  18. Ja 500 Let
  19. Buronan Mertua
  20. On any book an plumb pleasant
  21. BERSATU DI PANGKALAN BERSAING DI JALANAN
  22. Bercinta di Bis Berpisah di Terminal
  23. PUTUS CINTA sudah biasa PUTUS REM matilah kita
  24. Cintaku Berat Di Bensin
  25. MAN 7 jur
  26. JUM’AT KELABU= Trayek Pasar Jumat – Pondok Labu
  27. Mencari nafkah demi desah
  28. UCOK = Uang Cukup Ongkos Kurang
  29. Lupa Namanya, Ingat Rasanya
  30. Enak Tapi Dosa
  31. Istri goyang suami basah
  32. Pergi karena tugas pulang karena beras
  33. Rejekiku dari silitmu
  34. Cinta ditolak dukun bertindak
  35. Pulang malu, tak pulang rindu
  36. JANDA 1/3 DIS
  37. Do Now . Casino . In Draw = WarKop DKI
  38. Bukan salah ibu mengandung, salah bapak gak pake sarung
  39. Kau lebih cerewet dari mantan isteriku
  40. Jangan basahi matanya. Basahi vaginanya.

OK? Saya kira cukup sekian sharing ini. Wabillahi taufiq walhidayah, wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

M: Waalaikum salam wrb. Alhamdulillah, terima kasih, Om Budiman Hakim. Terima kasih teman-teman semua. Berakhir sudah sharing asik kita malam ini. Kita masih akan ketemu besok, dengan materi yg berbeda. Terima kasih 🙏

Belajar Menulis Bersama Om Bud (Bagian 7)

Semalam, 2 Juli 2019, kulwap menulis bareng Om Bud memasuki sesi ke-7.

M: Sudah pukul 20.00 pas nih. Kita mulai ya sharing-nya. Malam temen-temen semua. Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, malam ini, kita ketemu lagi bareng Om Budiman Hakim.  Kali ini Om Bud akan membawakan tema: “Ruang Imajinasi dan Ruang Editing”.

Seperti biasa, mohon diperhatiin tata tertib sharing-nya ya

  1. Sharing akan dibagi 2 sesi, Sesi Sharing Materi (pk. 20.00 – 21.30); dan Sesi Tanya Jawab (pk. 21.30-22.00)
  2. Selama sharing berlangsung, member dilarang posting apapun, kecuali diminta oleh pemateri atau moderator
  3. Member diharap menyampaikan pertanyaan lewat WA saya sebagai moderator (Asep Herna, WA 0816909xxx). Saya akan pilih 5 pertanyaan pertama untuk disampaikan ke pemateri di Sesi Tanya Jawab. Bila masih ada waktu, 5 pertanyaan berikutnya akan disampaikan ke pemateri.

Oke teman2. Om Bud sudah terlihat siap, dan mari kita sambut langsung Om Budiiiiimaaaan Haaaakiiiiiim….😁👏👏👏 Silahkan, Om, dimulai.😊🙏

N: Terima kasih Pak Moderator….🙏🙏 Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…. Pakabar, temen2? Kita ketemu lagi malam ini di Kelas Penulisan, The Writers, Sesi 7. Sebelum mulai, saya ingin menuliskan sebuah kalimat yang saya suka banget. Bunyinya begini :

“You say you love rain, but you use an umbrella to walk under it. You say you love sun, but you seek shelter when it is shining. You say you love wind, but when it comes you close your windows. So that’s why I’m scared when you say you love me.”

 

Orang yang mengcapkan kalimat ini adalah Bob Marley, seorang penyanyi reggae terkenal berasal dari Jamaica. Bob Marley adalah salah seorang tokoh idola saya. Kemampuannya menulis sering membuat saya kagum. Misalnya kalimat di atas. Bagus banget, ya? Bisa kita pake tuh kalo kita mau merayu cewek kita. Hehehehe….

Seperti saya, Bob Marley adalah seorang yang relijius. Ehem…. Dia sering menggunakan istilah FATHER OF CREATION untuk menyebut TUHAN. Kenapa demikian? Menurut Mas Bob, satu-satunya warisan dari Allah untuk manusia (dan tidak diwariskan pada makhluk lainnya) adalah BERKARYA (Creation, to create, creation). Kalo kita gak pernah berkarya, kita gak ada bedanya seperti tanaman dan binatang, begitu kata Kak Bob. Jadi selama menjalani hidup, kita harus berkarya. Mungkin karya kita tidak laku dan tidak sukses….gak masalah. Minimal kita sudah berkarya dan dengan berkarya, kita telah membedakan diri kita dengan makhluk lainnya. Tuhan adalah Father of creation. Jadi dapat disimpulkan bahwa, sebagai manusia, Kita harus berkarya (T0 CREATE).

Bagaimana caranya agar kita bisa berkarya terus menerus? Kita harus memiliki CREATIVE ATTITUDE. Itu sebabnya dari sesi awal saya cerewet banget ngomongin Creative Attitude melulu. Mungkin kalian sudah muak mendengar istilah tersebut tapi saya gak akan berhenti mengingatkan masalah itu terus-menerus. Karena itu adalah fondasi dari semua manusia untuk berkarya. Sebagai makhluk ciptaan Allah kita sudah ditakdirkan untuk selalu berkarya.

Teman-teman sekalian. Janganlah menganggap bahwa berkarya itu susah. Kita bisa mulai dari yang kecil-kecil. Ketahuilah bahwa status Facebook itu juga karya. Tweet kita di Twitter juga karya. Foto dan caption kita di Instagram juga adalah karya. Setuju?

Nah, kalo kita sepakat dengan hal itu, tentu saat membuat status FB, Ngetweet, bikin caption di IG, seharusnya kita juga melakukannya dengan Creative Attitude. Kalo semua hal itu dilakukan dengan reatve attitude, kita akan surprise karena  yang nge-like, komen dan nge-share tulisan kita akan bertambah. Bahkan bisa jadi follower kita juga akan meningkat tajam.

Status atau postingan yang kita buat gak perlu ilmiah, yang penting KREATIF. Kita bisa bikin humor, motivasi, makna ganda, plesetan, tekateki atau apapun yang sekiranya menarik perhatian. Membuat status, tweet dan caption yang cerdas adalah cara kita berlatih menulis dan pada gilirannya akan bermanfaat ketika kita hendak berjualan produk di social media.

Jadi setiap kali kita tergugah emosinya, kita harus langsung bertanya pada diri sendiri,  “Bisa gue jadiin ide apa ya joke ini?” Kalo itu joke tentunya. Maap nih wifi kok putus nyambung terus ya? 😩 Kalo kita terbiasa melakukan hal itu, hasilnya pasti bagus. Saya jamin itu. Karena sudah terbukti bahwa kita saja tergugah emosinya, jadi kalo kita bikin dan kemas ulang pastinya karya kita akan lebih dramatis daripada originalnya.

Misalnya: Saya pernah menemukan buku best seller yang ditulis oleh Flannery O’Connor. Judulnya “A Good Man is Hard To Find”. Orang baik sulit ditemukan.

Nah, tiba-tiba judul buku tersebut diplesetin oleh Mae West di tahun 1930. Mae West saat itu memang dikenal sebagai bintang film yang sering tampl sexy. Bomb sex istilahnya. Dalam sebuah momen, Mae bercerita pada wartawan kehidupan sexnya dengan banyak pria. Mae West berpendapat bahwa rata2 cowok itu payah dalam soal sex. Katanya: Susah sekali menemukan cowok yang bisa memuaskannya. Di akhir press conference, dia menutup ceritanya dengan mengatakan,  “A HARD MAN IS GOOD TO FIND”. Hahahahaha…

Semua hadirin tertawa terbahak-bahak karena semua mengerti bahwa Mae West sedang main plesetan. Dia memelesetkan judul buku “A good man is hard to find’ menjadi ‘A hard man is good to find.’ Kalimat aktris bomb sex ini langsung melegenda. Kalimat plesetan dari Mae West ini bahkan menjadi jauh lebih terkenal daripada kalimat yang diplesetinya….. Hebatnya, dengan cerdik, Brand Viagra menggunakan kaliamat Mae West ini untuk headlinenya “A Hard Man Is Good To Find” . Hahahahaha…. Kocak, ya? Iklan ini dibuat dan ditayangkan oleh brand Viagra untuk memanfaatkan momentum Hari Valentine. Ini dia iklannya….

Coba perhatikan iklan tersebut. Biaya produksinya murah banget. Gak ada model, gak ada pemotretan tapi tetep aja bagus. Bahkan iklan ini memenangkan beberapa festival iklan di beberapa negara. Jadi bisa disimpulkan kalo ilmu menulis kita udah jago, seringkali komunikasi kita cukup diwakili oleh tulisan yang cerdas. Buat yg gak ngerti arti iklan Viagra itu boleh japri saya ya. Hehehehe….)

Jadi ide itu datang seringkali bukan karena kita pikirin berhari-hari. Kita musti membuka pancaindera di mana pun kita berada. Kita harus lebih peka terhadap apa yang kita lihat, dengar, cium, rasa dan kecap. Karena bisa jadi di situlah Tuhan menyelipkan ide-ide yang keren.

Inti dari materi hari ini: Tuhan tidak pernah memberi kita karya. Tuhan memberi kita ide dan kitalah yang mengolah ide tersebut menjadi karya. Seperti halnya Tuhan tidak pernah memberi kita pasangan yang sempurna. Tuhan memberi pasangan untuk kita saling menyempurnakan.

Manusia adalah makhluk cerdas. Kita gak perlu mengiba-iba pada Tuhan untuk minta diberi ide. Karena banyak  ide sudah diletakkan Tuhan di mana-mana, di sekeliling kita. Untuk menemukannya, kita dibekali otak olehNya. Yak betul! Hidup itu seperti puzzle dan itulah yang menjadikannya menarik. Jadi yang perlu kita lakukan adalah bagaimana kita lebih peka menangkap apa yang diterima pancaindera lalu kirim ke otak untuk diolah menjadi karya.

Ketika ide sudah ditemukan, penting diketahui bagaimana cara menuliskannya supaya imajinasi kita berjalan sejauh mungkin. Seperti saya sebutkan di materi sebelumnya bahwa semakin jauh imajinasi kita maka cerita kita akan disukai orang. Kenapa? Karena cerita kita jadi unexpected (tidak disangka-sangka) dan penuh surprise. Jadi jangan sampai imajinasi kita KEPOTONG gara-gara ada gangguan dari luar atau gangguan dari diri sendiri. Kalo takut gangguan dari luar kita bisa mengurung diri dalam kamar. Kalo perlu…KUNCI! Kalo gangguan dari diri sendiri, bisa kita hindari dengan cara di bawah ini.

RUANG IMAJINASI DAN RUANG EDITING

Kalian tentu masih inget materi kita sebelumnya yang berjudul ‘MENULIS TANPA IDE’, bukan? Itu loh, metode menulis dengan cara memanfaatkan 6 benda yang ada di sekitar kita. Inget kan?

Salah seorang teman saya di London, bernama Taufiq Hadimadja mencoba mempraktekin formula ini. Kebetulan dia lagi naik kereta api dari London ke kota lain. Selesai menulis dia ngasih komen di FB:

  1. kereta api
  2. kursi kosong
  3. buku
  4. perempuan
  5. handphone

“Udah jadi tulisan gue, Om Bud! Wah, beneran berhasil formulanya. Tapi kenapa cerita gue jadinya jorok banget, ya?  Hahahahaha….”

Nah, ini menarik! Apa yang terjadi pada temen saya ini sama sekali gak masalah. Karena dalam proses penulisan, ada dua ruangan yang perlu kita masuki. Yang pertama adalah Ruang Imajinasi dan yang kedua adalah Ruang Editing. Kedua ruangan ini sama pentingnya. Aduuuuh…..putus melulu nih wifi-nya. Maaf ya, temen-teman…..

Perlu dicatat bahwa kita harus memasuki kedua ruang tersebut satu persatu. Jangan pernah kita menyatukan kedua ruang tersebut dan jangan pernah kita memasuki kedua ruangan dalam waktu yang bersamaan.

Yang pertama kali harus kita masuki adalah ruang imajinasi. Di ruangan ini kalian DILARANG KERAS mengedit sebuah tulisan. Biarkan tulisan terpampang seperti apa adanya. Jadi bila kita sudah TERLANJUR  menulis sebuah kata makian yang dilontarkan seorang bapak pada anaknya, “Anjing lu!”Biarkan aja begitu. Jangan diedit. Kenapa demikian? Di ruang imajinasi, kita sedang memberdayakan imajinasi kita. Kata-kata yang sudah tertulis adalah jejak emosi dari cerita yang sedang kita buat. Setiap kata yang tertulis adalah jembatan yang sedang kita lalui menuju ke imajinasi berikutnya. Kalau kita berhenti lalu mengedit tulisan tersebut, itu sama saja kalian memutus imajinasi yang sedang berjalan. Jadi biarkan semua kata tertulis apa adanya. Teruslah menulis sampai cerita selesai. SEKALI LAGI: Teruslah menulis sampai cerita selesai! Putus lagi….HADEUH!!!

Kita lanjut lagi ya. Semoga lancar sampe selesai. Bismillah….

M: Interupsi Om…

N: Yak, silakan, Sep

M: Buat yang udah punya pertanyaan, silahkan tulis via WA saya di 0816909xxx, sekarang ya. Akan dipilih 5 pertanyaan pertama untuk dijawab oleh Om Budiman Hakim. Terima kasih.😊🙏

Silakan lanjut Om.

N: Thank you, Sep.

Di ruang imajinasi ini kalian harus MENGHAMBA PADA KEBEBASAN. Lupakan kesalahan ejaan, acuhkan soal norma dan aturan, jangan ada nilai-nilai yang mengekang, misalnya kekerasan, pornografi, SARA dll. Abaikan semuanya! Nikmati kebebasan itu! Bersenang-senanglah dengan imajinasi yang sedang berjalan. Biarkan imajinasi itu menjadi liar tak terkendali. Biarkan imajinasi itu akhirnya mengambl kontrol atas pikiran dan tangan kita. Ikuti saja kemana imajinasi itu pergi. Biarkan jemari kalian menari tanpa terkendali. Biarkan cerita berjalan sampai akhirnya selesai. Kalo proses ini dijalankan sebebas-bebasnya maka kalian akan terkejut sendiri, “Masak, sih, ini tulisan gue? Rasanya gak mungkin gue menulis seperti ini.” Kita bergumam sendiri karena keheranan.

Tapi itulah yang selalu terjadi pada saya setiap kali menulis. Proses menulis biasanya begitu. Pertama kita berpikir. Setelah itu kita berpikir sambil berimajinasi. Selanjutanya kita berimajinasi masih dalam kontrol kita. Akhirnya imajinasi mengambil kontrol dan bekerja sendiri. Jari-jari kita terus mengetik seolah jemari itu bukan milik kita. Luar biasa banget! Itu sebabnya ketika teman-teman membaca tulisan kita, mereka gak percaya bahwa itu tulisan kita. Jangankan temen, kita sendiri nyaris gak percaya kita bisa menulis seperti itu. Seperti ada makhluk lain yang menguasai tubuh kita. Makhluk itulah yang menulis dengan meminjam jari-jari kita.

Pernah suatu hari saya sedang menulis novel di kantor. Baru mau mulai tiba-tiba Kang Asep datang dan pamit karena mau meeting. “Okay, silakan, Sep.” kata saya lalu mulai bekerja. Sekitar beberapa menit saya nengok ke arah Asep yang masih saja berada di kantor. Saya tanya, “Gak jadi meeting, Sep?”

“Udah meetingnya. Ini baru pulang.” kata Asep.

“Heh? Kok cepet banget? Emang meeting di sini?”tanya saya lagi keheranan.

“Cepet apanya? Saya udah 4 jam meninggalkan kantor.” kata Asep lagi.

Saya kaget bukan main. Perasaan baru beberapa menit yang lalu Asep pamit. Saya ngeliat jam. Dan bener loh  Ternyata sudah 4 jam berlalu. Sebenernya apa yang terjadi? Saya ‘keasyikan berada di ruang imajinasi sehingga terasa seperti time laps.

Kemudian saya baca apa yang telah saya tulis. Ternyata saya udah nulis banyak banget! Dan, masya Allah, saya gak percaya sama sekali bahwa itu tulisan yang saya buat. Isinya gila dan unexpected banget. Begitulah dahsyatnya jika kita biarkan diri kita larut dalam ruang imajinasi. Hhhhhh….merinding saya jadinya. Tapi seru!

Ketika tulisan sudah rampung, barulah kita memasuki ruang editing. Di tahap ini, kita bisa membaca lagi cerita dari awal dan merevisi semua kata yang rasanya terlalu kasar. Terlalu sadis. Terlalu norak. Terlalu porno  dan sebagainya. Dalam kasus Taufik di atas, dia bisa memperbaiki, merevisi atau menyensor bagian yang rasanya terlalu jorok. Di sinilah kesempatan kita untuk mengedit cerita dari awal sampai akhir. Di ruang editing inilah nilai-nilai normatif kita masukkan. Begitulah proses menulis yang betul.

Misalnya soal makian ‘Anjing lu!’ di atas. Pastinya kita merasa kok gak pantes banget seorang bapak memaki anaknya dengan kata sekasar itu. Okay, kita bisa menggantinya dengan kata ‘Kurang ajar, kamu!’ atau kalo mau yang lebih halus lagi “Keterlaluan, kamu’. Silakan pilih yang paling cocok. Revisi semua yang ingin kalian revisi. Yang penting proses editing itu jangan dilakukan di ruang imajinasi. Silakan dipraktekin.

Ruang imajinasi akan membuat karya kita jadi unexpected karena kita melepaskan imajinasi kita melanglang-buana sebebas-bebasnya. Ruang editing akan membuat karya kita menjadi sempurna karena kita meluruskan sesuatu yang tidak wajar atau melanggar norma-norma. Sebetulnya metode inilah yang sering saya sebut dengan teknik “LANTURAN TAPI RELEVAN” yang juga merupakan judul buku pertama saya.

Jadi bagaimana teman-teman? Sudah dapet ide untuk ditulis? Kalo sekiranya masih juga belum dapat ide mungkin kita perlu latihan lagi untuk memancing ide cerita keluar. Nah, latihan kali ini adalah cara lain untuk memancing ide. Sebenernya metode ini adalah lanjutan dari metode 6 benda yang kita lakukan sebelumnya. Bedanya adalah kalo sebelumnya kita hanya menuliskan 6 benda yang ada di sekeliling kita maka kali ini kita harus memilih 6 kata yang JAUH hubungannya.

Jangan menuliskan kata yang, secara makna, terlalu deket, misalnya ‘buku – pensil, meja – kursi, mobil – oli, dsb. Pilih kata yang secara makna JAUH satu sama lain. Misalnya ‘kodok’ dan ‘Paracetamol’. Jauh banget, kan? Kenapa kita harus memilih yang jauh? Karena semakin jauh hubungan antar-kata akan semakin MEMICU IMAJINASI kita. Itu rahasianya.

Okay, karena ini baru latihan pertama, maka keenam kata kali ini, saya yang akan pilihkan untuk kalian. Jadi semua peserta akan mempunyai kata yang sama. Nanti dari hasilnya kita bisa membandingkan siapa yang imajinasinya paling “GILA”.

Oh, iya satu lagi. Mohon dengan sangat, kalian jangan terlalu cepat puas dengan hasil tulisan pertama. Jangan begitu dapet ide, buru-buru ditulis terus langsung dikirim ke saya. Selama waktu masih ada, proses kreatif tidak boleh berhenti. Manfaatkan ruang imajinasi sebebas-bebasnya dan semaksimal mungkin.Gunakan ruang editing sebaik-baiknya. Tolong baca lagi yang bener lalu sempurnakan. Capek loh baca puluhan tulisan yang tata bahasanya ngaco dengan typo di mana-mana.

Okay. Kalo udah siap, ini keenam katanya:

  1. Bintang
  2. Perahu
  3. Alien
  4. Telanjang
  5. Darah
  6. Ranjang

Keenam kata tersebut harus ada dan berhubungan satu sama lain dan membentuk cerita yang menarik. Ingat! Perhatikan setiap kata lalu masuki setiap makna yang terkandung di dalamnya.

Misalnya kata ‘Bintang’ bisa kita maknai sendiri dengan makna bintang di langit, zodiac, bir bintang, bintang film, semuanya sah-sah saja. Gunakan imajinasi kita seliar-liarnya. Gak ada istilah tabu, jorok, porno dan haram di ruang imajinasi.

Jangan buru-buru masuk ke kata kedua. Selama kita masih asyik berimajinasi dengan kata pertama, ikuti saja terus. Ketika cerita mulai mentok, barulah kita masuk ke kata kedua. Seperti tadi, perhatikan kata tersebut lalu masuki semua maknanya. Dan begitu seterusnya.

Tulisan seperti biasa diposting di social media kalian, ya. Jangan lupa kasih judul yang menarik. Karena berawal dari judullah orang akan membaca tulisan kita. Sekali lagi PR ini buat yang mau aja, ya. Buat yang gak mau karena sibuk atau alasan tertentu, gapapa gak bikin PR. Pokoknya di kelas saya kalian harus nyaman dan harus senang. Saya gak mau ada tekanan deadline atau tekanan harus bikin PR sampe stress. Gak boleh itu. Kita semua harus enjoy…..SETUJU?

Okay cukup sampe di sini. Mike saya kembalikan pada moderator. Silakan, Sep…..

M: Terima kasih Om.

Teman-teman, silakan untuk yg mau bertanya, tulis pertanyaan via WA saya: 0816909xxx. Kita masuk sesi tanya jawab ya

Pertanyaan 1 dari @+62 811-6141-xxx: Assalamu’alaikum , Perkenalkan saya Rudi. Saya sedang menulis buku tapi, sudah sampai bab 3. Ketika mw melanjutkan tulisan saya blank. Malah saya menulis buku ke 2, baru selesai bab 1.

Pertanyaannya, apa yg harus saya lakukan. Melanjutkan buku pertama atau kedua, sementara itu pas mw lanjutin buku pertama saya blank.

Pertanyaan selanjutnya, bolehkah saya mengutip beberapa materi di buku om Bud dengan menyertakan sumbernya?

Terima kasih Om. Barakallah.

N: Wah, ini pertanyaan yang menarik. Dan jawabannya gak ada yang pasti. Misalnya temen saya, dia selalu gak mau menulis buku berikutnya sampe buku yang sedang dikerjakannya selesai. Sedangkan saya sebaliknya. Saya punya novel udah 3 tahun belum kelar-kelar. Padahal dalam kurun waktu 3 tahun yang sama, saya menyeleseaikan dan menerbitkan dua buku lain.

Buat saya menulis buku itu adalah rekreasi. Menulis tujuannya untuk menyenangkan diri sendiri jadi saya ikut mood saya aja. Seperti sekarang ini saya seang menulis 3 buku sekaligus. Itu kalo saya. Jadi kamu ikutin aja kata hati. Yang nyaman aja. Lakukan yang kira-kira paling produktif.

M: Pertanyaan ke-2 dari Fairuz: Aslm, Kang Asep. Ini pertanyaan saya buat Ombud: Apa bedanya cerpenting dengan visual storytelling?

N: Cerpenting adalah Certa Pendek Tidak Penting. Tujuannya adalah berlatih memanfaatkan kejadian sepele sebagai pemicu untuk menulis. Jadi kejadiannya harus sepele. Meskipun sepele tapi kita mampu mengemasnya sehingga pembaca tetap tergugah emosinya.

Visual storytelling adalah cerita yang menggunakan image atau audio visual. Di dalamnya harus terkandung konflik yang merupakan syarat sebuah cerita. Contohnya adalah iklan obat pegel linu yang pernah saya posting. Yang menggunakan patung pancoran.

M: Pertanyaan 3 dari @sosialitatv: Jika slogan atau plesetan yang kita buat dan kita tawarkan langsung kepada company secara pribadi bisa kah? Atau tetap melalui Agency?

N: Ini maksudnya gimana ya? Kok saya gak ngerti pertanyaannya? Bisa dibantu, Sep?

M: Jadi, apa bisa kita ajukan sendiri ke client, atau harus via agency advertising dari sisi etiknya. Mungkin gitu Om?

N: Ooooh, maksudnya kalo kita punya ide buat Telkomsel misalnya, dan kita bukan anak agency. Bisakah kita ajukan langsung ke klien. Gitu kan? Jawabannya sangat bisa. Biasanya klien malah seneng karena membauar perseorangan jauh lebih murah daripada bayar agency. Dulu sih gak bisa karena dulu kode etiknya lumayan strick. Sejak jaman digital semuanya mungkin.

M: Berikutnya dari @Ade R Sobandi : Kenapa cerpen yang dibuat saya berdasar imajinasi lebih kaku daripada yang real terjadi, emosinya lebih dapat.

N: Yang bikin kaku biasanya adalah apa yang kita perbuat di ruang editing. Atau mencampuradukkan ruang imajinasi dan ruang editing. Emosi didapatkan dari imajinasi bukan dari hasil editing.

M: Pas 4 detik sebelum nutup, ada pertanyaan dari @Hakim | www.LARIZKA.com, Om: Saya Hakim, mau tanya ke Om Bud. Terkait ruang imajinasi dan ruang editing yang tadi dipaparkan. Ketika saya mulai menulis, biasanya saya membaca tulisan saya. Kalau apa yang saya tulis ternyata typo, rasanya nggak nyaman banget di mata. Alhasil, saya langsung mengeditnya agar bener sesuai tata bahasa yang saya tahu.

Untuk orang yang cukup perfeksionis seperti saya, tips seperti apa yang tepat agar nggak mudah kepengen ngedit di ruang imajinasi ya, Om?

N: Seperti yg saya tulis sebelumnya, ketika menulis kita akan mulai berpikir, lalu nerpikir sambil berimajinasi, selanjutnya berimajinasi tanpa berpikir. Kalo masih gatel pengen benerin typo berarti sebagai penulis kita belum membebaskan imajinasi untuk menguasai diri kita. Saran saya, lawan aja. Pertanyaan ini sama dengan pertanyaan, saya kok mau bangun dari tempat tidur kok males ya? Soalnya masih ngantuk. Jawabannya gak ada yang lain….PAKSA! Itu memang proses yang harus kita jalani. Kita memang gak bisa sekonyong-konyong ahli pada suatu hal. Semua ada prosesnya.

M: Satu lagi Om dari @emma holiza: Malaaam.. antara nanya sama curhat nih om. Kok setelah ikut kelas ini dan tahu beberapa ilmunya, saya kok malah mandeg, gak PD dan menguap creative attitudenya yaa? Kira – kira apa yang salah nih dari saya? 🤔😁

N: Gak ada yang salah. Saya juga dulu begitu. Untungnya saya punya group WA mantan pendaki gunung jaman kuliah dulu. Biasanya saya kirim ke group itu dan minta pendapat mereka. Kadang saya minta pendapat tanpa menyebutkan bahwa saya penulisnya. Kalo reaksi mereka positif, baru deh kePDan saya tumbuh dan langsung saya posting.

M: Sepertinya pertanyaan Emma terakhir Om. Dan sekarang sudah pukul 22 lewat. Saatnya sesi berakhir. Sebelumnya, silakan kalo ada closing speech Om.

N: Thank you, Sep.

Teman-teman sekalian. keenam kata dari saya di atas mohon dicoba ya (buat yang mau). Karena kata-kata itu uda melalui proses pemilihan yang cukup rumit dari berpuluh-puluh kata yang kami kumpulkan. Ke enak kata tersebut yang paling memancing ide dan imajinasi. Semoga tulisan kalian jadi bagus dan unexpected ya. Insya Allah.

Okay saya cukupkan sampe di sini. Selamat malam teman-teman.

M: Terima kasih, Om Budiman Hakim. Terima kasih teman-teman semua. Semoga sharing ini bermanfaat buat kita ya. Baiklah… Sesi Sharing sementara saya tutup, dan forum saya kembalikan ke ruang bebas chat untuk teman-teman. Mari kita beri applause dan ucapan terima kasih untuk Om Budiman Hakim ya. Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.😊🙏👏👏👏