Belajar Menulis Bersama Om Bud (Bagian 6)

Hari ini, 27 Juni 2019, kembali dilanjutkan kulwap menulis oleh Om Bud dan moderator Kang Asep, yang memasuki sesi keenam. Silakan menyimak rangkumannya.

M: Teman-teman, siap-siap kita masuk sesi ke-6 ya.😊 Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh, teman-teman The Writers. Selamat malam. Di Sesi ke-6 ini, Om Budiman Hakim akan membawakan tema asik, “Imajinasi dan Rima”.

Seperti biasa, biar tertib, mohon diperhatikan regulasinya ya:

  1. Sharing akan dibagi 2 sesi, Sesi Sharing Materi (pk. 20.00 – 21.30); dan Sesi Tanya Jawab (pk. 21.30-22.00)
  2. Selama sharing berlangsung, member dilarang posting apapun, kecuali diminta oleh pemateri atau moderator
  3. Member diharap menyampaikan pertanyaan lewat WA saya sebagai moderator (0816909xxx). Saya akan utamakan 5 pertanyaan pertama untuk disampaikan ke pemateri di Sesi Tanya Jawab. Kalau masih ada waktu, pertanyaan berikutnya akan disampaikan ke pemateri.

Oke teman-teman, langsung aja yuk kita sambut Om Budiiiimaaaan Haaaaakiiiiim…. Monggo Om…

N: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdullilah kita sudah memasuki Sharing Penulisan, sesi 6. Sebelumnya saya akan sedikit mereview tentang Metode ‘Menulis Tanpa Ide’ yang kita lakukan tadi malam. Namanya juga baru satu kali dilakukan, pastinya belom terlalu ngelotok, kan?

Ada beberapa catatan yang mungkin perlu diingat. Dalam metode “Menulis Tanpa Ide”  kita harus menuliskan MINIMAL 6 benda. Mau lebih juga boleh tapi jangan terlalu banyak. Keenam benda tersebut berfungsi sebagai PIJAKAN untuk mulai menulis. Jadi kita bukan hanya menuliskan HURUF tapi juga membuat pijakan untuk berIMAJINASI.

Mulailah menulis berdasarkan benda pertama. Biarkan imajinasi kita bergerak berdasarkan tulisan tadi. Selama masih seru bermain dengan imajinasi dari sebuah benda, biarkan proses menulis tersebut berjalan. Ketika akhirnya sudah mentok, gak tau harus menulis apa lagi, barulah kita masuk ke benda kedua. Jalankan proses penulisan seperti sebelumnya sampe imajinasi kita mentok lagi. Kalo udah mentok baru ke benda ketiga. Dan begitu seterusnya.

Ada seorang peserta ngejapri dan ngajak diskusi. Ternyata peserta ini justru terpenjara oleh benda-benda yang dipilihnya sendiri. Dia bingung mau mulai dari benda yang mana, terus dia merasa porsi benda A kok lebih dominan dari benda B. Kok, benda C susah masukinnya? Jadi peserta ini bukannya mendapat pijakan imajinasi tapi justru proses imajinasinya terhambat dalam 6 kata yang dia pilih sendiri. Orang ini bukannya berimajinasi untuk mencari cerita tapi terlalu fokus memikirkan cara menggabung 6 benda tersebut.

Ingat! 6 benda yang kita pilih hanya berfungsi sebagai pemicu awal kalimat dan pemicu imajinasi. Jadi benda-benda tersebut adalah alat bantu dan gak wajib ada. Kenapa gak wajib ada? Begini.

Misalkan salah satu benda adalah ‘bantal’. Kemudian kita menuliskan “Anakku tidur lelap sekali…”, maka kalimat itu sudah merepresentasikan kehadiran ‘bantal’. Jadi kata ‘bantal’ tidak perlu dituliskan lagi. Dia hanya alat bantu imajinasi.

Dan satu lagi yang perlu dipahami bahwa proses penulisan berdasarkan 6 benda tadi hanyalah cara untuk mendapatkan ide. Hasil tulisan kita juga hanya sebagai pemicu untuk mendapatkan ide.

Ada orang ketika menggarap tulisan tersebut lalu mendapat ide. Kemudian dia menuliskan ide tersebut di tempat yang terpisah. Ada juga orang yang menemukan ide, lalu menuliskan ide tersebut menjadi kesatuan dengan tulisan penggabungan 6 benda. Dan itu gak masalah! Semuanya sah! Jadi pilih yang nyaman aja.

OK sekarang kita masuk ke imajinasi.

IMAJINASI

Dari semua tulisan cerpenting yang masuk, saya bisa menyimpulkan bahwa hampir semuanya rata-rata udah jago menulis. Sayangnya, kalian hanya bercerita sesuai dengan apa yang terjadi sesuai dengan PENGALAMAN yang kalian alami.

Saya udah bilang berkali-kali bahwa ketika kita ingin menulis cerita, kita butuh PEMICU. Nah PENGALAMAN yang kalian alami itu adalah sekedar PEMICU. Sekali lagi, hanya berfungsi sebagai PEMICU.

Ingat! Kita lagi belajar menulis. Kita lagi memancing IMAJINASI berdasarkan pemicu yang kita miliki. Jadi jangan menulis cerita sesuai dengan pemicunya.

Pemicu adalah pijakan pertama utuk menulis. Dari pijakan itu kita harus melangkah, melangkah dan terus melangkah mengikuti ke mana imajinasi kita pergi. Biarkan imajinasi kita melangkah ke mana pun dia mau. Bahkan biarkan imajinasi kita berlari sejauh-jauhnya. Kalau perlu lepaskan imajinasi kita terbang setinggi-tingginya. Semakin liar sebuah imajinasi, maka akan semakin bagus tulisan kita. Kenapa?

Karena cerita kita jadi gak ketebak. Cerita kita jadi unik. Cerita kita akan menjadi unexpected. Cerita kita akan memberi surprise yang luar biasa bagi pembacanya.

PENGALAMAN FISIK DAN PENGALAMAN BATIN

Ada banyak cara untuk mengembangkan cerita. Biasanya kita mencari pemicu dari pengalaman yang kita alami. iya, kan? Nah, yang perlu dipahami adalah ketika kita mengalami sesuatu, maka sebenernya ada 2 hal yang sedang terjadi, 1. Pengalaman fisik. Dan 2, pengalaman batin.

Ketika hendak menulis, coba dipertimbangkan baik-baik. Jangan-jangan pengalaman batin kita lebih seru dibandingin dengan pengalaman fisik yang kita alami. Kalo benar itu yang terjadi, maka tulislah pengalaman batin tersebut lebih besar porsinya daripada pengalaman fisik. Percaya, deh! Kalian pasti surprise dan gak akan percaya apa efek yang akan terjadi pada cerita kita tersebut.

Saya kasih contoh ya. Pernah suatu hari, saya bersama Jimmy dan Asep mampir ke rumah Pak Sapardi Djoko Damono. Namanya juga ketemu penulis besar, kami langsung ngajak diskusi tentang segala hal yang berkenaan dengan penulisan. Cukup lama juga kita berada di rumah Pak Sapardi. Mungkin sekitar 4 jam lebih kalo gak salah.

Sepulangnya dari rumah Pak Sapardi, saya menulis pertemuan itu di Facebook. Tulisan itu mendapat banyak like, komen dan share yang cukup banyak. Sebagian komen mengatakan bahwa cerita saya seru banget. Mereka iri karena saya punya kesempatan bertemu dengan Begawan kata yang kondang tersebut. Lucunya, Jimmy juga ikutan komen.

Dia bilang begini, “Cerita Om Bud kok jadi seru banget, ya? Padahal gue juga ada di sana. Dan suasananya waktu itu biasa dan datar-datar aja.”

Hehehehe… Hayoooo kenapa bisa begitu? Apa yang diomongin Jimmy betul. Suasana waktu itu gak begitu seru. Suasananya biasa aja kayak orang lagi ngobrol biasa. Secara pengalaman fisik memang suasananya biasa aja. Tapi perlu diketahui, di artikel yang saya posting, saya banyak menuliskan pengalaman batin saya.

Saya, DI DALAM HATI, berkali-kali mengungkapkan kekaguman saya pada Sapardi. Saya MEMIKIRKAN pertanyaan apa yang akan saya lempar. Dan saya TERPESONA (dalam hati) dengan pandangan-pandangan beliau dalam menjawab pertanyaan itu.

Tentu saja semua hal tersebut tidak muncul dalam pengalaman fisiknya. Tentu saja Jimmy tidak menangkap apa yang terjadi di hati dan pikiran saya. Karena semua pengalaman seru tersebut hanya terjadi di dalam hati saya. Semua yang ada di pengalaman batin itulah yang saya tumpahkan dalam tulisan. Itulah jawaban kenapa Jimmy merasa peristiwa tersebut bisa jadi seru. Padahal dia juga ada di sana. Jelaslah karena yang Jimmy lihat adalah pengalaman fisiknya saja.

MENGAKTIFKAN IMAJINASI

Hal yang juga luar biasa penting adalah bagaimana mengaktifkan kemampuan imajinasi kita. Ketika kita mengalami sebuah pengalaman , maka di saat itu pula IMAJINASI kita juga terbentuk. Artinya pengalaman adalah pijakan untuk memulai imajinasi.

Misalnya, saya berimajinasi bahwa akhirnya saya berhasil menguras ilmu penulisan dari Pak Sapardi. Kemampuan saya begitu hebat sehingga akhirnya saya mendapat hadiah nobel dalam bidang sastra. Acara tersebut diselenggarakan di kota Paris, Perancis. Dalam acara penganugerahan hadiah nobel tersebut, saya mengundang Sapardi sebagai guru yang telah membesarkan saya. Sebagai guru yang paling berjasa tentu saja saya harus mengajak Pak Sapardi sebagai penghargaan seorang murid pada gurunya.

Menarik, kan? Pokoknya biarkan imajinasi itu bisa berkembang terus.

Saya bisa bercerita tentang kota Paris yang sedang bersalju. Saya bisa berkisah bagaimana Pak Sapardi jatuh sakit karena sudah terlalu tua dan tidak tahan dengan udara dingin. Ya, wajarlah Pak Sapardi sakit karena saat itu winter, berangin dengan temperatur minus 10 derajat celcius.

Mau lebih ekstrim? Saya bisa bercerita tentang menara Eiffel yang tiba-tiba rubuh karena gempa bumi. Intinya biarkan imajinasi kita berjalan, kita sebagai penulis tinggal mengikuti dan menuliskannya saja.

Dan yang paling ajaib adalah kita akan mencapai sebuah titik di mana kita tidak lagi bisa mengendalikan imajinasi kita. Yang terjadi adalah sebaliknya. Imajinasi kitalah tiba-tiba yang mengambil alih kontrol atas penulisnya. Kita merasa bukan kita lagi yang menulis cerita itu. Kita merasa didiktekan oleh sebuah enerji yang entah dari mana datangnya. Peran kita cuma seperti tukang ketik yang sedang didiktekan oleh boss kita.

Ketika tulisan kita selesai barulah kita tersadar. Lalu kita membaca lagi cerita yang sudah tertulis. Dan apa yang terjadi? “Kita kebingungan sendiri, “Masya Allah! Kok bisa-bisanya ya gue menulis cerita seperti ini?”

Di situlah kehebatan sebuah imajinasi. Dan itu berkah Allah yang luar biasa, jadi jangan pernah disia-siakan. Manfaatkanlah semaksimal mungkin.

Teman saya, almarhum Alex Komang, sehabis membaca buku saya yang berjudul “Sex After Dugem” berkomentar, “Saya gak percaya Budiman Hakim bisa menulis seperti itu. Saya bersahabat dengan Budiman Hakim bertahun-tahun sehingga saya sudah mengenalnya dengan baik. Tapi saya senang bisa membaca buku ini karena saya jadi lebih mengenal karakter Budiman Hakim yang selama ini saya tidak temukan.”

Ini bukunya

Yg nulis testimoni buku ini antara lain Sapardi Djoko Damono, Erwin Arnada, Tika Bisono, Butet Kertaradjasa dan Alex Komang.

M: Interupsi Om.

N: Ya silakan, Sep

M: Bila ada teman-teman yang sudah memiliki pertanyaan, silakan ditlis via WA saya ya, di 0816909xxx.

Terima kasih. Silakan lanjut Om.

N: Thank u, Sep. Kita lanjut ya….

Kenapa Alex bisa berbicara seperti itu? Jawabannya adalah, karena IMAJINASI ITU LUAR BIASA dan biasanya imajinasi tertanam dalam diri seseorang dan HAMPIR TIDAK PERNAH MUNCUL DI PERMUKAAN dirinya.

Ada satu hal yang sering bikin saya jengkel. Setiap kali saya ngasih pelajaran betapa hebatnya sebuah imajinasi, selau saja ada pertanyaan dari peserta, “Berarti cerita kita dibuat-buat, dong. Apa gak berarti kita bo’ong? Bukankah agama melarang umatnya untuk berbohong?”

Hadeuh! BT gak sih?

Persoalannya kan bukan bo’ong atau tidak. Kita kan memang lagi belajar menulis. Menulis itu yang paling penting adalah memaksimalkan PIKIRAN dan IMAJINASI. Tulisan yang bagus itu adalah yang mampu memancing pembacanya BERPIKIR dan BERIMAJINASI. Kalo ternyata imajinasi kita bagus dan pas ditulis jadinya keren, kita bikin aja jadi novel. Gak ada lagi urusan bo’ong atau gak bo’ong. Karena novel adalah cerita fiksi.

Ketika kita membaca buku Harry Potter, kita, kan, gak bakalan nanya,  “Ah, ini mah pasti bo’ong. Mana mungkin ada tukang sihir dan orang terbang segala?”

Jadi teman-teman. Gunakanlah imajinasi dan creative attitude kita semaksimal mungkin. Pergilah ke luar rumah karena ide jarang sekali mampir ke rumah kita untuk minta ditulis. Ide itu harus dijemput. Sekali lagi pergilah ke luar rumah. Lalu aktifkan semua pancaindera kita. Apapun yang tertangkap oleh pancaindera bisa jadi itu adalah embrio yang berpotensi melahirkan ide-ide yang keren. Karena sesepele apapun hal yang tertangkap oleh pancaindera kita, hal itu adalah sebuah pengalaman juga. Dan semua penulis hampir selalu menulis sesuatu berangkat dari pengalaman yang dialaminya sendiri.

Ketika imajinasi dan hasil pikiran telah ditemukan, kita harus MENGEMASNYA dalam sebuah tulisan yang menarik. Bagaimana cara mengemas sebuah tulisan sehingga orang betah membacanya dan kagum pada tulisan kita? Caranya ada banyak. Salah satunya adalah dengan menggunakan RIMA.

Banyak temen saya ngomong, “Kalimat penutup acara Matanjawa itu selalu bagus, ya? Jago banget tuh copywriter-nya.”

Kita tentu tahu di acara Mata Najwa, ending-nya selalu ada kata penutup yang dibacakan oleh Najwa Shihab yang isinya juga merupakan pesan yang berkaitan dengan tema yang dibahas sesuai episode saat itu.

“Apanya yang bagus? Pesennya? atau susunan kalimatnya?” tanya saya pada temen yang ngomong di atas.

“Secara umum semuanya bagus, sih,” jawab orang itu.

“Gak bisa gitu! Coba jelaskan lebih spesifik.” desak saya sampe membuat orang itu kebingungan.

Setelah saya desak terus sambil ngajak diskusi, akhirnya keluar juga jawaban yang lebih spesifik, “Kalimatnya berima jadinya enak didengar sehingga pesannya juga gampang masuk.” katanya.

Begitu juga yang terjadi pada orang kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Mereka semuanya bilang bagus dan ternyata memang RIMA-nya yang membuat kalimat-kalimat itu menjadi menonjol. Dan saya setuju bahwa kalimat-kalimat penutup Mata Najwa memang bagus dan rimanya memang mengambil peran besar pada estetika kalimat tersebut misalnya:

“Hukum yang dibiayai transaksi suap, membuat wajah peradilan begitu gelap.” Sumber dari episode: Mafia Perkara

“Tiap orang bisa punya mimpi, tapi tak semua bisa bangkitkan semangat tinggi.” Sumber dari episode: Penebar Inspirasi

“Di pundak pemimpin yang bebas korupsi, di situlah masa depan negeri.” Sumber: Perisai Antikorupsi

“Kebenaran & kepastian mengapung, di antara uang & kuasa yang mengepung.” Sumber: Mafia Perkara

“Berbuat untuk sebuah harapan, yang tidak lagi dikeluhkan tetapi diperjuangkan.” Sumber: Diam Bukan Pilihan

“Timur adalah kita yang terjaga lebih dulu, timur adalah Indonesia yang tak sabar menunggu.” Sumber: Melihat Ke Timur

“Apa arti ijazah yang bertumpuk, jika kepedulian dan kepekaan tidak ikut dipupuk?” Sumber: Dari Jogja Untuk Bangsa

Sebelum kita bahas lebih jauh, mungkin kita perlu mengkaji apa yang melatarbelakangi munculnya sebuah rima. Saya kira begini sejarahnya:

Pertama kali manusia berinteraksi atau berkomunikasi pastilah mereka menggunakan mulut untuk berbicara. Apabila bahasanya berbeda, mereka akan menambah bantuan dengan bahasa tubuh. Apakah mereka menggunakan bahasa tulis? Belum! Bahasa tulis belum lahir waktu itu.

Bahasa lisan muncul jauh sebelum bahasa tulis. Karena orang berkomunikasi dengan mulut makanya disebut dengan bahasa lisan. Bahasa lisan sama umurnya dengan peradaban manusia. Zaman bahasa lisan dipenuhi oleh mitos, dongeng, mantra sakral dan doa-doa ritual perdukunan.

Segala macam budaya tersebut terutama yang sakral tentu harus dilestarikan untuk diturunkan kepada anak cucu mereka. Masalahnya zaman itu belum ada yang namanya bahasa tulis. Lalu apa yang harus diperbuat?

Di waktu itulah yang namanya rima dibutuhkan. Rima sengaja diciptakan untuk memudahkan orang untuk menghapal segala mantra dan doa-doa tadi. Dengan adanya rima, maka semua cerita dan mitos jadi gampang diingat dan bisa diwariskan pada generasi berikutnya dengan utuh. Hopefully…😃

Jadi bisa disimpulkan bahwasanya, Rima itu sebenarnya tercipta untuk kepentingan bahasa lisan. Namun dalam perjalanannya, manusia menganggap rima itu bukan hanya gampang diingat, akan tetapi juga enak didengar dan enak diucapkan.

Secara umum muncul asumsi bahwa kalimat yang berima itu jadinya lebih indah. Karena itulah, walaupun zaman bahasa tulis telah berlangsung berabad-abad, orang masih suka menggunakan rima, entah itu penulis prosa, penulis puisi, penulis naskah iklan sampai penulis status Facebook…Dan gak ada yang salah dengan hal itu.

Sekarang pertanyaannya adalah haruskah kita menggunakan rima dalam sebuah penulisan? Ya gak harus sih. Tapi buat saya, sebisa mungkin, sebuah kalimat lebih baik dicari rimanya.

Perlu dicatat, jangan pernah mempertanyakan apakah lebih penting pesan atau rima. Kedua hal tersebut bukan untuk dipertentangkan. Kedua faktor tersebut justru harus bahu membahu dan bekerja sama agar pesan tersebut jadi semakin menarik. Jadi perlu digarisbawahi; jangan pernah mengorbankan pesan demi sebuah rima. Sebuah rima seyogyanya membuat pesan kita semakin KUAT. Selain lebih kuat tentunya kalimat tersebut pasti jauh lebih mudah DIINGAT. Eh? Udah berima juga tuh tulisan saya. Hehehehe…..

Waktu jaman SBY berkuasa, Harian Kompas pernah membahas hal yang sangat menarik. Di sana dibahas tentang kritik-kritik yang ditujukan pada performance Presiden SBY. Kompas menulis bahwa dari begitu banyaknya kritik yang ada, hanya kritikan Megawatilah yang paling menonjol. Mengapa demikian? Selidik punya selidik, kalimat kritikan Megawati selain kritiknya pedas, ternyata menggunakan rima.

  1. Seorang Presiden seharusnya TEBAR KINERJA, bukan TEBAR PESONA.
  2. Janganlah berjanji setinggi LANGIT, kalau kemampuan hanya sekaki BUKIT.

Di sini terlihat bahwa dari zaman dulu sampai sekarang, tua-muda, rakyat jelata sampai presiden, semuanya suka pada rima.

Sebagai penutup, saya ingin mengingatkan,  jangan pernah meremehkan kekuatan rima. Kenapa? Karena bukan cuma manusia kok yang seneng sama rima. Allah SWT juga demen banget sama rima. Kalo gak percaya, baca aja tuh Al Quran. Contohnya:

Qul hu wallaahu ahad

Allaa hush-shamad

Lam yalid walam yuulad

Walam yakullahu kufuwan ahad,

Coba lihat, berima, kan? Jadi kalo Tuhan saja merasa perlu menggunakan rima untuk menyampaikan pesan berarti penggunaan rima itu sangat penting. Karena cara Tuhan pastilah cara yang terbaik.

Waduh! Udah jam 9,40. Saya cukupkan sampe di sini dulu. Mike saya kembalikan ke moderator. Silakan, Sep….

M: Baik Om. Teman-teman, silakan yang mau bertanya, tulis via WA saya di 0816909012 ya. Kita masuk ke Sesi Tanya Jawab.

M: Pertanyaan pertama dari Shwa:

Setiap penulis kan memiliki gaya menulisnya masing-masing (ciri khas), tapi bagaimana caranya untuk mengeluarkan ciri khas tsb tanpa terkesan monoton atau itu-itu saja?

N: Ciri khas itu adalah barang antik. Kadang seorang penulis bisa langsung menemukan ciri khas dalam buku pertamanya. Tapi itu jarang terjadi. Hampir di semua bidang hal ini terjadi. Misalnya sebuah band akan menyanyikan lagu orang lain dulu. Kemudian setelah dikenal orang barulah perlahan-lahan dia menemukan ciri khasnya. Dan ini prosess yang memang harus dijalani. Jadi saran saya sering-seringah menulis. Dalam perjalanan proses itu biasanya kita akan menemukan ciri khas kita.

M: Pertanyaan ke-2 dari Rudi: Assalamu’alaikum om. Maaf oot, apa beda copywriting dan storytelling?

N: Copywriting adalah penulisan naskah iklan. Storytelling adalah salah satu metode penulisan.

M: Pertanyaan ke-3 dari Ridzky: Saya pernah buat tulisan ini buat diri sendiri saat ulang tahun kemarin.  Apakah sudah berima?

Aku tidak bisa mengingkari kerut halus di sudut mata atau helai putih yang tiap dua pekan sekali dipoles shampo noni. Tetap sehat jasmani & rohani di sisa usia adalah pintaku pada Illahi, dan menjadi sosok yang berarti untuk siapapun nanti.

N: Iya berima. Next!

M: Pertanyaan ke-4 dari Yudhie: Berima berarti harus punya banyak pembendaharaan kata. Pertanyaan saya : Bagaimana cara mudah dan efektif untuk memperbanyak pembendaharaan kata?

N: Hahahaha…waduh pertanyaannya. Saran saya, coba sering-sering browsing di google. Pake aja kata kunci ‘kata yang berakhiran -an’. Atau berakhiran apa aja sesuai dengan yg kita butuhkan.

M: Pertanyaan ke-5 dari Fadyal: Apakah meningkatkan daya imajinasi, sama juga dengan meningkatkan banyak referensi?

N: Referensi itu fungsinya untuk mencari bahan pijakan berimajinasi. Kita membaca referensi lalu kita teringat pada apa? Lalu biarkan ingatan tersebut menjelma menjadi sebuah imajinasi kemudian biarkan imajinasi itu menjalar sejauh mungkin

M: Pertanyaan ke-6 dari Fairuz: Aslm.. Ini pertanyaan saya buat Ombud hr ini: Seseorang pernah bilang kepada saya, bikin novel itu bisa bertahun-tahun. Apakah imaginasi itu perlu ditingkatkan supaya bikin novelnya tidak terlalu lama?

N: Novel itu fiksi. Fiksi itu imajinasi. Jadi imajinasi mutlak harus ditingkatkan. Jadi jangan kita mau bikin novel baru berimajinasi. Setiap ada pemicu biarkan pikiran kita berimajinasi lalu tuliskan.

Membuat novel itu itu memang waktunya sulit ditebak. Saya punya novel yang belum kelar2 padahal udah lebih dari 2 tahun. Tapi pernah juga saya bikin novel cuma dalam waktu 7 hari. Kenapa bisa begitu? Karena tabungan tulisan saya yg berasal dari imajinasi udah banyak dan kebetulan cocok dengan novel yang saya tulis. Jadi tinggal saya tulis dan bikin bridgenya supaya kontinyuitasnya terbentuk. Selesai.

M: Pertanyaan ke-7 dari Billy: Yth. Malam, nama saya Billy. Berarti rima itu sama seperti pantun yang dulu diajarkan ke kita waktu sekolah ya Om? Dengan struktur AAAA BBBB dan ABAB atau ABCAB dan sebagainya?

Karena struktur rima panjang, apakah rima yang kita tulis/orang lain tulis bisa didaftarkan atau “dimiliki” oleh orang tertentu? Misalnya kalau kita pasang di slogan, apakah ada orang yang mengklaim “eh, punya gua tuh”, dan harus minta ijin dulu? Atau bayar. Apakah bisa di “klaim” milik satu orang tertentu?

Terima kasih, om Asep & om Budiman.

N: Wajarnya kita harus minta ijin karena kita harus respek sama karya orang lain. Bisa jadi orang tersebut minta dibayar, kalo saya ya bayar aja atau gak usah pake. Walaupun sebenernya, kalo kita klaim sebagai milik kita agak sulit buat orang tersebut menuntut kita.

Karena sebuah karya yang tidak didaftarkan ke Kamar Hak Cipta, sulit buat orang tersebut memenangkan perkara di pengadilan. Saran saya seperti di atas; kita harus respek sama karya orang jadi minta ijinlah.

M: Pertanyaan ke-8 dari Ocha R. Karnita: 1. Bagaimana cara kerja otak terkait dengan proses imajinasi? , 2. Bagaimana kita bisa tahu kalau imajinasi yang kita lakukan bisa jadi tulisan yang kreatif?

N: Coba kamu membuat tulisan dengan tema “Kalo saya terlahir kembali maka saya ingin menjadi………dan melakukan………..” Pasti tulisannya akan penuh dengan imajinasi.

Atau bisa juga bikin tulisan dengan tema “Kalo saya punya mesin waktu, saya akan………..” Tulislah maka imajinasi kamu akan bekerja. Bekerjanya gimana? Rasakan aja sendiri.

M: Pertanyaan ke-9 dari Luqman: Saya kalau nulis buat kerjaan/ buat orang lain bisa cepet. Tapi waktu nulis buat diri sendiri lama. Apakah ini umum atau saya aja. Kira2 sebabnya apa?

N: Itu fenomena umum. Kita semua butuh deadline dan butuh orang yang ngejer-ngejer kita, “Kerjaan udah sampe mana? Pokoknya harus kelar tanggal sekian, ya!”

Begitu kerjaan untuk diri sendiri, kita gak punya teror seperti itu. Makanya saya sarankan kita menyusun target buat diri sendiri lalu mendisiplinkan diri untuk memenuhi target tersebut. Susah memang tapi gak ada lagi yang bisa dilakukan kecuali itu.

M: Om, pertanyaan Luqman pertanyaan terakhir. Dan sepertinya saatnya sesi kita berakhir.

N: Okay

M: Silakan barangkali ada closing speech Om.

N: Ok Sep.

Teman2, setelah kita mencoba latihan ini, kita bisa membayangkan betapa sulitnya team kreatif yang bekerja di acara Mata Najwa. Khususnya yang bertugas membuat tulisan di ending di acara ini. Jadi kita perlu berempati pada orag kreatif tersebut. Apalagi mengingat Najwa Shihab konon orangnya galak banget. Hehehehe.

OK, sekarang kita latihan membuat Rima, ya? Ini buat yang mau dan sempet aja. Kalo gak ada waktu juga gapapa kok. Dua bulan lagi kan Hari Kemerdekaan, coba bikin ucapan ‘Selamat Hari Kemerdekaan’ yang indah dan orsinil.

Boleh bikin yang patriotik, boleh humor, boleh parodi, pokoknya apa aja boleh. Syarat mutlaknya adalah seluruh kalimat harus BERIMA. Rimanya boleh aaaa, abab, aabb, abba…terserah. Tulisannya cukup 4 baris saja. Gak usah panjang-panjang.

Sebelumnya, saya mau ngasih tips supaya kalian dapet pemicu untuk menuliskannya. Caranya sederhana; buatlah komponen makna berdasarkan kata ‘Hari Kemerdekaan”

Misal : Hari Kemerdekaan adalah : 1. Upacara Bendera, 2.Perlombaan, 3. Panjat Pinang, 4. Pidato Presiden, 5. Mengenang pahlawan dsb. 6. Perang melawan penjajah. 7. Pembacaan proklamasi. 8. Soekarno-Hatta 9. Dll. Kumpulin aja komponen maknanya sesuai dengan pengalaman hidup masing-masing.

Tulisan diposting di group aja dan kita akan bahas sama. Saya dan Asep juga akan berusaha komen kalo ada waktu senggang. Selamat bekerja. Wabillahi taufiq walhidayah, wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

M: Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih Om Bud untuk sharingnya. Terima kasih juga teman-teman untuk antusiasmenya.

Baiklah. Sementara sharing session kita tutup dulu ya. Kita akan ketemu lagi Selasa minggu depan, masih bersama Om Budiman Hakim. Dengan ini, forum saya kembalikan jadi forum bebas chat. Silakan berdiskusi, dan mari kita beri applause yang meriah untuk Om Budiman Hakim. Wassalamu alaikum warahmtullahi wabarakatuh. Selamat malam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *