Belajar Menulis Bersama Om Bud (Bagian 3)

Sesi ketiga kuliah menulis dengan Om Bud dilaksanakan pada Jumat, 21 Juni 2019. Untuk membaca materi sebelumnya, bisa klik di sini dan di sini. Berikut adalah rangkuman kuliah dengan topik Cerpenting.

M: Teman-teman, siap-siap yaaa. 20 menit lagi kita masuk sharing bareng Om Budiman Hakim. Di sesi ke-3 ini Om Bud bakal membawain tema, “Cerpenting!” Wahhhh, apaan lagi tuh? Biar Om Bud ntar yang menjelaskan ya, hahaha…

Sebelumnya, seperti biasa, biar tertib, mohon diperhatikan regulasinya ya: 1. Sharing akan dibagi 2 sesi, Sesi Sharing Materi (pk. 20.00 – 21.30); dan Sesi Tanya Jawab (pk. 21.30-22.00) 2. Selama sharing berlangsung, member dilarang posting apapun, kecuali diminta oleh pemateri atau moderator 3. Member diharap menyampaikan pertanyaan lewat WA saya sebagai moderator (0816909xxx). Saya akan utamakan 5 pertanyaan pertama untuk disampaikan ke pemateri di Sesi Tanya Jawab. Kalau masih ada waktu, pertanyaan berikutnya akan disampaikan ke pemateri.

Oke teman-teman, langsung aja yuk kita sambut Om Budiiiimaaaan Haaaaakiiiiim….

N: assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Kemaren malam kita sudah belajar mendalami Creative Attitude dengan cara membuat caption di aplikasi Instagram. Malam ini kita akan lanjut dengan membuat cerita yang mempunyai SOUL. Bagaimana menulis cerita yang menggugah emosi sehingga cerita tersebut mempunyai nyawa.

Sebelum kita mulai, saya akan bercerita dulu. Boleh ya? Judul cerita saya adalah:

Kalian semua tau film Star Trek, kan?

Sebuah film futuristic yang bercerita tentang petualangan sekelompok orang dengan kapal ruang angkasa Enterprise mengembara galaxy. Ekspedisi itu dipimpin oleh Captain Piccard seorang kapten yang berkepala botak. Buat yang belom pernah liat, silakan cari di Youtube.

Di dalam kapal itu, ada dua orang crew yang bersahabat. Yang satu bernama Lieutenant Commander Geordi La Forge, seorang teknisi yang selalu menggunakan visor, sebuah alat bantu penglihatan. Visor adalah singkatan dari “Visual Instrument and Sensory Organ Replacement”. Sahabatnya bernama Mr. Data.

Kenapa dinamakan Data? Karena Mr Data sebenernya bukan manusia. Dia adalah sebuah rekayasa android. Sedangkan Geordi adalah teknisi yang selalu menservis mesin di dalam kepala data.

Secara berkala para crew sering berkumpul di sebuah lounge dalam pesawat. Ketika itu ada acara pembacaan puisi dari Captain Picard yang diciptakan dan dibawakannya sendiri. Puisi itu begitu indah sehingga semua penonton di lounge bertepuk tangan riuh sekali. Semua memuji kepiawaian Sang Kapten dalam menciptakan puisi.

“Kenapa orang begitu kagum pada puisi Captain Picard?” tanya Data pada sahabatnya. Saat itu Geordi sedang mereparasi sirkuit komputer yang ada di kepala Data.

“Karena puisinya bagus,” jawab Geordi sambil membuka kepala Data lalu menancapkan stop kontak di kepala temannya.

“Saya bisa membuat puisi jauh lebih bagus daripada yang dibuat oleh Captain,” tukas Data.

“Oh ya? Kenapa kamu gak buat? Nanti saya bookingin lounge untuk acara pembacaan puisi kamu,” kata Geordi lagi sambil menyetrum Data untuk menambah tenaganya.

Singkat kata, pembacaan puisi pun terlaksana. Dengan suara mantap, Mr Data membaca untaian kata yang diciptakannya. Rangkaian kata-kata indah mengalir dari mulutnya…tapi apa reaksi penonton?

Believe it or not, gak ada satupun yang memberi apresiasi. Memang ada beberapa orang yang bertepuk tangan tapi itupun hanya karena rasa kasihan pada si pembaca puisi. Lalu sebenernya apa yang terjadi?

Selesai acara itu, Data menemui Geordi dan bertanya, “Kenapa tidak ada orang yang mengapresiasi puisi saya?”

“Karena kamu sudah berkoar-koar mengatakan bahwa puisi kamu lebih bagus daripada puisi Captain Picard dan nyatanya tidak,” sahut Geordi.

“Menurut kamu, puisi saya lebih jelek daripada punya Kapten?” “Jelek sih nggak, tapi puisi Kapten lebih bagus,” sahut Geordi lagi.

“Kenapa puisi Kapten lebih bagus? Pilihan kata saya lebih indah. Secara matematis jumlah huruf dalam setiap kata sama, jumlah suku kata, kata dan kalimat juga jumlahnya sama.

Secara algoritma, rangkaian kata yang saya pilih pertautannya jauh lebih match satu sama lain. Saya justru merasa pilihan kata Kapten sering kacau dan tidak berhubungan satu sama lain.”

Jreng….jreng…!!!

“Masalahnya bukan di kata-kata, Data,” Geordi berusaha menerangkan.

“Jadi apa masalahnya?”

“Seperti kamu bilang, puisi kamu adalah rangkaian kata-kata indah yang kamu gabungkan secara matematis.”

“Lalu kenapa?”

“Your poem is only words. There is no SOUL and there is no EMOTION in your poem,” kata Geordi lagi.

“Of course, not! I am Android. I have no soul. I have no emotion.” jawab Data lagi dengan lugu.

Saya terharu sekaligus geli melihat adegan itu.

Data adalah seorang robot tentu, saja dia tidak punya jiwa dan tidak punya emosi.

Dari cerita di atas dapat kita simpulkan bahwa sebuah karya kreatif haruslah diciptakan dengan HATI. Sebuah karya yang bagus adalah yang mampu menggugah EMOSI. Emosi itulah yang memberi nyawa pada tulisan kita. Intinya, berkarya itu mudah, yang susah adalah memberi nyawa pada karya itu.

FAKTOR EMOSI DALAM SEBUAH KARYA

Dari cerita di atas, kita tentu sepakat bahwa sebuah karya yang bagus adalah yang ada emosinya. Sebuah tulisan yang bagus adalah yang mampu menggugah emosi kita. Jadi ketika kita membaca novel sampai berurai air mata, berarti novel tersebut sukses. Ketika kita nonton film komedi dan kita tertawa terbahak-bahak sepanjang film, berarti film tersebut sukses.

Kita semua sudah melihat PR-nya Ibu Meli Wardani. Secara visual sih biasa aja kan? Tapi ketika kita membaca captionnya, yang membaca langsung tergugah emosinya. Begitulah semua tulisan yg punya nyawa bekerja….

Bisa diambil kesimpulan bahwa kebagusan sebuah karya dapat dinilai dari seberapa besar karya tersebut mampu mengubah emosi kita. Sebaliknya, ketika dalam kehidupan sehari-hari kita mengalami perubahan emosi, misalnya kita marah pada tetangga kita, kita terharu pada cerita Ibu Meli, kita ngakak ngeliat kelucuan anak kita…. Itu berarti kita mendapat berkah dari Tuhan untuk berkarya. Kegalauan, rasa gelisah dan semua perubahan emosi adalah cara Tuhan untuk menyuruh kita berkarya. Sayangnya manusia sering kurang mendengarkan.

Jadi, mulai sekarang, ketika kita ngakak mendengar lelucon teman kita…maka tertawalah sepuas-puasnya. Joke tersebut ternyata telah menggugah hati kita dari titik netral sampat tertawa terbahak- bahak.

Nah, ini yang paling penting! Setelah selesai tertawa, tanyakanlah pada diri sendiri, “BISA KITA JADIKAN IDE APA JOKE TERSEBUT?” Ketika kita merasa geli ngeliat kelakuan anak kita yang masih kecil. Setelah tertawa, tanyakan BISA JADI IDE APA PERISTIWA TERSEBUT?

Atau kita ditipu oleh teman baik kita sendiri. Kita marah dan kecewa berat kenapa teman baik kita bisa jadi sejahat itu? Pertanyaannya masih sama, “BISA KITA JADIKAN IDE APA PERISTIWA PERUBAHAN EMOSI TERSEBUT?”

Saya menyimpulkan bahwa setiap kali ada perubahan emosi berarti kita mendapat ide untuk menulis. Dan tulisan kita pasti jadinya bagus! Kenapa? Karena sudah terbukti bahwa peristiwa tersebut telah berhasil menggugah emosi kita.

Ingat! Kita sudah sepakat bahwa sebuah karya yang bagus adalah yang mampu menggugah emosi. Artinya kalo kita merasa ada perubahan emosi maka kita telah mempunyai ide untuk ditulis. Dan hebatnya lagi, dalam proses penulisan itu kita bahkan bisa mengemasnya dengan menambah dramatisasi sehingga tulisan kita akan jadi lebih bagus dari seharusnya.

Kita telah belajar creative attitude sehingga kita tidak perlu seperti Farhan yang membutuhkan gelombang Tsunami yang merenggut nyawa keluarganya untuk menulis. Kita cukup memperhatikan apa yang terjadi di sekitar kita. Dan setiap kita mengalami perubahan emosi maka tuliskanlah peristiwa itu. Mungkin kita belum tahu mau dijadikan apa tulisan tersebut. Apakah mau dijadikan novel, skenario film atau mau jadi apalah, pokoknya tulis aja dulu.

Untuk memudahkan latihan menulis cerita yang menggugah emosi saya telah menciptakan sebuah metode latihan menulis yang menyenangkan. Metode ini saya kasih nama CERPENTING. Singkatan dari Cerita Pendek Tidak Penting. Hehehehehe….

Maaf, wifi saya kayak kehidupan asmara saya dulu nih…….. putus nyambung putus nyambung….. OK kita lanjut ya…

Cerpenting adalah peristiwa-peristiwa remeh yang terjadi di sekeliling kita. Meskipun ceritanya sepele tapi ternyata kita ketawa atau terharu atas peristiwa itu. Jadi tuliskanlah peristiwa tersebut. Gak usah mikirin apa gunanya. Anggap aja itu adalah latihan menulis yang menyenangkan.

Kenapa menyenangkan? Karena kita mengalaminya sendiri dan terbukti menggugah emosi, jadi gak ada salahnya kita abadikan. Berikut beberapa contoh cerpenting yang pernah saya tulis.

CERPENTING #1

BACA BUKU LOMPAT-LOMPAT

 Sedang asyik makan Ifumi di sebuah resto kecil di Senayan City, tiba-tiba seorang perempuan datang mengagetkan saya.

“Om Bud. Wah kok bisa ketemu di sini kita,” kata Indri. Dia adalah temen saya di industri periklanan.

“Hey, Indri. Pakabar lo?” tanya saya lalu cipika-cipiki dengannya.

Dengan cuek Indri langsung bergabung di meja saya lalu berkata, “Om Bud, gue udah baca buku lo yang judulnya STORYTELLING. Bagus banget! Gue suka.”

“Kok bisa bilang bagus? Emang lo udah tamat bacanya?” tanya saya. “Belom, sih,” katanya, “Abis gue bacanya lompat-lompat.”

Saya berhenti menyuap ifumi, memegang pundaknya lalu berkata, “Lain kali kalo baca buku, lo harus duduk. Kalo lompat-lompat ya susah nyelesainnya.”

“HAHAHAHAHAHAHAHA….Gila lo!!!” kata Indri sambil menabok pundak saya.

Gak penting banget kan ceritanya? Tapi kocak dan menyenangkan untuk ditulis. Dalam tulisan ini saya memanfaatkan makna ganda pada kata ‘lompat-lompat’ Hehehehe…..

CERPENTING #2 PERCAKAPAN DI SEBUAH BAR

 Saat itu saya sedang berada di sebuah kafe dan duduk di bar bersama Boni.

Karena home band yang main di panggung gak bagus, akhirnya kami memutuskan untuk ngobrol aja ngediskusiin band-band yang kami suka.

“Eh, Bon. Lo tau Superman is Dead?” tanya saya. Di luar dugaan Boni menjawab,

“Hah? Innalillahiiii….Kapaaan????” tanya Boni.

Hahahahahahaha…tentu saja saya ngakak abis mendengar omongannya.

Sekali lagi di sini makna gandanya yg mengundang kelucuan. Sekali lagi terlihat bahwa cerita ini gak penting tapi menyenangkan. Kalo kita mau lebih peka terhadap apa yang terjadi pada kita sehari-hari, sebetulnya ada banyak yang bisa kita tuliskan dalam cerpenting.

CERPENTING #3

BAPAK PENJAGA PINTU TOL

 Seperti biasa pagi itu saya pergi ke kantor dari rumah saya di Cibubur. Di gerbang Tol Kampung Rambutan, menuju ke Jalan Tol TB Simatupang, saya berhenti.

Tidak seperti biasanya, si penjaga Tol menyapa saya. Padahal biasanya nengok ke kita pun kagak.

Umumnya penjaga Tol cuma nadahin tangan doang lalu menyambar uang kita tanpa mengucapkan sepatah kata.

“Selamat pagi,” katanya dengan suara lantang dan riang.

“Selamat pagi juga,” sahut saya sambil menyerahkan uang sebesar Rp 20.000.

Sambil menunggu uang kembalian, saya menatap ke arah penjaga tol itu. Dia seorang laki- laki berkulit gelap, berusia sekitar 50 tahun.

Wajahnya sama sekali gak ganteng tapi tampak berseri-seri dengan senyum kecil yang gak pernah lepas dari bibirnya.

Saya suka ngeliat parasnya. Tipe orang yang menikmati hidup dan senantiasa bersyukur dengan apa yang dimilikinya.

“Terimakasih banyak, Pak. Hati-hati ya mengemudi,” kata Bapak itu lagi seraya menyerahkan uang kembalian ke saya.

Sungguh sejuk perasaan ini. Cara Bapak itu mengucapkan terimakasih terdengar begitu tulus ke luar dari hatinya. Bukan hapalan yang diperoleh dari training perusahaannya.

Saya jadi semangat mengawali hari dengan dibekali keramahan seperti tu.

Besok paginya, saya ketemu lagi sama Bapak itu. Dan sikapnya masih seperti kemaren. Ramah dan penuh energi. Bahkan yang lebih hebatnya lagi, dia ternyata masih mengenali saya.

“Wah, ketemu lagi kita. Selamat pagi, Bapak,” sapanya sambil meraih uang dari tangan saya.

“Selamat pagi juga. Kok, bisa bisa inget sama saya?”

“Ya inget dong. Masa baru sehari lupa?” sahutnya dengan jawaban sederhana lalu melanjutkan, “Ini kembaliannya. Terimakasih dan hati-hati di jalan, ya?”

“Terimakasih juga,” sahut saya sambil berlalu memasuki jalan Tol.

Begitu berpengaruhnya keramahan Si Bapak sehingga setiap hari saya memerlukan diri untuk selalu memilih gerbang Tol tempat Pak tua itu bermarkas.

Hari demi hari, hubungan kami semakin lama semakin akrab walaupun pembicaraan tetap gak lebih dari sekedar ucapan terimakasih dan hati-hati di jalan doang.

Abis gimana lagi? Kami gak sempet berbicara lebih banyak karena mobil-mobil di belakang udah neror dengan klaksonnya.

Sampai suatu hari Bapak itu menghilang. Gak jelas ke mana.

Konon kata orang dia dipindah ke Gerbang Tol lain tapi gak tau Gerbang Tol yang mana.

Dan percaya gak? Saya sedih loh. Aneh deh, rasanya ada yang hilang, rasanya gak asyik mengawali hari tanpa keramahan Si Bapak.

Dan ternyata bukan saya aja yang merasakan hal itu. Isteri saya juga merasa kehilangan.

Dan yang lebih aneh lagi, ketika kami lagi ngumpul-ngumpul bersama temen-temen satu komplek, mereka juga sedang membicarakan Si Bapak penjaga Pintu Tol.

Keramahan Bapak itu ternyata telah memberi bekas yang mendalam di hati banyak orang. Bayangkan, begitu hebatnya ucapan terimakasih kalo diucapkan dengan hati yang tulus.

Saya gak tau Bapak Penjaga Pintu Tol itu berada di mana tapi dia telah meyakinkan saya bahwa kata ‘Terimakasih’ yang tampak begitu sepele ternyata bisa begitu berarti bagi orang lain.

Saya sangat berterimakasih pada Bapak Penjaga Pintu Tol atas keramahannya yang telah membuat saya bersemangat dan optimis menghadapi hari yang saya hadapi.

Terima kasih atas pelajaranmu, Bapak. Semoga Tuhan selalu melindungi Bapak sekeluarga. Aamiin   !

Jadi gak ada alasan untuk tidak punya ide. Kalo ada yang mendebat saya, “Om Bud, gue jarang keluar rumah.” OK, kalo gitu coba perhatikan hal2 yang terjadi di dalam rumah kita.

Kalian yang punya anak kecil tentunya banyak mengalami kejadian yang menyenangkan, lucu dan menggugah emosi. Catat dan tuliskan menjadi sebuah cerpenting.

CERPENTING #4

KENAPA AYAH SUJUDNYA LAMA SEKALI

 Salah satu hikmah Ramadhan adalah saya gak pernah ketinggalan untuk sholat subuh.

Sebagai orang yang punya insomnia, biasanya saya selalu tidur sudah dekat-dekat jam 3 pagi.

Nah, di bulan puasa, jam-jam segitu saya gak bisa tidur juga karena udah keburu masuk waktu sahur.

Maka jadilah selama bulan suci itu, saya selalu menjadi imam sholat subuh bagi seorang isteri dan dua orang anak.

Setelah selesai menunaikan sholat barulah saya pergi tidur.

Suatu hari pas selesai sholat subuh, Reo, anak saya yang kecil bertanya, “Kenapa sih Ayah selalu lama pas sujud terakhir? Kalo Abang yang jadi imam, sujudnya sama aja dengan sujud yang lain.”

“Sujud terakhir biasanya Ayah manfaatkan untuk berdoa karena doa yang dilakukan di sujud terakhir biasanya lebih makbul,” jawab saya sembari melipat sajadah.

“Kenapa lebih makbul?” kejar anak saya lagi.

“Karena posisi bersujud adalah posisi terbaik antara kita dengan Tuhan. Di posisi itulah di mana muka kita lebih rendah dari pantat, posisi berserah diri pada Allah seutuhnya,” jawab saya.

“Oh begitu. Dalilnya apa?” Kali ini Si Sulung, Leon, yang bertanya.

Anak-anak saya bersekolah di sekolah Islam, Al Taqwa, di daerah Sentul. Itu sebabnya setiap ada hal-hal baru dia selalu nanya dalilnya.

“Wah, gak tau juga tapi ntar Ayah cari, deh.“

Saya memang gak tau dalilnya karena ajaran itu saya dapet dari penasihat spiritual saya dan saya jarang sekali menanyakan dalil karena sesuatu yang menurut pemikiran saya baik ya saya lakuin aja.

Berkali-kali saya bilang pada seluruh anggota keluarga bahwa belajar agama itu harus menggunakan akal.

Jangan pernah menerima mentah-mentah apa yang diajarkan oleh orang lain, gak peduli orang itu ngakunya ustad atau ulama, semua harus kita telaah dengan akal.

Manusia adalah makhluk berakal dan otak adalah hadiah terindah yang diberikan Tuhan untuk kita.

Puasa hari ketujuh, sekonyong-konyong punggung saya sakit luar biasa sehingga gak bisa berdiri lebih dari 2 menit.

Saya memang memiliki sakit punggung yang akut. Sekali atau dua kali dalam setahun, penyakit ini kadang kumat dan menyiksa sekali.

Melihat kondisi suaminya seperti itu, isteri saya menyuruh Si Sulung untuk menggantikan saya menjadi imam.

Saya turut menjalani sholat subuh berjemaah itu bersama mereka sebagai makmum dengan posisi duduk.

Sholat subuh berjalan lancar.

Anak saya, mentang-mentang menuntut ilmu di sekolah Islam, memilih surat yang susah- susah dan panjang.

Setiap surah dia lagukan dengan merdu dengan tajwid yang sangat fasih. Kagum sekali saya mendengar kemerduan suaranya.

Untunglah saya sholat dalam posisi duduk, kalo nggak pasti saya sudah ambruk kesakitan karena terlalu lama berdiri.

Pada sujud terakhir, Leon ternyata juga memanjatkan doa seperti saya.

Meskipun dalilnya belom sempet saya cari, keliatannya dia memilih untuk mempercayai pemahaman saya.

Cukup lama juga Leon berdoa dalam posisi sujud terakhir. Saya semakin kagum dengan kesolehan anak saya ini.

Detik demi detik berlalu, menit demi menit merangkak tapi Leon belum juga bangun dari sujud terakhirnya.

Entah doa apa yang dia baca tapi keliatannya banyak sekali yang dia minta pada Tuhan karena sujud terakhir ini terasa lama sekali.

Sebagai makmum tentu saja kami tidak punya pilihan lain kecuali mengikuti Sang Imam.

Mungkin dia sedang mendoakan orangtuanya atau mungkin adiknya atau saudara- saudaranya, teman-temannya, guru-gurunya.

Pokoknya apapun itu, sesuatu yang baik apa salahnya kan dituruti?

“Grrrrrrhhhhhh……grrrrrrrrhhhh….grrrrrrhhhhh…..” Tiba-tiba suara aneh terdengar dari arah Sang Imam.

Eh? Suara apa itu, ya? pikir saya kebingungan.

“Grrrrrrhhhhhh……grrrrrrrrhhhh….grrrrrrhhhhh…..” Suara aneh itu semakin lama semakin kenceng.

“Waaaaaa….!!! Abang ketiduran!!!” Tiba-tiba Si Bungsu berteriak kenceng banget. “Haaaaa….????” Saya kaget mendengar teriakan Si Bungsu.

Bagaimana gak kaget? Sedang khusyu-khusunya berdoa… eh Reo teriak dengan suara menggelegar.

“HAHAHAHAHAHAHAHA….!!!!” Mendadak istri saya juga tertawa terbahak-bahak. Rupanya suara aneh tadi adalah suara ngorok Sang Imam.

Mungkin saking panjangnya doa yang dia panjatkan, rasa kantuk mengambil alih dan dia jatuh tertidur.

HAHAHAHAHAHA….tanpa bisa ditahan saya juga gak bisa menahan tawa sambil meringis karena masih didera rasa sakit yang tak terkira.

Leon ternyata tidur nyenyak sekali.

Suara berisik dari para makmum ternyata belum cukup mampu untuk menyadarkannya.

Dengan gerakan perlahan, Ibunya menepuk-nepuk punggung Sang Imam untuk membangunkannya.

Dan sholat subuh pun terpaksa diulang dari awal lagi. Hehehehe…..

Teman-teman, coba baca cerita itu baik-baik. Sama sekali gak penting, kan? Tapi buat saya itu adalah harta karun yang sangat berharga.

Suatu hari saya bisa saja menulis buku misalnya judulnya “Aku dan Keluarga” Semua cerita yang saya kumpulkan bisa menjadi isi buku itu.

Dan peristiwa-peristiwa kecil seperti ini pastinya juga terjadi di keluarga-keluarga lain, termasuk keluarga kalian. Bedanya adalah saya mengoleksi semua peristiwa kecil yang terjadi dan kalian belum.

Jadi mulai sekarang mulailah menulis CERPENTING. Cerita Pendek Tidak Penting tapi sangat menyenangkan dan akan menjadi kenangan manis buat keluarga kita.

Itu baru CERPENTING. Seandainya ada peristiwa yang besar dan penting pastilah buku tersebut akan menjadi sangat bagus.

Kalo kita punya cukup uang kita bisa memproduksinya jadi film.

Pokoknya setiap ada ide tuliskan. Seperti pernah saya tulis sebelumya, ‘Tuhan akan memberi hadiah pada orang yang bekerja. Jangan menunggu proyek baru bekerja. Bekerjalah dulu maka proyek akan datang padamu.” Aamiin.

Demikian materi kali ini, mike saya kembalikan pada moderator.

M: Oke, kita masuk ke sesi tanya jawab ya. Pertanyaan ke-1 dari @Emma Holiza: Pertanyaan untuk materi Cerpenting:

Tanya 1:

Saya agak PD membuat cerpenting dengan saya sebagai tokoh utama, tapi sering kesulitan saat beberapa kali mencoba menulis dengan tokoh utama orang lain ( pihak ke dua, tiga dan lainnya). Adakah saran atau latihan untuk saya supaya gak macet ide total dalam case ini?

Thank you om Bud dan kang Asep �

Jawab :

Saya yg bingung dengan pertanyaaan ini. Kenapa bisa kesulitan ya? Bukankah perbedaannya cuma kata Saya diganti dengan kata Dia?

Biasanya justru orang mengalami kesulitan ketika tokoh utamanya saya. Mereka beralasan takut disangka pengalaman pribadi. Boleh diterangkan lebih jelas?

Tanya 2 @Isnaini Jalil:

Tulisan/cerita yg dibuat bisa ditambah dramatisasi supaya lebih menggugah emosi pembaca? Bagaimana memastikan dramatisasi tdk berlebihan/hiperbola yg justru membuat tulisan/cerita tsb jadi kehilangan maknanya..

Jawab:

Tergantung objective dari tulisan kita. Apakah kita mau bikin yang mengharukan atau humor misalnya. Kalo mau bikin humor dramatisasi yang berlebihan biasanya malah bikin lucu.

Misalnya ada orang gendut terjun dari kapal ke dalam laut. Saking gendutnya malah lautnya menjelma jadi gelombang Tsunami. Kan seru tuh….

Kalo ceritanya mau dipelihara sebagai cerita beneran tentunya dramatisasi harus kita jaga jangan sampai berlebihan. Misalnya cerita anak saya ketiduran pas jadi imam sholat. Itu cukup banyak dramatisasinya. Gak berasa, kan?

Tanya 3 @Indri Astutik:

  1. ..apakah tiap cerpen harus berjudul…. bisa gak cukup dikasih nomer urut mmm pasti bagus kah nanti nya
  1. Seberapa banyak kalimat hingga disebut cerita pendek. Jawab:

Jawab:

Semua cerita harus memakai judul. Apalagi kalo kita mau posting di social media. Kenapa? Karena orang di social media tidak berencana untuk membaca cerita kita. Mereka cuma scrolling timelinenya saja. Nah .. di situlah fungsi penting dari sebuah judul.

Kita harus membuat judul yang punya stopping power sehingga mampu memaksa orang berhenti dan tertarik membaca cerita kita.

Cerita pendek gak ada ukurannya. Setiap orang punya pemahamannya sendiri2. Tapi ukuran yang paling mendasar adalah ketika cerita kita tidak cukup panjang untuk menjadi sebuah buku, maka itu bisa dikatan sebuah cerpen.

Tanya 4 @Fairuz:

Ketika saya membuat cerpen, cerpen saya pernah dianggap datar. Kira-kira apakah Om punya tips supaya cerpen saya tidak terlalu datar?

Jawab:

Basic dari sebuah cerita terbagi dalam 3 bagian. Pertama, building situastion. Kedua, konflik dan ketiga adalah solusi. Konflik adalah bagian yang paling berpotensi untuk membuat kisah kita seru. Coba dicek dan dibaca sekali lagi cerpen kamu. Mungkin konfliknya yang memang dasarnya kurang heboh. Atau jangan-jangan gak ada konflik sama sekali….

Tanya 5 @Away:

Pentingkah editing di cerpenting ? Atau ngalir az apa ada nya ? Jawab:

Pada saat cerita dibuat, tulislah sampai selesai. Gak perlu diedit. Setelah selesai baru diedit. Apakah editing itu penting? Penting banget! Karena saat kita ngedit, kita bukan cuma akan menemukan bagian yang harus diedit. Tapi ketika sedang ngedit seringkali kita mendapat ide baru lagi untuk memperkaya cerita kita.

Tanya 6 @Andi Sunarto:

Di twiter saya suka membaca twit2 160 karakter tapi lucu2. Misalnya dari akun @poconggg kok bisa ya mereka bikin cerita singkat tapi memiliki soul? Menurut OmBud, akun2 apa saja yg recommended difollow utk belajar menulis. Trims

Jawab:

Coba seach di Twitter tagar #FiksiMini. Di situ banyak banget yang jago-jago membuat fiksi dengan karakter terbatas. Baca tulisan mereka lalu tinggal pilih siapa-siapa yang pantas difollow.

Tanya 7 @Sandya Ichwan :

Ketika menulis, saya terbiasa mendramatisasi penulisan, dibikin ber”bunga2”. Tujuannya supaya indah aja. Teman saya yg mantan editor bilang bahwa tulisan saya jadi lebay klo dibiasain diginiin terus. Padahal menurut saya bagus. Mana yg perlu diperhatikan?

Kepentingan pribadi? Atau kepentingan pembaca?

Ombud sebelumnya sempet berkata bahwa tanda sukses sebuah tulisan adalah ketika engagementnya sudah tinggi. Berarti kepentingan pembaca seharusnya lebih diutamakan dong om? Mohon pencerahannya ombud. Terima kasih.

Jawab

Saya udah bilang berkali-kali bahwa menulis itu untuk menyenangkan diri sendiri. Kalo ada orang yg suka juga ya anggap itu bonus. Saya pernah nulis dan dapet 20 ribu shares, saya happy dong. Tapi pernah juga gak ada yg share dan yg like juga cuma dikit. Ya gapapa.

Saya sama sekali gak terganggu.

Tanya 8 @Fadyal :

Setelah menemukan cerita yang menarik itu sering sulit sekali saya menuliskanya. Pertama karena tidak tau mau mulai dari mana. Terus kedua itu bingung bagaimana alur cerita yang tepat untuk membuatnya sama menarik dengan cerita temuan saya. Kira2 ada tipsnya kah.

Jawab :

Kan udah tau ceritanya? Mulai aja dari sana. Apapun itu, tulis aja. Pokoknya harus dimulai. Kenapa begitu? Karena sering kali ide untuk memulai memang harus dipancing. Apa yang sudah terketik di layar bisa jadi kurang asyik tapi tulisan di screen itu akan berfungsi sbg pemancing. Gara-gara tulisan itu kita dapet ide, “Oh salah dong. Harusnya mulainya begini dulu.” Jadi intinya harus ditulis!

Tanya @Florens:

Ini kumpulan foto yg bercerita, bisa masuk kategori Cerpenting kah…? https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10155762656863819&id=739428818 Apakah masuk kategori Cerpenting?

Jawab :

Coba nilai sendiri. Penting gak? Cerpenting harus berupa tulisan yang minimal ada konflik sekecil apapun.

Tanya10 @Nastiti:

Apakah ada maksimum atau berapa kata yang pantas untuk posting cerita di sosial media seperti FB, untuk bisa menarik pembaca bertahan membaca cerita kita dari awal sampai akhir?

Jawab :

Gak ada ukurannya. Sebagai penulis kita harus menulis cerita yang panjangnya ideal. Ideal di sini maksud saya adalah panjangnya harus mengakomodasi seluruh cerita sehingga mudah dibaca oleh orang lain.

Saya pernah berdebat sama temen. Dia bilang menulis itu harus pendek karena orang bacanya di HP dan males baca cerita yg panjang-panjang. Saya gak setuju dengan pendapat itu. Lalu kami taruhan.

Saya disuruh bikin tulisan yg panjangnya 5 halaman A4. Dan saya akan dinyatakan menang kalo yang ngeshare minimal 20 orang. Saya terima tantangan itu, Saya menulis bukan 5 halaman tapi 14 halaman A4.

Dan saya yang menang. Tulisan itu dilike 1200 orang. 511 komen. Dan mendapat 941 shares.

Ini linknya https://www.facebook.com/search/top/?q=Olaf%20kesurupan%20Budiman%20Hakim&epa= SEARCH_BOX

Jadi pointnya bukan panjang atau pendek. Bukan juga karena orang gak mau baca yang panjang. Yang bener adalah tulisan kita yang gak punya kemampuan untuk memaksa orang membaca sampai habis.

Tanya 11 @Luqman Baehaqi:

Mudah²an masih bisa nanya ya kang

Saya pernah lihat acara TV ada acara reality show yang tokoh utamanya menyamar jadi orang gila gitu tapi karena aktingnya jelek jadi kliatan kalau settingan. Dan gak enak dilihat.

Baru2 ini ada artis melakukan gal serupa dan aktingnya bagus jadi enak dilihat dan banyak yg terbawa suasana.

Pertanyaannya kalau di penulisan adakah hal yang demikian? Kalau ada letaknya di mana?

Simpelnya, apa yg membuat dua tulisan dengan ide yang sama jika dibandingkan bisa lebih believable dibanding yang lainnya.

Jawab:

@Luqman Baehaqi Sering banget masalahnya ada di bagian karakterisasi. Banyak orang Indonesia yg gak peduli sama karakterisasi. Misalnya sinetron2 yang ada di TV. Semuanya tokohnya terlalu stereotype. Tokoh utamanya selalu ganteng, kaya dan dikelilingi oleh cewek2 cakep. Kita jadi muak ngeliatnya.

Coba kalo tokohnya dikasih karakter yang kuat maka biasanya akan jadi outstanding. Orang Indonesia yang paling saya kagumi soal karakterisasi adalah Pak Teguh pendiri Srimulat.

Kita tau tokoh Tarzan, Asmuni, Tessy, Gogon, Paul, Triman dll. Semuanya punya karakter yang kuat. Dan semua karakter itu diciptakan oleh Pak Teguh.

Tanya 12 @Meli Wardani:

Bagi tips untuk memperkaya diksi ya. Karena kalau nulis, sering bingung di pemilihan kata. Pengennya buru-buru selesai tulisannya, tapi sebenernya masih pengen cerita.

Jawab:

Diksi itu pilihan kata. Diksi ini sangat penting karena bisa membuat tulisan kita terlihat cerdas. Misalnya, saya pernah membaca “Bis berhenti dan MEMUNTAHKAN penumpangnya di halte tersebut.

Pernah juga saya membaca tulisan “Kau baluri lukaku dengan doa,” Buat saya ini keren banget. Yang namanya membaluri luka kan biasanya dengan salep. Hehehehehe….

Closing :

Teman-teman sekalian. Saya akan ngasih PR lagi. Sekali lagi ini buat yang mau aja. Coba bikin cerpenting. Ingat ya, ceritanya harus yan gak penting. Kelakuan anak kita, kucing kita berantem dengan kucing tetangga atau lagi e’e’ tapi ternyata gak ada air. Terserah yang penting seru.

Tapi kali ini ceritanya tidak dikasih ke saya atau Asep. Postinglah di social media kalian. Boleh di FB, IG atau di Blog, terserah. Jangan lupa ngetag saya, Asep dan Devina. Kenapa di social media Karena sekalian kita ngetest seberapa banyak engagement yang terjadi pada cerpenting kita.

Demikian materi saya malam ini. Kita akan bertemu lagi Selasa depan. Terima kasih banyak atas perhatiannya. Wabillahi taufik wal hidayah wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

————-

Di bawah ini adalah PR dari Om Bud yang sudah saya kerjakan. Alhamdulillaah, senang sekali sudah dikomentari secara positif oleh Om Bud.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *