Belajar Menulis Bersama Om Bud (Bagian 1)

Skripsi saya bertema semiotika iklan. Salah satu bahan bacaan dalam menyusun skripsi tersebut adalah buku berjudul Lanturan Tapi Relevan karya Budiman Hakim (biasa dipanggil Om Bud). Pernah juga mengikuti diskusi dengan beliau sebagai narsum di Bentara Budaya Yogyakarta, bertahun-tahun lampau. Kesan saya beliau ramah, murah ilmu, dan mudah akrab.

Tempo hari, saya membaca status Om Bud soal kelas menulis yang beliau selenggarakan di WA. Saya mendaftar ke admin, yaitu Mba Devina. Kelas menulis ini diselenggarakan tiap Selasa, Rabu, Kamis, mulai pukul 20.00 WIB selama beberapa minggu. Biaya mengikuti kuliah ini adalah seikhlasnya, semampunya, selama tidak memberatkan peserta. Saya dimasukkan ke dalam WAG The Writer Angkatan II, yang anggotanya berjumlah 191 orang.

Tanggal 18 Juni 2019 pukul 20.00, dimulailah kuliah dan diskusi tentang menulis dg narasumber (N) Budiman Hakim. Moderator (M) dalam diskusi ini adalah Kang Asep Herna. Berikut ini adalah resume dari materi dan diskusi yang berlangsung  semalam.

M : Selamat malam teman-teman The Writers. Apa kabar semuanya? Insya Allah semua dalam keadaan sehat, asik dan bergairah ya, sehingga malam ini kita bisa enjoy mengunyah sesi sharing perdana The Writers dari Om Budiman Hakim.

Perkenalkan, saya Asep Herna, yang malam ini siap memoderasi sesi sharing ini.

Teman-teman, sejak malam ini, setiap Selasa-Rabu-Kamis kita akan intens melewati 12 sesi pelatihan. Dan malam ini Om Budiman Hakim akan mengawalinya dengan mengetengahkan tema “Creative Attitude”.

Om Budiman Hakim adalah seorang executive creative director yang telah berpengalaman lebih dari 20 tahun di dunia periklanan. Dari tangannya, lahir ratusan karya monumental baik dari brand-brand nasional maupun multinasional. Di antaranya, permen Frozz, Danamon, Telkomsel, Indosat, Djarum Black, Nestle, Bentoel Mild, Toyota, Auto 2000, dan banyak lagi.

Beberapa karyanya memenangkan banyak penghargaan baik di ajang festival iklan nasional maupun internasional seperti New York Festival. Salah satunya bahkan menjadi The Best of the Best di Citra Pariwara.

Dari tangannya juga Om Bud telah menerbitkan 10 buku kreatif, antara lain: Lanturan tapi Relevan, Go West and Gowes, Sex after Dugem, Ngobrolin Iklan Yuk, Si Muka Jelek, Saya Pengen Jago Presentasi, Saya Pengen jadi Copywriter, Saya Pengen jadi Creative Director, Storytelling, Si Kampret Master Selingkuh.

N: Selamat malam teman-teman. Nama saya Budiman Hakim. Di industri Periklanan saya biasa dipanggil ‘Om Bud’ .

Sharing ini akan berjalan sebanyak 12X pertemuan dengan 2 pemateri yaitu Asep Herna dan saya.

Perlu dicamkan bahwa Asep dan saya bukanlah guru kalian tapi teman kalian.

Kenapa kami gak mau dianggap guru?

Kalau mau, kalian juga boleh memanggil begitu. Semoga sharing kita kali ini penuh barokah buat kita semua. Aamiin.

Karena orang selalu merasa lebih nyaman berada bersama temannya.

Orang biasanya lebih mendengarkan apa kata temannya dibandingkan orang lain.

Setuju teman-teman? Setuju dong ya….

Ini adalah hari pertama dari pelatihan kita. Saya berterima kasih sekali buat semua yang sudah ikut berpartisipasi.

Partisipasi yang betul2 luar biasa karena dalam waktu cuma beberapa hari kita telah membentuk sebuah komunitas menulis yang berjumlah lebih dari 180 orang.

Wuiiiih…ternyata harapan kita akan terkabul. Sharing ini penuh barokah. Insya Allah.

Yang bikin saya surprise ternyata peserta di sini sangat beragam.

Ada mahasiswa, ada dosen, ada yg dari forex trading, ada produser film iklan, ada juga yang penulis buku, ada yang bekerja di pajak, ada coach dan ada juga yang pelaut. Ck…ck…ck…

Dari segi usia juga sangat bervariasi. ada yang junior 14 tahun dan ada yang senior, 71 tahun.

Dari domisili juga mencakup jarak yang beragam.

Ada yang dari Jkt, Bandung, Solo, Semarang, Solo, Yogya, Surabaya, Pakan baru, Balik Papan, Menado dan ada juga peserta yang berasal dari Singapore, Taiwan dan Turki. Luar biasa.  Terharu….

Okay, kita mulai dengan kenapa kita harus menulis?

Banyak orang bilang bahwa DIA TIDAK SUKA MENULIS bahkan TIDAK PERNAH MENULIS.

Nah,walaupun tidak terstruktur, sistematis dan masif,  saya berani bilang Itu pasti hoax!

Karena menulis adalah kebutuhan primer seperti halnya dengan makan, minum dan tidur.

Kita boleh bilang bahwa kita bukan culinary Man. Tapi toh kita tetap harus makan.

Begitu juga menulis. Kita mungkin gak suka menulis.

Tapi kita selalu ngetweet, kita bikin status di FB, kita bikin caption di Instagram, kita chatting di WA dll.

Kita menulis pelajaran di sekolah, kita membuat laporan di kantor, DLL.

Artinya, suka gak suka, kita tetap saja menulis.

Point saya adalah, karena kita tetap dan terpaksa harus menulis, kenapa kita tidak sekalian saja memperdalam ilmu penulisan kita.

Kenapa demikian? Karena menulis itu banyak sekali manfaatnya.

MANFAAT MENULIS:

  1. MENGABADIKAN PENGALAMAN HIDUP

Kita bisa mengabadikan hal-hal menarik dalam hidup kita.

Kenapa perlu kita abadikan? Karena yang perlu kita wariskan pada anak dan cucu kita bukanlah harta tapi pengalaman hidup dan wisdom kita.

Menulislah dan tidak usah malu mengungkapkan sisi hitam kita.

Karena bukan sisi negatif itu yang akan kita highlite tapi hikmah positif apa yang kita peroleh dari peristiwa tersebut.

  1. MENINGGALKAN LEGACY

Menulis membuat kita bisa meninggalkan legacy untuk keturunan kita.

Cucu-cucu yang gak sempet ketemu kita, pasti seneng banget ketika membaca, “Wah, nenek buyut, Niken, kita ternyata dulu seorang Forex Trader , Loh.

“Ih, kagum banget sama nenek buyut Niken!!”

“Gile, ternyata kakek buyut kita Joice Karouw adalah seorang pelaut. Hebat banget. Sayang kita gak sempet ketemu beliau.”

Mengharukan, bukan?

Dan kalo buku kita bagus, bukan cuma keluarga tapi dunia akan membaca buku kita.

Seperti orang bijak berkata, “If you want to know the world, READ. If you want the world to know you, WRITE!

  1. MEMBUANG SAMPAH EMOSI

Jiwa menderita, tubuh menjerit. Itulah yang tejadi di era modern seperti sekarang.

Sebagian besar penyakit yang menggeragoti tubuh selalu datang dari masalah psikis (Psychosomatic).

Alhamdulillah salah satu obat yang paling manjur adalah menulis.

Menulis berfungsi sebagai EMOTIONAL DETOX yang mampu mengusir rasa sakit, penderitaan, rasa bersalah, kesedihan dan stress.

Semua itu berpangkal dari enerji negatif yang semakin gila datang dari media digital.

Kalo semua enerji negatif tersebut dibiarkan dalam tubuh, lama kelamaan akan mengakibatkan tubuh kita sakit.

Orang2 psikologi biasa menyebutnya dengan istilah fungsi katarsis yang mencegah kita dari penyakit psikosomatis.

Jadi ketika kita sedang gelisah akan sesuatu, MENULISLAH!

Maka kegelisahanmu akan pudar.

Tapi jika kegelisahan itu terlalu personal untuk dibuka ke publik, tulis tentang hal lain. Tentang apa saja semau kita. Hasilnya?

Aneh bin ajaib, kegelisahan kita tetap menghilang. Begitu powerfulnya menulis bagi kesehatan kita.

  1. MENULIS ITU SEPERTI MAIN GAME

Main game sering disebut dengan melampiaskan aktualisasi diri.

Menulis itu persis seperti main XBOX atau PS (Play Station).

Perhatiin deh, game yang dipilih oleh anak kita, sebenernya sangat mewakili harapan dan imajinasinya.

Mereka memilih game balapan karena buat mereka seru dan ternyata menjadi pembalap adalah salah satu impiannya.

Tidak semua impian bisa jadi kenyataan tapi dengan main game sedikit banyak aktualisasi diri bisa terpenuhi.

Sama dengan main game, menulis juga bisa berfungsi sebagai aktualisasi diri.

Buat yg suka berkhayal pengen jadi jagoan, pengen jadi bintang film, pengen jadi Super Hero…pokoknya jadi apa aja, BISA.

Tuliskan cerita berdasarkan imajinasi itu.

Tokohnya tidak perlu harus kita. Ketika semua kita tuliskan maka semua hal yg kita ceritakan sebetulnya semuanya merupakan representasi dari pikiran, imajinasi, cita-cita, harapan kita.

Dengan menulis cerita, kita bisa jadi apa aja di sana.

Pokoknya apapun yang muncul dalam pikiran, apapun yang sering muncul dalam imajinasi kita, tuliskan. Insya Allah tulisan kita akan menjadi bagus. Kenapa?

Karena sesuatu yg sering kita imaginasikan pasti sangat sempurna minimal buat kita sendiri.

  1. MENULIS ITU MENCEGAH PIKUN

Banyak orang yang memasuki usia pensiun, seringkali bingung harus melakukan apa.

Hidup itu tentang mengejar sesuatu. Meskipun keliatan sepele, tetap harus ada yang dikejar.

Itu sebabnya banyak pensiunan cepat meninggal karena mereka gak punya sesuatu yang harus dikejar.

Mereka stress dan merasa gak berguna menjalani hidup.

Padahal Masa Pensiun itu bukanlah periode di mana kita tidak mengerjakan apa-apa.

Masa pensiun adalah masa di mana kita mempunyai kebebasan untuk memilih pekerjaan yang kita sukai.

Karena butuh kegiatan dan membutuhkan sesuatu untuk dikejar, akhirnya para pensiunan tersebut mencoba berkebun, kursus melukis atau kursus menulis.

Berdasarkan hal itulah, saya berpendapat, daripada menunggu tua baru belajar menulis lebih baik kita belajar dari sekarang.

Kalo hobby menulis, ketika kita tua nanti, kita mempunya kegiatan yang meneyanangkan.

Kita bisa berkarya, menulis sepuasnya, menerbitkan beberapa buku karena di jaman masih bekerja sering tertunda oleh kegiatan lainnya.

Artinya kita mempunya sesuatu yang menyenangkan untuk dikejar.

Dan hebatnya lagi, kegiatan menulis akan membuat kita terhindar dari penyakit pikun.

Kok bisa begitu?

Karena jika otak kita sering digunakan untuk berimajinasi dan berpikir maka otak kita akan terasah terus.

Orang yang terkena Alzheimer biasanya adalah orang yang kurang menggunakan otaknya untuk berpikir.

Otak adalah hadiah terhebat dari semua organ tubuh yang kita terima dari Tuhan.

Secara umum manusia yang paling pinter pun konon baru menggunakan kapasitas otaknya sebesar 10%.

Jadi bisa dibayangkan bagaimana hebatnya jika kita bisa memaksimalkan otak kita. Pastinya karya kita akan sangat bagus.

PLAK!!!! Aduh….banyak nyamuk nih di sini….😃

Kita lanjutin ya….

Ada teori yang mengatakan bahwa secara umum manusia terbagi dalam dua tipe; 1. Tipe pembicara dan 2. Tipe pendengar.

Terus terang saya kurang sepakat dengan teori itu.

Minimal di lingkungan saya, semua orang ingin menjadi pembicara sekaligus ingin didengarkan.

Karena itu menulislah.

Ketika orang memutuskan untuk membaca tulisan kita berarti dia dengan rela mendudukkan dirinya sebagai pendengar.

Dan kita sebagai penulisnya tentu saja adalah pembicaranya. Hehehehe…

KESIMPULAN:

Sekarang kita sudah mengetahui betapa banyak manfaat dan betapa pentingnya pengetahuan tentang penulisan.

Perlu dipahami bahwa segala kegiatan yang kita lakukan hampir semuanya berhubungan dengan penulisan.

Kita mau berjualan, berdakwah, presentasi, membuat film, membuat album lagu, melakukan penelitian dll, semua berhubungan dengan dunia penulisan.

Sejak kemunculan dunia digital, sekonyong-konyong ilmu penulisan semakin naik pamornya.

Di social media semua orang menulis, baik itu di twitter, Youtube, Facebook, Instagram, dll.

Tiba-tiba penulisan menduduki porsi yang sangat mendominasi.

Itu sebabnya belakangan ini kita melihat berbagai penawaran workshop tentang penulisan/copywriting begitu tinggi.

Jadi teman-teman, yuk kita tanamkan tekad, kita harus belajar dan memperdalam ilmu menulis.

Maap postingan saya makin lambat ya? Soalnya jari pegel juga nih lama2….😃

Okay. Perlu diketahui bahwa setiap kali saya mengajar, entah itu sharing tentang creative writing, storytelling, generating ideas, presentasi/public speaking dll, segmen pertama saya selalu sama, yaitu tentang CREATIVE ATTITUDE.

Saya tidak pernah mengajarkan kalimat template karena, buat saya, itu melecehkan kecerdasan otak kita.

Tuhan itu adalah FATHER OF CREATION.

Satu-satunya bakat yang diberikan pada manusia namun tidak diwariskan pada makhluk lain adalah berkarya (creation, to create and creative).

Jadi saya punya pemahaman bahwa Creative Attitude sangat penting dan merupakan landasan atau infrastruktur utama dari kreativitas kita.

CREATIVE ATTITUDE

Sebelum kita mulai belajar menulis ada hal yang sangat penting untuk ditanamkan dalam diri kita masing-masing. Yaitu Creative Attitude.

Perlu dipahami bahwa KREATIVITAS ITU ADALAH SIKAP HIDUP. BUKAN JOB DESKRIPSI.

Bersikap kreatif jangan hanya dilakukan ketika kita sedang mendapat pekerjaan.

Bersikap kreatif jangan hanya dilakukan ketika kita sedang mendapat masalah.

Creative Attitude harus menjadi sikap hidup kita sehari-hari.

Meskipun sedang tidak ada proyek, meskipun sedang tidak ada masalah, kita harus selalu bersikap kreatif.

Plak!!! Nah mati tuh satu nyamuk. Darahnya banyak😃 banget….

Lanjut lagi ya….

Temen saya pernah bercerita tentang seorang kerabatnya yang berasal dari Aceh yang bernama Farhan.

Farhan ini selalu mengaku tidak suka menulis.

Bahkan dia cenderung menganggap remeh kegiatan menulis.

Namun sebuah peristiwa besar telah merubah paradigma yang selama ini dianutnya. Apakah itu?

Tentu kita masih ingat bencana Tsunami yang terjadi di Aceh.

Sekitar 230.000 orang di 14 negara tewas akibat tsunami dahsyat yang melanda Samudra Hindia, pada tanggal 26 Desember 2004.

Tsunami dipicu gempa berkekuatan 9,1 pada skala Richter, yang episentrumnya berada Samudra Hindia, sekitar 85 km di barat laut Banda Aceh

Keluarga Farhan adalah salah satau korban dari gelombang Tsunami yang mengerikan itu.

Dalam bencana tersebut, dia kehilangan isteri dan anaknya. Dia merasa sangat sedih dan terpukul.

Rasa kehilangan yang begitu berat membuatnya sangat menderita.

Dia merasa depresi dan sering berteriak-teriak karena beban yang begitu menyesakkan dada tentunya harus dikeluarkan.

Tanpa disadari, secara naluriah dia mulai menulis untuk melampiaskan kesedihannya itu

M: Buat teman-teman yang sudah punya pertanyaan, silahkan tulis ke WA saya di 0816909xxx. Akan dipilih 5 pertanyaan pertama untuk dijawab oleh Om Budiman Hakim. Terima kasih. 🙂

N: Akhirnya Farhan menulis dan menulis lagi untuk mengeluarkan beban yang selama ini menindih hatinya.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa bencana Tsunami telah menjadi PEMICU untuk menulis.

Farhan yang mengaku tidak suka menulis akhirnya menulis.

Tapi perlu dicatat bahwa dia membutuhkan PEMICU YANG BESAR untuk memaksanya menulis.

Kasus lain lagi.

Pernah gak kalian perhatikan, ada banyak sekali seniman yang selalu berkarya dan karyanya bagus-bagus. Namun ada cerita selanjutnya yang banyak tidakkita ketahui

Seorang sahabat saya di Yogya pernah menganalisa tentang Ebiet GAD yg kemaren jadi tamu di acara Matanajwa..

Menurut teman saya tersebut, Ebiet sangat kreatif dan banyak membuat lagu ketika hidupnya masih susah.

Kesehariannya sering diisi dengan cara menggelandang di Malioboro dan merenung di pantai Parang Tritis.

Beban yang ada di pundaknya menjadi PEMICU yang dia lampiaskan dengan mencipta lagu.

Dan percaya gak? Lagunya bagus-bagus. Bahkan akhirnya dia mendapat kesempatan untuk rekaman dan albumnya meledak.

Dia mendadak menjadi terkenal, mendapat banyak penghargaan dan bergelimang dengan uang.

Konon dia lalu menikah dengan sesama artis dan tinggal di rumah mewah di bilangan kebayoran baru.

Ebiet GAD hidup bahagia bersama isteri dan anak-anaknya. Kisah hidupnya seperti novel yang berakhir dengan happy ending.

Namun selanjutnya apa yang terjadi?

Setelah dia hidup mapan, kita tidak pernah lagi mendengar karyanya meledak.

Bahkan kita tidak tau apakah dia masih mencipta lagu atau tidak.

Tapi apa yang terjadi pada Ebiet memang banyak dialami sebagian besar seniman.

Banyak yang setelah menjadi kaya, mereka sulit sekali berkarya.

Bukannya mereka tidak mau.

Setiap hari mereka berusaha mencipta lagu.

Mereka sudah berusaha mati-matian tapi tetap saja tidak terlahir lagu-lagu yang kualitasnya sama dengan jaman dia hidup susah dulu. Kenapa bisa terjadi begitu?

Rupanya ketika hidup mapan, dia merasa tidak lagi mempunyai PEMICU.

Dulu beban yang ada di pundaknya bisa dia konversikan menjadi lagu. Tapi ketika hidup mapan tanpa beban?

Ide-idenya gak keluar. Otaknya buntu.

Mereka membutuhkan ‘kekejaman Tuhan’ berupa beban hidup sebagai PEMICU untuk berkarya.

Banyak seniman di dunia ini mengalami hal yang seragam. Mereka punya karya yang mumpuni saat sedang menderita tapi blank ketika hidupnya sudah mapan.

Nah, di sinilah pentingnya CREATIVE ATTITUDE!

Kalo kita terlatih dan memiliki Creative Attitude, KITA TIDAK MEMBUTUHKAN PEMICU YANG BESAR UNTUK BERKARYA.

Kita tidak butuh bencana Tsunami untuk memaksa kita menulis.

Kita tidak butuh beban penderitaan hidup untuk berkarya.

Sebuah KATA atau KALIMAT sederhana akan menjelma sebagai PEMICU jika CREATIVE ATTITUDE sudah menyatu dengan aliran darah kita.

Dari pemaparan di atas, kita tentu setuju bahwa creative attitude itu sangat penting dan harus dilatih secara terus menerus.

Bagaimana caranya?

Sebetulnya caranya sederhana saja.

Kita harus peka pada apa yang terjadi di sekeliling kita. Kita harus sering-sering menganalisa apa yang ditangkap oleh pancaindera kita.

Begitulah yang namanya creative Attitude. Persoalannya, bagaimana cara melatihnya?

KOMEN DI FACEBOOK

Di jaman sekarang banyak waktu kita tersita di social media.

So, supaya gampang, ayok kita manfaatkan situasi itu.

Pasti kalian sering ngasih komen di social media orang lain, kan?

Misalnya kalian sedang melihat status FB temen.

Di sana kita membaca status tersebut berbunyi “Anak kita tidak cukup hanya diberi nasihat tapi berilah dia contoh.”

Nah, terus kalian ngasih komen begini “Setubuh…eh setuju!”

Astaghfirullah! Jangan, ya? Itu adalah segaring-garingnya komen.

Kalo bikin komen seperti itu berarti kalian tidak punya creative attitude.

Joke tersebut adalah joke tahun 70-an. Udah ampir setengah abad umurnya!

Masa sih kita gak mau menulis komen yang baru?

Tulislah komen yang kita ciptakan sendiri sehingga temen kita merasa surprise dengan komen kita.

Ingat! Semua orang suka SURPRISE!

Saat hari lebaran banyak banget kalimat-kalimat indah berseliweran.

Pesan saya cuma satu:  HINDARI NYONTEK ucapan-ucapan yang sudah basi.

Misalnya “Ketika jemari tak sempat bertaut….” Hadoh! Basi amat!

Atau “Ketika kata menggores luka…..” NAJONG!

Apalagi bikin pantun “Ikan kakap ikan patin. Mohon maaf lahir bathin.” TOBAT!!!!!!!!!!!

Guys, please! Jangan bikin temen kita muak dengan ucapan selamat kita!

Bikin dong kalimat sendiri yang baru. Temen kita juga akan seneng bacanya.

Atau pas temen kita nulis tentang dirinya yang mencari kacamatanya ternyata kacamatanya ada di kepalanya.

Jangan pernah bikin komen “FAKTOR U!”

Kenapa demikian? Karena pasti ada banyak orang lain yang akan menuliskan kalimat yang sama.

Akibatnya komen kita jadi GENERIK.

Dengan creative attitude seharusnya komen kita jadi UNIK.

Sekali lagi komen kita harus jadi SURPRISE buat yang membacanya.

Hal ini penting. Bukan untuk membahagiakan temen kita tapi untuk membahagiakan diri sendiri.

Kalo temen kita juga suka, anggap aja bonus!

Kasus selanjutnya.

Temen kita bercerita di FB tentang seorang isteri yang dateng ke kantor suaminya.

Sang isteri tersebut mau ngecek karena mencurigai suaminya berselingkuh dengan resepsionisnya.

Terus kita ngasih komen, “Pengalaman pribadi, ya?”

Ya, ampun! Wake up, guys! Komen seperti itu juga pasti akan dituliskan oleh oleh orang lain.

Kita perlu mengantisipasi kira-kira orang lain akan komen apa.

Nah, kita harus bikin yang lain. Yang unik. Yang unexpected. Sesuatu yang tidak terpikirkan oleh orang lain.

Jadi bisa disimpulkan bahwa CREATIVE ATTITUDE adalah sikap hidup yang harus selalu dilakukan dalam keseharian kita.

Baiklah teman-teman. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 9.30, kita berhenti dulu sampe di sini ya.

Besok kita lanjutin masih seputar creative attitude.

Dengan demikian, mike saya kembalikan pada moderator untuk masuk ke sesi tanya jawab.

M: Tips memahami psikologi seseorang untuk menulis copywriting?

N: Waduh! Saya bukan psikolog, Ros. Tapi kalo untuk memahami attitude TA atau konsumen, kita harus menggali consumer insight mereka. Dan cara untuk menemukan insight tersebut biasanya saya melakukan riset dengan FGD baik itu kuantitaif maupun kualitatif.

M: Terkait dengan membuang sampah emosi. Kok saya merasa kalo curhat ke temen saya bisa menceritakan kesedihan dan kekesalan saya dengan lancar ke teman. Tapi apa yg saya curhatjan via verbal ketika saya tulis kok beda jadi berbelit2 dan bertele-tele, gak seperti waktu saya ngomong

Pertanyaannya, mengapa bisa seperti itu, apa yg harus dilatih biar menulisnya efektif

N: Caranya sederhana, kalo kamu lebih nyaman ngomong, coba install aplikasi Speech notes. Aplikasi ini sangat membantu orang yang seperti kamu. Jadi caranya kamu ngomong aja di mikenya dan aplikasi tersebut akan mengetik apa yang kamu omongin.

Jadi setelah selesai ngomong, kamu bisa periksa lagi untuk merevisi tata bahasa dan tanda bacanya. Saya juga sering banget melakukan itu. Misalnya saya lagi di coffee shop terus dapet ide. Saya langsung ngomong di aplikasi tersebut. Sampe rumah bary saya betulin.

M : Pertanyaan ke-3 dari @Rian Setiawan: gmana caranya memetakan banyak ide yg muncul di kepala, agar bisa jadi satu buku.

N: Kalo saya setiap dapet ide saya catet di notes HP. Setelah itu saya bikin folder sendiri di laptop dengan judul ‘GUDANG IDE’. Jadi setiap saat saya mood untuk menulis, saya tinggal buka folder itu. Lalu mulai menulis…

Gak usah mikirin jadi buku dulu. Setiap orang sering frustrasi kalo berencana bikin buku. Kebayang tebelnya aja kita udah putus asa duluan. Biasakan bikin artikel. Kalo udah banyak kelompokkan artikel yang sama kategorinya. Lalu hitung gabungan artikel tersebut jumlahnya berapa halaman. Setelah itu baru kita bikin buku. Past rasanya lebih semangat karena tau2 kita udah punya naskah yang lumayan panjang.

M: Dari @DEDENS: Bagaimana cara kita menyadari bahwa kita sudah menjadi kreatif dalam keseharian ????

N: Sering2 menulis di social media. Kalo yang like, comment dan share semakin lama semakin banyak berarti kamu udah berkarya. Kalo karyanya udah banyak berarti kamu udah kreatif. Kalo engagementnya udah tinggi, berarti kamu udah layak bikin buku atau karya lainnya.

Dulu kita selalu nanya ke orang yg lebih pinter, tulisan kita udah bagus belom? Sekarang gak perlu lagi. Engagement di social media bisa menjadi ukuran apakah karya kita udah bagus atau tidak.

M : Dari @+62 857-4707-xxxx Selamat malam kang Asep Herna. Perkenalkan saya Yusuf.

Mohon izin bertanya, dalam proses menulis, saya sering merasa ah tulisan saya kok jelek ya. Akhirnya saya hapus semua atau ga jadi saya post.

Kadang juga ragu dipost ga ya, dipost ga ya. Akhirnya ga jadi post.

Mohon saran agar jadi makin pede terhadap hasil tulisan sendiri.

Terima kasih 🙏

N: Hampir semua orang mengalami masalah yang sama. Tapi tetap semua harus dilakukan. There is always the first time. Hidup adalah tentang melakukan hal yang baru. Kalo kita selalu melakukan hal yang sama berarti kita jalan di tempat.

Perlu dipahami bahwa menulis itu bukan untuk menyenangkan orang lain tapi untuk menyenangkan diri sendiri. Posting aja tulisan kamu. Dengan pemahaman tadi, kita gak akan begitu terganggu ketika tulisan kita kurang mendapat respon. Selamat berjuang, Bro!!!

M: Dari @maymona deviani:  Apakah dalam menulis kita harus selalu punya literatur yg valid sebagai rujukan,?  Apa boleh cuma sekedar share pengalaman pribadi aja

Terus bagaimana cara menghadapi situasi dimana tulisan kita jadi kontroversi

N: Tergantung tulisan seperti apa yang mau kita tulis. Saran saya adalah tulislah apa yang paling kita suka. Tulislah materi yang paling kita ngerti. Menulis pengalamn pribadi adalah yang paling aman karena kitalah yang paling memahami pribadi kita.

Kalo soal kontroversi, saya gak bisa jawab karena pertanyaannya terlalu general.  Pertanyaan seperti ini harus spesifik. Kontroversi tentang apa? Apa kasusnya? Agama? Politik atau urusan pengetahuan tentang kopi? Hehehehe….

M: Dari @Oktaviani Nur Khayati, pertanyaan saya : bagaimana mengatasi mood yg hilang timbul ketika ada ide untuk menulis,, kadang kesibukan membuat mood menulis tertunda dan dikala waktu sudah tersedia ganti mood yg hilang

N: Nah, ini masalah yang juga sangat umum terjadi untuk orang yang kepengen menulis. Mood itu jangan diturutin, lama-lama dia bisa ngelunjak dan akhirnya kita gak pernah nulis aa-apa.

Biasanya saya suka mancing mood supaya dateng. Caranya adalah dengan menyalakan laptop di meja kerja walaupun saya gak berecana untuk menulis. Secara psikologis, saya suka kesian sama laptop saya kok udah nyala tapi dianggurin sia-sia. Akhirnya saya duduk lalu membuka folder gudang ide yang tadi saya ceritakan di atas. Pas saya baca-baca, hampir selalu saya terpicu utntuk menulis. Abis nulis saya terperangah sendiri, “Kok gue bisa nulis sepanjang ini ya? Padahal kan gue lagi gak mood menulis.”

M: Dari @!nDr1 @$tUt|k, Malam om…apakah ide itu bisa mampat ya karena dulu sempat ikutan nulis antologi tapi kok sekarang malah sulit memulai promosi… Bagaimana dengan waktu n tertib administrasi…kadang suka malas nulis yang rajin…acak adut

N: Ide itu jarang sekali ujug-ujug dateng sendiri ke kita minta ditulis. Ide itu persis kayak ikan, jadi seringkali memang harus dipancing. Bagaimana memancingnya? Itu ada di sesi berikutnya ya….

M: Dari @annisaqla , Om, saya mau tanya, menurut teori kapan kah waktu yang tepat untuk belajar menulis? Apakah ada trik trik dan waktu khusus untuk belajar membuat tulisan yang bermutu? 🙏

N: Gak ada waktunya. Setiap orang itu unik sehingga mereka juga punya kebiasaannya sendiri dalam menulis. Saya punya dua temen menulis. Yang satu namanya Noorca Massardi, dia kalo mau nulis selalu pergi ke Ubud meninggalkan anak isterinya. Dia butuh keheningan untuk menulis.

Yg satu lagi namanya Radtya Dika. Nah kalo anak ini bisa makan siang atau ngopi bareng saya di Kafe sembari menulis. Pas saya tanya, “Dik, lo lagi nulis apa, sih?” Dia nyaut, “Gue lagi nulis buku, Om Bud. Buku baru nih.”

“emang lo gak terganggu dengan kebisingan orang seperti ini?” tanya saya. Dia nyaut lagi, “Generasi saya gak butuh keheningan untuk menulis. Pokoknya kalo dapet ide langsung tulis gak peduli ada di mana. Makanya saya ke mana-mana selalu bawa laptop”

Gitu katanya. Kamu termasuk jenis yang mana? Kenali diri sendiri dulu maka selanjutnya kita akan merasa lebih mudah untuk melakukan apa-apa.

M: Dari Tika @Atika Rusli, Saya suka nulis dan ‘’merasa’’ punya sedikit creative attitude hehehe, namanya aja merasa gak pa2 kan ya kang, namun sudah bertahun-tahun menjadikan “kesibukan” sebagai alas an untuk malas nulis, bahkan sudah gak pernah lagi nulis di blog. Gimana ya biar alasan2 atau pembenaran2 atas kemalasan saya itu dihilangkan? Makasih Om Bud dan Kang Asep

N: Coba kamu baca lagi manfaat menulis yang saya tulis di awa-awal materi ini. 👆. Semoga kamu terpicu untuk memulai lagi. Coba posting tulisan kamu di Social media. Like, komen dan share yang kamu terima akan memproduksi hormon endorphine yang akan membuat ketagihan. Kalo belom dapet ide mungkin kamu memang harus belajar memancing ide untuk ditulis. Dan cara memancing ide akan ada di sesi selanjutnya.

M: Pertanyaan berikut dari @aliya2017:

OmBud, kenapa y dulu saya rajin nulis diary setiap malam, setiap waktu. Kok skrg mau nulis, mentok..seperti g merasa ada passion u menuangkan semuanya.

Setiap pegang pulpen, buka buku, tutup lagi.

Saya kangen nulis walaupun sekedar nulis dan gak banget

N : Ini pertanyaannya kurang lebih sama dengan pertanyaan Atika. Jadi jawabannya juga hampir sama. Coba kamu baca lagi manfaat menulis yang saya tulis di awal materi ini. Semoga kamu terpicu untuk memulai lagi. Coba posting tulisan kamu di Social media. Like, komen dan share yang kamu terima akan memproduksi hormon endorphine yang akan membuat ketagihan. Kalo belom dapet ide mungkin kamu memang harus belajar memancing ide untuk ditulis. Dan cara memancing ide akan ada di sesi selanjutnya. Hehehehe….

M: Dari @Sandya Ichwan: Apa perbedaan menulis dan mengetik? Apa positif dan negatifnya? Khususnya untuk kalangan muda seperti saya. Hehe. Ada yg bilang ngetik aja yg muda, via hp or laptop. Ada juga yg bilang nulis tangan aja biar kongkrit. Mana yg lebih baik?

N: Seperti saya bilang di atas, setiap individu itu unik dan punya kebiasaan sendiri2. Kadang kita gak punya keharus untuk membandingkan sesuatu dengan yg lainnya. Pokoknya pilih yng paling nyaman aja buat kita. Mau nulis di laptop atau mau nulis di HP atau mau nulis di mesin tik, itu gak masalah. Yang penting BERKARYA.

Usia muda justru harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk berkarya. Kelebihan orang muda dan orang tua cuma terbatas di jumlah usianya doang. Kualitas manusia hanya bisa diukur dari karyanya. Bukan umurnya.

M : Pertanyaan terakhir di sesi ini dari @Fairuz N. Izzah, yang kemarin baru launching buku kerennya ya. Saya Fairuz Nurul Izzah. Saya punya pertanyaan tapi lebih dari satu.

  1. Saya pernah menulis berdasarkan apa yang saya tonton, apakah itu tidak apa-apa?
  2. Saya masih bingung soal Creative Attitude. Kan kita mesti surprise orang yang menulis cerita. Apakah Ombud tahu bagaimana cara surprise orang yang menulis cerita supaya punya Creative Attitude?

N: Hai, Fairuz. Pertama sekali tentunya saya ngucapin selamat atas terbitnya buku ketiga yang baru launching. Semoga jadi best seller deh ya. Insya Allah…..

Banyak kok orang yang menulis berdasarkan apa yang mereka tonton. Teman saya seorang penyair pernah membuat puisi yang berjudul FORREST GUMP. Itu beradasarkan filmnya Tom Hank dan haslnya bagus banget….

Creative Attitude itu adalah sesuatu yang kita tangkap dari panca indera dan terkonversi menjadi karya. Semakin banyak kita berkarya maka berarti creative attitude kita sudah mendarah daging dalam aliran darah kita, Sebuah karya yang bagus adalah yang mampu menggugah emosi pembacanya. Bagaimana cara menggugah emosinya? Kita harus membuat sesuatu yang unexpected sehingga menjadi surprise buat mereka.

Baiklah teman-teman. Saran saya cobalah lebih peka pada sekeliling kita. Tuhan telah menanamkan ide banyak sekali dan ditaruh di mana-mana. Tugas kita adalah menemukannya dan untuk itu Tuhan memberi otak dan panca indera. Oanca indera untuk menemukan pemicu dan otak untuk mengeksekusi ide menjadi karya.

Berkaryalah teman-teman. Manusia tanpa karya, ketika dia mati hari ini esoknya orang sudah lupa lagi sama kita. Tapi kalo kita punya karya maka sprit kita, melalui karya tersebut akan hidup selamanya. Kita berjumpa lagi besok. Sekian dan selamat malam.

 

————————————–

Demikian isi kuliah dan diskusi dengan Om Bud. Sesuai salah satu yang Om Bud sampaikan tentang manfaat menulis, sy juga tergerak untuk membuat situs ini demi mencegah pikun hehehe. Saya merasa beberapa tahun terakhir ingatan dan daya hafal saya tidak setajam sebelumnya. Saya khawatir banyak yang akan sy lupakan kelak saat menjalani hari tua. Maka, sy mulai belajar membuat situs dan menuliskan kegiatan-kegiatan saya, sereceh dan se-nggak penting apapun itu hihihiii…. Mudah-mudahan ada hikmah yang bisa dipelajari oleh anak saya, atau bagi siapapun yang mampir kemari.

8 thoughts on “Belajar Menulis Bersama Om Bud (Bagian 1)”

  1. Halo, Bu Asih. Saya berencana ikut kelas menulis online-nya Pak Budiman. Cuma saya ragu karena saya gak tahu harus bayar berapa. Boleh tahu Ibu bayar berapa? Terima kasih

    1. Hai Mba Yenni. Kalo dari cerita Om Bud ada yang bayar 10rb sampe sejuta hehehe. Kalo sy pribadi, pake harga standard kalo ada seminar offline yg sering sy ikuti 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *