Selayang Pandang Latihan Dasar CPNS

Pekan terakhir di bulan Juni ini adalah pekan yang lumayan padat. Pekan sebelumnya, saya mendapat undangan dari Kantor Bahasa Lampung untuk menghadiri acara Diseminasi Gerakan Literasi Nasional di Lampung 26-28 Juni. Sayangnya, sejak Mei saya sudah ditugasi untuk menghadiri acara Workshop Pengajar Latihan Dasar (Latsar, atau istilah yang lebih populer: diklat prajabatan) CPNS pada 25-27 Juni di Pusdiklat Kemristekdikti di Kompleks Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), Serpong, Tangerang Selatan. Jadilah saya menghadiri acara workshop tersebut.

Saya berangkat sambil membawa ananda Bintang karena kebetulan dia sedang libur sekolah plus tidak ada yang menjaganya di rumah. Kami berangkat tanggal 24 Juni pukul 17 dengan pesawat Garuda. Kami sampai di Wisma Tamu Puspiptek (WTP) sekitar pukul 20.00. Kami disambut dan dilayani dengan sangat ramah dan tulus oleh panitia.

Pada hari Selasa, 25 Juni, kami berangkat dengan bis yang disediakan ke lokasi pelatihan. Bintang ikut serta juga. Saya berpesan kepadanya agar ia bisa tertib dan berlaku sopan kepada siapapun. WTP dan Gedung Pusdiklat sesungguhnya masih berada dalam satu kompleks, yaitu kompleks Puspiptek. Hanya saja, saking luasnya, kami harus naik bis untuk menuju ke gedung acara. Kompleks Puspiptek ini adalah “warisan” Pak Habibie. Gedung tempat kami pelatihan beserta interiornya bahkan masih sama dengan kondisi pertama kali dibangun. Di dalam kompleks ini, terdapat kantor BATAN, BPPT, laboratorium berbagai bidang penelitian, pusat pendidikan dan pelatihan (pusdiklat), perumahan dinas, wisma tamu, sarana olahraga, dan sebagainya.

Acara dimulai dengan menyanyinyakan lagu Indonesia Raya 3 stanza yang sukses membuat air mata berlinang. Setelah itu, sambutan disampaikan oleh Kepala Pusdiklat Kemristekdikti, Ir. Wisnu S. Sunarso, M.Eng. Beliau menyampaikan latar belakang diselenggarakannya pelatihan ini. Di Kemristekdikti, terdapat 7800-an CPNS hasil perekrutan tahun 2018. Sesuai amanat UU ASN, mereka semua harus berstatus PNS dalam kurun waktu setahun sejak penetapan SK. Padahal, dengan jumlah sebesar tersebut, Pusdiklat yang selama ini mengurus diklat prajabatan Kemristekdikti tidak mungkin bisa menyelesaikannya karena keterbatasan sumber daya dan waktu.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, berdasarkan Peraturan Lembaga Administrasi Negara (LAN) No 12 Tahun 2018, dilakukan terobosan dengan menjalin kerja sama antara Pusdiklat Kemristekdikti dengan perguruan-perguruan tinggi negeri yang memiliki fasilitas berupa ruang kelas yang banyak dan asrama untuk residensi peserta diklat prajabatan. Selain itu, dosen-dosen dari berbagai PTN juga dibekali pelatihan untuk menjadi fasilitator atau pengajar diklat prajabatan, seperti yang sekarang sedang saya ikuti. Merupakan suatu kehormatan dan keberuntungan bagi saya karena ternyata banyak guru besar, bahkan Rektor (Universitas Negeri Padang), yang turut serta mengikuti pelatihan ini. Saya juga bertemu dengan dosen saya dahulu di UNY yang mengampu mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan. Sungguh suatu momen yang berharga untuk saya “ngalap berkah” sekaligus belajar rendah hati dari beliau semua.

Materi hari ini disampaikan oleh Dr. M. Taufiq, DEA selaku Deputi Bidang Kajian Kebijakan LAN, yang menjelaskan kebijakan pengembangan SDM ASN dan Latihan Dasar Terintegrasi untuk CPNS RI. Terdapat dua tantangan yang mendasari kebijakan latsar untuk CPNS ini.

Pertama, tantangan lingkungan strategis. Indonesia akan menghadapi bonus demografi dan berprospek menduduki peringkat ketujuh negara berekonomi kuat tahun 2030, dan naik ke peringkat keempat pada tahun 2050. Hal ini didukung oleh pengaruh pertumbuhan ekonomi di Asia yang mencapai 5,4%, tertinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan ekonomi global sebesar 2,7%. Seiring pertumbuhan ekonomi dan bertambahanya populasi hingga mencapai 8,3 miliar di tahun 2030, kita membutuhkan sumber daya air (40%), bahan pangan (35%), dan energi (50%) lebih banyak dari saat ini.  Indonesia akan mengalami bonus demografi pada tahun 2045 saat jumlah penduduk mencapai 319 juta, dengan proyeksi angka kelahiran 2,1; usia harapan hidup mencapai 75,5 tahun; jumlah lansia 63,3 juta; penduduk tinggal di perkotaan 62,9%. Di saat negara-negara lain mengalami aging demography, tidak demikian halnya di Indonesia. Demografi ini harus disiapkan kualitasnya agar ia menjadi “bonus”, bukan malah menjadi “bencana”.

Kedua, tantangan pengembangan kompetensi ASN. Laporan World Economic Forum 2015-19 tentang kendala pembangunan di Indonesia adalah korupsi, infrastruktur, dan inefisiensi birokrasi. Saat ini, birokrasi di Indonesia secara umum dioperasikan oleh aging generation. Padahal, kebutuhan akan birokrasi yang lincah dan cekatan tidak dapat ditunda lagi. Berpijak pada proyeksi Indonesia di masa depan di atas, diperlukan inovasi untuk meningkatkan kompetensi ASN demi menjawab tantangan zaman dan lingkungan di atas. Arah pembangunan ASN dilaksanakan secara berkelanjutan yang tercantum dalam 4 tahap RPJM. RPJM 2005-2009 pengembangan kompetensi ASN ditujukan untuk menciptakan good governance. RPJM 2010-2014 mengamanatkan reformasi birokrasi. Selanjutnya, di RPJM 2015-2019 diberlakukan ASN Merit System. Semua pengembangan tersebut demi mewujudkan world class government (RPJM 2019-2024) dengan profil ASN yang memiliki nasionalisme, integritas, hospitality, networking, dan menguasai teknologi informasi, bahasa asing, serta keterampilan kewirausahaan.

Untuk melahirkan ASN yang sesuai profil di atas, perlu disusun strategi pembelajaran Latsar yang lebih kontekstual dan terintegrasi. Tren saat ini mengindikasikan adanya penurunan pembelajaran dengan metode klasikal. Pembelajaran dengan pendekatan teknologi mulai banyak diterapkan. Demikian pula pembelajaran dengan metode magang (on the job experience). Metode pembelajaran latsar perlu disesuaikan dengan karakter generasi milenial yang akrab dengan e-learning, podcast, gamification, wiki, mobile based learning, dan project based learning.

Komposisi pembelajaran Latsar CPNS adalah 10% pembelajaran di kelas, 20% mentoring/coaching, dan 70% on the job experience. Dengan komposisi tersebut, diharapkan tercipta sistem pembelajaran yang responsif, efisien, dan terintegrasi. Dengan demikian, CPNS  mampu beradaptasi dengan lingkungan strategis yang berubah cepat karena akan banyak mengeyam pembelajaran organisasi alih-alih pembelajaran individual. Pembelajaran organisasi akan membangun budaya ASN yang kuat di atas identitas sektoral dan daerah. CPNS juga akan belajar mengintegrasikan proses pembelajarannya dengan kinerja organisasi dalam mewujudkan arah kebijakan pemerintah. Di saat yang sama, CPNS juga dapat membangun leadership development dengan strategi organisasi.

Berdasarkan UU ASN Pasal 63-65, CPNS wajib menjalani masa percobaan selama 1 (satu) tahun melalui proses diklat terintegrasi untuk membangun integritas moral, kejujuran, semangat dan motivasi nasionalisme dan kebangsaan, karakter kepribadian yang unggul dan bertanggungjawab, dan memperkuat profesionalisme serta kompetensi bidang. CPNS yang dinyatakan tidak lulus pendidikan dan pelatihan akan diberhentikan sebagai calon PNS. Misi Latsar CPNS adalah untuk mempersiapkan CPNS memasuki kultur baru di birokrasi dengan mandat dan untuk membentuk karakter PNS, dan kemampuan PNS agar dapat bersikap dan bertindak profesional mengelola tantangan dan masalah keragaman sosial kultural, dengan menggunakan perspektif whole of government atau one government serta didasari nilai-nilai dasar PNS berdasarkan kedudukan dan peran PNS dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada setiap pelaksanaan tugas jabatannya sebagai pelayan masyarakat sebagai wujud nyata bela negara seorang PNS.

Dasar pengembangan kompetensi adalah Pasal 10 UU ASN tentang fungsi ASN sebagai pelaksana kebijakan publik, pelayan masyarakat, dan perekat dan pemersatu bangsa. Agar seorang PNS dapat mengemban fungsi tersebut, diperlukan diklat yang membangun kompetensi PNS yang meliputi sikap perilaku Bela Negara; aktualisasi nilai-nilai dasar PNS dalam pelaksanaan tugas jabatannya; aktualisasi kedudukan dan peran PNS dalam kerangka NKRI; dan penguasaan kompetensi teknis yang dibutuhkan sesuai bidang tugas. Untuk itu, disusunlah latsar terintegrasi CPNS yang meliputi tiga agenda besar dengan masa pelatihan total 51 hari kerja (Orientasi 1 hari, Agenda 1: Bela Negara selama 5 hari, Agenda 2: Nilai-nilai Dasar PNS selama  5 hari, Agenda 3: Peran dan Kedudukan PNS selama 2 hari, Aktualisasi dan Habituasi  selama 30 hari, Evaluasi selama 3 hari)

Agenda pertama dilaksanakan selama 5 hari di lokasi diklat (on campus/class). Agenda ini meliputi materi wawasan kebangsaan dan nilai-nilai Bela Negara; analisis isu kontemporer (korupsi, narkoba, money laundry, komunikasi massa, proxy war, dan terorisme); kesiapsiagaan bela negara (tata upacara sipil, PBB, keprotokolan, kewaspadaan dini, team building, caraka malam dan Api Semangat Bela Negara). Tujuan dari agenda ini adalah membentuk sikap bela negara. Terdapat 45 jam pelajaran (@45 menit) yang diperlukan untuk agenda ini, yang merupakan porsi terbanyak dari semua agenda on campus.

Terdapat pertimbangan khusus perihal ini yaitu adanya survey dari Alvara Research Center yang menyebutkan bahwa 19,4% PNS tidak setuju dengan ideologi Pancasila, dan sebanyak 22,2% setuju dengan konsep khilafah. Artinya, terdapat krisis nasionalisme dan pola pikir yang harus dibenahi terkait kesetiaan kepada NKRI dan Pancasila. Fenomena ini mengindikasikan adanya disorientasi budaya dan escapology. Akses informasi yang tanpa batas, gaya hidup yang materialis, berbagai keinginan dapat terpenuhi tapi pada saat yang sama merasa hampa, memicu sebagian orang untuk mencari alternatif ideologi yg non-NKRI. Penambahan jam pelajaran untuk agenda ini (dari sebelumnya 18 jam pelajaran) bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran bagi rekrutan CPNS baru agar memahami posisi dirinya sebagai abdi negara yang harus setia kepada bentuk dan ideologi negara. Kesadaran ini krusial karena CPNS baru saat ini adalah para pengambil keputusan pada 20-25 tahun mendatang.

Agenda kedua dan ketiga bertujuan untuk membentuk karakter PNS yang profesional. Agenda kedua , membekali CPNS dengan nilai-nilai dasar berupa akuntabilitas, nasionalisme, etika publik, komitmen mutu, dan antikorupsi (ANEKA); masing-masing 12 jam pelajaran.  Agenda ketiga, terdiri dari materi manajemen ASN, pelayanan publik, dan whole of government; masing-masing 6 jam pelajaran. Materi dalam kedua agenda ini dapat disampaikan dengan metode pembelajaran on campus, baik secara tatap muka maupun e-learning.

Selanjutnya, CPNS mengikuti kegiatan aktualisasi dan habituasi dengan sistem belajar on the job experience (off campus) selama 30 hari di instansi kerja masing-masing agar dapat menguasai kompetensi teknis sesuai bidangnya, baik secara administratif maupun substantif. Mereka diwajibkan untuk menerapkan agenda 1-3 di instansi kerja masing-masing, dengan dibimbing oleh coach dan mentor. Perlu dipertimbangkan mentor yang dapat diteladani untuk memutus lingkaran setan birokrasi yang tidak efektif dan pembelajaran kolektif negatif yang “mencemari” SDM baru. Sebelum terjun ke instansi, peserta wajib mempresentasikan rencana aksinya. Setelah selesai melaksanakan aktualisasi dan habituasi, peserta wajib menyajikan laporan hasil aksinya kepada penguji, mentor, dan coach.

Dengan latsar terintegrasi ini, diharapkan CPNS akan memiliki keterampilan manajerial, teknikal, dan sosiokultural. Juga tertanam sikap Bela Negara, nilai-nilai PNS, serta peran dan kedudukan PNS dalam NKRI. Paduan metode pembelajaran berupa metode klasikal, praktik langsung, role play, team building, coaching, mentoring, on the job training, project based learning, dsb bertujuan untuk menumbuhkan semangat pratiotisme, tidak profit oriented, dan rela berjuang untuk negara dalam konteks profesi masing-masing.

Belajar Menulis Bersama Om Bud (Bagian 6)

Hari ini, 27 Juni 2019, kembali dilanjutkan kulwap menulis oleh Om Bud dan moderator Kang Asep, yang memasuki sesi keenam. Silakan menyimak rangkumannya.

M: Teman-teman, siap-siap kita masuk sesi ke-6 ya.😊 Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh, teman-teman The Writers. Selamat malam. Di Sesi ke-6 ini, Om Budiman Hakim akan membawakan tema asik, “Imajinasi dan Rima”.

Seperti biasa, biar tertib, mohon diperhatikan regulasinya ya:

  1. Sharing akan dibagi 2 sesi, Sesi Sharing Materi (pk. 20.00 – 21.30); dan Sesi Tanya Jawab (pk. 21.30-22.00)
  2. Selama sharing berlangsung, member dilarang posting apapun, kecuali diminta oleh pemateri atau moderator
  3. Member diharap menyampaikan pertanyaan lewat WA saya sebagai moderator (0816909xxx). Saya akan utamakan 5 pertanyaan pertama untuk disampaikan ke pemateri di Sesi Tanya Jawab. Kalau masih ada waktu, pertanyaan berikutnya akan disampaikan ke pemateri.

Oke teman-teman, langsung aja yuk kita sambut Om Budiiiimaaaan Haaaaakiiiiim…. Monggo Om…

N: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdullilah kita sudah memasuki Sharing Penulisan, sesi 6. Sebelumnya saya akan sedikit mereview tentang Metode ‘Menulis Tanpa Ide’ yang kita lakukan tadi malam. Namanya juga baru satu kali dilakukan, pastinya belom terlalu ngelotok, kan?

Ada beberapa catatan yang mungkin perlu diingat. Dalam metode “Menulis Tanpa Ide”  kita harus menuliskan MINIMAL 6 benda. Mau lebih juga boleh tapi jangan terlalu banyak. Keenam benda tersebut berfungsi sebagai PIJAKAN untuk mulai menulis. Jadi kita bukan hanya menuliskan HURUF tapi juga membuat pijakan untuk berIMAJINASI.

Mulailah menulis berdasarkan benda pertama. Biarkan imajinasi kita bergerak berdasarkan tulisan tadi. Selama masih seru bermain dengan imajinasi dari sebuah benda, biarkan proses menulis tersebut berjalan. Ketika akhirnya sudah mentok, gak tau harus menulis apa lagi, barulah kita masuk ke benda kedua. Jalankan proses penulisan seperti sebelumnya sampe imajinasi kita mentok lagi. Kalo udah mentok baru ke benda ketiga. Dan begitu seterusnya.

Ada seorang peserta ngejapri dan ngajak diskusi. Ternyata peserta ini justru terpenjara oleh benda-benda yang dipilihnya sendiri. Dia bingung mau mulai dari benda yang mana, terus dia merasa porsi benda A kok lebih dominan dari benda B. Kok, benda C susah masukinnya? Jadi peserta ini bukannya mendapat pijakan imajinasi tapi justru proses imajinasinya terhambat dalam 6 kata yang dia pilih sendiri. Orang ini bukannya berimajinasi untuk mencari cerita tapi terlalu fokus memikirkan cara menggabung 6 benda tersebut.

Ingat! 6 benda yang kita pilih hanya berfungsi sebagai pemicu awal kalimat dan pemicu imajinasi. Jadi benda-benda tersebut adalah alat bantu dan gak wajib ada. Kenapa gak wajib ada? Begini.

Misalkan salah satu benda adalah ‘bantal’. Kemudian kita menuliskan “Anakku tidur lelap sekali…”, maka kalimat itu sudah merepresentasikan kehadiran ‘bantal’. Jadi kata ‘bantal’ tidak perlu dituliskan lagi. Dia hanya alat bantu imajinasi.

Dan satu lagi yang perlu dipahami bahwa proses penulisan berdasarkan 6 benda tadi hanyalah cara untuk mendapatkan ide. Hasil tulisan kita juga hanya sebagai pemicu untuk mendapatkan ide.

Ada orang ketika menggarap tulisan tersebut lalu mendapat ide. Kemudian dia menuliskan ide tersebut di tempat yang terpisah. Ada juga orang yang menemukan ide, lalu menuliskan ide tersebut menjadi kesatuan dengan tulisan penggabungan 6 benda. Dan itu gak masalah! Semuanya sah! Jadi pilih yang nyaman aja.

OK sekarang kita masuk ke imajinasi.

IMAJINASI

Dari semua tulisan cerpenting yang masuk, saya bisa menyimpulkan bahwa hampir semuanya rata-rata udah jago menulis. Sayangnya, kalian hanya bercerita sesuai dengan apa yang terjadi sesuai dengan PENGALAMAN yang kalian alami.

Saya udah bilang berkali-kali bahwa ketika kita ingin menulis cerita, kita butuh PEMICU. Nah PENGALAMAN yang kalian alami itu adalah sekedar PEMICU. Sekali lagi, hanya berfungsi sebagai PEMICU.

Ingat! Kita lagi belajar menulis. Kita lagi memancing IMAJINASI berdasarkan pemicu yang kita miliki. Jadi jangan menulis cerita sesuai dengan pemicunya.

Pemicu adalah pijakan pertama utuk menulis. Dari pijakan itu kita harus melangkah, melangkah dan terus melangkah mengikuti ke mana imajinasi kita pergi. Biarkan imajinasi kita melangkah ke mana pun dia mau. Bahkan biarkan imajinasi kita berlari sejauh-jauhnya. Kalau perlu lepaskan imajinasi kita terbang setinggi-tingginya. Semakin liar sebuah imajinasi, maka akan semakin bagus tulisan kita. Kenapa?

Karena cerita kita jadi gak ketebak. Cerita kita jadi unik. Cerita kita akan menjadi unexpected. Cerita kita akan memberi surprise yang luar biasa bagi pembacanya.

PENGALAMAN FISIK DAN PENGALAMAN BATIN

Ada banyak cara untuk mengembangkan cerita. Biasanya kita mencari pemicu dari pengalaman yang kita alami. iya, kan? Nah, yang perlu dipahami adalah ketika kita mengalami sesuatu, maka sebenernya ada 2 hal yang sedang terjadi, 1. Pengalaman fisik. Dan 2, pengalaman batin.

Ketika hendak menulis, coba dipertimbangkan baik-baik. Jangan-jangan pengalaman batin kita lebih seru dibandingin dengan pengalaman fisik yang kita alami. Kalo benar itu yang terjadi, maka tulislah pengalaman batin tersebut lebih besar porsinya daripada pengalaman fisik. Percaya, deh! Kalian pasti surprise dan gak akan percaya apa efek yang akan terjadi pada cerita kita tersebut.

Saya kasih contoh ya. Pernah suatu hari, saya bersama Jimmy dan Asep mampir ke rumah Pak Sapardi Djoko Damono. Namanya juga ketemu penulis besar, kami langsung ngajak diskusi tentang segala hal yang berkenaan dengan penulisan. Cukup lama juga kita berada di rumah Pak Sapardi. Mungkin sekitar 4 jam lebih kalo gak salah.

Sepulangnya dari rumah Pak Sapardi, saya menulis pertemuan itu di Facebook. Tulisan itu mendapat banyak like, komen dan share yang cukup banyak. Sebagian komen mengatakan bahwa cerita saya seru banget. Mereka iri karena saya punya kesempatan bertemu dengan Begawan kata yang kondang tersebut. Lucunya, Jimmy juga ikutan komen.

Dia bilang begini, “Cerita Om Bud kok jadi seru banget, ya? Padahal gue juga ada di sana. Dan suasananya waktu itu biasa dan datar-datar aja.”

Hehehehe… Hayoooo kenapa bisa begitu? Apa yang diomongin Jimmy betul. Suasana waktu itu gak begitu seru. Suasananya biasa aja kayak orang lagi ngobrol biasa. Secara pengalaman fisik memang suasananya biasa aja. Tapi perlu diketahui, di artikel yang saya posting, saya banyak menuliskan pengalaman batin saya.

Saya, DI DALAM HATI, berkali-kali mengungkapkan kekaguman saya pada Sapardi. Saya MEMIKIRKAN pertanyaan apa yang akan saya lempar. Dan saya TERPESONA (dalam hati) dengan pandangan-pandangan beliau dalam menjawab pertanyaan itu.

Tentu saja semua hal tersebut tidak muncul dalam pengalaman fisiknya. Tentu saja Jimmy tidak menangkap apa yang terjadi di hati dan pikiran saya. Karena semua pengalaman seru tersebut hanya terjadi di dalam hati saya. Semua yang ada di pengalaman batin itulah yang saya tumpahkan dalam tulisan. Itulah jawaban kenapa Jimmy merasa peristiwa tersebut bisa jadi seru. Padahal dia juga ada di sana. Jelaslah karena yang Jimmy lihat adalah pengalaman fisiknya saja.

MENGAKTIFKAN IMAJINASI

Hal yang juga luar biasa penting adalah bagaimana mengaktifkan kemampuan imajinasi kita. Ketika kita mengalami sebuah pengalaman , maka di saat itu pula IMAJINASI kita juga terbentuk. Artinya pengalaman adalah pijakan untuk memulai imajinasi.

Misalnya, saya berimajinasi bahwa akhirnya saya berhasil menguras ilmu penulisan dari Pak Sapardi. Kemampuan saya begitu hebat sehingga akhirnya saya mendapat hadiah nobel dalam bidang sastra. Acara tersebut diselenggarakan di kota Paris, Perancis. Dalam acara penganugerahan hadiah nobel tersebut, saya mengundang Sapardi sebagai guru yang telah membesarkan saya. Sebagai guru yang paling berjasa tentu saja saya harus mengajak Pak Sapardi sebagai penghargaan seorang murid pada gurunya.

Menarik, kan? Pokoknya biarkan imajinasi itu bisa berkembang terus.

Saya bisa bercerita tentang kota Paris yang sedang bersalju. Saya bisa berkisah bagaimana Pak Sapardi jatuh sakit karena sudah terlalu tua dan tidak tahan dengan udara dingin. Ya, wajarlah Pak Sapardi sakit karena saat itu winter, berangin dengan temperatur minus 10 derajat celcius.

Mau lebih ekstrim? Saya bisa bercerita tentang menara Eiffel yang tiba-tiba rubuh karena gempa bumi. Intinya biarkan imajinasi kita berjalan, kita sebagai penulis tinggal mengikuti dan menuliskannya saja.

Dan yang paling ajaib adalah kita akan mencapai sebuah titik di mana kita tidak lagi bisa mengendalikan imajinasi kita. Yang terjadi adalah sebaliknya. Imajinasi kitalah tiba-tiba yang mengambil alih kontrol atas penulisnya. Kita merasa bukan kita lagi yang menulis cerita itu. Kita merasa didiktekan oleh sebuah enerji yang entah dari mana datangnya. Peran kita cuma seperti tukang ketik yang sedang didiktekan oleh boss kita.

Ketika tulisan kita selesai barulah kita tersadar. Lalu kita membaca lagi cerita yang sudah tertulis. Dan apa yang terjadi? “Kita kebingungan sendiri, “Masya Allah! Kok bisa-bisanya ya gue menulis cerita seperti ini?”

Di situlah kehebatan sebuah imajinasi. Dan itu berkah Allah yang luar biasa, jadi jangan pernah disia-siakan. Manfaatkanlah semaksimal mungkin.

Teman saya, almarhum Alex Komang, sehabis membaca buku saya yang berjudul “Sex After Dugem” berkomentar, “Saya gak percaya Budiman Hakim bisa menulis seperti itu. Saya bersahabat dengan Budiman Hakim bertahun-tahun sehingga saya sudah mengenalnya dengan baik. Tapi saya senang bisa membaca buku ini karena saya jadi lebih mengenal karakter Budiman Hakim yang selama ini saya tidak temukan.”

Ini bukunya

Yg nulis testimoni buku ini antara lain Sapardi Djoko Damono, Erwin Arnada, Tika Bisono, Butet Kertaradjasa dan Alex Komang.

M: Interupsi Om.

N: Ya silakan, Sep

M: Bila ada teman-teman yang sudah memiliki pertanyaan, silakan ditlis via WA saya ya, di 0816909xxx.

Terima kasih. Silakan lanjut Om.

N: Thank u, Sep. Kita lanjut ya….

Kenapa Alex bisa berbicara seperti itu? Jawabannya adalah, karena IMAJINASI ITU LUAR BIASA dan biasanya imajinasi tertanam dalam diri seseorang dan HAMPIR TIDAK PERNAH MUNCUL DI PERMUKAAN dirinya.

Ada satu hal yang sering bikin saya jengkel. Setiap kali saya ngasih pelajaran betapa hebatnya sebuah imajinasi, selau saja ada pertanyaan dari peserta, “Berarti cerita kita dibuat-buat, dong. Apa gak berarti kita bo’ong? Bukankah agama melarang umatnya untuk berbohong?”

Hadeuh! BT gak sih?

Persoalannya kan bukan bo’ong atau tidak. Kita kan memang lagi belajar menulis. Menulis itu yang paling penting adalah memaksimalkan PIKIRAN dan IMAJINASI. Tulisan yang bagus itu adalah yang mampu memancing pembacanya BERPIKIR dan BERIMAJINASI. Kalo ternyata imajinasi kita bagus dan pas ditulis jadinya keren, kita bikin aja jadi novel. Gak ada lagi urusan bo’ong atau gak bo’ong. Karena novel adalah cerita fiksi.

Ketika kita membaca buku Harry Potter, kita, kan, gak bakalan nanya,  “Ah, ini mah pasti bo’ong. Mana mungkin ada tukang sihir dan orang terbang segala?”

Jadi teman-teman. Gunakanlah imajinasi dan creative attitude kita semaksimal mungkin. Pergilah ke luar rumah karena ide jarang sekali mampir ke rumah kita untuk minta ditulis. Ide itu harus dijemput. Sekali lagi pergilah ke luar rumah. Lalu aktifkan semua pancaindera kita. Apapun yang tertangkap oleh pancaindera bisa jadi itu adalah embrio yang berpotensi melahirkan ide-ide yang keren. Karena sesepele apapun hal yang tertangkap oleh pancaindera kita, hal itu adalah sebuah pengalaman juga. Dan semua penulis hampir selalu menulis sesuatu berangkat dari pengalaman yang dialaminya sendiri.

Ketika imajinasi dan hasil pikiran telah ditemukan, kita harus MENGEMASNYA dalam sebuah tulisan yang menarik. Bagaimana cara mengemas sebuah tulisan sehingga orang betah membacanya dan kagum pada tulisan kita? Caranya ada banyak. Salah satunya adalah dengan menggunakan RIMA.

Banyak temen saya ngomong, “Kalimat penutup acara Matanjawa itu selalu bagus, ya? Jago banget tuh copywriter-nya.”

Kita tentu tahu di acara Mata Najwa, ending-nya selalu ada kata penutup yang dibacakan oleh Najwa Shihab yang isinya juga merupakan pesan yang berkaitan dengan tema yang dibahas sesuai episode saat itu.

“Apanya yang bagus? Pesennya? atau susunan kalimatnya?” tanya saya pada temen yang ngomong di atas.

“Secara umum semuanya bagus, sih,” jawab orang itu.

“Gak bisa gitu! Coba jelaskan lebih spesifik.” desak saya sampe membuat orang itu kebingungan.

Setelah saya desak terus sambil ngajak diskusi, akhirnya keluar juga jawaban yang lebih spesifik, “Kalimatnya berima jadinya enak didengar sehingga pesannya juga gampang masuk.” katanya.

Begitu juga yang terjadi pada orang kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Mereka semuanya bilang bagus dan ternyata memang RIMA-nya yang membuat kalimat-kalimat itu menjadi menonjol. Dan saya setuju bahwa kalimat-kalimat penutup Mata Najwa memang bagus dan rimanya memang mengambil peran besar pada estetika kalimat tersebut misalnya:

“Hukum yang dibiayai transaksi suap, membuat wajah peradilan begitu gelap.” Sumber dari episode: Mafia Perkara

“Tiap orang bisa punya mimpi, tapi tak semua bisa bangkitkan semangat tinggi.” Sumber dari episode: Penebar Inspirasi

“Di pundak pemimpin yang bebas korupsi, di situlah masa depan negeri.” Sumber: Perisai Antikorupsi

“Kebenaran & kepastian mengapung, di antara uang & kuasa yang mengepung.” Sumber: Mafia Perkara

“Berbuat untuk sebuah harapan, yang tidak lagi dikeluhkan tetapi diperjuangkan.” Sumber: Diam Bukan Pilihan

“Timur adalah kita yang terjaga lebih dulu, timur adalah Indonesia yang tak sabar menunggu.” Sumber: Melihat Ke Timur

“Apa arti ijazah yang bertumpuk, jika kepedulian dan kepekaan tidak ikut dipupuk?” Sumber: Dari Jogja Untuk Bangsa

Sebelum kita bahas lebih jauh, mungkin kita perlu mengkaji apa yang melatarbelakangi munculnya sebuah rima. Saya kira begini sejarahnya:

Pertama kali manusia berinteraksi atau berkomunikasi pastilah mereka menggunakan mulut untuk berbicara. Apabila bahasanya berbeda, mereka akan menambah bantuan dengan bahasa tubuh. Apakah mereka menggunakan bahasa tulis? Belum! Bahasa tulis belum lahir waktu itu.

Bahasa lisan muncul jauh sebelum bahasa tulis. Karena orang berkomunikasi dengan mulut makanya disebut dengan bahasa lisan. Bahasa lisan sama umurnya dengan peradaban manusia. Zaman bahasa lisan dipenuhi oleh mitos, dongeng, mantra sakral dan doa-doa ritual perdukunan.

Segala macam budaya tersebut terutama yang sakral tentu harus dilestarikan untuk diturunkan kepada anak cucu mereka. Masalahnya zaman itu belum ada yang namanya bahasa tulis. Lalu apa yang harus diperbuat?

Di waktu itulah yang namanya rima dibutuhkan. Rima sengaja diciptakan untuk memudahkan orang untuk menghapal segala mantra dan doa-doa tadi. Dengan adanya rima, maka semua cerita dan mitos jadi gampang diingat dan bisa diwariskan pada generasi berikutnya dengan utuh. Hopefully…😃

Jadi bisa disimpulkan bahwasanya, Rima itu sebenarnya tercipta untuk kepentingan bahasa lisan. Namun dalam perjalanannya, manusia menganggap rima itu bukan hanya gampang diingat, akan tetapi juga enak didengar dan enak diucapkan.

Secara umum muncul asumsi bahwa kalimat yang berima itu jadinya lebih indah. Karena itulah, walaupun zaman bahasa tulis telah berlangsung berabad-abad, orang masih suka menggunakan rima, entah itu penulis prosa, penulis puisi, penulis naskah iklan sampai penulis status Facebook…Dan gak ada yang salah dengan hal itu.

Sekarang pertanyaannya adalah haruskah kita menggunakan rima dalam sebuah penulisan? Ya gak harus sih. Tapi buat saya, sebisa mungkin, sebuah kalimat lebih baik dicari rimanya.

Perlu dicatat, jangan pernah mempertanyakan apakah lebih penting pesan atau rima. Kedua hal tersebut bukan untuk dipertentangkan. Kedua faktor tersebut justru harus bahu membahu dan bekerja sama agar pesan tersebut jadi semakin menarik. Jadi perlu digarisbawahi; jangan pernah mengorbankan pesan demi sebuah rima. Sebuah rima seyogyanya membuat pesan kita semakin KUAT. Selain lebih kuat tentunya kalimat tersebut pasti jauh lebih mudah DIINGAT. Eh? Udah berima juga tuh tulisan saya. Hehehehe…..

Waktu jaman SBY berkuasa, Harian Kompas pernah membahas hal yang sangat menarik. Di sana dibahas tentang kritik-kritik yang ditujukan pada performance Presiden SBY. Kompas menulis bahwa dari begitu banyaknya kritik yang ada, hanya kritikan Megawatilah yang paling menonjol. Mengapa demikian? Selidik punya selidik, kalimat kritikan Megawati selain kritiknya pedas, ternyata menggunakan rima.

  1. Seorang Presiden seharusnya TEBAR KINERJA, bukan TEBAR PESONA.
  2. Janganlah berjanji setinggi LANGIT, kalau kemampuan hanya sekaki BUKIT.

Di sini terlihat bahwa dari zaman dulu sampai sekarang, tua-muda, rakyat jelata sampai presiden, semuanya suka pada rima.

Sebagai penutup, saya ingin mengingatkan,  jangan pernah meremehkan kekuatan rima. Kenapa? Karena bukan cuma manusia kok yang seneng sama rima. Allah SWT juga demen banget sama rima. Kalo gak percaya, baca aja tuh Al Quran. Contohnya:

Qul hu wallaahu ahad

Allaa hush-shamad

Lam yalid walam yuulad

Walam yakullahu kufuwan ahad,

Coba lihat, berima, kan? Jadi kalo Tuhan saja merasa perlu menggunakan rima untuk menyampaikan pesan berarti penggunaan rima itu sangat penting. Karena cara Tuhan pastilah cara yang terbaik.

Waduh! Udah jam 9,40. Saya cukupkan sampe di sini dulu. Mike saya kembalikan ke moderator. Silakan, Sep….

M: Baik Om. Teman-teman, silakan yang mau bertanya, tulis via WA saya di 0816909012 ya. Kita masuk ke Sesi Tanya Jawab.

M: Pertanyaan pertama dari Shwa:

Setiap penulis kan memiliki gaya menulisnya masing-masing (ciri khas), tapi bagaimana caranya untuk mengeluarkan ciri khas tsb tanpa terkesan monoton atau itu-itu saja?

N: Ciri khas itu adalah barang antik. Kadang seorang penulis bisa langsung menemukan ciri khas dalam buku pertamanya. Tapi itu jarang terjadi. Hampir di semua bidang hal ini terjadi. Misalnya sebuah band akan menyanyikan lagu orang lain dulu. Kemudian setelah dikenal orang barulah perlahan-lahan dia menemukan ciri khasnya. Dan ini prosess yang memang harus dijalani. Jadi saran saya sering-seringah menulis. Dalam perjalanan proses itu biasanya kita akan menemukan ciri khas kita.

M: Pertanyaan ke-2 dari Rudi: Assalamu’alaikum om. Maaf oot, apa beda copywriting dan storytelling?

N: Copywriting adalah penulisan naskah iklan. Storytelling adalah salah satu metode penulisan.

M: Pertanyaan ke-3 dari Ridzky: Saya pernah buat tulisan ini buat diri sendiri saat ulang tahun kemarin.  Apakah sudah berima?

Aku tidak bisa mengingkari kerut halus di sudut mata atau helai putih yang tiap dua pekan sekali dipoles shampo noni. Tetap sehat jasmani & rohani di sisa usia adalah pintaku pada Illahi, dan menjadi sosok yang berarti untuk siapapun nanti.

N: Iya berima. Next!

M: Pertanyaan ke-4 dari Yudhie: Berima berarti harus punya banyak pembendaharaan kata. Pertanyaan saya : Bagaimana cara mudah dan efektif untuk memperbanyak pembendaharaan kata?

N: Hahahaha…waduh pertanyaannya. Saran saya, coba sering-sering browsing di google. Pake aja kata kunci ‘kata yang berakhiran -an’. Atau berakhiran apa aja sesuai dengan yg kita butuhkan.

M: Pertanyaan ke-5 dari Fadyal: Apakah meningkatkan daya imajinasi, sama juga dengan meningkatkan banyak referensi?

N: Referensi itu fungsinya untuk mencari bahan pijakan berimajinasi. Kita membaca referensi lalu kita teringat pada apa? Lalu biarkan ingatan tersebut menjelma menjadi sebuah imajinasi kemudian biarkan imajinasi itu menjalar sejauh mungkin

M: Pertanyaan ke-6 dari Fairuz: Aslm.. Ini pertanyaan saya buat Ombud hr ini: Seseorang pernah bilang kepada saya, bikin novel itu bisa bertahun-tahun. Apakah imaginasi itu perlu ditingkatkan supaya bikin novelnya tidak terlalu lama?

N: Novel itu fiksi. Fiksi itu imajinasi. Jadi imajinasi mutlak harus ditingkatkan. Jadi jangan kita mau bikin novel baru berimajinasi. Setiap ada pemicu biarkan pikiran kita berimajinasi lalu tuliskan.

Membuat novel itu itu memang waktunya sulit ditebak. Saya punya novel yang belum kelar2 padahal udah lebih dari 2 tahun. Tapi pernah juga saya bikin novel cuma dalam waktu 7 hari. Kenapa bisa begitu? Karena tabungan tulisan saya yg berasal dari imajinasi udah banyak dan kebetulan cocok dengan novel yang saya tulis. Jadi tinggal saya tulis dan bikin bridgenya supaya kontinyuitasnya terbentuk. Selesai.

M: Pertanyaan ke-7 dari Billy: Yth. Malam, nama saya Billy. Berarti rima itu sama seperti pantun yang dulu diajarkan ke kita waktu sekolah ya Om? Dengan struktur AAAA BBBB dan ABAB atau ABCAB dan sebagainya?

Karena struktur rima panjang, apakah rima yang kita tulis/orang lain tulis bisa didaftarkan atau “dimiliki” oleh orang tertentu? Misalnya kalau kita pasang di slogan, apakah ada orang yang mengklaim “eh, punya gua tuh”, dan harus minta ijin dulu? Atau bayar. Apakah bisa di “klaim” milik satu orang tertentu?

Terima kasih, om Asep & om Budiman.

N: Wajarnya kita harus minta ijin karena kita harus respek sama karya orang lain. Bisa jadi orang tersebut minta dibayar, kalo saya ya bayar aja atau gak usah pake. Walaupun sebenernya, kalo kita klaim sebagai milik kita agak sulit buat orang tersebut menuntut kita.

Karena sebuah karya yang tidak didaftarkan ke Kamar Hak Cipta, sulit buat orang tersebut memenangkan perkara di pengadilan. Saran saya seperti di atas; kita harus respek sama karya orang jadi minta ijinlah.

M: Pertanyaan ke-8 dari Ocha R. Karnita: 1. Bagaimana cara kerja otak terkait dengan proses imajinasi? , 2. Bagaimana kita bisa tahu kalau imajinasi yang kita lakukan bisa jadi tulisan yang kreatif?

N: Coba kamu membuat tulisan dengan tema “Kalo saya terlahir kembali maka saya ingin menjadi………dan melakukan………..” Pasti tulisannya akan penuh dengan imajinasi.

Atau bisa juga bikin tulisan dengan tema “Kalo saya punya mesin waktu, saya akan………..” Tulislah maka imajinasi kamu akan bekerja. Bekerjanya gimana? Rasakan aja sendiri.

M: Pertanyaan ke-9 dari Luqman: Saya kalau nulis buat kerjaan/ buat orang lain bisa cepet. Tapi waktu nulis buat diri sendiri lama. Apakah ini umum atau saya aja. Kira2 sebabnya apa?

N: Itu fenomena umum. Kita semua butuh deadline dan butuh orang yang ngejer-ngejer kita, “Kerjaan udah sampe mana? Pokoknya harus kelar tanggal sekian, ya!”

Begitu kerjaan untuk diri sendiri, kita gak punya teror seperti itu. Makanya saya sarankan kita menyusun target buat diri sendiri lalu mendisiplinkan diri untuk memenuhi target tersebut. Susah memang tapi gak ada lagi yang bisa dilakukan kecuali itu.

M: Om, pertanyaan Luqman pertanyaan terakhir. Dan sepertinya saatnya sesi kita berakhir.

N: Okay

M: Silakan barangkali ada closing speech Om.

N: Ok Sep.

Teman2, setelah kita mencoba latihan ini, kita bisa membayangkan betapa sulitnya team kreatif yang bekerja di acara Mata Najwa. Khususnya yang bertugas membuat tulisan di ending di acara ini. Jadi kita perlu berempati pada orag kreatif tersebut. Apalagi mengingat Najwa Shihab konon orangnya galak banget. Hehehehe.

OK, sekarang kita latihan membuat Rima, ya? Ini buat yang mau dan sempet aja. Kalo gak ada waktu juga gapapa kok. Dua bulan lagi kan Hari Kemerdekaan, coba bikin ucapan ‘Selamat Hari Kemerdekaan’ yang indah dan orsinil.

Boleh bikin yang patriotik, boleh humor, boleh parodi, pokoknya apa aja boleh. Syarat mutlaknya adalah seluruh kalimat harus BERIMA. Rimanya boleh aaaa, abab, aabb, abba…terserah. Tulisannya cukup 4 baris saja. Gak usah panjang-panjang.

Sebelumnya, saya mau ngasih tips supaya kalian dapet pemicu untuk menuliskannya. Caranya sederhana; buatlah komponen makna berdasarkan kata ‘Hari Kemerdekaan”

Misal : Hari Kemerdekaan adalah : 1. Upacara Bendera, 2.Perlombaan, 3. Panjat Pinang, 4. Pidato Presiden, 5. Mengenang pahlawan dsb. 6. Perang melawan penjajah. 7. Pembacaan proklamasi. 8. Soekarno-Hatta 9. Dll. Kumpulin aja komponen maknanya sesuai dengan pengalaman hidup masing-masing.

Tulisan diposting di group aja dan kita akan bahas sama. Saya dan Asep juga akan berusaha komen kalo ada waktu senggang. Selamat bekerja. Wabillahi taufiq walhidayah, wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

M: Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih Om Bud untuk sharingnya. Terima kasih juga teman-teman untuk antusiasmenya.

Baiklah. Sementara sharing session kita tutup dulu ya. Kita akan ketemu lagi Selasa minggu depan, masih bersama Om Budiman Hakim. Dengan ini, forum saya kembalikan jadi forum bebas chat. Silakan berdiskusi, dan mari kita beri applause yang meriah untuk Om Budiman Hakim. Wassalamu alaikum warahmtullahi wabarakatuh. Selamat malam.

Belajar Menulis Bersama Om Bud (Bagian 5)

Berikut adalah rangkuman Sesi 5, Rabu 26 Juni 2019, dari rangkaian kulwap menulis dengan Budiman Hakim dan moderator Asep Herna.

M: Selamat malam teman-teman. Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Waduh! Ampir saja saya terlambat. Maklum jalanan tadi macet banget. Baiklah teman-teman hari ini kita akan memasuki sesi 5. Sesi lima, kan? Iya sesi 5. Hehehehe…..

N: Alhamdulillah, malem ini kita memasuki sharing ke-5. Malam ni saya akan membawakan materi dengan topik: “Menulis tanpa Ide”.

Kalo mengamati sesi kemarin malam, saya bisa menyimpulkan bahwa temen2 senengnya kalo sharing ini ada latihannya, ya? Karena itu, khusus malam ini, saya akan mengurangi waktu sharing supaya latihannya jadi agak panjang. Malam ini judul besarnya adalah ‘MENULIS TANPA IDE” tapi terbagi dalam dua segmen. Segmen pertama berjudul :

Sebelumnya saya memperlihatkan sebuah alphabet.

Silakan dipelototi dulu kalo mau Ada berapa huruf dalam abjad kita? Yak, betul! Ada 26. Ini saya tuliskan ya, barangkali ada yang masih ragu-ragu dan mau ngitung untuk memastikannya, silakan. Hehehe… a b c d e f g h I j k l m n o p q r s t u v w x y z.

Sekarang, pandanglah ke 26 huruf di atas baik-baik. Amatilah satu persatu dari A sampai Z. Makna apa yang kita temukan? GAK ADA! Apa yang kita rasakan? Kita gak merasakan apa-apa. Mereka cuma sekumpulan huruf yang berbaris tanpa makna. Kita tidak tertarik dan di saat yang sama, kita juga tidak terganggu pada sederetan huruf tersebut. Semua terasa datar-datar saja.

SEKUMPULAN HURUF TANPA MAKNA ITU SAMA SEKALI TIDAK MEMBERIKAN EFEK APAPUN PADA KITA.

Sekarang dari abjad tersebut, coba ambil beberapa huruf kemudian susun. Gak usah banyak-banyak, cukup 3 huruf. Anggap aja kita sedang main scrabble. Hehehehe…. Misalkan kita ambil huruf: S, E dan X maka kita bisa membentuk sebuah kata: SEX! Lalu apa yang terjadi?

Tiba-tiba susunan ketiga huruf tersebut mempunyai makna! Padahal cuma 3 huruf, loh. Padahal 26 huruf di atas tidak punya makna sama sekali. Hebatnya lagi, makna yang diterima oleh pembaca terhadap kata itu bisa berbeda-beda efeknya. Apa yang muncul di kepala tiap orang belum tentu sama. Ada yang menganggap kata ‘SEX’ tersebut sebagai makna jenis kelamin. Ada yang mengartikannya lebih spesifik pada organ vital. Yang imajinasinya tinggi langsung muncul di benaknya visual sepasang cowok dan cewek sedang melakukan persetubuhan. Ah…uh…ah…uh…! Hayo ngaku!!! Hehehehe…. Atau bisa jadi ada ibu-ibu peserta di sini yang langsung gerah, “Apa-apaan sih Om Bud kok ngomongin sex segala? geleuh, ah!!!” Kok bisa gitu, ya?

Kita tadi sudah sepakat bahwa ke 26 huruf dalam abjad tersebut gak ada maknanya. Tapi ketika kita susun beberapa huruf saja, kok bisa mempunyai makna dengan efek tertentu? Maknanya pun sangat luas. Padahal mereka tetap saja cuma huruf. Cuma 3 biji dari 26 huruf. Jadi bisa disimpulkan, semua huruf-huruf yang tidak berarti di atas, jika kita MENYUSUNNYA dengan baik maka akan memiliki MAKNA.

Itu baru satu kata. Bagaimana kalau kita susun dalam bentuk kalimat lalu kita bubuhkan tanda baca. Tau gak apa yang terjadi? Huruf-huruf tersebut bukan cuma punya makna tapi juga bisa menjelma menjadi kalimat yang sangat powerful.

Dan kalimat tersebut bisa menciptakan EMOSI. Emosi bisa menciptakan ENERJI. Dan enerji bisa menjadi menjadi POWER. Luar biasa sekali, kan?

Maaf barusan mati lampu……

Contoh 1:

“Orang yang paling pantas masuk neraka adalah AHOK. Karena dia adalah penista agama.” (Maaf, saya sengaja kasih contoh yang ekstrim sekedar untuk memudahkan pengertian).

Coba kalian tulis kalimat di atas di status FB. Ada yang berani? Hehehe…

Kalo kalian tarok sbg status FB, saya jamin kalian akan dibully habis-habisan oleh pecinta Ahok alias AHOKER. Kenapa? Karena para Ahoker akan tersentuh emosinya dan siap melampiaskan emosinya dengan membully penulisnya. Padahal SEKALI LAGI, itu cuma susunan huruf doang.

Contoh 2:

“Anies itu udah gak becus jadi gubernur, kok malah mau nyapres? Di mana otaknya?”

(Sekali lagi maaf, saya sengaja kasih contoh yang ekstrim sekadar untuk memudahkan pengertian).

Nah, kalo bikin status seperti ini, maka kalian akan dituduh anti islam, munafik dan kafir.

Kali ini pendukung Anies yang akan murka. Mereka langsung emosi dan bisa-bisa mempersekusi penulisnya. Mereka emosi, SEKALI LAGI, hanya karena sekumpulan huruf-huruf yang kita susun. Padahal itu tetap saja cuma huruf. Kenapa bisa sepowerful itu?

Luar biasa banget, kan? Kita bisa mempermainkan emosi orang lain hanya dengan menyusun huruf-huruf dalam abjad.

KESIMPULAN: Jangan pernah meremehkan kekuatan huruf. Beberapa huruf, jika sudah tersusun, mampu menjelma menjadi sebuah kalimat yang berenerji besar. Kedua contoh kalimat yang saya tulis di atas telah membuktikannya.

Sayangnya, kedua contoh tersebut bermuatan enerji negatif. Kenapa saya kasih contoh yang negatif? Karena kalimat-kalimat negatif seperti itulah yang paling sering kita temukan di social media. Sad but true! Sudah bukan rahasia lagi bahwa social media adalah cara efektif untuk menciptakan opini.

Di dunia politik, penggalangan opini adalah cara ampuh untuk menjatuhkan lawan. Bukan cuma pertikaian politik dalam sebuah sebuah negara, dalam pertempuran antar negara pun, social media sudah menjelma menjadi senjata yang mengerikan. Senjata apakah itu?

Bukan social medianya, social media hanya sekedar media tapi senjata yang mengerikan itu adalah KATA-KATA! Kita tahu perang yang terjadi di Suriah, social media mengambil peranan penting dalam memecah belah umat. Jadi, berhati-hatilah dalam menyusun huruf. Berhati-hatilah dalam merangkai kata. Susunan kata-kata, di social media, bisa lebih berbahaya daripada dentuman sebuah bom nuklir.

Tapi, Alhamdulillah,Tuhan itu maha adil. Kita tahu di dunia ini ada yang namanya hukum keseimbangan. Kalo ada enerji NEGATIF pasti ada enerji POSITIF.

Okay. Sekarang kita sudah menyadari bahwa sekelompok huruf yang tersusun bisa begitu powerful. Pertanyaan berikutnya nya adalah kenapa kita tidak menyusun huruf-huruf dalam abjad tersebut menjadi kalimat yang bermuatan enerji positif.

Misalnya kita menulis di status FB :

  1. Merindukan Anies dan Ahok bahu-membahu membangun Jakarta. Pasti keren, deh. Yang satu menata kota, yang lain menata kata.

Atau misalnya lagi…

  1. Pelukan antara Prabowo dan Jokowi adalah pertanda bahwa jika keduanya bersatu maka Indonesia akan maju pesat mengalahkan Jepang, Korea, China atau siapa pun di dunia.

Positif sekali kan?

Mungkin kalimat yang saya susun belum maksimal tapi intinya adalah bagaimana kita menyusun huruf-huruf dari alphabet menjadi kalimat yang POSITIF. Positif itu maksudnya seperti apa, sih?

Kalimat yang positif adalah kalimat yang tidak memprovokasi. Kalimat positif adalah kalimat yang membuat orang senang bahkan merasa terpicu untuk share di social medianya. Bayangkan jika yang share jumlahnya banyak maka virus kebaikan akan menjalar ke seluruh negeri lalu melibas serangan virus buruk dari postingan fitnah dan hoax.

Sejak kecil kita diajarkan bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia. Masya Allah, Tuhan sayang sekali sama kita, Dia bahkan menempatkan harkat manusia lebih mulia dari malaikat sekalipun. Apakah kalian mempercayai hal itu?

Kalau kita percaya bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia….mari kita membuktikannya dalam sikap hidup kita sehari-hari. Dimulai dari yang kecil, dengan memposting kalimat positif.

Gak usah nyuruh-nyuruh orang melakukannya, semua kebaikan harus dimulai dari diri sendiri. Orang, biasanya, tidak suka dinasihati. Mereka lebih seneng kalo dikasih contoh.

Yuk kita mulai menulis hal-hal yang positif! Kita bisa menulis di status FB, di Twitter, di blog, di IG, di mana pun apapun social media yang kita gunakan, tulislah hanya kalimat-kalimat yang positif.

Nah, masalahnya adalah, kita mau menulis apa? Itu kan yang sering kita alami. Niat menulis mah gede banget tapi otak sering banget terasa mandeg. Maka di sinilah saatnya kita masuk ke segmen inti dari sharing malam ini. Jreng…JRENG!!!!

Pernah kan kalian ngedenger orang ngomong,”Jangan tunggu kaya lalu baru berderma. Berdermalah dulu maka in shaa Allah kita akan menjadi kaya.”

Ada lagi yang kalimat yang mengatakan,”Jangan menunggu bahagia lalu baru tersenyum. Tersenyumlah maka kebahagiaan akan datang padamu.”

Dan masih banyak lagi kalimat-kalimat motivasi dengan format kalimat seperti di atas sehingga saya curiga bahwa formulasi kalimat tersebut adalah RAHASIA KEHIDUPAN. Kenapa demikian?

PLAK! (Aduh nyamuk banyak banget nih). 😃

Karena sepanjang pengalaman menulis, saya juga menemukan RAHASIA cara menulis tanpa ide. Dan setelah saya coba tuliskan rahasianya, ternyata FORMULASInya persis sama dengan formulasi kalimat-kalimat motivasi di atas. Bunyinya begini,

“JANGAN MENUNGGU IDE DATANG LALU BARU MENULIS. MENULISLAH DULU MAKA IDE AKAN DATANG PADAMU.”

Persis sama kan formulasi kalimat-kalimat di atas? Ajaib, ya? Pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa menulis kalo belom ada ide?

Sering kan kita ngedenger orang ngomong begini, ‘Gue sih mau nulis tapi belom ada ide nih.’ Nah, itu keliru. Sekali lagi saya katakan: Ide itu gak boleh ditunggu. Ide itu harus DIPANCING. Persoalannya, cara mancingnya gimana?

Okay saya kasih tau rahasianya. Tapi jangan bilang siapa-siapa ya? Buat kita-kita aja di group ini, nih. Hehehehe…. Caranya begini: Tuliskan benda-benda yang kita tangkap melalui pancaindera. Lalu gabungkan dan susun semua benda tadi menjadi satu kesatuan dalam beberapa kalimat. Dengan menuliskan apa yang dirasakan oleh pancaindera, tulisan tersebut akan menjadi pemicu supaya ide datang. Agak sulit dipahami kalo gak dikasih contohnya, ya….

Sebelum saya kasih contoh, saya mau mengatakan sesuatu. Moderator kita, Asep Herna, itu bukan anak buah saya. Asep itu adalah partner saya. Jadi di sini gak ada yang boss dan gak ada yang anak buah. Sebagai partner, kami berdua sering melakukan eksperimen bagaimana mencari metode menulis yang memudahkan kita semua. Sebelum membagikan pada para peserta workshp, Asep dan saya selalu mempraktekkannya lebih dulu secara internal. Kalau ternyata metode tersebut bermanfaat dan betul EFEKTIF barulah kami berani membagikannya pada para peserta. Nah, metode menulis tanpa ide, sudah saya praktekin bersama Kang Asep. Saya menemukan metodenya dan Asep yang mempraktekkannya.

Moderator kita, Kang Asep Herna, suatu hari memperaktekkan metode ini. Asep saat itu sedang berada di kamarnya, berniat hendak menulis sesuatu. Tapi sayangnya Kang Asep idenya lagi mandeg. Kang Asep duduk di depan laptopnya yang sudah menyala dari tadi tapi masih saja kosong tanpa satu huruf pun di atasnya. Sang moderator kita yang tampan itu memandang ke sekeliling kamar lalu menuliskan benda-benda yang ada di sekitarnya. Benda-benda tersebut adalah :

  1. PRINTER
  2. KERTAS
  3. DINDING
  4. AC
  5. JAM
  6. LAPTOP

Setelah itu, Asep mulai mengetik, menyusun kalimat yang menghubungkan semua benda tadi. Dan beginilah hasilnya : “PRINTER warna hitam di depanku menungguiku kaku, ditemani KERTAS-KERTAS kosong  yang berserakan di sekitarnya. Aku lihat DINDING tampak pucat, barangkali kedinginan karena berjamjam disembur AC yang begitu angkuh. JAM menunjukkan pukul 2 pagi. Tapi layar LAPTOPKU masih juga kosong. Dan hingga detik ini, tak satupun ide bergairah menghampiri. ”

Coba dibaca dulu tulisan Kang Asep di atas. Coba perhatikan. Asep yang mengaku belum punya ide untuk menulis tapi telah memiliki sebuah tulisan yang sangat bagus. Luar biasa, kan?

Satu hal yang perlu dicatat bahwa Asep baru memanfaatkan indera penglihatan. Baru dari mata doang. Asep telah membuat sebuah tulisan yg bagus hanya dengan mengandalkan matanya. Padahal kita masih mempunyai indera penciuman, pendengaran, pengecapan dan peraba sebagai device untuk bereksplorasi. Semua yang ditangkap panca indera berpotensi untuk membuat tulisan memancing ide.

Misalnya kentongan satpam komplek yang sedang memukul tiang listrik, bau Indomie yang sedang dimasak oleh teman kos-kosan kita, rasa kopi yang ternyata sudah kadaluwarsa, rasa jijik ketika seekor kecoak berjalan di atas kaki kita dan masih banyak lagi.

Apa yang dilakukan Asep Herna di atas tentunya dapat dilakukan oleh kita semua. Jadi biasakan menulis dulu tanpa perlu menunggu ide datang. Cara menulis seperti itu adalah cara untuk memancing ide datang. Ketika ide sudah terjaring barulah kita kemas menjadi tulisan yang menarik.

Okay, sekarang kita latihan menulis tanpa ide, ya?

Jadi selain pertanyaan, kalian juga boleh memperaktekkan metode tersebut lalu hasilnya bisa dikirim ke Asep untuk dibahas di sini. Jangan jadi beban. Susun aja semua benda itu sehingga menjadi kesatuan dan lakukan tanpa berpikir. Kalo dipikirin makin susah jadinya

Saya kira cukup sekian sharing ini. Terima kasih atas perhatiannya. Semoga Tuhan makin sayang sama kita. Aamiin. Okay mike saya kembalikan ke moderator. Silakan, Sep…

M: Baik Om Bud.

Sementara sambil nulis latihan, barangkali ada yang mau nanya juga silakan. Tulis pertanyaan lewat saya di 0816909xxx. Nanti langsung Om Bud jawab.

Silakan pandang benda2 disekitar kalian lalu jadikan tulisan seperti di atas ya….

Atau yang mau ngasih hasil tulisannya juga silakan. Formatnya: 1. Tulis benda-benda yang terlihat di sekita apa saja; 2. Hasil gabungannya seperti apa.

M: Om, ada pertanyaan dari @Fauzan. Pertanyaan untuk Om Bud. Perlukah kita memasang judul yang bersifat click bait pada tulisan kita? Kalau perlu, click bait yang seperti apa yang bagus untuk digunakan?

N: Terserah. Suka-suka aja. Kalo nulis itu harus nyaman tanpa ada rambu2 yg memenjarakan kita….

Blom ada tugas yg masuk, Sep?

M: Ini karya @Donna nasution:

Novel

Mug

Kopi

Kursi

Menikmati malam dengan udara dingin menusuk, tak ada yang paling nikmat selain menyeruput KOPI hitam tanpa gula di MUG kesayangan sambil duduk di KURSI yang menghadap jendela sambil membaca NOVEL.

Nikmat yang tak dapat di tukar dengan apapun juga.

N: Nah, ini keren! Coba buat Donna, ambil bendanya minimal 6 buah. Setiap benda adalah pijakan imajinasi kita shg kita jadi punya bahan yg cukup banyak dalam menulis. Thanks.

M: Karya @Nathan Bravian:

– Kasur

– Kipas

– Bunyi hewan malam

– Notes

Malam ini di atas kasur, ku  berbaring melamun mendengarkan nyanyian jangkrik sambil merencanakan apa yang harus kulakukan besok dengan kepala dingin.

N: Kok cuma kasur yg masuk? Kipas, notes dan bunyi hewan malamnya mana?

Tolong ambil bendanya minimal 6. Biar kita banyak bahan…..

M: Karya @luqmanbaehaqi:

  1. TV
  2. cermin
  3. Jam dinding
  4. Tembok bata
  5. Lemari merah.
  6. Meja putih

Sebenarnya hadirnya TV di tengah2 kita bisa kita jadikan sebagai CERMIN.

Kita adalah apa yang kita tonton. Jika kita menonton hal baik maka seiring berjalannya waktu dan detik di JAM DINDING kita bisa menjadi orang baik juga.

Kadang kita suka melihat  TEMBOK BATA dicoret dengan umpatan mungkin orang yang corat coret selama ini sering mendengarkan hal yang gak jauh dari itu.

Eh tapi tunggu. Walau bagaimanapun kita tidak berhak memvonis karakter orang cuma dari tontonannya, sih. Karena apa yang kita lihat dari luar  bisa berbeda dengan apa yang ada di dalam hatinya. Seperti LEMARI MERAH belum tentu semua yang di dalamnya berwarna merah juga kan?

Yang paling penting kita bisa menampilkan yang terbaik. Percuma kalau kita baik tapi yang kit lakukan sesuatu yang buruk. Percuma MEJA PUTIH yang terlihat suci tapi menyajikan makanan beracun yang membuat orang jijik melihatnya.

Itu bendanya.😊

N: Ini contoh yang bagus banget karya Luqman. Mohon diperhatikan baik-baik buat yg lain. Semua benda disebut tapi caranya halus tanpa ada kesan maksa. Keren, Luq!

M: Dari @Dede Rismeliasari:

  1. Gelas bekas susu coklat
  2. Ransel hitam.
  3. Botol parfum

Hasil :

Ransel hitam yg biasa setia menemani di kala ke kantor. Efektif memuat berbagai barang. Mulai dari pulpen, hp, laptop sampai handuk kecil untuk ngelap keringet/air wudhu.

Malam ini harus lembur. Sampai rumah sudah disediakan seteko susu coklat panas dan sudah kuminum segelas. Bekasnya masih disimpan di meja rias kamar. Di samping sebotol parfum kesayangan.

N: Nah ini lumayan. Coba cari bendanya minimal 6 buah. Supaya gak keabisan ide.

Dan tolong jangan cuma menggabungkan saja. Gunakan imajinasi kalian untuk bercerita….

M: Karya @Joey:

Puff pastry

Oven

Kulkas

Sayur

Ayam

Daging ayam

Jam menunjukkan pukul 4 sore lebih, padahal jam 6 sore makanan harus tersaji disantap crew. Puff pastry yang beku sengaja dibiarkan diatas meja tidak mengeras seperti didalam kulkas. Twingk memanaskan oven dan memotong sayuran serta daging ayam. Sejenak berpikir wah enak juga kalo sore ini makannya curry puff.

N: Ih keren banget Joey! Coba benda2 yg dipilih dibuat kapital dalam cerita. Supaya yang lain tau bagaimana memanfaatkan benda tersebut dalam tulisan.

M: Karya @Agung Sugiharto:

Dinding

Hp

Lampu

Rak Buku

Charger

Dinding kamar yang lembab tersinari oleh cahaya lampu putih menambah suasana hening di dalam kamar. Menuliskan cerita di salah satu HP sambil memandang rak buku yang menempel di dinding, sementara hp satunya tergeletak di atas lemari baju sedang dicharger.

N: OK. Coba dikasih kapital benda-bendanya yg di dalam cerita ya. Kalo bisa pilih minimal 6 benda.

M: Dari @+62 878-7855-xxxx

Kamar, dinding, kasur, hp, jaket, suami

Malam ini seperti biasanya, pulang kantor, tiduran di KASUR, main HP sambil ditemani SUAMI. Ingin banget buat nonton film, tapi mager. Akhirnya, cuma bisa mandang ke arah JAKET yg digantung di DINDING

N: OK, semua benda sudah terhubung tapi coba tambahkan imajinasi yang lain supaya ceritanya lebih menyentuh. Dan pilih bendanya minimal 6.

M: Dari @Lidya

Selimut

Bantal

Boneka

Lampu

Tirai

Jendela

Diatas BANTAL, kubaringkan kepalaku dan mencoba memejamkan mata. Merasakan hangatnya dibawah SELIMUT, seakan akan kau memelukku erat. Ditemani oleh 2 BONEKA, yang tanpa lelah memandangku. Walau mataku tidak terlalu melihat gelap karena adanya LAMPU yang cukup terang. Aku selalu merindukanmu, dibalik JENDELA yang tertutup TIRAI

N: Masya Allah. Ini keren sekali Lidya. Cara kamu memasukkan personifikasi membuat tulisan kamu jadi ada dimensi. Kerinduan yg kamu hadirkan, juga membuat tulisan ini ada emosinya. Congratz!

Ada lagi yg mau ngasih karyanya?

M: Dari @Shwa:

  1. Laptop
  2. Selimut
  3. Kabel
  4. Botol minum
  5. Kacamata
  6. Kasur

HASIL TULISAN:

Buram. Semuanya buram. Keburaman yang membuatku takut. Aku sembunyi dibalik SELIMUT, berusaha menelaah hal yang sudah terjadi. Kenapa semuanya buram? Bukankah aku baru saja tidur siang? Harusnya aku bangun dengan siaga kan?

Keburaman tak mau meninggalkanku. Yang lebih parah, aku sendirian di rumah. Kucoba untuk memberanikan diri. Hmm… Mungkin aku bisa menelepon seseorang? Ya, ya, itu pikiran bagus.

Tapi mana ponselku? Tidak ada. Kuputar lagi otak. Oh, kendati buram, aku masih bisa melihat LAPTOPku. Kuraih benda itu, kubuka, dan… Aku diam.

Astaga, aku tak bisa melihat papan ketiknya! Bagaimana ini? Ck, kurasa aku harus tenang.

Aku menyingkap selimut dan turun dari KASUR. Tangaku terjulur, berusaha meraba-raba benda di sekelilingku. Kukira itu sudah cukup baik, tapi amboy! Malang benar diriku ini! Bukannya selamat, aku justu tersandung KABEL!

Sembari mengaduh, aku pun bangkit berdiri. Tanganku meraba-raba lagi, dan kali ini ia menangkap sesuatu yang panjang dan dingin. Apa pula ini?

Duh, ini hanyalah BOTOL MINUM! Aku tertawa histeris. Kenapa sih, aku penakut sekali? Kubuka tutupnya, kutenggak beberapa tetesnya.

Dan baru saja hendak menaruh botol, tahu-tahu aku membeku. Apalagi ini? Kenapa setelah aku menaruh botol, botolnya tidak seimbang? Apa mejaku  rusak?

Kucoba mencari penyebabnya dan… itu karena KACAMATAku! Aku tertawa lagi. Ternyata selain penakut, aku juga teledor! Pantas saja semuanya buram. Aku kan baru saja tidur siang, pasti kacamataku dilepas! HAHAHAHA!

N: OK, kita layani sampe jam 10.30. Komen lo juga diharapkan loh, Sep

Wah bisa menulis panjang padahal belom punya ide ya. Dan saya suka karena cerita kamu terbagi 3 bagian. 1 Buram. 2. Apa yang terjadi karena keburaman itu. 3, Solusi. Ternyata kacamata kamu gak dipake. Itu sebabnya menjadi buram Keren2.

M: Dari @annisaqla

Tang

Obeng

Mur

Baut

Palu

Paku

Anak anak belum pada tidur nih, padahal malam semakin dingin. Tiba tiba pandangan bapak tertuju pada pintu dapur yang baru terpasang, eh ndilalah bawah nya nimasih ada cela, yah kira kira seukuran tikus bisa masuk lah ya 😂. Waduh, bahaya ini. Langsung saja bapak ngeluarin kotak ajaib nya yang berisi peralatan pertukangan. Heboh banget suaranya, tok tok bunyi palu memukul paku, tak ketinggalan mur dan baut juga ikut terpasang, obeng dan tang juga berpartisipasi tak kalah seru 😂. Hmmm, beruntung kami gak tinggal di komplek perumahan yang padat. Bisa bisa kami langsung di demo warga karena malam malam gini bikin gaduh aja. Hehehe

Taraaa, akhirnya pekerjaan pun selesai

N: Ceritanya menarik. Tapi sebisa mungkin jangan pilih benda dalam satu kategori nanti kamu kekurangan bahan. Pilih minimal 6 benda yang tidak terlalu berhubungan.

M: Dari @Fauzan

Benda sekitar:

  1. Kasur
  2. Kursi
  3. Tv
  4. Karpet
  5. Selimut
  6. Lemari pakaian
  7. Pintu

Kombinasi nya:

Biasanya, sebelum tidur saya suka nonton TV sambil tiduran di KASUR. Kamar saya tuh penuh. Kalo kamu buka PINTU kamar saya, kamu akan lihat ada KURSI, SELIMUT, LEMARI PAKAIAN, dan di samping KASUR ada KARPET

N: Nah kalo ini sepertinya males mikir. 🤣🤣🤣. Coba bendanya dibuat beraksi. Gunakan personifikasi, metafora atau gaya bahasa lainnya. Jadi jangan tergantung pada deskripsi. Buat ceritanya (narasi).

M: Dar @Yeni Susanti

Jam dinding

Gambar di dinding

Kipas angin

Jendela

Parfum

Handphone

Menantimu di kamar ini serasa membunuhku. Detak JAM DINDING itu seolah melambat, GAMBAR DI DINDING seolah menatap lekat. Kucoba menghidupkan KIPAS ANGIN kesayanganmu, tapi itu tak mengurangi jengahku. Apa lagi yang harus aku lakukan ? Kau tetap tak kunjung datang.

Angin mulai berhembus dari celah JENDELA, menyentuh rak PARFUMmu di sudut sana. Ah wanginya… Semakin membuatku tak sabar menanti kapan kau datang.

Aku mulai tak sabar. Kamar ini masih terasa kelam, kau belum juga datang. Kuraih HANDPHONE dan mencoba mencari kabar, kapan kau kan datang.

N: Wah….keren nih. Setiap benda dimanfaatkan semaksimal mungkin sesuai dengan kegitan Sang Tokoh. Luar biasa!!!! 👍👍👍👍

M: Dari @Fairuz N. Izzah

Oya, ini tugas saya buat dikasih ke Ombud:

AC

HP

Kacamata

Tempat tidur

Laptop

Tablet

Aku suka browsing, apalagi di kamarku ketika merasakan hawa dingin AC. Mataku sama sekali tidak merasakan sakit ketika browsing di HP walaupun aku memakai KACAMATA. Namun aku juga browsing di LAPTOP atau TABLET karena layarnya lebih luar. Aku bisa browsing dimana saja, tapi aku suka browsing di TEMPAT TIDURku yang empuk dan nyaman.

N: Keren Fairus. Akan lebih keren lagi kalo kamu bisa menyelipkan cerita ke dalamnya supaya pembaca lebih terggugah emosinya…

M: Dari @Munaaaa

Latihan kang…

RUMAH KOSONG

MOBIL

JALAN RAYA

LAMPU JALAN

POHON RINDANG

Malam mulai terasa dingin. Hembusan angin kian kencang disertai gemuruh menjelang hujan dari atas langit. Sebuah MOBIL putih yang terparkir di depan RUMAH KOSONG, besar, kusam karna sudah lama ditinggal penghuninga, sedari tadi menunggu kedatangan sang pemilik. Lampu sein, depan belakang mobil itu terus berkedip,

menambah efek angker dari rumah kosong dan POHON RINDANG yanh posisinya tepat dibelakang mobil putih.

Meski ada LAMPU JALAN yang berdiri tak jauh dari mobil putih, tetapi pendar sinarnya tetap tak mampu mengurangi keangkeran rumah besar yang berdiri tepat di pinggir JALAN RAYA.

N: Bagus. Sebenernya bisa lebih bagus kalo kamu memaparkan ketakutan kamu atas rumah yang seram itu. Gunakan cakapan dalaman, ‘Hiiii….Ya Allah, lindungi aku dari godaan setan yang terkutuk’. Misalnya gitu. Insya Allah akan lebih berasa emosinya.

M: Dari @Abdussalam

Laptop

HP

AC

Faris (nama Anak)

Mobil-mobilan

Mencari ide-ide kreatif dengan Laptop adalah sebuah rutinitas yg di malam hari

kebetulan malam ini sambil mencari ide menyimak materi yg di sampaikan oleh om bud di grup Whatsapp tentang bagaimana menulis tanpa ide.

Jadi, baca chat grup melalui HP di tangan dan laptop dalam kondisi hidup melihat iklan-iklan kreatif.

Biar bisa mendapatkan ide seBUAS pematerinya maka harus dalam keadaan yg nyaman dan pilihannya adalah menghidupkan AC agar ide-ide kreatifnya tidak menguap.

Klo dulu, kehadiran Faris (anak paling kecil) adalah moment yg paling merusak dalam mendapatkan ide tapi sejak belajar bareng om bud, justru kehadiran Faris bisa mengilhami banyak ide.

Hebatnya lagi saat ini, Suara gaduh ban mobil-mobilan yg digunakan Faris mainan, bisa menjadi merdu melebihi suara wik wik wik di malam hari (suara burung uncuing).

N: Nice!  Mungkin kamu bisa menuliskan kegiatan Faris. Dan dari semua kegiatannya itu benda-benda tersebut terlipkan dengan mulus.

M: Dari @Blend

Bantal

Handphone

TV

Meja

AC

Kulkas

Dia menangis disamping ku air mata nya membasahi BANTAL dan lenganku , sementara mata ku tertuju ke HANDPHONE ku yg terus menyala karena chat group The Writer yg tak pernah berhenti, aku terdiam gelap seperti TV di atas MEJA di depan ku dia mati tak bernyala, tapi pikiran ku berkecamuk seperti nyamuk yang terus ku tepuk, entah mengapa Hati ku Dingin dan membeku seakan berlomba dengan AC dan KULKAS dikamar ini yg sedang bekerja dengan Dingin nya , Hati ku dan Kamar ini  sama dengan Malam ini  .. Dingin

N: Awal cerita sudah mengundang rasa ingin tau pembaca. Tapi akhirnya pembaca tetep gak dikasih tau siapa yang menangis dan air matanya membasahi bantal. Fokuslah pada ceritanya. Bukan pada benda-bendanya. Benda itu kan cuma alat bantu.

M: Dari @emma holiza

Sendal jepit

Galon

Kucing gendut

Remote

Obat kurus

Mug

Sudahlah Emma, berhenti memandang aku seperti itu. Toh aku juga kucing gendut yang perlu minum obat kurus ini, andai aku manusia. Cepaaat  letakan remote itu, pemalas! Ambil mug  dan tuang air dari galon, telan dua butir pil saja jangan lebih, I don’t wanna loose you. Hahaaa..

Oups!! Jangan lempar aku dengan sendal jepit baumu!! Meeeeooowww..!!

N: Ini seharusnya keren. Coba gunakan kalimat langsung supaya emosinya dapet. “Sudahlah Emma….bla…bla…bla…”

P: 

Tempat sampah biru

T-shirt hitam

Tumpukan kardus

Selimut handuk

Bola karet

Celengan koin

Susana ruangan mencekam, T-SHIRT hitamku yang baru kulepas teronggok disudut ruang, setengah menutupi BOLA KARET mainan Millo. Satu-satunya kenangan yang tersisa dari Anjing kesayanganku.

Kusambar ikat rambut dari atas TUMPUKAN KARDUS bekas yang entah kenapa teramat malas untuk kubuang.

Lalu aku melangkah kedepan cermin untuk mematut rambutku yang terasa berat.

Hatiku sangat galau, terganggu oleh suasana remang di ruangan yang tak beraturan.

Beranjak dari depan cermin. Melangkah menuju kamar kecil, kakiku tersandung CELENGAN KOIN dan menimbulkan bunyi yang tidak nyaman ditelinga. Tapi aku tak peduli, tak ingin juga meraih benda tersebut untuk ditempatkan diatas meja.

Namun kakiku masih oleng sehingga TEMPAT SAMPAH BIRU menjadi korban ke-dua, tersungkur menumpahkan isinya.

Kesal karena merasa hari ini semua serba salah dan ingin segera terlena dibalik SELIMUT HANDUK, satu-satunya benda yang selalu membuatku nyaman di muka bumi ini. Aku hanya ingin lelap.

N: Lah ini kok nyerobot aja? Kesian dong moderatornya dicuekin????

Ceritanya bagus. Penuturannya keren. Kalo dipaksa supaya ngeritik paling cuma penggunaan kata di dan ke yg mana harus dipisah dan mana yang harus disambung.

M: Om, sudah pukul 22.30. sepertinya sesi mesti berakhir. Masih ada 19 karya yg datang belakangan.

Sebelum ditutup, silakan barangkali ada pesan penutup Om.

N: OK teman-teman. Maaf ya gak bisa periksa semuanya. Soalnya saya juga harus ngerjain materi presentasi kerjaan kantor buat jam 9 besok pagi.

Tapi intinya semua udah bagus. Yang kurang adalah kalian terlalu terperangkap sama bendanya. Sepertinya banyak yang berusaha nyambungin satu benda ke benda yang lainnya.

Coba dibikin cerita. Gak perlu panjang2. Saya kasih contoh ya:

Misalnya saya pilih 6 benda sbb:

Sepatu tua

Kasur

kulkas

Pintu

handuk

Pancuran

Nah kita bisa menghidupkan benda tersebut seakan-akan manusia. Beberapa orang tadi sudah menggunakannya dengan gaya bahasa personifikasi.

Tapi sebenrnya kita bisa bikin lebih dari itu. Kita bisa bikin konflik yang lebih dramatis. Misalnya:

Bentar agak lama karena saya ketik dulu ya…

Brak! PINTU kost kudorong dengan kuat sehingga menimbulkan suara menggelegar. Aku terlalu capek sehingga langsung kubanting tubuhku di atas KASUR yang empuk. Kepalaku mau pecah rasanya karena letih seharian bermain tenis bersama teman-teman kantor.

“Aku benci sama kamu!!!” Tiba-tiba terdengar suara.

Aku mencari suara tersebut ternyata datangnya dari SEPATU TUA yang sedang mojok di sudut kamar di samping KULKAS.

“Kenapa kok benci?” tanyaku terheran-heran kok sepatu itu bisa berbicara.

“Sejak kau memiliki sepatu baru, kau tidak pernah peduli lagi padaku. I hate you!!”

Hah? Sepatu lamaku cemburu dan merasa dicampakkan. Aduh! Apakah aku sudah gila?

Dengan cepat aku berdiri meraih HANDUK lalu masuk ke kamar mandi. Barangkali guyuran air dingin dari PANCUR…

Begitu kira2 teman-teman. Saya akhiri dulu materi malam ini ya. Maafkeun kalo ada kata-kata yang tidak berkenan. Wabillahi taufiq walhidayah, wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

M: Waalaikum salam wrb. Keren banget ceritanya Om.

Tengkyu, Om Budiman Hakim. Terima kasih juga teman-teman semua. Asik banget malam ini ya. Semoga penuh manfaat. Aaamiiin.

Baiklah… Sesi Sharing saya tutup, dan ruang chat saya kembalikan ke forum bebas untuk teman-teman posting hal yang relevan.

Wabillahi taufiq walhidayah, wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ayo kita beri applause dan ucapan terima kasih yg meriah untuk Om Budiman Hakim ya. 😊🙏

Belajar Menulis Bersama Om Bud (Bagian 4)

Sesi keempat dari serial kulwap menulis bersama Budiman Hakim berlangsung hari Selasa, 25 Juni 2019 mulai pukul 20.00, dengan moderator Kang Asep Herna. Tema sesi ini adalah tentang Makna Ganda. Rangkumannya bisa disimak di bawah ini.

Teman2 sekalian. Alhamdulillah kita ketemu lagi di sesi 4, ya. Semoga kalian semua baik-baik aja, semoga semuanya sehat-sehat ya dan semoga creative attitudenya makin berkembang. Amin33X.

Untuk menghemat waktu, saya langsung ke pokok persoalan ya?

Sebelumnya saya minta maaf karena saya gak mungkin memeriksa semua cerpenting yang kalian bikin. Pertama cerpenting yang diposting dan japri jumlahnya banyak banget dan panjang-panjang. Totalnya ada 112 cerpenting. Ada yg dikirim ke IG, Blog, FB dan Japri. Ada yang kirim cerpenting sampe 4 biji. Hehehehe…. Sementara saya juga harus bekerja di kantor dan sekarang ini lagi pontang panting karena kerjaan lagi banyak banget.

Itu sebabnya saya meminta kalian posting di social media. Reaksi netizen sebetulnya adalah parameter yang bagus untuk menilai apakah tulisan kita disukai atau tidak.

Saya seneng banget tadi ada yang posting bilang gini, “Jadi kecanduan nih mau bikin cerpenting terus.” Itu berarti creative attitudenya udah mulai terbangun. Teruslah menulis karena yang saya ajarkan memang creative attitudenya. Soal end resultnya itu nomor dua. Karena kalo kita menulis secara terus menerus pastinya kemampuan kita akan terasah dengan baik.

Sama kayak saya nyuruh anak saya belajar. Saya melakukan itu bukan supaya anak saya pinter. BUKAN! Tapi saya berusaha menjadikan belajar menjadi kebiasaan dan akhirnya menjdi ritual seperti sholat, seperti makan dll. Artinya menjadi kebutuhan kita. Kalo gak nulis satu hari aja, rasanya kok gak enak. Rasanya ada yang kurang. Itu yang mau saya kejar. Bukan hasil tulisannya. Hehehehe…. maaf typo.

OK semoga bisa dipahami ya….

Teman2 sekalian, masih ada beberapa orang peserta yang ngejapri saya dan ngajak diskusi tentang Creative Attitude. Ada satu orang yang ngotot minta definisi dari creative attitude. Masalahnya saya bukan orang yang suka dengan definisi. Buat saya definisi itu adalah rangkaian kata yang memenjarakan sebuah makna. Padahal makna pada sebuah kata itu tumbuh dan berkembang. Sementara ilmu penulisan adalah ilmu yang berkenaan dengan imajinasi. Dan imajinasi itu pantang dipenjarakan. Jadi cobalah memahami creative attitude dengan rasa.

Okay, supaya lebih jelas, saya akan bahas lagi sedikit tentang creative attitude.

Saya akan bercerita pengalaman saya waktu nonton bioskop.

NONTON BIOSKOP SAMA JIMMY

…kedua detektif sempat melihat penjahat yang dikejarnya masuk ke dalam department store. Segera mereka mempercepat langkah mengejar bandit bersenjata itu.

Namun aneh bin ajaib, begitu masuk ke department store, suasana di sana tenang, damai dan tenteram. Tidak ada tanda-tanda penjahat bersenjata pernah berada di sana. Seakan penjahat itu hilang ditelan bumi. Sambil mengomel karena kehilangan buruannya, kedua detektif lalu menuju toilet.

Entah kebetulan atau kebanyakan makan donat, keduanya sama-sama kepengen buang air besar. Lalu kamera menyorot dari depan toilet.

Tau kan, toilet di department store? Biasanya kan pintunya ga nyampe ke lantai.

Sehingga di dalam frame terlihat dua pasang kaki detektif sedang duduk di klosetnya masing-masing dengan celana diturunkan sampai ke kaki. Pintunya tentu saja tertutup. Jadi kita hanya bisa melihat kedua kaki mereka. Tiba-tiba detektif yang ada di toilet sebelah kiri mengumpat dengan nada kesal,

“Oh, Shit! No tissue in here!!”

Detektif yang di toilet sebelah kanan nyaut, “Well, I am done. You can have mine.”

Sambil berkata begitu, dia meletakkan tissue gulung di atas lantai lalu mendorong tissue gulung di lantai ke arah toilet mitranya. Lucu banget ngeliat adegan tissue gulung menggelinding dari sebuah toilet ke toilet sebelahnya….


“Wah bagus tuh buat iklan!!!” Tiba-tiba terdengar teriakan yang mengagetkan semua orang. Teriakan yang sangat keras membuat semua orang dalam BIOSKOP menengok ke arah kami. Teriakan memang datang dari Jimmy, temen yang duduk di sebelah saya. Jimmy juga seorang Creative Director seperti saya. Kami memang sedang nonton bioskop berdua. Jimmy nyengir sewaktu menyadari bahwa semua orang kaget mendengar teriakannya. Dia sebetulnya gak bermaksud berteriak. Tapi begitulah Jimmy. Orangnya selalu meledak-ledak dan spontan.

Melihat adegan tissue menggelinding dalam film, rupanya dia tiba-tiba menemukan ide. Sambil mendekatkan kepalanya, dia membisikkan idenya di telinga saya,

”Kalo gue punya klien tissue ya, Bud. Gue akan kasih positioningnya, tissue terhalus yang pernah ada.

“Gimana ceritanya?” tanya saya juga berbisik.

“Ceritanya hampir sama kayak film ini. Ada dua orang lagi window shopping di Mal. Tiba-tiba keduanya pengen ke toilet.”

“Terus-terus?” tanya saya penasaran.

“Lalu adegan persis kayak tadi, dua pasang kaki terlihat.

Salah seorang mengomel sambil berkata ‘wah tissue ini kasar banget? Sampe lecet nih kulit pantat gue.’”

“Hihihihi…” Saya mulai ga bisa menahan geli.

“Teman yang ada di sebelahnya nyaut ‘Itu sebabnya saya selalu membawa tissue X ke mana-mana. Kehalusannya ga akan bikin lecet kulit kita.”

“Hehehehe…” Tanpa sadar ketawa saya makin keras. Sementara Jimmy masih terus mengoceh.

“Mau coba? Nih tangkap!’ Lalu tissue pun digelindingkan kearah teman yang ada di toilet sebelah.”

“Gue tau tuh kalimat endingnya.” kata saya.

“Gimana? Siapa tau bisa dijadiin taglinenya.” tanya Jimmy.

“Tissue hebat! Tidak iritasi pada kulit pantat!”

“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA….” Kami berdua ngakak kenceng banget sampe lupa sedang berada di bioskop. Sampai seseorang di bangku depan berdiri dan memperingatkan kami agar jangan berisik, Hehehehe….

Saya selalu kagum sama Jimmy. Dia begitu mencintai periklanan. Apapun yang dibaca, dilihat, dirasa dan didengar selalu saja jadi pemicu untuk menciptakan ide. Apa yang dilakukan oleh Jimmy tersebut adalah CREATIVE ATTITUDE.

Kadang kita lagi ngomong aja diselak sama dia, “Eh lu ngomong apa tadi? Kayaknya bagus tuh buat iklan.” Dan tidak jarang apa yang ditemukannya itu memang diwujudkan dalam iklan beneran. Misalnya, suatu hari dia mau ngajak pacarnya ke Pantai Carita.

“Sayang, kamu suka sama laut gak?” tanyanya sebelum melemparkan ajakannya.

“Kalo bicara soal laut, saya ga bisa bilang saya suka. Saya cinta!” sahut Sang Pacar dengan suara mendesah lembut manjaaaaa…..

Di titik itu situasi romantis pun langsung terbentuk.

Kalo dalam film, pasti adegan ini akan diikuti dengan pelukan, ciuman dan desahan kata-kata mesra, dengan back ground musik yang romantis.

Wah bagus tuh buat iklan!!” teriak Jimmy menggelegar.

“Maksud kamu gimana, Say?” Pacarnya langsung kebingungan dong.

“Maap, maap, Say. Bentar ya,” Jimmy langsung ngeluarin kertas sambil berkata,

”Omongan kamu barusan bagus banget tuh buat headline. Belom tau iklan apa sih tapi saya catet aja dulu.”

Dan bener loh!

Suatu hari dia menggunakan kalimat itu sebagai headline di iklan toko emas Frank and Co. Sesuai dengan namanya, Frank and Co menjanjikan kejujuran: Frank. Toko ini konon tidak pernah berbohong soal berapa karat emas yang akan dijual. Kalo 18 karat ya dibilang 18 karat. Ga akan ngaku-ngaku 20 atau 22 karat. Bahkan secara berkala toko ini memberikan kursus singkat tentang seluk-beluk emas dan berlian secara gratis sehingga konsumen tidak akan bisa dibohongi karena sudah mengerti.

Berdasarkan hal itu, Jimmy mulai bekerja. Dia mengundang Nadya Hutagalung sebagai modelnya. Waktu itu Nadya lagi top-topnya di negeri ini. Nadya dibikin bugil oleh Jimmy lalu seluruh tubuhnya dicat dengan warna emas. Agar lebih dramatis, kepala Nadya juga dibuat seakan botak plontos dengan menggunakan lateks. Kemudian kepala botaknya juga dicat dengan warna yang sama.

Latar belakang pemikirannya adalah sebagai berikut: Tokoh Nadya adalah symbol wanita idaman yang tentunya sangat dekat dengan perhiasan. Warna emas adalah perwakilan dari emas yang dijual. Sedangkan ketelanjangan adalah symbol kejujuran. Polos!

Nah, apa headline yang digunakan oleh Jimmy? Dia membuat kalimat langsung yang seakan diucapkan Nadya, “Kalo soal Frank and Co., Nadya ga bisa bilang ‘suka’, Nadya cinta!’” Headline itu persis seperti kalimat yang diucapkan oleh pacarnya.

Ini iklannya dengan model Nadya Hutagalung

Creative attitude seperti inilah yang perlu dilakukan oleh semua kita semua. Setiap saat biasakanlah melakukan pengamatan. Lalu pikirkan, peluang apa yang bisa kita peroleh dari pengamatan itu. Pengamatan gak harus dilakukan dengan bepergian ke Tembok Cina atau Sungai Amazone. Gak harus ke gunung atau ke laut. Pengamatan bisa dilakukan di mana-mana. Di busway, di mall, di kantor, di halte, di terminal, pokoknya di mana aja berada, bukalah lebar-lebar panca indera kita. Insya Allah kita akan menemukan ide.

Ada salah satu peserta di sini namanya Joice Karouw, dia seorang pelaut yang selalu berpindah-pindah. Nah, Joey ini seharusnya bisa mendapatkan banyak ide karena selalu pergi ke tempat-tempat baru.

Okay, sekarang kita lanjut ke:

TATA BAHASA

Setelah membaca semua PR cerpenting yang masuk, ada dua catatan yang issuenya paling besar.

Pertama adalah masalah tata bahasa. Ternyata banyak banget yang gak tau bagaimana harus membuat tanda baca untuk kalimat langsung. Banyak yang gak tau kapan ‘Di’ dan ‘Ke’ dipisah atau disambung dengan kata yang mengikutinya.

Yang aneh, banyak banget yang memisahkan ‘nya’ dari kata awalnya. ‘Rumah nya’, ada juga yang nulis ‘Rumah-nya’.

Hati-hati menggunakan tanda baca. Kenapa kita harus hati-hati? Karena sebuah titik atau koma bisa mengubah makna dan bisa bertolak belakang maknanya Misalnya: Coba perhatikan dua kalimat ini.

Coba lihat titik dan komanya

Beda banget kan maknanya? Dan yang membedakan itu cuma tanda koma. Tanda yang sering kita sepelekan. Begitu juga dengan spasi. Kalo kita menyepelekan spasi, orang akan mengartikannya tidak sesuai dengan apa yg kita maksud. Misalnya :

Coba dipandang-pandang dulu kalimatnya. Kira-kira kalian ngebacanya gimana?

Sebagian besar orang akan membacanya “Love is nowhere.” Ternyata sebagian lagi membacanya, “Love is now here.” Beda banget, kan?

Dua hari yang lalu ada yang japri saya dan bertanya, “Bagaimana membuat kalimat cerdas supaya pembaca tertarik?” Jawabannya ada banyak. Akan tetapi saya malam ini saya akan memberi contoh satu saja. Salah satu cara membuat kalimat agar keliatan cerdas adalah dengan memanfaatkan Makna Ganda. Atau Ambiguitas.

Tadi sore ngasih challenge untuk membuat caption dengan foto Pangab sedang menyuapi Kapolri. Sebetulnya banyak yang caption buatannya bagus2. Tapi rupanya pancingan saya tidak berhasil. Tidak ada seorang pun yang memanfaatkan makna ganda untuk captionnya. Atau ada tapi saya gak liat kali ya? Abis banyak banget sih. Hehehehehe….

Saya akan ngasih contoh caption dengan menggunakan makna ganda berdasarkan foto Pangab dan Kapolri di atas.

“Issue tentang adanya suap menyuap di lingkungan TNI dan Polri ternyata bukan isapan jempol belaka. Bahkan bukannya takut OOT dari KPK malah secara demonstratif mereka foto2.”

Di sini saya memanfaatkan kata ‘SUAP’ yang mempunyai makna ganda. Makna pertama tentunya menyogok. Sementara makna kedua adalah menyuap secara harfiah. Menarik kan jadinya?

Contoh lain!

Saya pernah dikasih T Shirt dari temen saya yang bekerja di Microsoft. Microsoft adalah industri dalam bidang IT. Information Technology.

Coba perhatikan kalimat di T-Shirt ini. Perhatikan kata terakhir ‘IT’. Cerdas banget, kan? Kita bisa membacanya dengan ‘it’ yang mengacu pada the future. Tapi bisa juga berarti to create Information Technology. Efek yang kita peroleh dari makna ganda sangat luar biasa. Kalimatnya terlihat cerdas dan yang baca seneng. Begitu dibuat kaos, kita juga bangga memakainya. Bangga bukan karena itu kaos dari Microsoft tapi karena kalimatnya smart.

Banyak sekali yang bisa kita peroleh dari metode makna ganda ini. Bukan hanya pada tulisan tapi kita juga bisa berpikir secara visual (Think visually).

Ini contoh makna ganda dengan menggunakan visual yang pernah dibuat oleh anak-anak saya di kantor. Terlihat cerdas bukan? Kita gak butuh kata-kata. Penggunaan kotak rokok yang berbentuk peti mati telah menjelaskan semuanya.

Coba kalian perhatikan meme-meme yang berkeliaran di internet. Banyak sekali yang membuat kita tertawa terbahak-bahak karena lucunya minta ampun. Tapi pernah gak kalian memperhatikan kenapa meme itu lucu? Kalo kalian melihatnya dengan seksama, banyak sekali meme yg lucu dan cerdas tersebut diakibatkan kreatornya menggunakan MAKNA GANDA.

Misalnya ketika Jokowi pidato di tanggal 4 November lalu. Saat itu Jokowi menggunakan Jaket merk Zara dan konon jaket tersebut langsung sold out. Masih inget, kan? Ada seorang staff saya di kantor membuat meme seperti ini.

HAHAHAHAHAHAHA…… Dia memang asli jago plesetan. Dia memlesetkan issue SARA dengan plesetan ZARA. Jadi dapat disimpulkan bahwa plesetan itu bisa menjadi lucu karena hakikat dari makna ganda juga. Ada lagi yang memanfaatkan makna ganda dan saya ngakak abis ngeliatnya. Contohnya seperti ini :

Sederhana di sini tentu maksudnya adalah ‘Tidak Kaya’. Tapi ceweknya mengartikannya dengan Restoran Padang Sederhana.” Kocak banget, ya? Hehehehe…. Contoh joke lain yang juga memanfaatkan makna ganda :

Ada banyak sekali contoh2 seperti ini yang memanfaatkan makna ganda. Dan biasanya strategi ini selalu sukses.

Ada banyak jenis makna ganda. Yang paling umum tentu saja adalah dengan membenturkan makna harfiah dan makna kiasan seperti dalam contoh di atas. Kata bersandar yang pertama dan yang kedua tentu saja beda maknanya. Jenius ya orang Indonesia kalo lagi becanda….

Bahkan kata dalam bahasa inggris pun sering dimanfaatkan oleh kreator meme untuk dijadikan bahan becandaan. Dan hasilnya tetap saja lucu dan keliatan cerdas.

Ini contohnya. Hehehehehe….

oke dengan makna ganda ini adalah metode universal. Orang-orang barat pun sering membuat joke dengan makna ganda ini. Misalnya :

Ini contohnya….

Buat yang gak ngerti boleh japri saya atau Asep ya. Ntar kita kasih tau maksudnya. Hehehehehe…

Kadang2 ada juga joke yg agak maksa. Misalnya seperti ini :

Joke ini sebenernya cuma cocok sebagai becandaan verbal. Tapi karena lucu, kreatornya maksa membuatnya jadi joke tulisan. Buat yang blom nangkep, kalimat ceweknya yang kiri bawah seharusnya “Harga gak penting. Kan lo kasih.” Memang rada maksa tapi fondasinya tetep makna ganda.

Ada lagi joke makna ganda dan yang ini pasti sebagian besar dari kalian pernah mendengarnya.

Kata ‘Organ Tunggal” adalah kunci dari kalimat ini. Dan masih banyak makna ganda lainnya.

Yang punya business attitude bahkan bisa mengambil keuntungan dari makna ganda ini. Dia dagang loh…

Ada lagi joke yang agak berat. Kita rada susah memahaminya. Tapi buat orang dengan creative attitude, semakin susah, kita semakin tertantang untuk mencari maknanya.

Ada yang gak ngerti?

KESIMPULAN

Jadi kalo kita ingin tulisan kita terlihat cerdas, cobalah bermain-main dengan kata. Salah satunya adalah dengan memanfaakan makna ganda.

Tanya Jawab

Tanya 1 @Rarasati: Tadi saya nulis caption tugas:

  1. Suapan Yang Tak Bakal Kena Semprit
  2. Alasan Paling Benar untuk Memberi Suapan

Apakah itu sudah memenuhi standar ambiguitas yang sedang dijelaskan, atau masih kurang ‘pas’ kalimatnya?

Jawab: Mungkin memang kamu bermaksud memanfaatkan makna ganda. Tapi rasanya orang gak nangkep makna gandanya di mana. Saya juga memahami bahwa bisa jadi orang gak nangkep makna ganda yang saya buat di caption. Itu sebabnya saya menyebut “Bukannya takut OTT dari KPK eh secara demonstratif mereka malah foto2.” Itu cara saya untuk membuat pembaca mengerti apa yang saya maksud.

Tanya 2 @Atika Rusli: Bagaimana mengembangkan sebuah ide menjadi sesuatu. Misalnya pas saya naik angkot atau sedang mendengar obrolan sekelompok orang di halte, kadang ide muncul, baik ide untuk menulis maupun ide membuat sesuatu sehubungan dgn kerjaan saya. Tapi selama ini ide itu cuman nyampe jd notes di hp sy, gak berkembang jadi apa2 gitu, sampe muncul ide2 yg lainnya lagi. Terus seperti itu……

Jawab : Kalo punya ide harus segera dibuat (dieksekusi). Karena ide yang datang itu bukan milik kita tapi milik Tuhan. Ketika Tuhan melihat kita gak mengerjakannya jadi sesuatu, ide itu pergi dan diberikan ke orang lain. Nah, ketika orang lain mengeksekusi ide tersebut, kita cuma bisa ngomel, “Ah setahun yang lalu gue juga pernah punya ide kayak gitu. Jangan-jangan dia nyontek gue tuh.”

Tanya 3 @Ajie Nur: Mau nanya, cara dapatin kata ambigu pertama dari mana? Dari visual dulu atau dari cara kita berfikir ya? Makasih.

Jawab : Cara dapetin ide, ide apapun, harus punya creative attitude kayak Jimmy. Kan udah saya terangin tadi gimana Jimmy lagi nonto bioskop dapet ide. Lagi ngobrol sama pacarnya dapet ide. Intinya coba lebih peka dengan pancaindera. Apa yang tertangkap oleh pancaindera, kirim ke otak untuk diolah, insya Allah akan menemukan ide. Pokoknya setiap kita mendengar, melihat, mencium, mengecap dan lain-lain, semuanya bisa jadi pemicu untuk mendapat ide.

Tanya 4 @Blend: Apakah makna ganda bisa di gunakan dalam screenplay atau penulisan skenario di film atau sebuah dialog di film, kalo bisa , adakah contoh nya?

Jawab : Semuanya pasti bisa dong. Saya lupa ada di film apa. Pokoknya saya pernah ngeliat film lokal yang ada dialognya begini, “Di mana ada kemaluan, di situ ada jalan.” Hehehehehe… Film apa ya? Ada yang inget?

Tanya 5 @Fairuz: Malam. Saya punya pertanyaan buat Ombud. Bagaimana cara mencari inspirasi untuk membuat meme dengan makna ganda supaya memenya lucu?

Jawab : Sering-sering bergaul sama temen. Biasanya becandaan-becandaan temen selalu fresh. Dan kita yang punya reative attitude-lah yang akan mengeksekusinya. Jadi intinya kita harus lebih peka aja. Setiap ada peristiwa lucu, analisa. Apakah lucunya karena makna ganda atau bukan. Meme-meme itu sebagian besar lucunya karena makna ganda. Jadi kalo kita sering ngakak sama lawakan temen kita, biasanya itu joke makna ganda. Saya bersama Kang Asep pernah bikin iklan TV Kitkat dan dapetnya dari joke orang kantor. Iklannya nanti akan diputer oleh Asep di dalam sesi berikutnya.

Tanya 6 @Ocha Karnita:

Apakah ini termasuk meme dengan makna ganda? Barusan bikin di ipad 😁😁

Jawab : Itu maksudnya gimana ya? Maklum saya bukan orang sunda. Bisa dibantu, Sep?

M: —– Jang (De), bapak ada di bumi?

—– Gak ada, Kang, bapak lagi ke Matahari.

N: 😂😂

Jadi bumi maksudnya rumah. Kalo begitu bener itu adalah makna ganda. Jadi dari kata matahari juga saya banyak ngedenger joke makna ganda. Misalnya anak saya yang masih SD pernah nanya, “Om Bud, apa bedanya bulan dan Matahari?”

“Apa?” tanya saya.

Di Matahari ada diskonnya, sedangkan di Bulan nggak ada. Itu juga makna ganda.

Tanya 7 @Zulkifli Tanjung: Saya pernah lihat iklan yg tanpa copy, artinya hanya menampilkan visual saja. Bagaimana proses kreatifnya? Apa yg menyebabkan pengiklan mengesampingkan copy dan bagaimana proses sampai ke tahap sana.

Jawab : Jadi begini. Setiap kali kita mendapatkan ide, coba kita test. Apakah ide itu lebih punya impact dengan pendekatan visual ataukah dengan copy. Presentasikan kedua materi tersebut ke teman-teman kita. Masukan dari temen tersebut menjadi landasan buat kita bahwa ternyata pendekatan A lebih impactful daripada pendekatan B.

Tanya 8 @Mukhlis:

Ini baru saya bikin, apa termasuk makna ganda? Na ukhti (=baca Naughty)

Jawab :

Ini kasusnya sama dengan Rarasati tadi. Maksudnya sih bener: Makna Ganda. Tapi pertanyaannya apakah orang nangkep apa yang kita maksud. Apakah ketangkap makna gandanya. Untuk memastikanya kita bisa tanya ke beberapa orang di sekitar kita. Kalo saya sih gak nangkep. Baru nangkep setelah baca penjelasannya

Closing

Teman-teman sekalian, mohon dibaca kembali kisah saya nonton bersama Jimmy ya. Itu contoh yang paling jelas bagaimana berprilaku kreatif setiap saat. Kalo di kantor saya selalu ada ritual kayak gini: Setiap kali ada peristiwa lucu dan menggugah emosi, selalu ada pertanyaan dari saya, “Lucu kan? OK sekarang pertanyaannya adalah, ‘Bisaj jadi ide apa itu?’

Pokoknya setiap kali tergugah emosi itu pasti awal dari terlahirnya sebuah ide. Kegalauan, kesedihan, gelisah adalah cara Tuhan untuk menyuruh kita berkarya. Sekian dan terima kasih. Kita ketemu lagi besok malam ya. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Belajar Menulis Bersama Om Bud (Bagian 3)

Sesi ketiga kuliah menulis dengan Om Bud dilaksanakan pada Jumat, 21 Juni 2019. Untuk membaca materi sebelumnya, bisa klik di sini dan di sini. Berikut adalah rangkuman kuliah dengan topik Cerpenting.

M: Teman-teman, siap-siap yaaa. 20 menit lagi kita masuk sharing bareng Om Budiman Hakim. Di sesi ke-3 ini Om Bud bakal membawain tema, “Cerpenting!” Wahhhh, apaan lagi tuh? Biar Om Bud ntar yang menjelaskan ya, hahaha…

Sebelumnya, seperti biasa, biar tertib, mohon diperhatikan regulasinya ya: 1. Sharing akan dibagi 2 sesi, Sesi Sharing Materi (pk. 20.00 – 21.30); dan Sesi Tanya Jawab (pk. 21.30-22.00) 2. Selama sharing berlangsung, member dilarang posting apapun, kecuali diminta oleh pemateri atau moderator 3. Member diharap menyampaikan pertanyaan lewat WA saya sebagai moderator (0816909xxx). Saya akan utamakan 5 pertanyaan pertama untuk disampaikan ke pemateri di Sesi Tanya Jawab. Kalau masih ada waktu, pertanyaan berikutnya akan disampaikan ke pemateri.

Oke teman-teman, langsung aja yuk kita sambut Om Budiiiimaaaan Haaaaakiiiiim….

N: assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Kemaren malam kita sudah belajar mendalami Creative Attitude dengan cara membuat caption di aplikasi Instagram. Malam ini kita akan lanjut dengan membuat cerita yang mempunyai SOUL. Bagaimana menulis cerita yang menggugah emosi sehingga cerita tersebut mempunyai nyawa.

Sebelum kita mulai, saya akan bercerita dulu. Boleh ya? Judul cerita saya adalah:

Kalian semua tau film Star Trek, kan?

Sebuah film futuristic yang bercerita tentang petualangan sekelompok orang dengan kapal ruang angkasa Enterprise mengembara galaxy. Ekspedisi itu dipimpin oleh Captain Piccard seorang kapten yang berkepala botak. Buat yang belom pernah liat, silakan cari di Youtube.

Di dalam kapal itu, ada dua orang crew yang bersahabat. Yang satu bernama Lieutenant Commander Geordi La Forge, seorang teknisi yang selalu menggunakan visor, sebuah alat bantu penglihatan. Visor adalah singkatan dari “Visual Instrument and Sensory Organ Replacement”. Sahabatnya bernama Mr. Data.

Kenapa dinamakan Data? Karena Mr Data sebenernya bukan manusia. Dia adalah sebuah rekayasa android. Sedangkan Geordi adalah teknisi yang selalu menservis mesin di dalam kepala data.

Secara berkala para crew sering berkumpul di sebuah lounge dalam pesawat. Ketika itu ada acara pembacaan puisi dari Captain Picard yang diciptakan dan dibawakannya sendiri. Puisi itu begitu indah sehingga semua penonton di lounge bertepuk tangan riuh sekali. Semua memuji kepiawaian Sang Kapten dalam menciptakan puisi.

“Kenapa orang begitu kagum pada puisi Captain Picard?” tanya Data pada sahabatnya. Saat itu Geordi sedang mereparasi sirkuit komputer yang ada di kepala Data.

“Karena puisinya bagus,” jawab Geordi sambil membuka kepala Data lalu menancapkan stop kontak di kepala temannya.

“Saya bisa membuat puisi jauh lebih bagus daripada yang dibuat oleh Captain,” tukas Data.

“Oh ya? Kenapa kamu gak buat? Nanti saya bookingin lounge untuk acara pembacaan puisi kamu,” kata Geordi lagi sambil menyetrum Data untuk menambah tenaganya.

Singkat kata, pembacaan puisi pun terlaksana. Dengan suara mantap, Mr Data membaca untaian kata yang diciptakannya. Rangkaian kata-kata indah mengalir dari mulutnya…tapi apa reaksi penonton?

Believe it or not, gak ada satupun yang memberi apresiasi. Memang ada beberapa orang yang bertepuk tangan tapi itupun hanya karena rasa kasihan pada si pembaca puisi. Lalu sebenernya apa yang terjadi?

Selesai acara itu, Data menemui Geordi dan bertanya, “Kenapa tidak ada orang yang mengapresiasi puisi saya?”

“Karena kamu sudah berkoar-koar mengatakan bahwa puisi kamu lebih bagus daripada puisi Captain Picard dan nyatanya tidak,” sahut Geordi.

“Menurut kamu, puisi saya lebih jelek daripada punya Kapten?” “Jelek sih nggak, tapi puisi Kapten lebih bagus,” sahut Geordi lagi.

“Kenapa puisi Kapten lebih bagus? Pilihan kata saya lebih indah. Secara matematis jumlah huruf dalam setiap kata sama, jumlah suku kata, kata dan kalimat juga jumlahnya sama.

Secara algoritma, rangkaian kata yang saya pilih pertautannya jauh lebih match satu sama lain. Saya justru merasa pilihan kata Kapten sering kacau dan tidak berhubungan satu sama lain.”

Jreng….jreng…!!!

“Masalahnya bukan di kata-kata, Data,” Geordi berusaha menerangkan.

“Jadi apa masalahnya?”

“Seperti kamu bilang, puisi kamu adalah rangkaian kata-kata indah yang kamu gabungkan secara matematis.”

“Lalu kenapa?”

“Your poem is only words. There is no SOUL and there is no EMOTION in your poem,” kata Geordi lagi.

“Of course, not! I am Android. I have no soul. I have no emotion.” jawab Data lagi dengan lugu.

Saya terharu sekaligus geli melihat adegan itu.

Data adalah seorang robot tentu, saja dia tidak punya jiwa dan tidak punya emosi.

Dari cerita di atas dapat kita simpulkan bahwa sebuah karya kreatif haruslah diciptakan dengan HATI. Sebuah karya yang bagus adalah yang mampu menggugah EMOSI. Emosi itulah yang memberi nyawa pada tulisan kita. Intinya, berkarya itu mudah, yang susah adalah memberi nyawa pada karya itu.

FAKTOR EMOSI DALAM SEBUAH KARYA

Dari cerita di atas, kita tentu sepakat bahwa sebuah karya yang bagus adalah yang ada emosinya. Sebuah tulisan yang bagus adalah yang mampu menggugah emosi kita. Jadi ketika kita membaca novel sampai berurai air mata, berarti novel tersebut sukses. Ketika kita nonton film komedi dan kita tertawa terbahak-bahak sepanjang film, berarti film tersebut sukses.

Kita semua sudah melihat PR-nya Ibu Meli Wardani. Secara visual sih biasa aja kan? Tapi ketika kita membaca captionnya, yang membaca langsung tergugah emosinya. Begitulah semua tulisan yg punya nyawa bekerja….

Bisa diambil kesimpulan bahwa kebagusan sebuah karya dapat dinilai dari seberapa besar karya tersebut mampu mengubah emosi kita. Sebaliknya, ketika dalam kehidupan sehari-hari kita mengalami perubahan emosi, misalnya kita marah pada tetangga kita, kita terharu pada cerita Ibu Meli, kita ngakak ngeliat kelucuan anak kita…. Itu berarti kita mendapat berkah dari Tuhan untuk berkarya. Kegalauan, rasa gelisah dan semua perubahan emosi adalah cara Tuhan untuk menyuruh kita berkarya. Sayangnya manusia sering kurang mendengarkan.

Jadi, mulai sekarang, ketika kita ngakak mendengar lelucon teman kita…maka tertawalah sepuas-puasnya. Joke tersebut ternyata telah menggugah hati kita dari titik netral sampat tertawa terbahak- bahak.

Nah, ini yang paling penting! Setelah selesai tertawa, tanyakanlah pada diri sendiri, “BISA KITA JADIKAN IDE APA JOKE TERSEBUT?” Ketika kita merasa geli ngeliat kelakuan anak kita yang masih kecil. Setelah tertawa, tanyakan BISA JADI IDE APA PERISTIWA TERSEBUT?

Atau kita ditipu oleh teman baik kita sendiri. Kita marah dan kecewa berat kenapa teman baik kita bisa jadi sejahat itu? Pertanyaannya masih sama, “BISA KITA JADIKAN IDE APA PERISTIWA PERUBAHAN EMOSI TERSEBUT?”

Saya menyimpulkan bahwa setiap kali ada perubahan emosi berarti kita mendapat ide untuk menulis. Dan tulisan kita pasti jadinya bagus! Kenapa? Karena sudah terbukti bahwa peristiwa tersebut telah berhasil menggugah emosi kita.

Ingat! Kita sudah sepakat bahwa sebuah karya yang bagus adalah yang mampu menggugah emosi. Artinya kalo kita merasa ada perubahan emosi maka kita telah mempunyai ide untuk ditulis. Dan hebatnya lagi, dalam proses penulisan itu kita bahkan bisa mengemasnya dengan menambah dramatisasi sehingga tulisan kita akan jadi lebih bagus dari seharusnya.

Kita telah belajar creative attitude sehingga kita tidak perlu seperti Farhan yang membutuhkan gelombang Tsunami yang merenggut nyawa keluarganya untuk menulis. Kita cukup memperhatikan apa yang terjadi di sekitar kita. Dan setiap kita mengalami perubahan emosi maka tuliskanlah peristiwa itu. Mungkin kita belum tahu mau dijadikan apa tulisan tersebut. Apakah mau dijadikan novel, skenario film atau mau jadi apalah, pokoknya tulis aja dulu.

Untuk memudahkan latihan menulis cerita yang menggugah emosi saya telah menciptakan sebuah metode latihan menulis yang menyenangkan. Metode ini saya kasih nama CERPENTING. Singkatan dari Cerita Pendek Tidak Penting. Hehehehehe….

Maaf, wifi saya kayak kehidupan asmara saya dulu nih…….. putus nyambung putus nyambung….. OK kita lanjut ya…

Cerpenting adalah peristiwa-peristiwa remeh yang terjadi di sekeliling kita. Meskipun ceritanya sepele tapi ternyata kita ketawa atau terharu atas peristiwa itu. Jadi tuliskanlah peristiwa tersebut. Gak usah mikirin apa gunanya. Anggap aja itu adalah latihan menulis yang menyenangkan.

Kenapa menyenangkan? Karena kita mengalaminya sendiri dan terbukti menggugah emosi, jadi gak ada salahnya kita abadikan. Berikut beberapa contoh cerpenting yang pernah saya tulis.

CERPENTING #1

BACA BUKU LOMPAT-LOMPAT

 Sedang asyik makan Ifumi di sebuah resto kecil di Senayan City, tiba-tiba seorang perempuan datang mengagetkan saya.

“Om Bud. Wah kok bisa ketemu di sini kita,” kata Indri. Dia adalah temen saya di industri periklanan.

“Hey, Indri. Pakabar lo?” tanya saya lalu cipika-cipiki dengannya.

Dengan cuek Indri langsung bergabung di meja saya lalu berkata, “Om Bud, gue udah baca buku lo yang judulnya STORYTELLING. Bagus banget! Gue suka.”

“Kok bisa bilang bagus? Emang lo udah tamat bacanya?” tanya saya. “Belom, sih,” katanya, “Abis gue bacanya lompat-lompat.”

Saya berhenti menyuap ifumi, memegang pundaknya lalu berkata, “Lain kali kalo baca buku, lo harus duduk. Kalo lompat-lompat ya susah nyelesainnya.”

“HAHAHAHAHAHAHAHA….Gila lo!!!” kata Indri sambil menabok pundak saya.

Gak penting banget kan ceritanya? Tapi kocak dan menyenangkan untuk ditulis. Dalam tulisan ini saya memanfaatkan makna ganda pada kata ‘lompat-lompat’ Hehehehe…..

CERPENTING #2 PERCAKAPAN DI SEBUAH BAR

 Saat itu saya sedang berada di sebuah kafe dan duduk di bar bersama Boni.

Karena home band yang main di panggung gak bagus, akhirnya kami memutuskan untuk ngobrol aja ngediskusiin band-band yang kami suka.

“Eh, Bon. Lo tau Superman is Dead?” tanya saya. Di luar dugaan Boni menjawab,

“Hah? Innalillahiiii….Kapaaan????” tanya Boni.

Hahahahahahaha…tentu saja saya ngakak abis mendengar omongannya.

Sekali lagi di sini makna gandanya yg mengundang kelucuan. Sekali lagi terlihat bahwa cerita ini gak penting tapi menyenangkan. Kalo kita mau lebih peka terhadap apa yang terjadi pada kita sehari-hari, sebetulnya ada banyak yang bisa kita tuliskan dalam cerpenting.

CERPENTING #3

BAPAK PENJAGA PINTU TOL

 Seperti biasa pagi itu saya pergi ke kantor dari rumah saya di Cibubur. Di gerbang Tol Kampung Rambutan, menuju ke Jalan Tol TB Simatupang, saya berhenti.

Tidak seperti biasanya, si penjaga Tol menyapa saya. Padahal biasanya nengok ke kita pun kagak.

Umumnya penjaga Tol cuma nadahin tangan doang lalu menyambar uang kita tanpa mengucapkan sepatah kata.

“Selamat pagi,” katanya dengan suara lantang dan riang.

“Selamat pagi juga,” sahut saya sambil menyerahkan uang sebesar Rp 20.000.

Sambil menunggu uang kembalian, saya menatap ke arah penjaga tol itu. Dia seorang laki- laki berkulit gelap, berusia sekitar 50 tahun.

Wajahnya sama sekali gak ganteng tapi tampak berseri-seri dengan senyum kecil yang gak pernah lepas dari bibirnya.

Saya suka ngeliat parasnya. Tipe orang yang menikmati hidup dan senantiasa bersyukur dengan apa yang dimilikinya.

“Terimakasih banyak, Pak. Hati-hati ya mengemudi,” kata Bapak itu lagi seraya menyerahkan uang kembalian ke saya.

Sungguh sejuk perasaan ini. Cara Bapak itu mengucapkan terimakasih terdengar begitu tulus ke luar dari hatinya. Bukan hapalan yang diperoleh dari training perusahaannya.

Saya jadi semangat mengawali hari dengan dibekali keramahan seperti tu.

Besok paginya, saya ketemu lagi sama Bapak itu. Dan sikapnya masih seperti kemaren. Ramah dan penuh energi. Bahkan yang lebih hebatnya lagi, dia ternyata masih mengenali saya.

“Wah, ketemu lagi kita. Selamat pagi, Bapak,” sapanya sambil meraih uang dari tangan saya.

“Selamat pagi juga. Kok, bisa bisa inget sama saya?”

“Ya inget dong. Masa baru sehari lupa?” sahutnya dengan jawaban sederhana lalu melanjutkan, “Ini kembaliannya. Terimakasih dan hati-hati di jalan, ya?”

“Terimakasih juga,” sahut saya sambil berlalu memasuki jalan Tol.

Begitu berpengaruhnya keramahan Si Bapak sehingga setiap hari saya memerlukan diri untuk selalu memilih gerbang Tol tempat Pak tua itu bermarkas.

Hari demi hari, hubungan kami semakin lama semakin akrab walaupun pembicaraan tetap gak lebih dari sekedar ucapan terimakasih dan hati-hati di jalan doang.

Abis gimana lagi? Kami gak sempet berbicara lebih banyak karena mobil-mobil di belakang udah neror dengan klaksonnya.

Sampai suatu hari Bapak itu menghilang. Gak jelas ke mana.

Konon kata orang dia dipindah ke Gerbang Tol lain tapi gak tau Gerbang Tol yang mana.

Dan percaya gak? Saya sedih loh. Aneh deh, rasanya ada yang hilang, rasanya gak asyik mengawali hari tanpa keramahan Si Bapak.

Dan ternyata bukan saya aja yang merasakan hal itu. Isteri saya juga merasa kehilangan.

Dan yang lebih aneh lagi, ketika kami lagi ngumpul-ngumpul bersama temen-temen satu komplek, mereka juga sedang membicarakan Si Bapak penjaga Pintu Tol.

Keramahan Bapak itu ternyata telah memberi bekas yang mendalam di hati banyak orang. Bayangkan, begitu hebatnya ucapan terimakasih kalo diucapkan dengan hati yang tulus.

Saya gak tau Bapak Penjaga Pintu Tol itu berada di mana tapi dia telah meyakinkan saya bahwa kata ‘Terimakasih’ yang tampak begitu sepele ternyata bisa begitu berarti bagi orang lain.

Saya sangat berterimakasih pada Bapak Penjaga Pintu Tol atas keramahannya yang telah membuat saya bersemangat dan optimis menghadapi hari yang saya hadapi.

Terima kasih atas pelajaranmu, Bapak. Semoga Tuhan selalu melindungi Bapak sekeluarga. Aamiin   !

Jadi gak ada alasan untuk tidak punya ide. Kalo ada yang mendebat saya, “Om Bud, gue jarang keluar rumah.” OK, kalo gitu coba perhatikan hal2 yang terjadi di dalam rumah kita.

Kalian yang punya anak kecil tentunya banyak mengalami kejadian yang menyenangkan, lucu dan menggugah emosi. Catat dan tuliskan menjadi sebuah cerpenting.

CERPENTING #4

KENAPA AYAH SUJUDNYA LAMA SEKALI

 Salah satu hikmah Ramadhan adalah saya gak pernah ketinggalan untuk sholat subuh.

Sebagai orang yang punya insomnia, biasanya saya selalu tidur sudah dekat-dekat jam 3 pagi.

Nah, di bulan puasa, jam-jam segitu saya gak bisa tidur juga karena udah keburu masuk waktu sahur.

Maka jadilah selama bulan suci itu, saya selalu menjadi imam sholat subuh bagi seorang isteri dan dua orang anak.

Setelah selesai menunaikan sholat barulah saya pergi tidur.

Suatu hari pas selesai sholat subuh, Reo, anak saya yang kecil bertanya, “Kenapa sih Ayah selalu lama pas sujud terakhir? Kalo Abang yang jadi imam, sujudnya sama aja dengan sujud yang lain.”

“Sujud terakhir biasanya Ayah manfaatkan untuk berdoa karena doa yang dilakukan di sujud terakhir biasanya lebih makbul,” jawab saya sembari melipat sajadah.

“Kenapa lebih makbul?” kejar anak saya lagi.

“Karena posisi bersujud adalah posisi terbaik antara kita dengan Tuhan. Di posisi itulah di mana muka kita lebih rendah dari pantat, posisi berserah diri pada Allah seutuhnya,” jawab saya.

“Oh begitu. Dalilnya apa?” Kali ini Si Sulung, Leon, yang bertanya.

Anak-anak saya bersekolah di sekolah Islam, Al Taqwa, di daerah Sentul. Itu sebabnya setiap ada hal-hal baru dia selalu nanya dalilnya.

“Wah, gak tau juga tapi ntar Ayah cari, deh.“

Saya memang gak tau dalilnya karena ajaran itu saya dapet dari penasihat spiritual saya dan saya jarang sekali menanyakan dalil karena sesuatu yang menurut pemikiran saya baik ya saya lakuin aja.

Berkali-kali saya bilang pada seluruh anggota keluarga bahwa belajar agama itu harus menggunakan akal.

Jangan pernah menerima mentah-mentah apa yang diajarkan oleh orang lain, gak peduli orang itu ngakunya ustad atau ulama, semua harus kita telaah dengan akal.

Manusia adalah makhluk berakal dan otak adalah hadiah terindah yang diberikan Tuhan untuk kita.

Puasa hari ketujuh, sekonyong-konyong punggung saya sakit luar biasa sehingga gak bisa berdiri lebih dari 2 menit.

Saya memang memiliki sakit punggung yang akut. Sekali atau dua kali dalam setahun, penyakit ini kadang kumat dan menyiksa sekali.

Melihat kondisi suaminya seperti itu, isteri saya menyuruh Si Sulung untuk menggantikan saya menjadi imam.

Saya turut menjalani sholat subuh berjemaah itu bersama mereka sebagai makmum dengan posisi duduk.

Sholat subuh berjalan lancar.

Anak saya, mentang-mentang menuntut ilmu di sekolah Islam, memilih surat yang susah- susah dan panjang.

Setiap surah dia lagukan dengan merdu dengan tajwid yang sangat fasih. Kagum sekali saya mendengar kemerduan suaranya.

Untunglah saya sholat dalam posisi duduk, kalo nggak pasti saya sudah ambruk kesakitan karena terlalu lama berdiri.

Pada sujud terakhir, Leon ternyata juga memanjatkan doa seperti saya.

Meskipun dalilnya belom sempet saya cari, keliatannya dia memilih untuk mempercayai pemahaman saya.

Cukup lama juga Leon berdoa dalam posisi sujud terakhir. Saya semakin kagum dengan kesolehan anak saya ini.

Detik demi detik berlalu, menit demi menit merangkak tapi Leon belum juga bangun dari sujud terakhirnya.

Entah doa apa yang dia baca tapi keliatannya banyak sekali yang dia minta pada Tuhan karena sujud terakhir ini terasa lama sekali.

Sebagai makmum tentu saja kami tidak punya pilihan lain kecuali mengikuti Sang Imam.

Mungkin dia sedang mendoakan orangtuanya atau mungkin adiknya atau saudara- saudaranya, teman-temannya, guru-gurunya.

Pokoknya apapun itu, sesuatu yang baik apa salahnya kan dituruti?

“Grrrrrrhhhhhh……grrrrrrrrhhhh….grrrrrrhhhhh…..” Tiba-tiba suara aneh terdengar dari arah Sang Imam.

Eh? Suara apa itu, ya? pikir saya kebingungan.

“Grrrrrrhhhhhh……grrrrrrrrhhhh….grrrrrrhhhhh…..” Suara aneh itu semakin lama semakin kenceng.

“Waaaaaa….!!! Abang ketiduran!!!” Tiba-tiba Si Bungsu berteriak kenceng banget. “Haaaaa….????” Saya kaget mendengar teriakan Si Bungsu.

Bagaimana gak kaget? Sedang khusyu-khusunya berdoa… eh Reo teriak dengan suara menggelegar.

“HAHAHAHAHAHAHAHA….!!!!” Mendadak istri saya juga tertawa terbahak-bahak. Rupanya suara aneh tadi adalah suara ngorok Sang Imam.

Mungkin saking panjangnya doa yang dia panjatkan, rasa kantuk mengambil alih dan dia jatuh tertidur.

HAHAHAHAHAHA….tanpa bisa ditahan saya juga gak bisa menahan tawa sambil meringis karena masih didera rasa sakit yang tak terkira.

Leon ternyata tidur nyenyak sekali.

Suara berisik dari para makmum ternyata belum cukup mampu untuk menyadarkannya.

Dengan gerakan perlahan, Ibunya menepuk-nepuk punggung Sang Imam untuk membangunkannya.

Dan sholat subuh pun terpaksa diulang dari awal lagi. Hehehehe…..

Teman-teman, coba baca cerita itu baik-baik. Sama sekali gak penting, kan? Tapi buat saya itu adalah harta karun yang sangat berharga.

Suatu hari saya bisa saja menulis buku misalnya judulnya “Aku dan Keluarga” Semua cerita yang saya kumpulkan bisa menjadi isi buku itu.

Dan peristiwa-peristiwa kecil seperti ini pastinya juga terjadi di keluarga-keluarga lain, termasuk keluarga kalian. Bedanya adalah saya mengoleksi semua peristiwa kecil yang terjadi dan kalian belum.

Jadi mulai sekarang mulailah menulis CERPENTING. Cerita Pendek Tidak Penting tapi sangat menyenangkan dan akan menjadi kenangan manis buat keluarga kita.

Itu baru CERPENTING. Seandainya ada peristiwa yang besar dan penting pastilah buku tersebut akan menjadi sangat bagus.

Kalo kita punya cukup uang kita bisa memproduksinya jadi film.

Pokoknya setiap ada ide tuliskan. Seperti pernah saya tulis sebelumya, ‘Tuhan akan memberi hadiah pada orang yang bekerja. Jangan menunggu proyek baru bekerja. Bekerjalah dulu maka proyek akan datang padamu.” Aamiin.

Demikian materi kali ini, mike saya kembalikan pada moderator.

M: Oke, kita masuk ke sesi tanya jawab ya. Pertanyaan ke-1 dari @Emma Holiza: Pertanyaan untuk materi Cerpenting:

Tanya 1:

Saya agak PD membuat cerpenting dengan saya sebagai tokoh utama, tapi sering kesulitan saat beberapa kali mencoba menulis dengan tokoh utama orang lain ( pihak ke dua, tiga dan lainnya). Adakah saran atau latihan untuk saya supaya gak macet ide total dalam case ini?

Thank you om Bud dan kang Asep �

Jawab :

Saya yg bingung dengan pertanyaaan ini. Kenapa bisa kesulitan ya? Bukankah perbedaannya cuma kata Saya diganti dengan kata Dia?

Biasanya justru orang mengalami kesulitan ketika tokoh utamanya saya. Mereka beralasan takut disangka pengalaman pribadi. Boleh diterangkan lebih jelas?

Tanya 2 @Isnaini Jalil:

Tulisan/cerita yg dibuat bisa ditambah dramatisasi supaya lebih menggugah emosi pembaca? Bagaimana memastikan dramatisasi tdk berlebihan/hiperbola yg justru membuat tulisan/cerita tsb jadi kehilangan maknanya..

Jawab:

Tergantung objective dari tulisan kita. Apakah kita mau bikin yang mengharukan atau humor misalnya. Kalo mau bikin humor dramatisasi yang berlebihan biasanya malah bikin lucu.

Misalnya ada orang gendut terjun dari kapal ke dalam laut. Saking gendutnya malah lautnya menjelma jadi gelombang Tsunami. Kan seru tuh….

Kalo ceritanya mau dipelihara sebagai cerita beneran tentunya dramatisasi harus kita jaga jangan sampai berlebihan. Misalnya cerita anak saya ketiduran pas jadi imam sholat. Itu cukup banyak dramatisasinya. Gak berasa, kan?

Tanya 3 @Indri Astutik:

  1. ..apakah tiap cerpen harus berjudul…. bisa gak cukup dikasih nomer urut mmm pasti bagus kah nanti nya
  1. Seberapa banyak kalimat hingga disebut cerita pendek. Jawab:

Jawab:

Semua cerita harus memakai judul. Apalagi kalo kita mau posting di social media. Kenapa? Karena orang di social media tidak berencana untuk membaca cerita kita. Mereka cuma scrolling timelinenya saja. Nah .. di situlah fungsi penting dari sebuah judul.

Kita harus membuat judul yang punya stopping power sehingga mampu memaksa orang berhenti dan tertarik membaca cerita kita.

Cerita pendek gak ada ukurannya. Setiap orang punya pemahamannya sendiri2. Tapi ukuran yang paling mendasar adalah ketika cerita kita tidak cukup panjang untuk menjadi sebuah buku, maka itu bisa dikatan sebuah cerpen.

Tanya 4 @Fairuz:

Ketika saya membuat cerpen, cerpen saya pernah dianggap datar. Kira-kira apakah Om punya tips supaya cerpen saya tidak terlalu datar?

Jawab:

Basic dari sebuah cerita terbagi dalam 3 bagian. Pertama, building situastion. Kedua, konflik dan ketiga adalah solusi. Konflik adalah bagian yang paling berpotensi untuk membuat kisah kita seru. Coba dicek dan dibaca sekali lagi cerpen kamu. Mungkin konfliknya yang memang dasarnya kurang heboh. Atau jangan-jangan gak ada konflik sama sekali….

Tanya 5 @Away:

Pentingkah editing di cerpenting ? Atau ngalir az apa ada nya ? Jawab:

Pada saat cerita dibuat, tulislah sampai selesai. Gak perlu diedit. Setelah selesai baru diedit. Apakah editing itu penting? Penting banget! Karena saat kita ngedit, kita bukan cuma akan menemukan bagian yang harus diedit. Tapi ketika sedang ngedit seringkali kita mendapat ide baru lagi untuk memperkaya cerita kita.

Tanya 6 @Andi Sunarto:

Di twiter saya suka membaca twit2 160 karakter tapi lucu2. Misalnya dari akun @poconggg kok bisa ya mereka bikin cerita singkat tapi memiliki soul? Menurut OmBud, akun2 apa saja yg recommended difollow utk belajar menulis. Trims

Jawab:

Coba seach di Twitter tagar #FiksiMini. Di situ banyak banget yang jago-jago membuat fiksi dengan karakter terbatas. Baca tulisan mereka lalu tinggal pilih siapa-siapa yang pantas difollow.

Tanya 7 @Sandya Ichwan :

Ketika menulis, saya terbiasa mendramatisasi penulisan, dibikin ber”bunga2”. Tujuannya supaya indah aja. Teman saya yg mantan editor bilang bahwa tulisan saya jadi lebay klo dibiasain diginiin terus. Padahal menurut saya bagus. Mana yg perlu diperhatikan?

Kepentingan pribadi? Atau kepentingan pembaca?

Ombud sebelumnya sempet berkata bahwa tanda sukses sebuah tulisan adalah ketika engagementnya sudah tinggi. Berarti kepentingan pembaca seharusnya lebih diutamakan dong om? Mohon pencerahannya ombud. Terima kasih.

Jawab

Saya udah bilang berkali-kali bahwa menulis itu untuk menyenangkan diri sendiri. Kalo ada orang yg suka juga ya anggap itu bonus. Saya pernah nulis dan dapet 20 ribu shares, saya happy dong. Tapi pernah juga gak ada yg share dan yg like juga cuma dikit. Ya gapapa.

Saya sama sekali gak terganggu.

Tanya 8 @Fadyal :

Setelah menemukan cerita yang menarik itu sering sulit sekali saya menuliskanya. Pertama karena tidak tau mau mulai dari mana. Terus kedua itu bingung bagaimana alur cerita yang tepat untuk membuatnya sama menarik dengan cerita temuan saya. Kira2 ada tipsnya kah.

Jawab :

Kan udah tau ceritanya? Mulai aja dari sana. Apapun itu, tulis aja. Pokoknya harus dimulai. Kenapa begitu? Karena sering kali ide untuk memulai memang harus dipancing. Apa yang sudah terketik di layar bisa jadi kurang asyik tapi tulisan di screen itu akan berfungsi sbg pemancing. Gara-gara tulisan itu kita dapet ide, “Oh salah dong. Harusnya mulainya begini dulu.” Jadi intinya harus ditulis!

Tanya @Florens:

Ini kumpulan foto yg bercerita, bisa masuk kategori Cerpenting kah…? https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10155762656863819&id=739428818 Apakah masuk kategori Cerpenting?

Jawab :

Coba nilai sendiri. Penting gak? Cerpenting harus berupa tulisan yang minimal ada konflik sekecil apapun.

Tanya10 @Nastiti:

Apakah ada maksimum atau berapa kata yang pantas untuk posting cerita di sosial media seperti FB, untuk bisa menarik pembaca bertahan membaca cerita kita dari awal sampai akhir?

Jawab :

Gak ada ukurannya. Sebagai penulis kita harus menulis cerita yang panjangnya ideal. Ideal di sini maksud saya adalah panjangnya harus mengakomodasi seluruh cerita sehingga mudah dibaca oleh orang lain.

Saya pernah berdebat sama temen. Dia bilang menulis itu harus pendek karena orang bacanya di HP dan males baca cerita yg panjang-panjang. Saya gak setuju dengan pendapat itu. Lalu kami taruhan.

Saya disuruh bikin tulisan yg panjangnya 5 halaman A4. Dan saya akan dinyatakan menang kalo yang ngeshare minimal 20 orang. Saya terima tantangan itu, Saya menulis bukan 5 halaman tapi 14 halaman A4.

Dan saya yang menang. Tulisan itu dilike 1200 orang. 511 komen. Dan mendapat 941 shares.

Ini linknya https://www.facebook.com/search/top/?q=Olaf%20kesurupan%20Budiman%20Hakim&epa= SEARCH_BOX

Jadi pointnya bukan panjang atau pendek. Bukan juga karena orang gak mau baca yang panjang. Yang bener adalah tulisan kita yang gak punya kemampuan untuk memaksa orang membaca sampai habis.

Tanya 11 @Luqman Baehaqi:

Mudah²an masih bisa nanya ya kang

Saya pernah lihat acara TV ada acara reality show yang tokoh utamanya menyamar jadi orang gila gitu tapi karena aktingnya jelek jadi kliatan kalau settingan. Dan gak enak dilihat.

Baru2 ini ada artis melakukan gal serupa dan aktingnya bagus jadi enak dilihat dan banyak yg terbawa suasana.

Pertanyaannya kalau di penulisan adakah hal yang demikian? Kalau ada letaknya di mana?

Simpelnya, apa yg membuat dua tulisan dengan ide yang sama jika dibandingkan bisa lebih believable dibanding yang lainnya.

Jawab:

@Luqman Baehaqi Sering banget masalahnya ada di bagian karakterisasi. Banyak orang Indonesia yg gak peduli sama karakterisasi. Misalnya sinetron2 yang ada di TV. Semuanya tokohnya terlalu stereotype. Tokoh utamanya selalu ganteng, kaya dan dikelilingi oleh cewek2 cakep. Kita jadi muak ngeliatnya.

Coba kalo tokohnya dikasih karakter yang kuat maka biasanya akan jadi outstanding. Orang Indonesia yang paling saya kagumi soal karakterisasi adalah Pak Teguh pendiri Srimulat.

Kita tau tokoh Tarzan, Asmuni, Tessy, Gogon, Paul, Triman dll. Semuanya punya karakter yang kuat. Dan semua karakter itu diciptakan oleh Pak Teguh.

Tanya 12 @Meli Wardani:

Bagi tips untuk memperkaya diksi ya. Karena kalau nulis, sering bingung di pemilihan kata. Pengennya buru-buru selesai tulisannya, tapi sebenernya masih pengen cerita.

Jawab:

Diksi itu pilihan kata. Diksi ini sangat penting karena bisa membuat tulisan kita terlihat cerdas. Misalnya, saya pernah membaca “Bis berhenti dan MEMUNTAHKAN penumpangnya di halte tersebut.

Pernah juga saya membaca tulisan “Kau baluri lukaku dengan doa,” Buat saya ini keren banget. Yang namanya membaluri luka kan biasanya dengan salep. Hehehehehe….

Closing :

Teman-teman sekalian. Saya akan ngasih PR lagi. Sekali lagi ini buat yang mau aja. Coba bikin cerpenting. Ingat ya, ceritanya harus yan gak penting. Kelakuan anak kita, kucing kita berantem dengan kucing tetangga atau lagi e’e’ tapi ternyata gak ada air. Terserah yang penting seru.

Tapi kali ini ceritanya tidak dikasih ke saya atau Asep. Postinglah di social media kalian. Boleh di FB, IG atau di Blog, terserah. Jangan lupa ngetag saya, Asep dan Devina. Kenapa di social media Karena sekalian kita ngetest seberapa banyak engagement yang terjadi pada cerpenting kita.

Demikian materi saya malam ini. Kita akan bertemu lagi Selasa depan. Terima kasih banyak atas perhatiannya. Wabillahi taufik wal hidayah wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

————-

Di bawah ini adalah PR dari Om Bud yang sudah saya kerjakan. Alhamdulillaah, senang sekali sudah dikomentari secara positif oleh Om Bud.

Belajar Menulis Bersama Om Bud (Bagian 2)

Berikut adalah rangkuman materi dan diskusi kelas menulis bareng Om Bud. Sebelum masuk ke bagian kedua, Om Bud terlebih dahulu membahas pertanyaan susulan dari materi sebelumnya tentang creative attitude (klik di sini). Kode inisial masih berlaku sama, N untuk narasumber, M untuk moderator, dan P sebagai peserta

M : 1. Dari @⁨Faiza Huwaida⁩

Bagaimana caranya untuk membuat tulisan kita menjadi indah saat kita sedang meluapkan beban hidup dalam tulisan? Karena terkadang saya merasa bahwa tulisan yang sudah saya tulis tidak layak di baca orang lain

N : Kalo menulis untuk meluapkan beban hidup gak perlu indah. Pokoknya tulis aja supaya beban hidup kita terlepas. Belum tentu juga kata-kata indah itu manjur. Sekali lagi saya katakan bahwa menulis itu untuk menyenangkan diri sendiri. Bukan menyenangkan orang lain. Kalo orang lain juga suka, anggap itu bonus.

M: 2. Dari @⁨Indah Pujiati⁩

Menulis untuk meninggalkan legacy. Apakah kita gunakan bahasa kita sendiri, atau tetap harus mengikuti kaidah penulisan otobiografi?

N: Coba baca buku-buku saya. Saya adalah penulis yang banyak dimusuhi oleh dosen-dosen karena bahasa saya seenaknya. Tapi saya gak peduli karena saya kan menulis untuk menyenangkan diri sendiri. Orang lain gak suka, saya gak begitu pikirin. Kadang saya merasa tulisan yang mengikuti kaidah bahasa gak tersampaikan emosinya secara utuh

M: 3. Dari @⁨Ade Muharram⁩:

saya beberapa kali mencoba menulis di blog, beberapa kali mencoba membuat blog tematik. tapi setelah mencoba menulis selusin artikel,kadang seperti hilang ide. bingung mau angkat topik apa. pernah ga om pengen menulis tapi lagi merasa engga kreatif? ada trik ga untuk memunculkan sesuatu yang menarik kalo lagi begitu?

N: Sering banget! Dan itu semua dialami oleh semua penulis. Biasanya orang suka nyebut dengan istilah writer’s block. Ada beberapa trik yang akan saya share tapi itu ada di sesi berikutnya. Mungkin sesi 5 atau 6. Tunggu ya….

M: 5. Dari @⁨Robi’ah⁩: Salam Kang Herna, jujur di awal baca smbil lalu, begitu masuk k tema creative attitude mulai tenggelam Dan terhanyut dlm ulasan om bud. Apalagi blg kreativitas bkn job diskripsi, tp sikap sehari-hari. Itu pemahamannya gmn, apa kita mencari jalan2 penyelesaian dg sedikit pengorbanan atau gimana?

N: Intinya adalah berusahalah lebih peka dengan apa yang tertangkap oleh panca indera. Lalu tanyakan pada diri sendiri, “Bisa jadi ide apa yang tertangkap itu?”

Misalnya saya pernah ngeliat burung gereja bersarang di masjid. Terus saya kepikiran jadi ide untuk bikin iklan layanan masyarakat. Adegannya dimulai dengan gambar masjid. Kamera masuk ke pojokan masjid, di sana kita ngeliat burung gereja membuat sarang. Lalu terlihat burung gereja …

———

Sesi tanya jawab susulan berakhir. Saatnya kita menyimak materi kuliah selanjutnya yang dilaksanakan pada Rabu, 19 Juni 2019, mulai pukul 20.00 WIB.

N : Baik teman-teman. Alhamdulillah malam ini kita bisa ketemu lagi untuk masuk Sesi 2 sharing The Writers bersama Om Budiman Hakim. Malam ini Om Budiman Hakim akan membawakan materi menarik, “Copy Menggambar, Visual Bercerita”.

Sekedar mengingatkan, sebelumnya sharing dimulai, agar tertib, mohon diperhatikan regulasinya ya:

  1. Sharing akan dibagi 2 sesi, Sesi Sharing Materi (pk. 20.00 – 21.30); dan Sesi Tanya Jawab (pk. 21.30-22.00)
  2. Selama sharing berlangsung, member dilarang posting apapun, kecuali diminta oleh pemateri atau moderator
  3. Member diharap menyampaikan pertanyaan lewat WA saya sebagai moderator (0816909xxx). Saya akan utamakan 5 pertanyaan pertama untuk disampaikan ke pemateri di Sesi Tanya Jawab. Kalau masih ada waktu, pertanyaan berikutnya akan disampaikan ke pemateri.

Ok, mari kita sambut saja langsung Om Budimaaan Haaaakiiiiim. Silakan mulai, Om.

N: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Teman2 sekalian. Kemaren kita sudah belajar tentang manfaat menulis dan sebagian tentang Creative Attitude.

Perlu dipahami bahwa bagian creative attitude ini yang paling penting. Karena bersikap kreatif seharusnya adalah sikap keseharian manusia sehari-hari.

Jadi jangan lupa pernah lupa, hindari komen yang biasa-biasa doang. Hindari memakai ucapan-ucapan idul fitri yang udah basi. Tunjukkan bahwa kita punya Creative Attitude. Buktikan kalo kita selalu mampu membuat sesuatu yang baru. MERDEKAAAAA!!!!! (Loh kok merdeka….🤔🤔🤔

Sering-seringlah latihan menulis dan gak usah pilih-pilih harus nulis apa. Tulis apa aja yang kita nyaman.

Teman2 sekalian….

Dulu kalo lagi nginterview orang, saya butuh berjam-jam karena saya suka kasih test segala. Saya melakukan itu karena saya gak mau salah memilih karyawan. Jadi saya detil banget kalo ngetest calon karyawan

Sekarang saya cuma butuh 5 menit dan hanya dengan1 pertanyaan saja. Pertanyaan saya sederhana banget, “Kasih saya 1 alasan kenapa saya harus menerima kamu. Gak boleh lebih, cukup 1 saja.” Sederhana tapi menantang bukan?

Setelah itu saya minta link FB, Twitter, IG dan semua social medianya. Udah gitu doang tapi dari situ saya bisa menilai orang tersebut seperti apa. Kalo misalnya orang itu pernah menulis status seperti berikut,

“Gue telat ngantor, uang makan dipotong. Tapi elo dateng lebih telat dari gue gak diapa-apain. Enak juga jadi Boss, ya? Suatu hari gue mau jadi Boss juga kayak lo, Nyet!”

Atau dia bikin kayak gini, “Minta naik gaji katanya kantor sedang  rugi. Tapi elo sendiri ganti mobil baru lagi. Situ sehat? Lo gak ada bedanya sama koruptor penghisap darah rakyat, tauuuuk!”

Coba perhatikan baik2 status FB tersebut. Biar orangnya sehebat apapun saya gak akan pernah menerima orang seperti ini. Nyari orang pintar itu gak gampang tapi nyari orang pintar dengan good attitude, itu susahnya minta ampun.

Intinya adalah saya sangat terbantu sekali dengan adanya social media. Kalo ngewawancara orang off air, kita sulit menilai karya dan attitudenya. Karena kebanyakan port folio yang dibawanya adalah kerjaan keroyokan atau kerja kolektif. Tapi dengan mengintip social medianya, saya langsung tau seberapa kreatif orang ini dan seberapa bagus attitudenya.

Dan satu lagi! saya gak akan pernah menerima copywriter apabila yang bersangkutan tidak punya blog. Buat saya ini mutlak dan gak bisa ditawar-tawar lagi. Kenapa demikian? Karena membuat iklan, buat saya, adalah pertandingan. Sementara menulis di blog adaah latihan.

Kenapa bayak banyak sekali orang yang karyanya jelek? Karena dia tidak pernah latihan. Dia pikir berkarya itu sama kayak bikin Pop Mie, tinggal robek bungkusnya, seduh air panas…selesai! Masak berkarya disamain kayak bkin Mie instan?

Di jaman digital ini, kalo gak hati-hati, kita akan terperangkap menjadi generasi instan. Karena segala data dan informasi begitu mudah kita temukan di internet…. Syukurilah semua berkah yang bisa kita peroleh dengan instan. Tapi ingat! MENTAL GAK BOLEH INSTAN.!!!!

Respeklah pada Tuhan yang telah menghadiahkan otak pada kita. Pakailah itu semaksimal mungkin. Kita harus menyadari, mie instan saja diciptakannya tidak instan, loh. Ayo kita pekikkan pada dunia bahwa kita bukan generasi instan. Sebodoh-bodohnya manusia adalah mereka yang bermental instan.

Itu sebabnya orang kayak gitu dengan mudah ketipu dengan iming-iming umrah murah, arisan dengan untung berlipat ganda sampai mau-maunya ikut paranormal untuk menggandakan uang. Bukan cuma yg gak sekolah, loh. Yg punya gelar S3 juga banyak yang ketipu iming2 seperti itu. Kenapa? Semua itu gara-gara kita melecehkan kemampuan otak kita sendiri dan gak mau mikir, pokoknya maunya hanya yang serba instan.

Okay, sekarang kita kembali ke creative attitude.

Selanjutnya bagaimana cara melatih diri agar Creative Attitude senantiasa mengalir dalam darah kita. Kita tau yang namanya latihan pasti membosankan.  No doubt about it! Clear!

Lalu bagaimana supaya tetap enjoy berlatih agar kita selalu mempunya sikap kreatif? Bagaimana caranya supaya secara otomatis agar creative attitude selalu menjadi sikap kita dalam menghadapi segala sesuatu? Begini caranya.

COPY MENGGAMBAR. VISUAL BERCERITA.

Kalian semua punya akun Instagram, kan? Kalo punya follow saya dong? Hehehehehehe. Kalo kalian suka main Instagram berarti kalian beruntung. Karena Instagram adalah social media yang paling menyenangkan sebagai bahan latihan meningkatkan creative attitude.

Minum dulu ya….haus!

OK, jadi begini, guys….

Misalkan kalian sudah mempunyai foto untuk diposting di IG. Pahamilah bahwa foto yang kalian posting itu juga menyampaikan pesan. Karena itu jangan bikin caption hanya mengulang apa yang sudah dikatakan oleh fotonya. Misalkan kita posting foto pasangan cowo dan cewe.

Caption: Couple. PREET!!!!!

Jangan pernah bikin caption “COUPLE.” Tolong jangan ya….itu namanya kita gak punya creative attitude. Itu adalah caption yang mubazir dan tidak berguna. Karena kata couple sudah disampaikan oleh imagenya. Jadi di bagian caption, kita harus menuliskan hal lain. Sesuatu yang berbeda namun berintegrasi dengan imagenya.

Instagram adalah sarana visual. Caption berfungsi sebagai support untuk  menambah apa yang telah dikatakan oleh imagenya. Meskipun demikian caption juga sangat penting. Jadi di bagian caption, kita harus menuliskan hal lain. Imagenya telah menyampaikan pesan, yaitu ‘COUPLE’. Jadi tugas caption adalah mendukung atau menambah apa yang telah dikatakan oleh image tersebut.

Coba saya kasih 1 menit buat kalian mikirin. Sebaiknya caption apa yg harus kita cantumkan di bawah foto ini? Yak berpikir dimulai tik…tok….tik….tok…. Ada yang mau nyumbang ide? Kalo ada kirim ke Asep ya.

M: Silakan ya teman-teman, WA ke 0816909xxx. 🙂

N: Dalam konteks foto ini kita bisa bikin caption apa aja. Pokoknya asal TIDAK MENGULANG apa yg dikatakan oleh imagenya berarti udah betul. Saya bilang betul, belum tentu berarti bagus sih .

Misalnya kita bisa kasih caption “ WHEN I MET YOU, I FOUND ME.”Jadi keren kan?

M: Dari @Faikul Om: Kita oke kan!! 😀

N: Lumayanlah… Kita bisa bikin beberapa lalu pilih yang terbaik untuk caption kita.

M: Dari @+62 823-6666-xxxx: Bersama Abu abu dalam hitam & putih,

N: Misalnya, “Pasangan sejati adalah dia yang selalu ada saat kita butuhkan dan selalu menghilang saat kita tidak butuhkan.” Hehehehehe….

Iya udah cukup, Sep. Thanks.

Contoh lainnya lagi….

Coba buka IG kalian. Banyak banget foto Eiffel di sana. Dan yg bikin sedih banyak sekali yg bikin caption “EIFFEL”. Berarti orang tersebut belom pernah belajar Creative Attitude.

Okay, sekarang kita pikirin yang menara Eiffel? Kira-kira apa caption yg menarik? Gak usah dijawab, ya….

M: Dari @Joy to the world 😍: Selangkah demi selangkah untuk menggapai langit

N: Ini ada true story. Jadi pas outing kantor sebuah perusahaan ada orang Sunda dibawa ke menara Eiffel terus dia komennya begini: “Naon sih alusna menara ieu. Di kampung aing ieu ngaran na sutet. Loba pisaaaan.” HAHAHAHAHA…

M: Dari @aliya2017 , Eiffel : Masih di langit sama kok…

N: Yang orang Sunda pasti ketawa juga tuh….🤣🤣🤣

Jadi terjemahannya “Apa sih bagusnya menara ini? Di kampung saya mah banyak yg beginian, namanya SUTET. Banyak banget!” Hahahahahahaha….

Jadi dapat disimpulkan bahwa caption itu gak  selalu harus cerdas, gak perlu ilmiah. Yang penting isinya menyenangkan dan interaktif . Penting banget nih diketahui….

Contoh selanjutnya….

Ada anak kecil lagi main sendirian. Masak captionnya ‘Playing Alone?” Hueeeek….!!!!!!

Sebagai orang yang mempunyai creative attitude, kita harus memikirkan caption yg lain. Yg inspiratif tapi sekaligus bisa bekerja sama dengan gambarnya. Daripada bikin caption cuma’ playing alone’, kita bisa bikin misalnya:

“When you’re alone, don’t be sad. Maybe God drives all your friends away because He wants to play with you. Only with you.”

Atau kalo mau bahasa Indonesia juga boleh,

“Ketika sedang sendiri, jangan bersedih. Mungkin Tuhan memang mengusir semua orang karena Dia ingin bermain berdua saja denganmu.”

Mengharukan bukan? Tiba-tiba foto itu jadi lebih bagus dari seharusnya gara-gara caption yang kita bikin. Di situlah kehebatan sebuah caption.

Contoh lainnya lagi….

Caption: DOWN UNDER

Australia nama lainnya adalah down under. Tapi masak kita jadiin sebagai caption, sih? Malu-maluin banget!

Tapi orang yang posting foto ini tidak menggunakan caption itu. Alhamdulillah. Orang tersebut bikin caption lucu banget sehingga saya menjadikannya sebagai contoh.

“I prefer Australian kiss than french kiss. It’s almost the same but down under.”

Ini caption luar biasa banget. Terlepas dari joroknya, kalimat itu cerdas banget. Buat yang gak ngerti boleh japri saya setelah sharing. Hehehehehe….

Contoh selanjutnya…

Caption: Me with My Beer

Hadoh! Pengen saya gebukin nih orang yang bikin caption kayak gini. Eh? Itu saya yg bikin ya? Hehehehehe….

Gak kok. Saya gak bikin begitu. Saya bisa bikin yg jenaka sedikit. Misalnya: “SAVE WATER. DRINK BEER!”

Contoh berikutnya….

Caption: Jenasah!

M: Interupsi, Om.

N: Iya, silakan, Sep.

M: Untuk yang sudah ada pertanyaan, silahkan tulis ke WA saya di 0816909xxx. Akan dipilih 5 pertanyaan pertama untuk dijawab oleh Om Budiman Hakim. Terima kasih. Silakan lanjut Om.

N: Thanks, Sep.

Kita lanjut ya….

Udah gambarnya jenasah kok captionnya cuma ngulang doang…. TOBAT!

Kita bisa bikin misalnya “SEBELUM MATI BUATLAH MINIMAL 1 BUKU!” Hehehehehehehe….

Jadi seru, kan? Ada pesan moralnya.

Jadi apa yg kita bisa simpulkan dari semua contoh yg saya posting?

Jangan pernah bikin caption hanya dengan mengulang apa yg telah dikatakan visualnya.

Begitulah cara sedrhana untuk melatih creative attitude dengan memanfaatkan Instagram. Kita pasti enjoy latihannya karena sehari-hari kan kita memang main IG. Iya, kan?

Oh ya, kalo perlu kita juga bisa menggunakan kutipan orang lain namun jangan lupa menyebutkan sumbernya. Misalnya:

Coba liat foto ini. Garing abis kan? Coba kalo kita kasih caption.

Kebetulan saya menemukan caption kutipan dari orang lain. Captionnya begini: “Kalo udah sukses, suara kentutmu terdengar inspiratif. Tapi kalo blom sukses, omonganmu yang paling inspiratif pun terdengar seperti kentut.” –Jack Ma

Tentu saja saya menyantumkan nama sumbernya yaitu Jack Ma.

Perlu dipahami bahwa caption itu dahsyat sekali pengaruhnya. Foto yang biasa2 aja, kalo dikasih caption yang bagus maka foto kita terlihat jadi lebih bagus daripada kenyataannya. Kita sudah membuktikannya dengan contoh-contoh di atas. Jadi foto sejelek apapun pasti akan terlihat lebih bagus kalo dikasih caption.Bahkan foto tak berarti pun bisa punya makna ketika kita kasih caption. Misalnya:

Coba perhatikan image ini, cuma bidang item doang. Gak ada artinya sama sekali. Gak ada bagus-bagusnya…

Tapi ketika kita kasih caption. pandangan itu berubah. Misalnya Kita bisa bikin caption: EARTH HOUR. Tau2 jadi punya makna kan? Begitulah dahsyatnya caption.

Dari gambar bidang item doang kita bisa bikin caption macem-macem. Misalnya… I HATE PLN!!!

Jadi keren juga. Minimal punya maknalah kalo gak gitu keren….

Kalo mau romantis dikit, kita bisa nulis  kayak gini : “Even your shadow will leave you when you’re in the dark.”

Nah, keren banget. Itu baru bidang item. Kita bisa bikin bidang merah lalu kaitkan dengan kata berani. Bidang putih dengan kata suci. Bidang biru dengan kegalauan. Banyak banget yang bisa kita posting. Dan gak harus bagus karena creative attitude kita akan membuatnya jadi bagus.

KESIMPULAN

Jangan bikin caption cuma mengulang visual. Bikin caption yang beda tapi mendukung apa yg dikatakan visual. Kalo perlu gunakan kutipan orang lain dan dan jangan lupa menyebutkan sumbernya.

Caption yang bagus akan membuat foto/iklan kita bertambah jauh lebih bagus dari seharusnya. Bahkan gambar tak berarti pun akan mempunyai makna ketika dikasih caption.

Temen kantor saya, namanya Leo, pernah ngomong gini, “Om Bud, gue punya foto bagus banget nih.” sambil memperlihatkan foto tersebut di HPnya.

“Wah, keren, Le. Kok gak diposting di IG?” tanya saya.

“Udah dari 4 hari yang lalu seharusnya gue posting. Tapi belom manteb nih hati ini.” jawab Leo.

“Belom manteb kenapa?” tanya saya.

“Belom dapet caption yang keren.” sahut Leo.

Coba bayangin! Kalo kita punya foto keren banget, pastinya kita  gak sabar dan mau buru2 posting dong ke IG? Iya gak? Tapi Leo sanggup menunda posting hanya gara-gara belom punya caption yang OK.

Temen-temen sekalian, apa yang dilakukan oleh Leo tersebut, itulah yang namanya Creative Attitude.

Berdasarkan apa yang dikatakan Leo, mulai hari ini saya minta pada semua temen-temen di sini: Jangan pernah posting foto ke IG sebelum dapet caption yg okeh.

Berani? Berani dong, ya! Itu sangat penting untuk membangun creative attitude kita.

Latihan membuat caption ini akan membuat kita semakin kreatif dalam menulis. Bukan cuma buat yang mau nulis buku tapi juga sangat bermanfaat buat yang mau jualan di IG.

Sekarang ini banyak banget orang yang sudah punya produk dan brand yang dijual secara online. Banyak dari mereka yang memanfaatkan social media.

Sebagian peserta di sini tentu juga banyak yang berjualan di Instagram, kan? Nasihat saya, sering-seringlah berlatih bikin caption sesuai metode di atas. Ketika kita sudah mempunyai creative attitude, kta jadi bisa membuat caption yang menarik untuk dagangan kita.

Teman-teman sekalian, Judul materi kita hari ni adalah COPY MENGGAMBAR, VISUAL BERCERITA.

Jadi jangan cuma fokus pada captionnya doang. Kalo bikin iklan di IG, buatlah gambar yang bercerita supaya lebih menarik. Gabungan antara image yang bercerita dengan copy yang menggambar akan membuat iklan di Instagram jadi menarik perhatian. Kerja sama image dan copy akan membuat komunikasi kita bekerja secara maksimal.

Misalnya kalo saya harus membuat iklan di IG untuk obat pegel linu. Saya akan membuat gambar yang bercerita.

Caption: Misalnya saya akan membuat visual seperti ini

Di captionnya kita bisa bercerita bahwa betapa gak nyamannya kalo kita sedang menderita pegel linu.

Silakan cerita bla…bla…bla…Di endingnya, kalian bisa akhiri dengan …

“Bahkan Patung Pancoran pun sering hilang kalo jalanan lagi sepi. Karena dia juga butuh obat tersebut. Capek loh berdiri terus-terusan gak bergerak sambil nunjuk ke angkasa. Kalo gak percaya, silakan coba sendiri.” Hehehehehe..

Btw, karena IG juga punya fasilitas untuk sarana audio visual, kita juga bisa membuat video 1 menit untuk brand kita.

Sekarang ini kualitas HP sudah lebih dari cukup untuk membuat konten di IG , FB atau di Youtube. Dengan memproduksi video, semua benefit bisa kita masukkan dalam video tersebut berupa audio. Jadi di caption kita tidak perlu lagi bikin copy yang njlimet. Kita cukup memasukkan daftar harga dari barang akan kita jual beserta daftar harganya.

Kalo gak salah di sini ada peserta dari Cilacap yang bisnisnya pakan burung, ya? Siapa namanya? Lupa lagi saya….

P: Saya Om @Budiman Hakim

N: Nah, namanya Pak Biyan. Bila Bapak Biyan meminta tolong ke saya untuk membuat konten IGnya buat jualan maka saya akan buatnya seperti ini….

(video, maaf tidak bs diunggah)

Hehehehe…. simple banget, kan? Produksinya murah namun punya daya tarik yang tinggi. Sebetulnya pakan burung itu adalah produk yang sangat inspiratif. Kita bisa dapet ide banyak sekali dari sana.

Perlu diketahui bahwa 2 iklan yang saya buat di atas bukanlah iklan beneran. Kenapa kok saya berepot-repot membuat iklan bo’ongan ini cuma buat contoh materi ini?

Yak betul! Sekali lagi itu adalah CREATIVE ATTITUDE!

Baiklah teman-teman. Karena waktu sudah menunjukkan lebih dari pukul 9.30, kita berhenti dulu sampe di sini ya. Besok kita lanjutin masih seputar creative attitude. Dengan demikian, mike saya kembalikan pada moderator untuk masuk ke sesi tanya jawab. Silakan, Sep….

M: Baik Om. Sudah ada beberapa pertanyaan, kita masuk sesi tanya jawab ya. Pertanyaan 1 dari @Indah Pujiati: Bagaimana bila caption-nya tentang sejarah dalam foto? Apakah bisa disebut creative?

N: Bisa dong. Kreativitas kan tanpa batasan. Kreativitas itu mencakup semua bidang tanpa kecuali. Contoh Sri Mulyani. Buat saya dia adalah orang yg sangat kreatif. Coba search inovasi2nya di internet. Ada aja idenya yg gak kepikiran oleh menteri2 keuangan sebelumnya.

M: Berikutnya dari @Meadhe : Keberhasilan sebuah tulisan misal cerpen itu apa, pembaca terbawa hanyut sama kisah nya ?

N: Sebuah karya yang bagus adalah karya yg mampu menggugah emosinya. Kalo orang terharu bahkan sampe nangis baca cerpen kita maka kita tergolong berhasil. Atau kalo Stand up comedian berhasil membuat audiensnya ketawa ngakak, berarti dia berhasil.

M: Pertanyaan ke-3 dari @+62 857-3366-xxxx. Yth. Om Budiman, Om Asep. Nama saya Billy. Jika ada 2 jenis kalimat promosi 1 jelek, dan 1 bagus:

  1. Contoh Jelek (misal) : “Bledek Duer! Kejutan apalagi nihhh!! Beli satu dapat 2 mblo!”.

Dengan visual seadanya, orang memakai rambut palsu kribo. Tetapi produknya laku.

  1. Contoh Bagus (misal) : “Tidak seharusnya orang-tua menyaksikan anak mereka meninggal sebelum mereka, semua harapan besar, hilang hanya karena suatu hal yang kecil” – Visual yang niat, Produk kampas rem, kalimat penutup: “Jangan terlalu cepat anakku!”. Produknya gak seberapa laku.

Mana yang “berhasil” dari kedua writing di atas? Writing jelek tapi laku, atau writing bagus tapi tidak laku? Apa tujuan akhir dari Creative Writing? Uang, ketenaran? Bagaimana jika T Audience tidak seberapa pandai? Apakah kita harus memberikan “effort” lebih?Toh effort biasa aja juga bisa dapat hasil maksimal? Terima kasih. Maaf banyak pertanyaan.

N: Keberhasilan sebuah iklan satu2nya adah SALES! Kreativitas itu adalah keberhasilan sebuah komunikasi terhadap Target Audiencenya. Iklan nomor 1, bisa jadi sangat kreatif karena targetnya memang down market kaum alay. Kreatif itu gak ada hubungannya sama yg bodor atau serius. Pokoknya ketika konsumen tergugah emosinya maka itu artinya kreatif.

M: Pertanyaan ke-4 dari @agusharuna: Gimana tipsnya untuk menggali ide caption yang pas dengan gambar yang ada?

N: Pokoknya mulai aja dulu dengan menuliskan sesuatu yang belum disampaikan oleh gambarnya. Nanti ketika kita sedang berpikir, barulah kita punya ide-ide lain. Kita akan berdiskusi dengan diri kita sendiri, “Eh, apa gini aja ya? Atau giniin aja kali. Ah mendingan diginiin sekalian.”

Itu proses yang selalu terjadi. Cara ampuh untuk menjadi kreatif adalah dengan memulainya dulu. Nanti Tuhan akan ngasih cara dan ide pada kita. Ayah saya selalu bilang, “Tuhan itu hanya memberi hadiah pada umatnya yang bekerja. Jadi jangan nunggu proyek baru bekerja. Bekerjalah dulu maka proyek akan datang padamu.” Begitu juga dengan kreativitas.

M: Dari @aliya2017: OmBud bilang, nulis suka2 aja g perlunmikirin pendapat org. Tp gmn caranya bisa dptin poin yg plg pas teritegrasi dg gambar shg bisa bicara dg cerdas

N: Dalam konteks social media, cerdas hanyalah salah satu cara. Social media itu adalah MEDIA INTERAKTIF. Jadi caption yang mengundang interaksi seringkali lebih bekerja daripada yang cerdas tapi tidak mengundang interaksi. Jadi di social media, kalo mau cerdas saja gak cukup. Yang keren adalah cerdas sekaligus mengundang interaksi.

M: Dari @Faikul. Nanya om Bud, Selain blog media apalagi yg om saranin utk latihan menulis?? Saya jarang main IG sering mainanya FB pribadi dan ngelola Fanpage FB seminggu minimal 3kali posting. Trimakasih om… 🙏🙏

N: Semuanya bagus2 aja sih. Yang penting bukan di mana tapi seperti apa kontennya. Ketika saya mengatakan bahwa blog adalah keharusan, itu maksud saya khusus buat calon copywriter yang ngelamar ke kantor saya,

M: Dari @Shwa: Pengen banget nanya soal ini: Gimana ya caranya bikin cerita yang berkesan tentang betapa bagusnya perbedaan, tanpa menyinggung SARA? Soalnya kan cerita pasti ada konflik, nah di dalam konflik itu takutnya bakal menyinggung suatu etnis… ☹

N: Saya gak bisa ngejawab pertanyaan ini karena pertanyaannya terlalu general. Soal SARA itu sangat spesifik jadi saya harus baca dulu tulisan kamu seperti apa. Setelah itu baru saya bisa bilang apakah itu sensitif atau tidak. Untungnya saya punya group WA mantan pendaki gunung. Di group itu semuanya asyik2 aja. Jadi setiap kali saya menulis sesuatu yg kira2 sensitif, biasanya saya posting di group tersebut dan minta penilaian mereka.

M: Berikutnya dari @Biyan | Mbois Manis. Sy screen capture aja:

Pertanyaannya nyatu di image Om. Silakan.

N: Gambar apa ya itu? 🤔

M: Produk vitalitas. Sepertinya obat kuat Om.

N: Gak jelas gambarnya jadi saya jelasin aja tanpa mengacu gambar itu ya. Intinya Copy Menggambar, visula bercertita itu adalah seperti berikut, Pak Biyan. Copy itu kan artinya tulisan, jadi pasti kita akan bercerita sesuatu kan? Nah gambarnya juga harus bercerita, misalnya gambar patung pancoran yg tadi saya posting.

Semua orang Jakarta pasti tau itu adalah patung pancoran. Dan mereka bertanya-tanya kok gak ada patungnya? Lalu mereka ngeliat sachet obat pegel linu itu. Otak mereka akan bekerja menghubungak setiap elemen yg ada dan akhirnya mereka meemukan jawabannya. Dan jawabannya itulah yang berupa cerita. Oh, patung pancoran itu rupanya pegel akhirnya dia turun mencari obat pegel linu. Kira2 gitu….

M: Dari @muhariffudin: Selamat malam… Pertanyaan saya: Om Bud, bagaimana cara mengungkapkan tulisan retorika secara tertulis yang memiliki kekuatan dahsyat seperti ketika saat diucapkan/diteriakkan? Sebagaimana yg kita ketahui bersama bahwa saat diucapkan maka akan ada indera pendengar (audio) yang juga berperan, sedangkan saat ditulis itu hanya indera penglihatan saja. Terimakasih.

N: Dalam penulisan itu ada dua bagian besar. Yang satu disebut deskripsi (penggambaran) dan satunya lagi adalah narasi (penceritaan). Nah keduanya sangatlah penting.

Nah, untuk membuat kalimat berarti ada di bagian narasi. Untuk mendapatkan kesan seakan-akan itu didengar oleh telinga, caranya begini. Setiap kali ada adegan emosional, apakah itu orang marah, orang menangis, orang menjerit-jerit, gunakan kalimat langsung.

Anton sangat marah pada temannya karena dia tidak juga mau membayar hutangnya padahal sudah berkali-kali dia berjanji untuk membayar tapi tidak juga ditepati. Daripada menulis seperti di atas, gunakan kalimat langsung.

“Jadi kapan lo mau bayar utangnya? Hah!!! Lo udah janji berkali-kali tapi gak pernah ditepati. Jadi kapan lo mau bayar!!!!!” Bentak Anto mulai murka.

M: Dari @Muharram: Mau tanya, biasanya mulai dari mana, copy dulu atau visual dulu.

N: Tergantung ide yg kita temukan. Kadang kita menemukan ide berupa kata-kata lalu kita mikirin gimana visualnya. Atau sebaliknya.

M: Dari @luqmanbaehaqi: Banyak beredar quote² yang penuh inspirasi seperti “sebelum mati minimal buatlah satu buku.”

Pertanyaannya: Bagaimana cara memeras tulisan yang panjang menjadi satu kalimat inti yang dalam dan kaya makna.

N: Halo Luqman. Teman2 ini adalah Luqman temen saya. Dia stand up comedian loh. Hehehehe

Jadi begini Luq. Kalo kita menerjemahkan dari bhs Inggris ke dalam bhs Indonesia, biasanya kita memang kesulitan untuk membuat kalimat motivasi itu pendek, minimal sependek bhs aslinya. Misalnya kalimat “Youa are what you drive.” Sampe tua pun kita gak bakalan dapet kalimat yg sependek itu di terjemahannya.

Tapi kalo kita membuat kalimat motivasi sendiri. Bikin sendiri seharusnya itu lebih mudah. Tapi ini juga tergantung mau bikin kalimat apa. Pokoknya nomor 1 yg harus dilakukan adalah Tulis aja dulu kalimatnya yang udah kita dapet. Gak usah peduliin panjangnya. Lalu baru diulik-ulik dan dipotong sana-sini.

M: Dari @Fairuz N. Izzah: Kalau saya ingin promosi buku, saya mesti menarik perhatian orang, cuma kalau caption nya itu berisi info salah satu cerita di buku saya, apakah itu termasuk creative attitude?

Creative attitude itu kan sikap. Kita bersikap kreatif. Jadi keinginan untuk berpromosi itu udah creative attitude. Soal caranya itu masalah lain lagi. Pokoknya mau mempromosikan karya kita sendiri dan tidak mengandalkan pada penerbit, itu udah creative attitude.

M: Teman-teman, pertanyaan masih banyak. Tapi berhubung waktu bahkan sudah lewat 30 menit, untuk sementara sesi kita tutup dulu ya. Pertanyaan tersisa akan tetap saya sampaikan ke om Budiman Hakim.

Baik, sebelum ditutup, barangkali ada closing speech dari Om Bud, monggo.

N: OK, tadi saya udah tanya apakah kalian mau PR, gak? Sebagain mau dan sebagai gak mau. Jadi saya akan kasih PR buat yg mau aja. PRnya sederhana, coba kalian foto sesuatu, terserah apa aja. Lalu bikin captionnya yang tidak mengulang apa yg telah disampaikan oleh visualnya.

Buat peserta cewek, kirim ke Kang Asep dan buat yg cowok kirim ke saya.  Sekali lagi ini buat yg mau aja ya. Buat yg sibuk atau gak punya waktu gapapa. Kalian harus senang di group ini. Jadi saya gak mau kalian punay tekanan dikejar deadline atau stress karena belom bikin PR. Santai aja. Kalo sama saya dan Asep, semua harus merasa nyaman.

Demikian closing dari saya. Moho maaf kalo ada kata-kata yg kurang berkenan. Sekian dan wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

M: Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih Om Budiman Hakim, juga teman-teman. Seru banget malam ini. Semoga penuh berkah ya. Terima kasih juga untuk yang udah aktif bertanya, bikin tambah hangat aja.

Baiklah. Untuk sementara sesi sharing ini kita tutup dulu. Besok Kamis malam kita lanjut lagi. Dan ruang saya kembalikan ke teman-teman untuk bebas chat lagi. Mari kita berikan applause yang meriah untuk teman-teman.

Wassalamu alaikum warahmtullahi wabarakatuh. Selamat malam.

Belajar Menulis Bersama Om Bud (Bagian 1)

Skripsi saya bertema semiotika iklan. Salah satu bahan bacaan dalam menyusun skripsi tersebut adalah buku berjudul Lanturan Tapi Relevan karya Budiman Hakim (biasa dipanggil Om Bud). Pernah juga mengikuti diskusi dengan beliau sebagai narsum di Bentara Budaya Yogyakarta, bertahun-tahun lampau. Kesan saya beliau ramah, murah ilmu, dan mudah akrab.

Tempo hari, saya membaca status Om Bud soal kelas menulis yang beliau selenggarakan di WA. Saya mendaftar ke admin, yaitu Mba Devina. Kelas menulis ini diselenggarakan tiap Selasa, Rabu, Kamis, mulai pukul 20.00 WIB selama beberapa minggu. Biaya mengikuti kuliah ini adalah seikhlasnya, semampunya, selama tidak memberatkan peserta. Saya dimasukkan ke dalam WAG The Writer Angkatan II, yang anggotanya berjumlah 191 orang.

Tanggal 18 Juni 2019 pukul 20.00, dimulailah kuliah dan diskusi tentang menulis dg narasumber (N) Budiman Hakim. Moderator (M) dalam diskusi ini adalah Kang Asep Herna. Berikut ini adalah resume dari materi dan diskusi yang berlangsung  semalam.

M : Selamat malam teman-teman The Writers. Apa kabar semuanya? Insya Allah semua dalam keadaan sehat, asik dan bergairah ya, sehingga malam ini kita bisa enjoy mengunyah sesi sharing perdana The Writers dari Om Budiman Hakim.

Perkenalkan, saya Asep Herna, yang malam ini siap memoderasi sesi sharing ini.

Teman-teman, sejak malam ini, setiap Selasa-Rabu-Kamis kita akan intens melewati 12 sesi pelatihan. Dan malam ini Om Budiman Hakim akan mengawalinya dengan mengetengahkan tema “Creative Attitude”.

Om Budiman Hakim adalah seorang executive creative director yang telah berpengalaman lebih dari 20 tahun di dunia periklanan. Dari tangannya, lahir ratusan karya monumental baik dari brand-brand nasional maupun multinasional. Di antaranya, permen Frozz, Danamon, Telkomsel, Indosat, Djarum Black, Nestle, Bentoel Mild, Toyota, Auto 2000, dan banyak lagi.

Beberapa karyanya memenangkan banyak penghargaan baik di ajang festival iklan nasional maupun internasional seperti New York Festival. Salah satunya bahkan menjadi The Best of the Best di Citra Pariwara.

Dari tangannya juga Om Bud telah menerbitkan 10 buku kreatif, antara lain: Lanturan tapi Relevan, Go West and Gowes, Sex after Dugem, Ngobrolin Iklan Yuk, Si Muka Jelek, Saya Pengen Jago Presentasi, Saya Pengen jadi Copywriter, Saya Pengen jadi Creative Director, Storytelling, Si Kampret Master Selingkuh.

N: Selamat malam teman-teman. Nama saya Budiman Hakim. Di industri Periklanan saya biasa dipanggil ‘Om Bud’ .

Sharing ini akan berjalan sebanyak 12X pertemuan dengan 2 pemateri yaitu Asep Herna dan saya.

Perlu dicamkan bahwa Asep dan saya bukanlah guru kalian tapi teman kalian.

Kenapa kami gak mau dianggap guru?

Kalau mau, kalian juga boleh memanggil begitu. Semoga sharing kita kali ini penuh barokah buat kita semua. Aamiin.

Karena orang selalu merasa lebih nyaman berada bersama temannya.

Orang biasanya lebih mendengarkan apa kata temannya dibandingkan orang lain.

Setuju teman-teman? Setuju dong ya….

Ini adalah hari pertama dari pelatihan kita. Saya berterima kasih sekali buat semua yang sudah ikut berpartisipasi.

Partisipasi yang betul2 luar biasa karena dalam waktu cuma beberapa hari kita telah membentuk sebuah komunitas menulis yang berjumlah lebih dari 180 orang.

Wuiiiih…ternyata harapan kita akan terkabul. Sharing ini penuh barokah. Insya Allah.

Yang bikin saya surprise ternyata peserta di sini sangat beragam.

Ada mahasiswa, ada dosen, ada yg dari forex trading, ada produser film iklan, ada juga yang penulis buku, ada yang bekerja di pajak, ada coach dan ada juga yang pelaut. Ck…ck…ck…

Dari segi usia juga sangat bervariasi. ada yang junior 14 tahun dan ada yang senior, 71 tahun.

Dari domisili juga mencakup jarak yang beragam.

Ada yang dari Jkt, Bandung, Solo, Semarang, Solo, Yogya, Surabaya, Pakan baru, Balik Papan, Menado dan ada juga peserta yang berasal dari Singapore, Taiwan dan Turki. Luar biasa.  Terharu….

Okay, kita mulai dengan kenapa kita harus menulis?

Banyak orang bilang bahwa DIA TIDAK SUKA MENULIS bahkan TIDAK PERNAH MENULIS.

Nah,walaupun tidak terstruktur, sistematis dan masif,  saya berani bilang Itu pasti hoax!

Karena menulis adalah kebutuhan primer seperti halnya dengan makan, minum dan tidur.

Kita boleh bilang bahwa kita bukan culinary Man. Tapi toh kita tetap harus makan.

Begitu juga menulis. Kita mungkin gak suka menulis.

Tapi kita selalu ngetweet, kita bikin status di FB, kita bikin caption di Instagram, kita chatting di WA dll.

Kita menulis pelajaran di sekolah, kita membuat laporan di kantor, DLL.

Artinya, suka gak suka, kita tetap saja menulis.

Point saya adalah, karena kita tetap dan terpaksa harus menulis, kenapa kita tidak sekalian saja memperdalam ilmu penulisan kita.

Kenapa demikian? Karena menulis itu banyak sekali manfaatnya.

MANFAAT MENULIS:

  1. MENGABADIKAN PENGALAMAN HIDUP

Kita bisa mengabadikan hal-hal menarik dalam hidup kita.

Kenapa perlu kita abadikan? Karena yang perlu kita wariskan pada anak dan cucu kita bukanlah harta tapi pengalaman hidup dan wisdom kita.

Menulislah dan tidak usah malu mengungkapkan sisi hitam kita.

Karena bukan sisi negatif itu yang akan kita highlite tapi hikmah positif apa yang kita peroleh dari peristiwa tersebut.

  1. MENINGGALKAN LEGACY

Menulis membuat kita bisa meninggalkan legacy untuk keturunan kita.

Cucu-cucu yang gak sempet ketemu kita, pasti seneng banget ketika membaca, “Wah, nenek buyut, Niken, kita ternyata dulu seorang Forex Trader , Loh.

“Ih, kagum banget sama nenek buyut Niken!!”

“Gile, ternyata kakek buyut kita Joice Karouw adalah seorang pelaut. Hebat banget. Sayang kita gak sempet ketemu beliau.”

Mengharukan, bukan?

Dan kalo buku kita bagus, bukan cuma keluarga tapi dunia akan membaca buku kita.

Seperti orang bijak berkata, “If you want to know the world, READ. If you want the world to know you, WRITE!

  1. MEMBUANG SAMPAH EMOSI

Jiwa menderita, tubuh menjerit. Itulah yang tejadi di era modern seperti sekarang.

Sebagian besar penyakit yang menggeragoti tubuh selalu datang dari masalah psikis (Psychosomatic).

Alhamdulillah salah satu obat yang paling manjur adalah menulis.

Menulis berfungsi sebagai EMOTIONAL DETOX yang mampu mengusir rasa sakit, penderitaan, rasa bersalah, kesedihan dan stress.

Semua itu berpangkal dari enerji negatif yang semakin gila datang dari media digital.

Kalo semua enerji negatif tersebut dibiarkan dalam tubuh, lama kelamaan akan mengakibatkan tubuh kita sakit.

Orang2 psikologi biasa menyebutnya dengan istilah fungsi katarsis yang mencegah kita dari penyakit psikosomatis.

Jadi ketika kita sedang gelisah akan sesuatu, MENULISLAH!

Maka kegelisahanmu akan pudar.

Tapi jika kegelisahan itu terlalu personal untuk dibuka ke publik, tulis tentang hal lain. Tentang apa saja semau kita. Hasilnya?

Aneh bin ajaib, kegelisahan kita tetap menghilang. Begitu powerfulnya menulis bagi kesehatan kita.

  1. MENULIS ITU SEPERTI MAIN GAME

Main game sering disebut dengan melampiaskan aktualisasi diri.

Menulis itu persis seperti main XBOX atau PS (Play Station).

Perhatiin deh, game yang dipilih oleh anak kita, sebenernya sangat mewakili harapan dan imajinasinya.

Mereka memilih game balapan karena buat mereka seru dan ternyata menjadi pembalap adalah salah satu impiannya.

Tidak semua impian bisa jadi kenyataan tapi dengan main game sedikit banyak aktualisasi diri bisa terpenuhi.

Sama dengan main game, menulis juga bisa berfungsi sebagai aktualisasi diri.

Buat yg suka berkhayal pengen jadi jagoan, pengen jadi bintang film, pengen jadi Super Hero…pokoknya jadi apa aja, BISA.

Tuliskan cerita berdasarkan imajinasi itu.

Tokohnya tidak perlu harus kita. Ketika semua kita tuliskan maka semua hal yg kita ceritakan sebetulnya semuanya merupakan representasi dari pikiran, imajinasi, cita-cita, harapan kita.

Dengan menulis cerita, kita bisa jadi apa aja di sana.

Pokoknya apapun yang muncul dalam pikiran, apapun yang sering muncul dalam imajinasi kita, tuliskan. Insya Allah tulisan kita akan menjadi bagus. Kenapa?

Karena sesuatu yg sering kita imaginasikan pasti sangat sempurna minimal buat kita sendiri.

  1. MENULIS ITU MENCEGAH PIKUN

Banyak orang yang memasuki usia pensiun, seringkali bingung harus melakukan apa.

Hidup itu tentang mengejar sesuatu. Meskipun keliatan sepele, tetap harus ada yang dikejar.

Itu sebabnya banyak pensiunan cepat meninggal karena mereka gak punya sesuatu yang harus dikejar.

Mereka stress dan merasa gak berguna menjalani hidup.

Padahal Masa Pensiun itu bukanlah periode di mana kita tidak mengerjakan apa-apa.

Masa pensiun adalah masa di mana kita mempunyai kebebasan untuk memilih pekerjaan yang kita sukai.

Karena butuh kegiatan dan membutuhkan sesuatu untuk dikejar, akhirnya para pensiunan tersebut mencoba berkebun, kursus melukis atau kursus menulis.

Berdasarkan hal itulah, saya berpendapat, daripada menunggu tua baru belajar menulis lebih baik kita belajar dari sekarang.

Kalo hobby menulis, ketika kita tua nanti, kita mempunya kegiatan yang meneyanangkan.

Kita bisa berkarya, menulis sepuasnya, menerbitkan beberapa buku karena di jaman masih bekerja sering tertunda oleh kegiatan lainnya.

Artinya kita mempunya sesuatu yang menyenangkan untuk dikejar.

Dan hebatnya lagi, kegiatan menulis akan membuat kita terhindar dari penyakit pikun.

Kok bisa begitu?

Karena jika otak kita sering digunakan untuk berimajinasi dan berpikir maka otak kita akan terasah terus.

Orang yang terkena Alzheimer biasanya adalah orang yang kurang menggunakan otaknya untuk berpikir.

Otak adalah hadiah terhebat dari semua organ tubuh yang kita terima dari Tuhan.

Secara umum manusia yang paling pinter pun konon baru menggunakan kapasitas otaknya sebesar 10%.

Jadi bisa dibayangkan bagaimana hebatnya jika kita bisa memaksimalkan otak kita. Pastinya karya kita akan sangat bagus.

PLAK!!!! Aduh….banyak nyamuk nih di sini….😃

Kita lanjutin ya….

Ada teori yang mengatakan bahwa secara umum manusia terbagi dalam dua tipe; 1. Tipe pembicara dan 2. Tipe pendengar.

Terus terang saya kurang sepakat dengan teori itu.

Minimal di lingkungan saya, semua orang ingin menjadi pembicara sekaligus ingin didengarkan.

Karena itu menulislah.

Ketika orang memutuskan untuk membaca tulisan kita berarti dia dengan rela mendudukkan dirinya sebagai pendengar.

Dan kita sebagai penulisnya tentu saja adalah pembicaranya. Hehehehe…

KESIMPULAN:

Sekarang kita sudah mengetahui betapa banyak manfaat dan betapa pentingnya pengetahuan tentang penulisan.

Perlu dipahami bahwa segala kegiatan yang kita lakukan hampir semuanya berhubungan dengan penulisan.

Kita mau berjualan, berdakwah, presentasi, membuat film, membuat album lagu, melakukan penelitian dll, semua berhubungan dengan dunia penulisan.

Sejak kemunculan dunia digital, sekonyong-konyong ilmu penulisan semakin naik pamornya.

Di social media semua orang menulis, baik itu di twitter, Youtube, Facebook, Instagram, dll.

Tiba-tiba penulisan menduduki porsi yang sangat mendominasi.

Itu sebabnya belakangan ini kita melihat berbagai penawaran workshop tentang penulisan/copywriting begitu tinggi.

Jadi teman-teman, yuk kita tanamkan tekad, kita harus belajar dan memperdalam ilmu menulis.

Maap postingan saya makin lambat ya? Soalnya jari pegel juga nih lama2….😃

Okay. Perlu diketahui bahwa setiap kali saya mengajar, entah itu sharing tentang creative writing, storytelling, generating ideas, presentasi/public speaking dll, segmen pertama saya selalu sama, yaitu tentang CREATIVE ATTITUDE.

Saya tidak pernah mengajarkan kalimat template karena, buat saya, itu melecehkan kecerdasan otak kita.

Tuhan itu adalah FATHER OF CREATION.

Satu-satunya bakat yang diberikan pada manusia namun tidak diwariskan pada makhluk lain adalah berkarya (creation, to create and creative).

Jadi saya punya pemahaman bahwa Creative Attitude sangat penting dan merupakan landasan atau infrastruktur utama dari kreativitas kita.

CREATIVE ATTITUDE

Sebelum kita mulai belajar menulis ada hal yang sangat penting untuk ditanamkan dalam diri kita masing-masing. Yaitu Creative Attitude.

Perlu dipahami bahwa KREATIVITAS ITU ADALAH SIKAP HIDUP. BUKAN JOB DESKRIPSI.

Bersikap kreatif jangan hanya dilakukan ketika kita sedang mendapat pekerjaan.

Bersikap kreatif jangan hanya dilakukan ketika kita sedang mendapat masalah.

Creative Attitude harus menjadi sikap hidup kita sehari-hari.

Meskipun sedang tidak ada proyek, meskipun sedang tidak ada masalah, kita harus selalu bersikap kreatif.

Plak!!! Nah mati tuh satu nyamuk. Darahnya banyak😃 banget….

Lanjut lagi ya….

Temen saya pernah bercerita tentang seorang kerabatnya yang berasal dari Aceh yang bernama Farhan.

Farhan ini selalu mengaku tidak suka menulis.

Bahkan dia cenderung menganggap remeh kegiatan menulis.

Namun sebuah peristiwa besar telah merubah paradigma yang selama ini dianutnya. Apakah itu?

Tentu kita masih ingat bencana Tsunami yang terjadi di Aceh.

Sekitar 230.000 orang di 14 negara tewas akibat tsunami dahsyat yang melanda Samudra Hindia, pada tanggal 26 Desember 2004.

Tsunami dipicu gempa berkekuatan 9,1 pada skala Richter, yang episentrumnya berada Samudra Hindia, sekitar 85 km di barat laut Banda Aceh

Keluarga Farhan adalah salah satau korban dari gelombang Tsunami yang mengerikan itu.

Dalam bencana tersebut, dia kehilangan isteri dan anaknya. Dia merasa sangat sedih dan terpukul.

Rasa kehilangan yang begitu berat membuatnya sangat menderita.

Dia merasa depresi dan sering berteriak-teriak karena beban yang begitu menyesakkan dada tentunya harus dikeluarkan.

Tanpa disadari, secara naluriah dia mulai menulis untuk melampiaskan kesedihannya itu

M: Buat teman-teman yang sudah punya pertanyaan, silahkan tulis ke WA saya di 0816909xxx. Akan dipilih 5 pertanyaan pertama untuk dijawab oleh Om Budiman Hakim. Terima kasih. 🙂

N: Akhirnya Farhan menulis dan menulis lagi untuk mengeluarkan beban yang selama ini menindih hatinya.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa bencana Tsunami telah menjadi PEMICU untuk menulis.

Farhan yang mengaku tidak suka menulis akhirnya menulis.

Tapi perlu dicatat bahwa dia membutuhkan PEMICU YANG BESAR untuk memaksanya menulis.

Kasus lain lagi.

Pernah gak kalian perhatikan, ada banyak sekali seniman yang selalu berkarya dan karyanya bagus-bagus. Namun ada cerita selanjutnya yang banyak tidakkita ketahui

Seorang sahabat saya di Yogya pernah menganalisa tentang Ebiet GAD yg kemaren jadi tamu di acara Matanajwa..

Menurut teman saya tersebut, Ebiet sangat kreatif dan banyak membuat lagu ketika hidupnya masih susah.

Kesehariannya sering diisi dengan cara menggelandang di Malioboro dan merenung di pantai Parang Tritis.

Beban yang ada di pundaknya menjadi PEMICU yang dia lampiaskan dengan mencipta lagu.

Dan percaya gak? Lagunya bagus-bagus. Bahkan akhirnya dia mendapat kesempatan untuk rekaman dan albumnya meledak.

Dia mendadak menjadi terkenal, mendapat banyak penghargaan dan bergelimang dengan uang.

Konon dia lalu menikah dengan sesama artis dan tinggal di rumah mewah di bilangan kebayoran baru.

Ebiet GAD hidup bahagia bersama isteri dan anak-anaknya. Kisah hidupnya seperti novel yang berakhir dengan happy ending.

Namun selanjutnya apa yang terjadi?

Setelah dia hidup mapan, kita tidak pernah lagi mendengar karyanya meledak.

Bahkan kita tidak tau apakah dia masih mencipta lagu atau tidak.

Tapi apa yang terjadi pada Ebiet memang banyak dialami sebagian besar seniman.

Banyak yang setelah menjadi kaya, mereka sulit sekali berkarya.

Bukannya mereka tidak mau.

Setiap hari mereka berusaha mencipta lagu.

Mereka sudah berusaha mati-matian tapi tetap saja tidak terlahir lagu-lagu yang kualitasnya sama dengan jaman dia hidup susah dulu. Kenapa bisa terjadi begitu?

Rupanya ketika hidup mapan, dia merasa tidak lagi mempunyai PEMICU.

Dulu beban yang ada di pundaknya bisa dia konversikan menjadi lagu. Tapi ketika hidup mapan tanpa beban?

Ide-idenya gak keluar. Otaknya buntu.

Mereka membutuhkan ‘kekejaman Tuhan’ berupa beban hidup sebagai PEMICU untuk berkarya.

Banyak seniman di dunia ini mengalami hal yang seragam. Mereka punya karya yang mumpuni saat sedang menderita tapi blank ketika hidupnya sudah mapan.

Nah, di sinilah pentingnya CREATIVE ATTITUDE!

Kalo kita terlatih dan memiliki Creative Attitude, KITA TIDAK MEMBUTUHKAN PEMICU YANG BESAR UNTUK BERKARYA.

Kita tidak butuh bencana Tsunami untuk memaksa kita menulis.

Kita tidak butuh beban penderitaan hidup untuk berkarya.

Sebuah KATA atau KALIMAT sederhana akan menjelma sebagai PEMICU jika CREATIVE ATTITUDE sudah menyatu dengan aliran darah kita.

Dari pemaparan di atas, kita tentu setuju bahwa creative attitude itu sangat penting dan harus dilatih secara terus menerus.

Bagaimana caranya?

Sebetulnya caranya sederhana saja.

Kita harus peka pada apa yang terjadi di sekeliling kita. Kita harus sering-sering menganalisa apa yang ditangkap oleh pancaindera kita.

Begitulah yang namanya creative Attitude. Persoalannya, bagaimana cara melatihnya?

KOMEN DI FACEBOOK

Di jaman sekarang banyak waktu kita tersita di social media.

So, supaya gampang, ayok kita manfaatkan situasi itu.

Pasti kalian sering ngasih komen di social media orang lain, kan?

Misalnya kalian sedang melihat status FB temen.

Di sana kita membaca status tersebut berbunyi “Anak kita tidak cukup hanya diberi nasihat tapi berilah dia contoh.”

Nah, terus kalian ngasih komen begini “Setubuh…eh setuju!”

Astaghfirullah! Jangan, ya? Itu adalah segaring-garingnya komen.

Kalo bikin komen seperti itu berarti kalian tidak punya creative attitude.

Joke tersebut adalah joke tahun 70-an. Udah ampir setengah abad umurnya!

Masa sih kita gak mau menulis komen yang baru?

Tulislah komen yang kita ciptakan sendiri sehingga temen kita merasa surprise dengan komen kita.

Ingat! Semua orang suka SURPRISE!

Saat hari lebaran banyak banget kalimat-kalimat indah berseliweran.

Pesan saya cuma satu:  HINDARI NYONTEK ucapan-ucapan yang sudah basi.

Misalnya “Ketika jemari tak sempat bertaut….” Hadoh! Basi amat!

Atau “Ketika kata menggores luka…..” NAJONG!

Apalagi bikin pantun “Ikan kakap ikan patin. Mohon maaf lahir bathin.” TOBAT!!!!!!!!!!!

Guys, please! Jangan bikin temen kita muak dengan ucapan selamat kita!

Bikin dong kalimat sendiri yang baru. Temen kita juga akan seneng bacanya.

Atau pas temen kita nulis tentang dirinya yang mencari kacamatanya ternyata kacamatanya ada di kepalanya.

Jangan pernah bikin komen “FAKTOR U!”

Kenapa demikian? Karena pasti ada banyak orang lain yang akan menuliskan kalimat yang sama.

Akibatnya komen kita jadi GENERIK.

Dengan creative attitude seharusnya komen kita jadi UNIK.

Sekali lagi komen kita harus jadi SURPRISE buat yang membacanya.

Hal ini penting. Bukan untuk membahagiakan temen kita tapi untuk membahagiakan diri sendiri.

Kalo temen kita juga suka, anggap aja bonus!

Kasus selanjutnya.

Temen kita bercerita di FB tentang seorang isteri yang dateng ke kantor suaminya.

Sang isteri tersebut mau ngecek karena mencurigai suaminya berselingkuh dengan resepsionisnya.

Terus kita ngasih komen, “Pengalaman pribadi, ya?”

Ya, ampun! Wake up, guys! Komen seperti itu juga pasti akan dituliskan oleh oleh orang lain.

Kita perlu mengantisipasi kira-kira orang lain akan komen apa.

Nah, kita harus bikin yang lain. Yang unik. Yang unexpected. Sesuatu yang tidak terpikirkan oleh orang lain.

Jadi bisa disimpulkan bahwa CREATIVE ATTITUDE adalah sikap hidup yang harus selalu dilakukan dalam keseharian kita.

Baiklah teman-teman. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 9.30, kita berhenti dulu sampe di sini ya.

Besok kita lanjutin masih seputar creative attitude.

Dengan demikian, mike saya kembalikan pada moderator untuk masuk ke sesi tanya jawab.

M: Tips memahami psikologi seseorang untuk menulis copywriting?

N: Waduh! Saya bukan psikolog, Ros. Tapi kalo untuk memahami attitude TA atau konsumen, kita harus menggali consumer insight mereka. Dan cara untuk menemukan insight tersebut biasanya saya melakukan riset dengan FGD baik itu kuantitaif maupun kualitatif.

M: Terkait dengan membuang sampah emosi. Kok saya merasa kalo curhat ke temen saya bisa menceritakan kesedihan dan kekesalan saya dengan lancar ke teman. Tapi apa yg saya curhatjan via verbal ketika saya tulis kok beda jadi berbelit2 dan bertele-tele, gak seperti waktu saya ngomong

Pertanyaannya, mengapa bisa seperti itu, apa yg harus dilatih biar menulisnya efektif

N: Caranya sederhana, kalo kamu lebih nyaman ngomong, coba install aplikasi Speech notes. Aplikasi ini sangat membantu orang yang seperti kamu. Jadi caranya kamu ngomong aja di mikenya dan aplikasi tersebut akan mengetik apa yang kamu omongin.

Jadi setelah selesai ngomong, kamu bisa periksa lagi untuk merevisi tata bahasa dan tanda bacanya. Saya juga sering banget melakukan itu. Misalnya saya lagi di coffee shop terus dapet ide. Saya langsung ngomong di aplikasi tersebut. Sampe rumah bary saya betulin.

M : Pertanyaan ke-3 dari @Rian Setiawan: gmana caranya memetakan banyak ide yg muncul di kepala, agar bisa jadi satu buku.

N: Kalo saya setiap dapet ide saya catet di notes HP. Setelah itu saya bikin folder sendiri di laptop dengan judul ‘GUDANG IDE’. Jadi setiap saat saya mood untuk menulis, saya tinggal buka folder itu. Lalu mulai menulis…

Gak usah mikirin jadi buku dulu. Setiap orang sering frustrasi kalo berencana bikin buku. Kebayang tebelnya aja kita udah putus asa duluan. Biasakan bikin artikel. Kalo udah banyak kelompokkan artikel yang sama kategorinya. Lalu hitung gabungan artikel tersebut jumlahnya berapa halaman. Setelah itu baru kita bikin buku. Past rasanya lebih semangat karena tau2 kita udah punya naskah yang lumayan panjang.

M: Dari @DEDENS: Bagaimana cara kita menyadari bahwa kita sudah menjadi kreatif dalam keseharian ????

N: Sering2 menulis di social media. Kalo yang like, comment dan share semakin lama semakin banyak berarti kamu udah berkarya. Kalo karyanya udah banyak berarti kamu udah kreatif. Kalo engagementnya udah tinggi, berarti kamu udah layak bikin buku atau karya lainnya.

Dulu kita selalu nanya ke orang yg lebih pinter, tulisan kita udah bagus belom? Sekarang gak perlu lagi. Engagement di social media bisa menjadi ukuran apakah karya kita udah bagus atau tidak.

M : Dari @+62 857-4707-xxxx Selamat malam kang Asep Herna. Perkenalkan saya Yusuf.

Mohon izin bertanya, dalam proses menulis, saya sering merasa ah tulisan saya kok jelek ya. Akhirnya saya hapus semua atau ga jadi saya post.

Kadang juga ragu dipost ga ya, dipost ga ya. Akhirnya ga jadi post.

Mohon saran agar jadi makin pede terhadap hasil tulisan sendiri.

Terima kasih 🙏

N: Hampir semua orang mengalami masalah yang sama. Tapi tetap semua harus dilakukan. There is always the first time. Hidup adalah tentang melakukan hal yang baru. Kalo kita selalu melakukan hal yang sama berarti kita jalan di tempat.

Perlu dipahami bahwa menulis itu bukan untuk menyenangkan orang lain tapi untuk menyenangkan diri sendiri. Posting aja tulisan kamu. Dengan pemahaman tadi, kita gak akan begitu terganggu ketika tulisan kita kurang mendapat respon. Selamat berjuang, Bro!!!

M: Dari @maymona deviani:  Apakah dalam menulis kita harus selalu punya literatur yg valid sebagai rujukan,?  Apa boleh cuma sekedar share pengalaman pribadi aja

Terus bagaimana cara menghadapi situasi dimana tulisan kita jadi kontroversi

N: Tergantung tulisan seperti apa yang mau kita tulis. Saran saya adalah tulislah apa yang paling kita suka. Tulislah materi yang paling kita ngerti. Menulis pengalamn pribadi adalah yang paling aman karena kitalah yang paling memahami pribadi kita.

Kalo soal kontroversi, saya gak bisa jawab karena pertanyaannya terlalu general.  Pertanyaan seperti ini harus spesifik. Kontroversi tentang apa? Apa kasusnya? Agama? Politik atau urusan pengetahuan tentang kopi? Hehehehe….

M: Dari @Oktaviani Nur Khayati, pertanyaan saya : bagaimana mengatasi mood yg hilang timbul ketika ada ide untuk menulis,, kadang kesibukan membuat mood menulis tertunda dan dikala waktu sudah tersedia ganti mood yg hilang

N: Nah, ini masalah yang juga sangat umum terjadi untuk orang yang kepengen menulis. Mood itu jangan diturutin, lama-lama dia bisa ngelunjak dan akhirnya kita gak pernah nulis aa-apa.

Biasanya saya suka mancing mood supaya dateng. Caranya adalah dengan menyalakan laptop di meja kerja walaupun saya gak berecana untuk menulis. Secara psikologis, saya suka kesian sama laptop saya kok udah nyala tapi dianggurin sia-sia. Akhirnya saya duduk lalu membuka folder gudang ide yang tadi saya ceritakan di atas. Pas saya baca-baca, hampir selalu saya terpicu utntuk menulis. Abis nulis saya terperangah sendiri, “Kok gue bisa nulis sepanjang ini ya? Padahal kan gue lagi gak mood menulis.”

M: Dari @!nDr1 @$tUt|k, Malam om…apakah ide itu bisa mampat ya karena dulu sempat ikutan nulis antologi tapi kok sekarang malah sulit memulai promosi… Bagaimana dengan waktu n tertib administrasi…kadang suka malas nulis yang rajin…acak adut

N: Ide itu jarang sekali ujug-ujug dateng sendiri ke kita minta ditulis. Ide itu persis kayak ikan, jadi seringkali memang harus dipancing. Bagaimana memancingnya? Itu ada di sesi berikutnya ya….

M: Dari @annisaqla , Om, saya mau tanya, menurut teori kapan kah waktu yang tepat untuk belajar menulis? Apakah ada trik trik dan waktu khusus untuk belajar membuat tulisan yang bermutu? 🙏

N: Gak ada waktunya. Setiap orang itu unik sehingga mereka juga punya kebiasaannya sendiri dalam menulis. Saya punya dua temen menulis. Yang satu namanya Noorca Massardi, dia kalo mau nulis selalu pergi ke Ubud meninggalkan anak isterinya. Dia butuh keheningan untuk menulis.

Yg satu lagi namanya Radtya Dika. Nah kalo anak ini bisa makan siang atau ngopi bareng saya di Kafe sembari menulis. Pas saya tanya, “Dik, lo lagi nulis apa, sih?” Dia nyaut, “Gue lagi nulis buku, Om Bud. Buku baru nih.”

“emang lo gak terganggu dengan kebisingan orang seperti ini?” tanya saya. Dia nyaut lagi, “Generasi saya gak butuh keheningan untuk menulis. Pokoknya kalo dapet ide langsung tulis gak peduli ada di mana. Makanya saya ke mana-mana selalu bawa laptop”

Gitu katanya. Kamu termasuk jenis yang mana? Kenali diri sendiri dulu maka selanjutnya kita akan merasa lebih mudah untuk melakukan apa-apa.

M: Dari Tika @Atika Rusli, Saya suka nulis dan ‘’merasa’’ punya sedikit creative attitude hehehe, namanya aja merasa gak pa2 kan ya kang, namun sudah bertahun-tahun menjadikan “kesibukan” sebagai alas an untuk malas nulis, bahkan sudah gak pernah lagi nulis di blog. Gimana ya biar alasan2 atau pembenaran2 atas kemalasan saya itu dihilangkan? Makasih Om Bud dan Kang Asep

N: Coba kamu baca lagi manfaat menulis yang saya tulis di awa-awal materi ini. 👆. Semoga kamu terpicu untuk memulai lagi. Coba posting tulisan kamu di Social media. Like, komen dan share yang kamu terima akan memproduksi hormon endorphine yang akan membuat ketagihan. Kalo belom dapet ide mungkin kamu memang harus belajar memancing ide untuk ditulis. Dan cara memancing ide akan ada di sesi selanjutnya.

M: Pertanyaan berikut dari @aliya2017:

OmBud, kenapa y dulu saya rajin nulis diary setiap malam, setiap waktu. Kok skrg mau nulis, mentok..seperti g merasa ada passion u menuangkan semuanya.

Setiap pegang pulpen, buka buku, tutup lagi.

Saya kangen nulis walaupun sekedar nulis dan gak banget

N : Ini pertanyaannya kurang lebih sama dengan pertanyaan Atika. Jadi jawabannya juga hampir sama. Coba kamu baca lagi manfaat menulis yang saya tulis di awal materi ini. Semoga kamu terpicu untuk memulai lagi. Coba posting tulisan kamu di Social media. Like, komen dan share yang kamu terima akan memproduksi hormon endorphine yang akan membuat ketagihan. Kalo belom dapet ide mungkin kamu memang harus belajar memancing ide untuk ditulis. Dan cara memancing ide akan ada di sesi selanjutnya. Hehehehe….

M: Dari @Sandya Ichwan: Apa perbedaan menulis dan mengetik? Apa positif dan negatifnya? Khususnya untuk kalangan muda seperti saya. Hehe. Ada yg bilang ngetik aja yg muda, via hp or laptop. Ada juga yg bilang nulis tangan aja biar kongkrit. Mana yg lebih baik?

N: Seperti saya bilang di atas, setiap individu itu unik dan punya kebiasaan sendiri2. Kadang kita gak punya keharus untuk membandingkan sesuatu dengan yg lainnya. Pokoknya pilih yng paling nyaman aja buat kita. Mau nulis di laptop atau mau nulis di HP atau mau nulis di mesin tik, itu gak masalah. Yang penting BERKARYA.

Usia muda justru harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk berkarya. Kelebihan orang muda dan orang tua cuma terbatas di jumlah usianya doang. Kualitas manusia hanya bisa diukur dari karyanya. Bukan umurnya.

M : Pertanyaan terakhir di sesi ini dari @Fairuz N. Izzah, yang kemarin baru launching buku kerennya ya. Saya Fairuz Nurul Izzah. Saya punya pertanyaan tapi lebih dari satu.

  1. Saya pernah menulis berdasarkan apa yang saya tonton, apakah itu tidak apa-apa?
  2. Saya masih bingung soal Creative Attitude. Kan kita mesti surprise orang yang menulis cerita. Apakah Ombud tahu bagaimana cara surprise orang yang menulis cerita supaya punya Creative Attitude?

N: Hai, Fairuz. Pertama sekali tentunya saya ngucapin selamat atas terbitnya buku ketiga yang baru launching. Semoga jadi best seller deh ya. Insya Allah…..

Banyak kok orang yang menulis berdasarkan apa yang mereka tonton. Teman saya seorang penyair pernah membuat puisi yang berjudul FORREST GUMP. Itu beradasarkan filmnya Tom Hank dan haslnya bagus banget….

Creative Attitude itu adalah sesuatu yang kita tangkap dari panca indera dan terkonversi menjadi karya. Semakin banyak kita berkarya maka berarti creative attitude kita sudah mendarah daging dalam aliran darah kita, Sebuah karya yang bagus adalah yang mampu menggugah emosi pembacanya. Bagaimana cara menggugah emosinya? Kita harus membuat sesuatu yang unexpected sehingga menjadi surprise buat mereka.

Baiklah teman-teman. Saran saya cobalah lebih peka pada sekeliling kita. Tuhan telah menanamkan ide banyak sekali dan ditaruh di mana-mana. Tugas kita adalah menemukannya dan untuk itu Tuhan memberi otak dan panca indera. Oanca indera untuk menemukan pemicu dan otak untuk mengeksekusi ide menjadi karya.

Berkaryalah teman-teman. Manusia tanpa karya, ketika dia mati hari ini esoknya orang sudah lupa lagi sama kita. Tapi kalo kita punya karya maka sprit kita, melalui karya tersebut akan hidup selamanya. Kita berjumpa lagi besok. Sekian dan selamat malam.

 

————————————–

Demikian isi kuliah dan diskusi dengan Om Bud. Sesuai salah satu yang Om Bud sampaikan tentang manfaat menulis, sy juga tergerak untuk membuat situs ini demi mencegah pikun hehehe. Saya merasa beberapa tahun terakhir ingatan dan daya hafal saya tidak setajam sebelumnya. Saya khawatir banyak yang akan sy lupakan kelak saat menjalani hari tua. Maka, sy mulai belajar membuat situs dan menuliskan kegiatan-kegiatan saya, sereceh dan se-nggak penting apapun itu hihihiii…. Mudah-mudahan ada hikmah yang bisa dipelajari oleh anak saya, atau bagi siapapun yang mampir kemari.