Literasi Emosi

Jumat 12 April 2019

Hari ini tim LiterASIh yang terdiri dari Kak Asih, Kak Namuri, Kak Dwi, Kak Listra, dan Kak David bertamu ke Kelas 2 SD Alam Lampung, kelasnya ananda Bintang. Pukul 08.00, kami tiba di lokasi dengan bantuan Kak Rendy membawa boks buku bacaan.

Kelas 2 SD Alam Lampung dibina oleh Bu Vera dan Bu Ayu. Terdapat 26 murid di dalamnya, sebagian besar anak laki-laki yang bertenaga ekstra. Dalam kunjungan kali ini, tema yang dibawakan adalah literasi emosi.

Setelah berkenalan dengan anggota tim, anak-anak diminta untuk menyebutkan apa saja yang pernah mereka rasakan. Ada yang menjawab rasa senang, sedih, marah, dan lucu. Anak-anak memperagakan wajah dengan ekspresi-ekspresi tersebut dengan contoh dari Kak Listra dan Kak Dwi.

Ekspresi wajah senang ditandai dengan mata yang berbinar dan senyum yang merekah. Biasanya rasa ini hadir jika anak-anak mendapat prestasi, memperoleh barang yang diingini, menerima pujian, bermain bersama teman, dsb. Wajah sedih ditandai dengan sinar mata yang meredup dan tak jarang disertai air mata. Juga senyum yang hilang dari wajah. Sedih dapat dirasakan jika kita kehilangan sesuatu, mengharapkan sesuatu tetapi tidak terwujud, atau karena tidak dihargai teman atau bahkan dimarahi orang tua/guru. Rasa marah dapat dilihat jika mata kita memerah, melotot, gigi gemertak, sampai nafas tersengal-sengal. Wajah tampak seram jika kita marah, dan kita akan dijauhi oleh teman-teman. Marah adalah perasaan yang wajar, terutama jika ada teman yang mengejek kita terus-terusan. Kita boleh menunjukkan rasa tidak suka dengan wajah tanpa senyum atau bicara secara langsung mengungkapkan ketidaksukaan kita. Yang tidak boleh dilakukan saat marah adalah melempar barang, memukul teman, atau mengucapkan kata-kata yang tidak pantas.

Dipandu oleh Kak Namuri yang pandai melukis, anak-anak menggambar ekspresi wajah. Dimulai dari menggambar lingkaran, menggambar setengah lingkaran (garis lengkung di bawah) untuk mulut yang menunjukkan rasa senang, garis alis mata yang melengkung ke bawah, dan bola mata yg berbinar. Untuk wajah sedih, gambar mulut diubah menjadi setengah lingkaran yang garis lengkungnya di bagian atas, garis alis mata melengkung ke atas, dan gambar mata diberi titik-titik di bawah yang mewakili tetesan air mata. Ekspresi marah digambarkan dengan bentuk garis alis yang seperti garis miring ke kiri dan ke kanan, serta gambar gas di sekitar hidung yang menunjukkan nafas tersengal-sengal.

Anak-anak menggambar dengan gembira. Setelah selesai menggambar, anak-anak membaca buku, termasuk buku soal emosi, yang dibwakan oleh boks buku keliling koleksi pustaka LiterASIh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *