Manajemen Waktu untuk Pelajar

20 Maret 2019

Hari ini Kak Asih dan tim kembali diundang oleh Kelas Motivasi Sekolah Alam Lampung untuk berbagi pengalaman. Sewaktu dengan Kak Hafiz, pesertanya khusus anak-anak SMA. Kali ini pesertanya terdiri dari anak SMP dan SMA. Anggota tim pemateri adalah Kak Nono dan Kak Nova. Pada kesempatan ini Kak Asih berperan sebagai pendamping saja karena alasan kesehatan. Sebagai Manajer Republik Asih Management (hahahaa joking), sebisa mungkin membersamai artes-artes yang manggung untuk kemaslahatan masyarakat 😀

Kelas Motivasi pekan ini mengusung topik “Manajemen Waktu untuk Menjadi Remaja Produktif”. Pemateri pertama adalah Kak Nova, dosen Teknik Biomedis Itera. Kak Nova berasal dari Sumatera Berat dan menyelesaikan studi S2 di Universiteit Gent, Belgia dan RWTH Aachen University Jerman. Iya, kampusnya Pak Habibie yang tersohor itu. Kak Nova juga pernah mendapatkan beasiswa untuk kursus Bahasa Inggris selama dua bulan di Iowa State University, Amerika Serikat. Bagaimana Kak Nova bisa berprestasi sedemikian rupa?

Kak Nova menjelaskan beberapa teori yang dikuasai sekaligus dipraktikkan seputar manajemen waktu. Secara umum, manajemen waktu adalah bagaimana mengatur atau membagi waktu secara efektif untuk kegiatan dan target kita. Manajemen waktu yang baik dapat melatih kita untuk belajar mandiri, disiplin, dan bertanggung jawab. Bebarapa strategi yang dapat diterapkan dalam mengelola waktu kita antara lain: memiliki buku agenda, mencatat kegiatan yang direncanakan di dalam buku tersebut sesuai tanggal, menyusun prioritas kegiatan, dan mematuhi jadwal yang sudah ditetapkan.

Dalam skala waktu tertentu, kita memiliki banyak kegiatan yang harus diselesaikan. Untuk itu, kita harus dapat mengatur waktu sefektif mungkin agar tidak menimbulkan efek-efek samping seperti jatuh sakit atau merasa tertekan. Oleh sebab itu, sepadat apapun jadwal yang telah disusun, kita sebaiknya tetap berpedoman pada hal-hal mendasar seperti mengalokasikan waktu tidur yang cukup, menetapkan awal dan akhir waktu kegiatan, menetapkan waktu minimal untuk belajar/pengembangan diri, dan menyisihkan waktu untuk kegiatan sosial/bermain. Dengan pengaturan demikian, diharapkan para siswa dapat menjalani kegiatan dengan bugar, teratur, sekaligus menyenangkan.

Materi berikutnya adalah seputar pengalaman mengatur waktu oleh Kak Nono. Kak Nono adalah dosen Teknik Geofisika Itera, asal Pasuruan, dan lulusan Program Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) Angkatan 1 dari Kemenristekdikti. Kak Nono menyelesaikan S2-S3 dalam waktu 4 tahun di ITB di usia 26 tahun. Bagaimana manajemen waktu yang diterapkan Kak Nono? Mari kita telisik.

Kak Nono tidak menyangka bahwa ia bisa kuliah, mengingat latar belakang orang tuanya seorang petani dan pengupas kapas. Ia setengah nekad mendaftar di Fisika Universitas Negeri Malang dan alhamdulillaah diterima. Praktis ia merantau ke Malang dan kuliah disambi kerja karena tidak bisa mengandalkan pembiayaan dari orang tua lagi.

Semasa kuliah S1, kegiatan utama Kak Nono secara garis besar sesuai urutan prioritas adalah kuliah, bekerja, dan berorganisasi. Kegiatan tersebut berlanjut sampai belio menamatkan S2-S3 dengan beberapa penyesuaian seperti melakukan penelitian. Dengan rasa disiplin dan tanggung jawab, kerja keras Kak Nono membuahkan prestasi berupa IPK 4, beberapa tulisan ilmiah yang dipublikasi di jurnal internasional, serta kunjungan ilmiah ke luar negeri seperti Singapura, Malaysia, China, Jepang. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan oleh Nono kecil, anak petani di Pasuruan. Kisah hidup Kak Nono ini rencananya akan disadur dan diterbitkan dalam bentuk novel. Profil singkat Kak Nono dapat disimak di video ini. Sangking terpesonanya dengan video ini, sampai-sampai guru pendamping kelas tidak memotret Kak Nono saat presentasi hehe. Itulah mengapa tidak ada foto Kak Nono sedang in action hehehe….

Setelah menyimak materi, beberapa pertanyaan diajukan oleh siswa sebagai berikut:

Tanya: Sudah menyusun jadwal, bagaimana supaya bisa konsisten?

Jawab:

Kak Asih: Demotivasi, mood yang berubah, lelah, dan bosan, adalah sesuatu yang wajar. Yang penting adalah bagaimana membangkitkannya kembali. Strategi yang bisa diterapkan adalah dengan berorientasi pada hasilnya, atau bisa juga membayangkan penyesalan yang mungkin timbul akibat kita lalai atau tidak disiplin. Itu disesuaikan dengan kecenderungan pribadi masing-masing.

Kak Nono: Tidak perlu membuat jadwal yang rigid. Cukup garis besarnya saja sehingga lebih fleksibel.

Kak Nova: Variasikan kegiatan supaya tidak monoton.

Tanya: Bagaimana jika cita-cita kita sekolah di luar negeri tidak disetujui orang tua?

Jawab:

Kak Nova: Orang tua tidak setuju biasanya karena tidak tahu. Tugas kita adalah memberikan informasi yang jelas ke orang tua apa yang hendak kita pelajari di sana, bagaimana situasi sosial di sana, siapa saja teman-teman kita di sana, dan bagaimana kita bertahan hidup di sana.

Kak Asih: Hindari berprasangka buruk pada orang tua. Sikap demikian timbul karena saking sayangnya kepada anak, bukan karena ingin menghalangi kesuksesan. Tidak perlu membantah pendapat orang tua. Cukup tunjukkan bukti, prestasi, dan kesungguhan kita sampai hati mereka luluh dan ridha.

T: Bagaimana menerbitkan karya tulis siswa?

Jawab:

Kak Nono: Bisa mencari daftar jurnal terakreditasi nasional Kemristekdikti dan mengirimkan tulisan di sana.

Kak Asih: Melalui ikut serta di lomba karya tulis ilmiah atau kompetisi sains seperti OSN atau IFSA (jika menyukai kegiatan ilmiah yang fun)

Tanya: Apakah kuliah juga berjuang? (diajukan oleh seorang siswa berkebutuhan khusus)

Jawab:

Kak Nova: tentu saja menuntu ilmu adalah perjuangan. Di dalamnya kita harus sungguh-sungguh dan kerja keras.

Kak Asih: dalam kitab Ta’lim Muta’allim karya Imam Jarnuzi, dijelaskan bahwa tujuan utama mencari ilmu adalah mensyukuri akal. Mensyukuri tidak hanya berterima kasih, tetapi menggunakan sesuai tujuan diciptakannya. Nah, menggunakan akal sebaik mungkin supaya bisa berpikir dan bekerja secara haq adalah sebuah perjuangan.

Di akhir acara, kami mendapat kenang-kenangan berupa parfum laundry yang diproduksi oleh salah seorang siswi. Oiya, dalam foto bersama terdapat pose simbol L yang dibentuk jari telunjuk dan jempol. Perlu diketahui bahwa lambang tersebut bukan untuk kampanye elektoral, tetapi pose dengan salam khas Lampung (huruf L) sebagaimana salam khas gerakan literasi.

Pada sesi kali ini, pustaka LiterASIh tidak membawa kontainer buku keliling karena fisik Kak Asih belum memungkinkan untuk menyusun buku dan membawanya ke sekolah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *