Literasi Lingkungan di SMAN 1 Abung Semuli Lampung Utara

2 Maret 2019

Akhir pekan ini Kak Asih ada agenda ke Kotabumi bersama dosen Teknik Lingkungan (TL) Itera yaitu Kak Alfian dan Kak Alam. Lepas shalat shubuh, kami berangkat ke Stasiun Tanjung Karang untuk membeli tiket KRD Seminung. Di sana sudah ada enam orang mahasiswa TL yang menunggu. Kami (Asih, ananda Bintang, Afian, dan Alam) kebagian duduk di gerbong 3. Kereta melaju tepat pukul 06.30.

Setelah menempuh 2 jam perjalanan dan melintasi 11 stasiun, tibalah kami di Stasiun Kali Balangan, Lampung Utara. Kami dijemput oleh dewan guru SMAN 1 Abung Semuli yang mengundang kami. Sesampainya kami di sekolah, kami terkesan dengan sambutan kepala sekolah dan para siswa yang berjajar menyalami kami satu per satu. Sambutan yang sangat hangat serta memuliakan tamu ini tak lepas dari upaya sang kepala sekolah yaitu Drs. Muhamad Suharyadi, M.Pd. (lebih populer dengan panggilan Pak Em) yang hendak menjadikan sekolahnya sebagai wahana pendidikan budi pekerti dan berwawasan lingkungan.

Kami masuk ke ruangan kepala sekolah untuk berdiskusi sembari menunggu persiapan tempat dan alat selesai. Pak Em banyak bercerita tentang program-program yang sudah berjalan di sekolah. Untuk pendidikan budi pekerti, sekolah melibatkan siswa dalam berbagai acara seperti penyambutan tamu (bergilir menjadi pembawa acara, pembaca doa), perlombaan tingkat lokal maupun nasional, menghias sekolah, membangun koperasi siswa, merawat kebun, mengelola bank sampah, menghadirkan pakar/tamu dari berbagai instansi, dan sebagainya. Program-program tersebut dijalankan untuk meningkatkan rasa percaya diri siswa, menumbuhkan rasa cinta siswa pada lingkungan dan sekolah, meningkatkan rasa solidaritas, dan meningkatkan prestasi.

Setelah mendapat gambaran umum tersebut, kami beranjak ke ruangan tempat penyuluhan digelar. Tema yang diangkat adalah: Sosialisasi Sanitasi Berbasis Masyarakat di Tingkat Sekolah. Acara dibuka oleh pembawa acara secara dwibahasa (Indonesia dan Inggris), dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan doa, serta pidato sambutan dari tuan rumah dan perwakilan tamu. Pidato dari kepala sekolah sangat meriah dan lucu. Peserta tampak antusias dan gembira menyimaknya. Padahal, pidato pak kepala sekolah banyak bully-an jenaka hihihiii. Giliran Kak Asih menyampaikan pidato sambutan, isinya berupa apresiasi kepada pihak sekolah dan kesan mendalam serta positif atas apa yang sudah diupayakan oleh sekolah.

Acara selanjutnya adalah penyampaian materi. Materi pertama diberikan oleh Kak Asih, yaitu tentang pola pikir berwawasan lingkungan. Sumber materi ini adalah buku Green Deen karya Ibrahim Abdul Matin, seorang konsultan lingkungan untuk Wali Kota New York. Meskipun dikembangkan dari spirit Islam, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya berlaku universal bagi manusia yang menganut agama apapun. Perihal memelihara bumi memang bukan tugas kelompok atau umat agama tertentu, tetapi amanah bagi seluruh umat manusia.

Terdapat enam prinsip “agama hijau” yang berkaitan dengan pemeliharaan lingkungan hidup, yaitu:

  1. Tauhid

Segala sesuatu berasal dari Sang Pencipta. Manusia sebagai puncak penciptaan hendaknya mencerminkan sifat-sifat baik dari Yang Menciptakannya. Sifat-sifat tersebut antara lain: sifat kasih sayang dan memelihara sesama makhluk.

  1. Ayat/Tanda

Segala sesuatu yang terjangkau oleh indera kita adalah tanda (ayat) betapa Maha Agung Sang Pencipta kita. Akal, yang merupakan karunia istimewa bagi manusia, menjadi alat untuk memahami tanda-tanda tersebut menjadi lebih bermakna dan bermanfaat.

  1. Khalifah

Prinsip ini berkaitan dengan peran manusia diutus ke muka bumi sebagai khalifah atau wakil dari Tuhan untuk mengelola berbagai-berbagai urusan. Pengelolaan tersebut tentunya perlu dikerjakan dengan baik, tanpa menimbulkan kerusakan.

  1. Amanah

Kepercayaan yang diberikan Tuhan kepada manusia hendaknya diemban dengan saksama. Akal manusia digunakan untuk melindungi bumi, bukan justru untuk memperdayanya.

  1. Adil

Dengan menerapkan prinsip adil, kita turut menjaga hidup banyak manusia dari bencana. Kerap kali korban pertama dari bencana adalah rakyat biasa. Dengan bersikap adil, kita turut berupaya memelihara jiwa-jiwa agar terhindar dari marabahaya.

  1. Selaras (Mizan)

Tuhan menciptakan alam semesta secara sempurna dan seimbang. Hukum alam dan agama diatur sedemikian rupa secara presisi untuk menjaga keseimbangan tersebut.

Salah satu hadits yang berkesan bagi penulis buku Green Deen berbunyi bahwa bumi adalah masjid. Artinya, bumi adalah sesuatu yang sakral. Bumi harus dirawat dan dikelola sebagaimana kita mengelola tempat ibadah: penuh hormat, sepenuh hati, dan bersih.

Seturut dengan prinsip-prinsip tersebut, yang dapat dilakukan untuk menjaga lingkungan adalah mengembangkan kebiasaan tidak menyampah. Saat ini, beban bumi akan sampah sudah semakin berat. Anjuran buanglah sampah pada tempatnya sudah usang. Sebisa mungkin, kita tidak nyampah sama sekali. Kebiasaan tersebut dapat dimulai dari pola makan kita. Jika kita menerapkan ajaran Nabi Muhammad SAW untuk makan sesudah lapar dan berhenti sebelum kenyang, niscaya tidak ada sisa makanan lagi. Sisa-sisa bahan makanan saat memasak bisa diolah menjadi kompos. Bahan-bahan sisa juga dapat diolah secara kreatif sehingga memiliki nilai tambah berupa nilai estetis dan nilai ekonomis, misalnya untuk bahan kerajinan tangan. Berikutnya adalah menggunakan tas/kantung sendiri saat belanja kebutuhan sehari-hari. Dengan membawa tas tersebut, kita dapat mengurangi penggunaan plastik yang sulit diurai. Langkah selanjutnya adalah menyimpan bahan-bahan makanan dalam wadah permanen yang bisa dicuci ulang. Yang terakhir, usahakan membuat sendiri makanan yang kita konsumsi. Empat kebiasaan ini tentunya membutuhkan tekad kuat dan konsistensi dalam menjalankannya.

Setelah materi perihal mindset, materi kedua oleh Kak Alfian membahas perihal teknis yaitu Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), khususnya sanitasi di sekolah. Pengertian STBM adalah upaya pendekatan untuk mengubah perilaku higienis dan saniter melalui pemberdayaan masyarakat dengan cara menumbuhkan kesadaran diri. Tujuan dari STBM yaitu mewujudkan perilaku masyarakat yang higienis dan saniter secara mandiri untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Terdapat 5 Pilar STBM:

  1. Tidak buang air besar sembarangan
  2. Mencuci tangan dengan sabun
  3. Pengelolaan air minum rumah tangga
  4. Pengelolaan sampah rumah tangga
  5. Pengelolaan air limbah rumah tangga

Ada 4 faktor utama sanitasi sekolah, yaitu kesehatan, pendidikan, kesetaraan gender, dan agen. Dari segi kesehatan, sanitasi sekolah adalah langkah awal mewujudkan lingkungan belajar yang sehat. Pelaksanaan program sanitasi sekolah yang berkualitas mampu mencegah penyebaran penyakit.  Pada faktor pendidikan, air, sanitasi, dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), seperti cuci tangan dengan sabun dapat menurunkan angka ketidakhadiran secara signifikan hingga 21-54%. Mengkonsumsi air minum di sekolah juga dapat meningkatkan konsentrasi dalam menyerap pelajaran di sekolah. Kedua hal ini secara tidak langsung dapat meningkatkan prestasi belajar di sekolah. Sanitasi sekolah yang layak  dapat mendorong kesetaraan gender. Studi UNESCO menemukan bahwa secara global, 1 dari 5 anak perempuan yang berusia di atas sekolah dasar putus sekolah, salah satunya akibat fasilitas sanitasi yang tidak layak di sekolah. Berkaitan dengan faktor terakhir, yaitu agen,  sanitasi sekolah adalah salah satu jalur terbaik untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Anak usia sekolah dasar dapat menjadi agen perubahan hidup bersih dan sehat di lingkungannya.

Pada tingkat global, sanitasi sekolah juga merupakan salah satu prioritas pembangunan yang termasuk ke dalam SDGs (Sustainable Development Goals) dalam tujuan 4a. Tujuan 4a adalah “Membangun dan meningkatkan fasilitas pendidikan yang ramah anak, penyandang cacat, dan gender, serta memberikan lingkungan belajar yang aman, anti kekerasan, inklusif, dan efektf bagi semua”. Lebih rinci lagi pada tujuan 4a1 dinyatakan bahwa “Proporsi sekolah dengan akses
ke: (a) listrik, (b) internet untuk tujuan pengajaran, (c) komputer untuk tujuan pengajaran, (d) infrastruktur dan materi memadai bagi siswa difabel, (e) air minum layak, (f) fasilitas sanitasi dasar per jenis kelamin, (g) fasilitas cuci tangan”. Sejalan dengan tujuan SDGs, maka sanitasi sekolah terdiri dari akses air, sanitasi, dan fasilitas cuci tangan.

Sebuah sekolah dapat dikatakan menerapkan sanitasi sekolah yang baik apabila sekolah tersebut dapat memenuhi tiga aspek yang saling berkaitan satu dengan lainnya. Pertama, sekolah memenuhi ketersediaan sarana dan prasarana sanitasi, terutama akses pada sarana air bersih yang aman dari pencemaran, sarana sanitasi (jamban) yang berfungsi dan terpisah antara siswa laki-laki dan perempuan, serta fasilitas cuci tangan dengan sabun. Kedua, sekolah melaksanakan kegiatan Pembiasaan Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sekolah, seperti kegiatan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) secara rutin dan memastikan pelaksanaan Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) secara konsisten.  Ketiga, adanya dukungan manajemen sekolah untuk mengalokasikan biaya operasional dan pemeliharaan sarana sanitasi dan biaya kegiatan PHBS.

Beberapa rekomendasi untuk mewujudkan sekolah sehat antara lain:

  1. Di setiap toilet disediakan wastafel dan sabun untuk cuci tangan
  2. Di setiap ruangan diletakkan poster tentang PHBS
  3. Toilet diberi tanda untuk membedakan toilet antara pria dan wanita
  4. Di setiap kotak sampah diberi label sampah kering dan sampah basah
  5. Diadakan Kegiatan Jumat Bersih bersama seluruh warga sekolah agar lingkungan bersih
  6. Baiknya setiap tanaman diberi label nama jenis tanaman
  7. Tersedianya fasilitas UKS yang lengkap
  8. Dilakukan pengelolaan sampah dengan benar
  9. Pengelolaan makanan dan minuman yang baik dan aman
  10. Tersedia drainase dan septic tank yang baik serta dilakukan perawatan

Setelah pemberian materi dan diskusi, Pak Em mengajak kami berkeliling sekolah mengamati kebun tomat, cabai, sawi dan melon, kebun tanaman obat keluarga (toga), instalasi hidroponik, tempat pengelolaan sampah, kantin, koperasi, ruang konseling, ruang prakarya, dan ruang kelas. Di depan kelas terdapat tempat cuci tangan beserta sabun dan rak sepatu. Siswa masuk kelas dengan menanggalkan sepatu sehingga lantai kelas bersih tak berdebu. Air bekas cucian tangan disalurkan ke lubang resapan. Kak Alfian menyarankan agar lubang resapan tersebut diberi tutup agar genangan air tidak menjadi sarang nyamuk.

Secara umum, suasana di SMAN 1 Abung Semuli sangat menyenangkan dan menyegarkan. Di setiap dinding, terdapat kutipan kata-kata mutiara yang membangun motivasi dan afirmasi positif untuk warga sekolah. Paving block diwarnai bersama oleh siswa dengan motif etnik seperti tapis Lampung, batik Jawa, dan ukiran Bali. Siswa difasilitasi untuk menyalurkan bakat melalui kegiatan seni musik dan prakarya dari barang-barang bekas. Siswa dan guru tampak akrab dan saling menyayangi.

Di sore hari, Kak Asih dan Pak Em mengantar Kak Alfian, Kak Alam, dan rombongan mahasiswa ke stasiun Kali Balangan. Kami senang sekali dapat berbagi dengan SMAN 1 Abung Semuli. Alih-alih membagi ilmu, justru kami banyak belajar dan mengambil ilmu dari Pak Em dan warga sekolah tentang banyak hal, terutama dalam menghormati tamu. Selama penyampaian materi, peserta menyimak dengan penuh perhatian tanpa sibuk dengan gadget masing-masing. Pak Em juga tidak menghiraukan smartphone-nya saat membersamai kami. Harapan kami, kerja sama ini dapat terus berlangsung dan membawa manfaat yang lebih luas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *