Literasi Digital di Kelas Motivasi Sekolah Alam Lampung

Rabu, 20 Februari 2019

Senaaaang sekali hari ini Kak Asih dan Kak Hafiz bakal manggung di sekolah menengah (SM) Sekolah Alam Lampung (SAL). Salah satu program SM SAL adalah kelas motivasi. Kelas ini tidak berisi mata pelajaran khusus, tetapi materi kekinian yang dapat mendukung pengembangan diri siswa. Kami berdua diundang untuk memberikan materi seputar kesiapan siswa untuk menghadapi era digital. Sebelum berangkat ke SAL, Kak Asih dan Kak Hafiz mengambil boks buku pustaka keliling LiterASIh di rumah Kak Asih yang lokasinya tidak jauh dari SAL.

Sesampainya di SAL, kami disambut oleh Bu Dara, guru bidang studi Matematika di SM SAL. Bu Dara meminta sebagian siswa untuk menggotong boks ke ruang kelas tempat Kak Asih dan Kak Hafiz berbagi cerita. Acara dibuka oleh Bu Dara. Terdapat sekitar 20 siswa dan 3 orang guru yang turut menyimak.

Pemaparan pertama disajikan oleh Kak Hafiz. Kak Hafiz ini adalah dosen Teknik Informatika di Itera. Lulusan UGM dan University of Paris. Kak Hafiz menceritakan pengalaman selama sekolah di Paris dengan beasiswa LPDP. Penekanan kisah Kak Hafiz adalah mengenai interaksi kita dengan orang asing di negeri asing. Hendaknya, dalam pergaulan antarbangsa kita tumbuhkan kesadaran bahwa kita adalah duta bangsa kita. Oleh karena itu, kita harus menjaga perilaku dan sebisa mungkin berprestasi untuk mengharumkan nama bangsa.

Selanjutnya, Kak Hafiz menyampaikan materi tentang perubahan produk-produk teknologi seiring berubahnya zaman. Bagaimana dahulu orang menyimak musik dari kaset dan sekarang dari aplikasi. Kalau dahulu sebuah keluarga ngariung di meja makan sambil ngobrol, sekarang sambil nunduk tengok HP masing-masing. Perubahan gaya hidup karena intervensi teknologi tidak bisa dielakkan.

Perubahan zaman tersebut memerlukan kesiapan keterampilan dari siswa yaitu penguasaan bahasa asing. Pergaulan dan komunikasi antarbangsa makin masif dan tak terhalang oleh jarak. Siswa dapat menambah pengalaman bergaul dengan orang-orang dari beragam latar dengan menggunakan Bahasa Inggris sebagai perantara. Selanjutnya siswa juga perlu membekali diri dengan literasi teknologi dan informasi. Kak Hafiz menjelaskan pula ihwal finance literacy dan digital economy. Kak Hafiz memaparkan aplikasi  Angsur yang dibuatnya, yaitu layanan belanja daring bagi mahasiswa dengan cara mengangsur dan tanpa kartu kredit. Start-up ini memenangi hibah dari Kemenristekdikti. Info lengkap perihal Angsur dapat mengunjungi angsur.id

Setelah Kak Hafiz selesai, materi berikutnya disampaikan oleh Kak Asih. Materi dari Kak Asih seputar penyikapan dan karakter yang harus dibangun dalam menghadapi perkembangan zaman yang pesat. Manusia mengalami berbagai periode perubahan zaman dari berburu, bercocok tanam, revolusi industri 1 berupa mekanisasi, revolusi industri 2 berupa mekanisasi masal atau industrialisasi, revolusi industri 3 yang menerapkan elektronisasi dan digitalisasi, dan revolusi industri 4 yang melibatkan internet of things, big data, digital economy, robotics, dan artificial intelligence.

Apapun zaman yang dihadapi, manusia tetap bisa bertahan dan tidak punah. Abad 21 membutuhkan manusia dengan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, dan memecahkan masalah. Untuk mengasah keterampilan tersebut, manusia Abad 21 perlu memiliki literasi di berbagai bidang seperti civic literacy, finance literacy, dan ICT literacy. Materi Kak Asih fokus ke civic literacy. Beberapa karakter yang perlu ditumbuhkan untuk membangun civic literacy antara lain:

  1. Berpijak pada nilai-nilai luhur. Di tengah arus informasi yang membanjir dan suasana media sosial yang rawan pecah belah, hendaknya kita tetap menjaga adab dan nilai-nilai luhur yang meneguhkan kemanusiaan kita. Mengembangkan cara berpikir kritis dapat membantu kita untuk menyeleksi informasi yang sahih sehingga tidak mudah menyebar hoax dan terombang-ambing di tengah gorengan isu-isu. Pijakan berpikir kritis adalah nilai-nilai. Berpihak bukan kepada kelompok, figur, atau kepentingan, tapi berpihak kepada nilai-nilai yang baik yang membedakan kita dari mesin dan makhluk-makhluk lain. Nilai-nilai seperti kesantunan dan saling menghormati tidak akan lekang oleh zaman. Nilai-nilai luhur akan membawa kita berpihak pada kebenaran dan kepatutan.
  2. Memahami diri sendiri. Literasi diri diperlukan masing-masing manusia untuk mengenali kekuatan dan kelemahan diri. Dengan kekuatan dirinya, seseorang dapat berbuat lebih dan penuh manfaat untuk diri sendiri dan lingkungan sekitarnya. Dengan memahami kelemahan diri, seseorang dapat lebih mawas diri dan rendah hati.
  3. Memperluas wawasan dan pergaulan (don’t live in a filter bubble). Sebagai generasi muda yang tumbuh kembangnya diiringi teknologi komunikasi dan informasi, hendaknya kita memanfaatkan teknologi tersebut untuk kegiatan yang positif. Pergaulan di media sosial sebaiknya menghadirkan orang-orang dengan beragam kalangan dan pendapat. Pergaulan demikian akan membuka wawasan kita mengenai berbagai bidang.  Akrab dan terbiasa dengan aneka pendapat dan pemikiran akan menumbuhkan sikap dewasa, tenggang rasa, dan toleransi. Hidup dalam gelembung pergaulan yang terbatas dapat menyebabkan sifat picik yang merasa benar dan hebat sendiri serta sulit menerima masukan dan perubahan. Selama berpijak pada nilai-nilai luhur yang sudah disebutkan di muka, pergaulan dengan siapapun yang berbeda dari kita akan tetap terjalin dengan baik.
  4. Mengembangkan passion saja tidak cukup. Anak muda lazim gandrung dengan passion masing-masing. Banyak yang berpikir jika hidup sesuai passion akan mudah sukses dan bahagia. Padahal, bayangan tersebut belum tentu benar. Meski bekerja sesuai passion, tetap ada unsur kerja keras. Passion hanya menitikberatkan pada kesenangan pribadi. Alih-alih passion, kita perlu menyadari pula agar menjadi man of purpose: tujuan dan manfaat apa yang dapat kita berikan ke lingkungan sekitar dari passion yang kita kembangkan.

Setelah Kak Hafiz dan Kak Asih selesai menyampaikan materi, berlangsung diskusi sebagai berikut:

  1. Bagaimana strategi bisnis di era ekonomi digital?

Kak Hafiz: sedikit berbeda itu lebih baik dari pada sedikit lebih baik. Tetapkan apa yang unik/berbeda dari bisnis kita. Tidak perlu berpikir terlalu jauh, teman-teman bisa melihat dari kebutuhan yang terdapat di sekitar. Seperti antar jemput laundry sepatu.

Kak Asih: apapun bisnisnya, tetap berpijak pada nilai-nilai. Dalam hal ini nilai-nilai yang perlu dijunjung adalah jujur dan amanah.

  1. Bagaimana supaya kita tidak hidup dalam bubble?

Kak Hafiz: berpikir secara terbuka. Bekali dengan Bahasa Inggris.

Kak Asih: lihatlah manusia lebih dekat. Manusia adalah puncak penciptaan Tuhan, karya seni Tuhan. Perlakukan manusia dengan hormat dan mulia, apapun suku, agama, ras, jenjang pendidikan, status ekonomi, atau preferensi politiknya. Pandanglah manusia dengan kasih sayang, bukan dengan rasa benci atau permusuhan.

  1. Bagaimana menyikapi kegagalan?

Kak Hafiz: Semua orang pasti punya jatah gagal. Sebelum kuliah ke Perancis, pernah juga 3x gagal seleksi beasiswa. Habiskan jatah gagal kita. Setelah habis, jatah kita selanjutnya adalah jatah sukses.

Kak Asih: Tetap bersyukur atas apa yang dijalani. Jangan mengeluh dan menggerutu. Pasti ada hikmah atau rahasia Tuhan yang kita belum tau dan baru mengerti setelah sekian tahun berlalu.

  1. Pekerjaan apa yang prospektif?

Kak Asih: Banyak pekerjaan di masa depan yang belum terbayangkan saat ini. Ke depan, banyak pekerjaan rutin dan mekanis yang akan dikerjakan oleh robot. Namun, pekerjaan saat ini yang masih akan lama bertahan adalah pekerjaan yang berhubungan dengan manusia secara intensif seperti guru, psikolog, bidan, perawat, dsb.

Acara ditutup dengan pemberian kenang-kenangan dari salah satu siswa SM SAL dan berpose bersama pustaka keliling LiterASIh. Senang sekali dikasih kopi. Apalagi Kak Hafiz doyan ngopi. Jatah kopi Kak Asih buat Kak Hafiz deh karena Kak Asih enggak ngopi hehehehe….

Di sore hari, Bu Dara mengirim pesan WhatsApp ke Kak Asih bahwa anak-anak sangat senang dengan materi tadi. Biasanya di kelas motivasi pada sesi-sesi sebelumnya, para siswa cenderung ribut. Akan tetapi, pada sesi kali ini secara umum bisa dikatakan siswa bersikap tenang dan penuh perhatian. Bahkan, ada salah seorang siswa yang berkomentar: “Bu, pikiran saya terbuka sekarang, bu. Keren!” Alhamdulillaah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *