Literasi Digital di Kelas Motivasi Sekolah Alam Lampung

Rabu, 20 Februari 2019

Senaaaang sekali hari ini Kak Asih dan Kak Hafiz bakal manggung di sekolah menengah (SM) Sekolah Alam Lampung (SAL). Salah satu program SM SAL adalah kelas motivasi. Kelas ini tidak berisi mata pelajaran khusus, tetapi materi kekinian yang dapat mendukung pengembangan diri siswa. Kami berdua diundang untuk memberikan materi seputar kesiapan siswa untuk menghadapi era digital. Sebelum berangkat ke SAL, Kak Asih dan Kak Hafiz mengambil boks buku pustaka keliling LiterASIh di rumah Kak Asih yang lokasinya tidak jauh dari SAL.

Sesampainya di SAL, kami disambut oleh Bu Dara, guru bidang studi Matematika di SM SAL. Bu Dara meminta sebagian siswa untuk menggotong boks ke ruang kelas tempat Kak Asih dan Kak Hafiz berbagi cerita. Acara dibuka oleh Bu Dara. Terdapat sekitar 20 siswa dan 3 orang guru yang turut menyimak.

Pemaparan pertama disajikan oleh Kak Hafiz. Kak Hafiz ini adalah dosen Teknik Informatika di Itera. Lulusan UGM dan University of Paris. Kak Hafiz menceritakan pengalaman selama sekolah di Paris dengan beasiswa LPDP. Penekanan kisah Kak Hafiz adalah mengenai interaksi kita dengan orang asing di negeri asing. Hendaknya, dalam pergaulan antarbangsa kita tumbuhkan kesadaran bahwa kita adalah duta bangsa kita. Oleh karena itu, kita harus menjaga perilaku dan sebisa mungkin berprestasi untuk mengharumkan nama bangsa.

Selanjutnya, Kak Hafiz menyampaikan materi tentang perubahan produk-produk teknologi seiring berubahnya zaman. Bagaimana dahulu orang menyimak musik dari kaset dan sekarang dari aplikasi. Kalau dahulu sebuah keluarga ngariung di meja makan sambil ngobrol, sekarang sambil nunduk tengok HP masing-masing. Perubahan gaya hidup karena intervensi teknologi tidak bisa dielakkan.

Perubahan zaman tersebut memerlukan kesiapan keterampilan dari siswa yaitu penguasaan bahasa asing. Pergaulan dan komunikasi antarbangsa makin masif dan tak terhalang oleh jarak. Siswa dapat menambah pengalaman bergaul dengan orang-orang dari beragam latar dengan menggunakan Bahasa Inggris sebagai perantara. Selanjutnya siswa juga perlu membekali diri dengan literasi teknologi dan informasi. Kak Hafiz menjelaskan pula ihwal finance literacy dan digital economy. Kak Hafiz memaparkan aplikasi  Angsur yang dibuatnya, yaitu layanan belanja daring bagi mahasiswa dengan cara mengangsur dan tanpa kartu kredit. Start-up ini memenangi hibah dari Kemenristekdikti. Info lengkap perihal Angsur dapat mengunjungi angsur.id

Setelah Kak Hafiz selesai, materi berikutnya disampaikan oleh Kak Asih. Materi dari Kak Asih seputar penyikapan dan karakter yang harus dibangun dalam menghadapi perkembangan zaman yang pesat. Manusia mengalami berbagai periode perubahan zaman dari berburu, bercocok tanam, revolusi industri 1 berupa mekanisasi, revolusi industri 2 berupa mekanisasi masal atau industrialisasi, revolusi industri 3 yang menerapkan elektronisasi dan digitalisasi, dan revolusi industri 4 yang melibatkan internet of things, big data, digital economy, robotics, dan artificial intelligence.

Apapun zaman yang dihadapi, manusia tetap bisa bertahan dan tidak punah. Abad 21 membutuhkan manusia dengan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, dan memecahkan masalah. Untuk mengasah keterampilan tersebut, manusia Abad 21 perlu memiliki literasi di berbagai bidang seperti civic literacy, finance literacy, dan ICT literacy. Materi Kak Asih fokus ke civic literacy. Beberapa karakter yang perlu ditumbuhkan untuk membangun civic literacy antara lain:

  1. Berpijak pada nilai-nilai luhur. Di tengah arus informasi yang membanjir dan suasana media sosial yang rawan pecah belah, hendaknya kita tetap menjaga adab dan nilai-nilai luhur yang meneguhkan kemanusiaan kita. Mengembangkan cara berpikir kritis dapat membantu kita untuk menyeleksi informasi yang sahih sehingga tidak mudah menyebar hoax dan terombang-ambing di tengah gorengan isu-isu. Pijakan berpikir kritis adalah nilai-nilai. Berpihak bukan kepada kelompok, figur, atau kepentingan, tapi berpihak kepada nilai-nilai yang baik yang membedakan kita dari mesin dan makhluk-makhluk lain. Nilai-nilai seperti kesantunan dan saling menghormati tidak akan lekang oleh zaman. Nilai-nilai luhur akan membawa kita berpihak pada kebenaran dan kepatutan.
  2. Memahami diri sendiri. Literasi diri diperlukan masing-masing manusia untuk mengenali kekuatan dan kelemahan diri. Dengan kekuatan dirinya, seseorang dapat berbuat lebih dan penuh manfaat untuk diri sendiri dan lingkungan sekitarnya. Dengan memahami kelemahan diri, seseorang dapat lebih mawas diri dan rendah hati.
  3. Memperluas wawasan dan pergaulan (don’t live in a filter bubble). Sebagai generasi muda yang tumbuh kembangnya diiringi teknologi komunikasi dan informasi, hendaknya kita memanfaatkan teknologi tersebut untuk kegiatan yang positif. Pergaulan di media sosial sebaiknya menghadirkan orang-orang dengan beragam kalangan dan pendapat. Pergaulan demikian akan membuka wawasan kita mengenai berbagai bidang.  Akrab dan terbiasa dengan aneka pendapat dan pemikiran akan menumbuhkan sikap dewasa, tenggang rasa, dan toleransi. Hidup dalam gelembung pergaulan yang terbatas dapat menyebabkan sifat picik yang merasa benar dan hebat sendiri serta sulit menerima masukan dan perubahan. Selama berpijak pada nilai-nilai luhur yang sudah disebutkan di muka, pergaulan dengan siapapun yang berbeda dari kita akan tetap terjalin dengan baik.
  4. Mengembangkan passion saja tidak cukup. Anak muda lazim gandrung dengan passion masing-masing. Banyak yang berpikir jika hidup sesuai passion akan mudah sukses dan bahagia. Padahal, bayangan tersebut belum tentu benar. Meski bekerja sesuai passion, tetap ada unsur kerja keras. Passion hanya menitikberatkan pada kesenangan pribadi. Alih-alih passion, kita perlu menyadari pula agar menjadi man of purpose: tujuan dan manfaat apa yang dapat kita berikan ke lingkungan sekitar dari passion yang kita kembangkan.

Setelah Kak Hafiz dan Kak Asih selesai menyampaikan materi, berlangsung diskusi sebagai berikut:

  1. Bagaimana strategi bisnis di era ekonomi digital?

Kak Hafiz: sedikit berbeda itu lebih baik dari pada sedikit lebih baik. Tetapkan apa yang unik/berbeda dari bisnis kita. Tidak perlu berpikir terlalu jauh, teman-teman bisa melihat dari kebutuhan yang terdapat di sekitar. Seperti antar jemput laundry sepatu.

Kak Asih: apapun bisnisnya, tetap berpijak pada nilai-nilai. Dalam hal ini nilai-nilai yang perlu dijunjung adalah jujur dan amanah.

  1. Bagaimana supaya kita tidak hidup dalam bubble?

Kak Hafiz: berpikir secara terbuka. Bekali dengan Bahasa Inggris.

Kak Asih: lihatlah manusia lebih dekat. Manusia adalah puncak penciptaan Tuhan, karya seni Tuhan. Perlakukan manusia dengan hormat dan mulia, apapun suku, agama, ras, jenjang pendidikan, status ekonomi, atau preferensi politiknya. Pandanglah manusia dengan kasih sayang, bukan dengan rasa benci atau permusuhan.

  1. Bagaimana menyikapi kegagalan?

Kak Hafiz: Semua orang pasti punya jatah gagal. Sebelum kuliah ke Perancis, pernah juga 3x gagal seleksi beasiswa. Habiskan jatah gagal kita. Setelah habis, jatah kita selanjutnya adalah jatah sukses.

Kak Asih: Tetap bersyukur atas apa yang dijalani. Jangan mengeluh dan menggerutu. Pasti ada hikmah atau rahasia Tuhan yang kita belum tau dan baru mengerti setelah sekian tahun berlalu.

  1. Pekerjaan apa yang prospektif?

Kak Asih: Banyak pekerjaan di masa depan yang belum terbayangkan saat ini. Ke depan, banyak pekerjaan rutin dan mekanis yang akan dikerjakan oleh robot. Namun, pekerjaan saat ini yang masih akan lama bertahan adalah pekerjaan yang berhubungan dengan manusia secara intensif seperti guru, psikolog, bidan, perawat, dsb.

Acara ditutup dengan pemberian kenang-kenangan dari salah satu siswa SM SAL dan berpose bersama pustaka keliling LiterASIh. Senang sekali dikasih kopi. Apalagi Kak Hafiz doyan ngopi. Jatah kopi Kak Asih buat Kak Hafiz deh karena Kak Asih enggak ngopi hehehehe….

Di sore hari, Bu Dara mengirim pesan WhatsApp ke Kak Asih bahwa anak-anak sangat senang dengan materi tadi. Biasanya di kelas motivasi pada sesi-sesi sebelumnya, para siswa cenderung ribut. Akan tetapi, pada sesi kali ini secara umum bisa dikatakan siswa bersikap tenang dan penuh perhatian. Bahkan, ada salah seorang siswa yang berkomentar: “Bu, pikiran saya terbuka sekarang, bu. Keren!” Alhamdulillaah.

Aku dan Musik

Saya menyukai musik, terutama jenis musik simfonik, jazz, dan etnik. Sempat belajar biola, tapi hanya di level 1 metode Suzuki. Saya bermain biola hanya untuk mencari notasi saat mencipta lagu. Juga karena waktu itu sangat terkesan dengan permainan Henry Lamiri di musikalisasi puisi Sapardi Djoko Damono, Aku Ingin, versi Dua Ibu (Ibu Tatiana Subijanto dan Ibu Reda Gaudiamo). Sudah selesai menemukan notasinya dan bisa memainkan biola untuk lagu tersebut, praktis saya malas latihan serius lagi hihihiii. Hanya sesekali saya main biola, terutama jika sedang gandrung dengan lagu-lagu Ismail Marzuki yang diaransemen dalam versi keroncong.

Semasa kuliah di Jogja, saya kerap menghadiri konser-konser. Jogja adalah surga konser. Paling terkenang adalah saat bisa nonton Twillite Orchestra dan konser Trio Lestari. Sewaktu berkesempatan berfoto dengan Addie M.S., saat belio menjadi konduktor tamu di sebuah konser di Sanata Dharma, saya menyampaikan impian saya ke belio yaitu membentuk Itera Orchestra. Ternyata oh ternyata, Addie M.S. adalah teman SMA dari Wakil Rektor Akademik. Di Itera sudah ada Paduan Suara Mahasiswa Lipphu Ghesa (kebetulan diamanahi sebagai pembina UKM tersebut, Lipphu Ghesa dalam Bahasa Lampung, artinya paduan suara) dan Itera Band (salah satu personilnya adalah Rektor).  Semoga jalan menuju terbentuknya Itera Orchestra semakin terbuka. Ingin sekali bisa membawakan atau menyimak lagu Indonesia Raya, Teluk Lampung, Mars Itera, dan Hymne Itera dalam versi Itera Orchestra. Semoga kelak terwujud.

Untuk menuju ke sana, sy pribadi berusaha menggali bakat musik yang sudah tenggelam sedemikan dalam. Saya merasa memiliki bakat tersebut tapi memang tidak diasah dengan baik. Saya tidak akan menyalahkan keadaan apalagi orang tua (yang karena ketidaktahuannya, tidak mengembangkan bakat saya). Saya sangat bersyukur dibesarkan oleh orang tua saya. Toh, jejak-jejak bakat tersebut masih ada hingga kini. Adalah tugas dan tanggung jawab saya untuk menumbuhkan apa yang tertanam dalam jiwa saya sendiri.

Sewaktu SD, saya bisa menemukan dengan mudah nada-nada lagu yang saya dengar dan memainkannya di sebuah piano mainan. Semasa SMP, ada pelajaran seni musik dan saya selalu mendapat nilai 10 jika menulis not balok (konversi dari not angka ke not balok). Selera musik saya cenderung berbeda dengan teman-teman kebanyakan. Beberapa kali menyukai suatu komposisi musik dan ternyata komposisi tersebut mendapat Grammy atau Academy Awards (Oscar) untuk musik terbaik. Intuisi musik sudah ada, hanya memang belum dipertajam secara serius.

Sejak mempelajari soal misi hidup dan fitrah diri, saya merasa punya hutang kepada Tuhan untuk merawat dan mensyukuri bakat ini. Dari kesadaran yang sedikit di situ, saya membuat lagu mars dan hymne untuk kampus. Semoga Tuhan berkenan dengan karya tersebut. Semoga karya tersebut dinilai sebagai sebentuk rasa syukur saya kepada-Nya atas karunia-Nya kepada saya,  yang diwujudkan dalam pelayanan kepada lingkungan terdekat saya  melalui media seni.

Dari refleksi atas bakat musik, saya memutuskan untuk belajar piano, gitar, dan vokal. Setidaknya, belajar materi dasar-dasarnya agar saya tidak terlalu blank saat mencipta lagu atau mendampingi anak-anak  PSM. Selain itu, beberapa acara bertajuk seni dan budaya bisa diselenggarakan bersama anak-anak PSM, kawan-kawan dosen, dan juga UKM lain. Sejak mulai pulang ke kampus (September 2017) sampai akhir 2018, setidaknya sudah enam acara digelar. Bersyukur sekali memiliki rekan-rekan dan jajaran pimpinan yang mendukung penyelenggaraan konser atau pentas budaya di kampus.

Untuk tahun 2019 ini, perhelatan konser yang sudah direncanakan memang tidak sebanyak tahun lalu. Tapi, yang pasti rekrutmen anggota untuk pembentukan orkestra telah dibuka. Juga, tiap pekan saya masih rutin latihan piano dan vokal, serta fun jam session di studio musik kampus dengan teman-teman.

Pustaka Keliling ke TK ‘Aisyiyah Sukarame

Hari Kamis, 6 Februari 2019, tim LiterASIh diundang berkunjung ke TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal, Sukarame, Bandar Lampung, sebuah amal usaha Muhammadiyah yang dibina oleh Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah, Sukarame, Bandar Lampung. Siswa di TK ‘Aisyiyah yang baru berdiri ini berjumlah 16 orang. Saat tim LiterASIh hadir, terdapat dua orang siswa yang tidak masuk karena sakit.

Kali ini tim LiterASIh yang hadir adalah Kak Asih, Kak Harits, Kak Jejen, dan Kak Nur. Dalam kunjungan tersebut, tim LiterASIh membawa kontainer berisi 30-an eksemplar buku anak-anak untuk dibaca di lingkungan sekolah. Terdapat dua orang guru yang menyambut, seorang wali murid yang mendampingi anaknya, dan dua orang dari pengurus ‘Aisyiyah. Sebelumnya, tim LiterASIh sudah diberitahu bahwa pembelajaran di TK pada pekan ini adalah tentang profesi.

Selanjutnya, Kak Asih membuka acara, memberikan pengantar dengan senam huruf Hijaiyah. Anak-anak terlihat senang dan semangat karena berusaha menirukan bentuk-bentuk huruf Hijaiyah dengan gerakan badan. Terdapat seorang anak yang menangis karena melihat Kak Nur memakai jas putih. Dikiranya, Kak Nur adalah dokter yang akan menyuntik, padahal bukan hehehehe.

Setelah anak-anak selesai senam, Kak Harits mulai mendongeng tentang musang dan ayam, juga kisah gagak dan angsa. Sesekali Kak Asih dan Kak Jejen menimpali agar suasana cerita lebih dramatis.

Selesai acara dongeng, Kak Nur mulai tampil mengenalkan profesi yang menggunakan jas putih tapi bukan dokter, yaitu apoteker. Berangkat dari kisah yang diceritakan Kak Harits tentang ayam yang terluka dan gagak yang sakit perut, Kak Nur mengajak anak-anak bermain peran: ada yang jadi anak sakit, ada yang berperan sebagai perawat, dokter, dan apoteker. Kak Nur menjelaskan bahwa apoteker adalah teman dokter. Teman-teman bisa menjumpai apoteker saat membeli obat di apotek. Kak Nur juga memperagakan cara membuat obat dan minum obat yang benar.

Acara pengenalan profesi sudah selesai. Anak-anak mulai membuka kontainer buku dan mengambil buku yang menarik perhatian mereka. Terdapat beberapa buku tentang profesi seperti tentara, pilot, palaentolog, ahli obat, dan dokter. Buku hanya boleh dibaca di sekolah; tidak diperkenankan dibawa pulang. Kontainer akan ditinggal di sekolah selama dua minggu, lalu diputar lagi untuk keliling ke sekolah lain. Acara ditutup dengan foto bersama.

Yang menyenangkan dari hari ini adalah melihat wajah-wajah ceria para anak TK yang lucu dan lugu. Yang menegangkan dari hari ini adalah saat naik mobil dan dikemudikan oleh Kak Jejen yang sudah tiga tahunan tidak menyentuh setir mobil. Sempat rem mendadak dan macet-macet saat pindah gigi. Syukurlah mobil Kak Asih tetap aman dan mulus setelah dikendarai oleh Kak Jejen dan Kak Nur. Alhamdulillaah, selamat pergi, selamat kembali 🙂

Menghikmati Nikmat Hidup

Sebagian Pelajaran Hidup yg Diperoleh Selama Lima Tahun Terakhir:

1. Berpihaklah pada nilai-nilai, bukan pada kelompok/golongan/kepentingan/figur
2. Syukuri, sayangi, dan jagalah marwah agama, negara, keluarga, dan instansi tempat bekerja dg perilaku yg baik
3. Orientasikan semua perbuatan sebagai wujud pengabdian dan pelayanan kpd Tuhan. Jangan pernah berharap eksistensi, reputasi, popularitas, status, harta, jabatan, kehormatan, puja-puji, like/share, penghargaan, vote, cum, atau berharap apapun dr manusia
4. Meskipun pernah berperan sbg perintis/pembuka jalan/bagian dr sejarah, jangan pernah berharap untuk diingat. Anggap saja bahwa salah satu keniscayaan menjadi perintis adl dilupakan dan diabaikan. Biasa saja. Balik ke nomor 3
5. Jika harus menjalani suatu peran politis, kerjakan dalam bingkai politik kebangsaan dan politik ketatanegaraan yg beradab, bukan politik praktis/kekuasaan apalagi tansaksional
6. Boleh menanjaki karir secara obsesif dan ambisius, asal caranya beradab, sesuai aturan yg berlaku, serta tidak menginjak/menyikut/menjerumuskan teman
7. Bekerja keras dan berinteraksi dg kasih sayang, tulus, dan gembira. Berbuat baik atau membantu orang lain dg tulus, bukan karena pamrih atau berharap dibalas kebaikan yg setara/lebih
8. Berbuat dan berkarya saja, tidak usah main klaim
9. Sebisa mungkin sekuat tenaga berpedoman pada firman Allaah, sabda Rasul, titah ibunda, petuah gurunda, dan sumpah pd negara
10. Biarpun dibilang kuno di era disrupsi ini, tidak perlu gengsi, malu, dan sungkan dg cita-cita menjadi PNS. Baik itu atas keinginan sendiri maupun demi mewujudkan harapan orang tua
11. Apapun impian/cita-cita, gapai dahulu restu dan ridho orang tua
12. Enggan beranjak dr zona nyaman bukanlah sebuah aib, bukan pula sebentuk sikap pengecut
13. Ada saat di puncak dan ada saat di dasar jurang. Lumrah. Sikapi dg rendah hati dan penerimaan (acceptance). Terima dg lapang dada tanpa harus jumawa atau kecewa
14. Mengakui, meminta maaf, dan menjalani konsekuensi jika memang salah. Tidak perlu menyangkal dan berdalih membela diri
15. Jika teramat jenuh dan lelah, ambil waktu 1-2 hari tanpa tujuan/target apapun, sekadar untuk menyendiri, mager, dan ga ngapa-ngapain sama sekali, termasuk tidak akses hp/internet
16. Berusahalah menjadi pribadi yg mandiri dan selesai dg diri sendiri
17. Hindari berhutang banyak atau dalam jangka waktu lama. Bersabar. Hidup secukupnya, kendalikan keinginan-keinginan dan kebanggan akan kepemilikan material yg semu belaka
18. Bersama kesulitan, ada kemudahan. Jangan pernah berpikir bahwa suatu keadaan akan berlangsung selamanya. Everything is changing. This too shall pass
19. Berdoalah dan mohonlah pertolongan Allaah, seabsurd dan se-impossible apapun isi doa dan permohonan tsb selama beradab (tidak mengharapkan keburukan bagi org lain)
20. Bagaimanapun jalan hidup yg dilalui, percaya saja bahwa Allaah Maha Baik dan Maha Kasih Sayang. Semua fase kehidupan yg dilalui adl proses terbaik yg membentuk diri kita saat ini. Jangan bandingkan hidup kita dg hidup org lain
21. Pantang mengeluh dan menyerah. Jangan mudah terpesona dan tergiur pd proses yg instan
22. Sesekali boleh baper, tapi ga pake lama dan ga pake dendam. Hilangkan rasa dendam, iri, dengki, dan benci
23. Galilah dan salurkan passion/bakat agar jiwa lebih hidup. Mungkin saja ada setitik pengetahuan ttg rahasia misi hidup yg tersimpan di dalamnya. Namun, harus diingat bahwa passion/bakat saja tidak cukup
24. Percayai dan ikuti intuisi. Memang bisa jadi intuisinya salah, tetapi tidak akan membahayakan atau mencelakakan diri
25. Berbahagialah tanpa syarat. Kebahagiaan adl tanggung jawab diri sendiri, bukan bergantung pd benda2/atasan/teman/keluarga/lingkungan/peristiwa
26. Sedapat mungkin beribadahlah dg sepenuh syukur dan gembira, bukan dg berat hati dan terpaksa
27. Prioritas dan fokus pada dunia nyata. Abaikan kegaduhan dunia maya; jauhi debat dan nyinyir yang serba embuh dan ngehek itu
28. Utamakan jejaring dan silaturahmi di dunia nyata. Jaga hubungan baik dg keluarga besar, teman, dan tetangga
29. Fokus pada masa kini. Hindari nostalgia pd kejayaan masa lampau, dan kecemasan akan masa depan
30. Fokus pd solusi. Lihat lebih dekat dan lebih utuh, jangan sepotong-sepotong. Selesaikan suatu masalah dg “seni” dan “humor”
31. Fokus pd diri sendiri dan segala urusan yg harus diselesaikan. Jangan terdistraksi dan menghabiskan waktu utk sibuk dg persoalan di luar jangkauan/wilayah kita
32. Seaneh apapun keadaan, kepribadian, dan selera diri; terima, kenali, syukuri, berdamai, dan jadilah diri sendiri, tidak perlu asal ikut trend/mainstream. Tiap orang unik dan keunikan yg satu tidak lebih baik/buruk dari keunikan yg lain
33. Biasakan diri dg aneka ragam paradigma berpikir dan kembangkan keterampilan berpikir kritis. Bekali dg ilmu filsafat dan sejarah
34. Teori/pendapat/metode harus direkontekstualisasi/di-review sesuai kondisi
35. Jangan terlalu memusingkan persoalan remeh temeh dan pendapat yg ga nyambung/sesat pikir. Kita tidak bisa selalu menyenangkan semua orang. Pasti ada orang yg ga ngerti (bahkan suuzhan) dg maksud/tujuan kita, sebaik apapun substansi dan cara yg ditempuh
36. Selalu berpikir positif walaupun terkesan naif. Jangan bermudah-mudah melabeli negatif org lain hanya dr secuil representasi di dunia maya/nyata
37. Perkaya hati dan wawasan dg seni dan humor; berekspresilah dg menyanyi, main musik, melukis, menari, merias, merancang, menata, memotret, menulis lagu/puisi/cerita, membaca puisi/novel, menonton konser/film/teater/pameran, dan beranilah menertawai diri sendiri
38. Keteladanan adl kunci pendidikan dan pengasuhan
39. Tumbuhkan empati
40. Hindari merasa diri paling benar dan merasa sudah bermanfaat/berjasa banyak
41. Hindari semua yg toksik bagi jiwa dan pikiran
42. Di dalam hati yg patah/luka, terdapat pelajaran yg luar biasa
43. Tidurlah dg durasi cukup
44. Olahraga semampunya, tidak perlu dipaksakan. Olahraga harus membuat segar dan rileks, bukan malah menimbulkan stress
45. Diet sewajarnya. Makanlah dg rasa syukur yg berlimpah, bukan dg gerutuan akibat terlalu mikirin berat badan/penyakit/program diet/penilaian orang